Selasa, 08 Juli  2008

T E N T A N G   S I N A R   H A R A P A N

No.  5941

 
Arsip Berita SH
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Politik
Hukum
Ekonomi & Bisnis
Uang & Efek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Jabotabek
Hiburan
KesRa
Opini
Mandiri
Wisata
Eureka
Hotel, Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Profil
Telekomunikasi&IT
UKM
Lain-lain
   
Pemasangan Iklan
Tentang SH

 


 

 

SEKILAS
SINAR HARAPAN

 Mungkin menjadi pertanyaan kita semua mengapa Harian Umum SINAR HARAPAN harus terbit kembali. Sejarah mencatat ketika pemerintah pada           9 Oktober 1986 membatalkan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers Harian ini, tidak pernah dijelaskan alasan yang  melandasi tindakan tersebut atau kesalahan apa yang pernah dilakukan Harian ini. Namun satu hal yang tidak dilupakan oleh para pembaca setia pada waktu itu dan kini, SINAR HARAPAN merupakan Harian sore terbesar yang berani mengungkapan kebenaran sebagaimana adanya. 

Karena itulah, ketika reformasi terjadi dan pers Indonesia mendapatkan kembali kemerdekaannya, kami para pengasuh dan pengelola SINAR HARAPAN memutuskan motto “Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih” sebagai landasan misinya. Pertimbangannya, Kami menilai misi tersebut masih tetap relevan ditengah-tengah situasi bangsa dan negara  kita pada saat ini.

 Ditengah-tengah situasi yang berkecamuk ini, kami menghadirkan kembali SINAR HARAPAN sebagai sebuah surat kabar yang mengembangkan jurnalisme damai mencoba menawarkan solusi dan akan menjadi media yang mengembangkan budaya politik, budaya ekonomi, sosial kemasyarakatan, faham kebangsaan, cinta tanah air, bela negara dan penegakan hukum. Gaya pemberitaannya akan non-sekterian, tidak primordial, menjauhi purbasangka atas asal usul keturunan, ras, suku ataupun agama.

 Sebagai Harian yang terbit sore hari, bagi para pembaca dari kelompok masyarakat menengah ke atas, laporan-laporan di SINAR HARAPAN yang berwawasan strategis akan banyak dituangkan dalam bentuk analisisi berita, feature dan laporan investas, selain tentu saja berita-berita terakhir dan terhangat (hard news) pada hari itu. Sehingga SINAR HARAPAN akan merupakan acuan bagi para pembacanya untuk membuat berbagai keputusan penting pada keesokan harinya.

Semoga kehadiran kembali SINAR HARAPAN akan memberikan manfaat positif kepada para pembaca, lebih sekedar yang didapatkan pada pagi hari.

 

Perjuangan H. G. Rorimpandey Menerbitkan Kembali Sinar Harapan

Harian Sore ”Sinar Harapan” terbit lagi. Kehadiran kembali koran ini diharapkan ikut memperkuat barisan pers Indonesia dan sedikit memupus penderitaan jurnalistik yang terbungkam puluhan tahun oleh sumbatan tirani Orde Baru.

Meskipun penderitaan ideologis dan ekonomis menjadi luka yang membekas, tetapi semangat perjuangan H.G.Rorimpandey yang menjadi pimpinan umum ”Sinar Harapan” tetap terlihat segar, tak tergoyahkan oleh hempasan ombak politik.

”Saya masih ingat ketika hari terakhir koran ini ditutup,” ujar Rorimpandey mengenang kembali peristiwa lama. Waktu itu hari Kamis siang, tanggal 9 Oktober tahun 1986.

”Saya terima pemberitahuan lewat telepon dari Dirjen PPG Sukarno SH , supaya Sinar Harapan pada esok hari 9 Oktober tidak terbit lagi,” ujar Pak Rorim dengan suara lirih. ”Saya sama sekali tak menduga dan tak percaya bahwa itu penutupan koran untuk selama-lamanya.”

Yang menjadi sebab koran sore ini ditutup, gara-gara judul berita yang dimuat dalam headline di halaman satu yang dibuat oleh wartawan dengan kode M-5 dengan judul ”Pemerintah Akan Cabut 44 SK Tata Niaga Bidang Impor”. Tentu ini hanya pemicu, karena Presiden Soeharto sudah lama menandai koran ini karena kritik-kritiknya.

Ada pertanyaan apakah pencabutan 44 SK itu akan memukul bisnis keluarga cendana dan konconya? Ini tidak diketahui. Tetapi yang jelas keputusan Pemerintah tersebut menjadikan dunia perdagangan tidak lagi melemahkan monopoli .

Belakangan diketahui 44 SK tersebut masih konsep. Rupanya menteri ingin mendapatkan feed back. Bahan berita dibagikan kepada wartawan tanpa berpikir dan menduga perbuatan ini akan menyebabkan perdagangan menjadi stagnan atau mandeg. Dan lebih sial lagi menyebabkan Harian Sore ”Sinar Harapan” ditutup .

Terima Risiko.
Dalam alam pers yang serba dibatasi waktu itu, apakah kebijaksanaan yang dijalankan oleh Sinar Harapan ? ”Saya dan pimpinan sudah menerima policy yang tegas. Semua berita yang mengkritik Pemerintah khusus Soeharto dibolehkan,” ujar Rorimpandey. Bagaimana kalau ada risiko ? ”Risiko itu kita terima,” kata Pak Rorim.
Inilah bentuk dari keberanian sikap Pers independen yang dijalankan oleh ”Sinar Harapan”. Karena berani mengkritik, maka Sinar Harapan ditutup. 

Banyak langkah yang diupayakan supaya koran ini bisa terbit lagi. Bukankah penutupan koran memberi dampak yang luas? Ribuan karyawan kehilangan mata pecaharian, demikian pula puluhan ribu agen dengan keluarganya.

Tolak Sudwikatmono
Satu ketika pimpinan Sinar Harapan berkirim surat kepada Presiden Soeharto . Tetapi hasilnya nihil. Sedangkan sikap perusahaan jelas, bagaimana mencari jalan keluar agar PT Sinar Kasih tidak dibubarkan dan karyawan tidak di PHK.

Dari hasil rapat dewan komisaris PT Sinar Kasih, Sinar Agape Pres, dan Sitra diperoleh dua kemungkinan yang bisa dihadapi. Pertama adakan penerbitan baru karena “SH” tidak boleh terbit lagi. Berdasarkan pemikiran itu berkembang pembicaraan, usahakan SIUPP yang baru. Rorimpandey dan TB Simatupang satu pendapat.

Pemikiran kedua, mencoba memenuhi undangan Sudwikatmono. Pembicaraan berlangsung malam hari jam 11.00 di rumah kediaman konglomerat ini di kawasan Permata Hijau.

Sudwikatmono yang didampingi mitra kerjanya Soetrisno berkata : “SH boleh terbit kembali, Pak Rorim tetap pimpinan umum, asal sebagian saham kami miliki”.

Mendengar pernyataan ini, Rorimpandey terdiam. Kemudian ia menunjuk presiden komisaris Soedarjo. Soedarjo menjawab: Ya kami menerima.Tapi kami tanya Pak Rorim”.

Sewaktu ditanya Rorimpandey berbeda pendapat: “Saya menolak. Alasan saya, Pak Dwi, tak bisa saya mengajak anda untuk membagi deviden atau bersama dalam mengambil satu keputusan penting dan kita bersama berdoa. Saya takut mengajak Bapak. Tapi silahkan tanya pada komisaris yang lain, direksi dan pemegang saham. Saya tidak punya saham terbesar di sini.”

Pembicaraan dengan Sudwikatmono ini, pada satu pagi disampaikan kepada Drs. Radius Prawiro dalam kesempatan sarapan pagi di rumahnya. Radius kemudian melakukan pengecekan. Dan hasilnya ternyata Pak Harto tidak setuju “Sinar Harapan” hidup lagi.

Pengecekan juga dilakukan oleh Rorimpandey melalui keponakannya Dirut PT Garuda Indonesia, Lumenta. Lumenta yang menjadi kawan akrab Ka Bakin Benny Moerdani: “Coba tanya Benny, bagaimana komentarnya?” 
”Kalau mau terbitkan koran baru cobalah. Tapi saya tak punya harapan bahwa itu bisa diterbitkan. Jual es teler sajalah. Atau mereka juga bisa mulai dengan asembling mobil, ya apa saja,“ ujar Benny sebagaimana ditirukan Lumenta. 

Paling Gembira
Hari ini Senin , 2 Juli 2001, Harian Sore “Sinar Harapan” resmi diterbitkan kembali setelah menjalani masa tidur panjang, persisnya 14 tahun, tujuh bulan, tiga minggu, 3 hari. “Saya orang yang paling senang, paling gembira. Saya suruh Nico dan Bara siapkan terbitkan kembali koran ini. Saya sangat berterimakasih kepada Aristides Katoppo mau jadi pemimpin umum dan pemimpin redaksi. Apalagi Peter sudah dipanggil bergabung, lalu lain-lainnya. 

Terimakasih juga buat semua yang kerja keras untuk memulai kembali, teman-teman lama redaksi, agen-agen, dan orang-orang iklan serta semua yang telah membantu,“ ujar H.G.Rorimpandey yang kini sudah berusia 79 tahun. Berdarah Kawanua, lahir di Palu (Sulawesi Tengah), memulai karier di masa revolusi sebagai perwira yang ikut mendirikan Siliwangi. 
Dalam dunia pers ia pernah menjadi Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). Sebagai tokoh pers ia yang melahirkan istilah industri pers, setelah melihat kenyataan bahwa usaha pers telah berkembang menjadi bisnis yang melibatkan banyak sektor.***



H. G. Rorimpandey

 

 
 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2002