|
Sihir Televisi
Oleh
Maria Magdalena Bhoernomo
SETIBANYA di rumah, sepulang kerja,
sore itu, Mano terperangah menatap kelopak mata istrinya yang kosong.
Istrinya duduk bagaikan patung di depan pesawat televisi di ruang
keluarga.
”Ya ampun!” pekik Mano, begitu ia melihat sepasang bola mata
istrinya telah menempel di kaca televisi. ”Siapa yang menempelkan
bola matamu di kaca televisi?”
”Bukan aku yang menempelkan bola mataku di kaca televisi itu, Mas.
Tapi kaca televisi itulah yang tiba-tiba menyedot bola mataku,”
jawab istrinya.
Mano terheran-heran menatap kelopak mata istrinya yang sudah kosong
itu. Tak ada darah. Tak ada luka. Benar-benar ajaib.
”Tolong cepat ambilkan bola mataku, sekalian letakkan ke dalam
kelopak mataku, Mas,” pinta istrinya.
Mano segera memungut dua butir bola mata milik istrinya yang
menempel di kaca televisi itu, sebelum kemudian memasangkannya
kembali ke tempatnya semula.
|
|