|
Kongres Komedi
Indonesia
Oleh
Donny Anggoro
Kongres Kesenian Indonesia (KKI) II 2005 baru saja berlalu. Kongres
yang berlangsung di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia
Indah itu berakhir Kamis (29/9) malam, dengan salah satu
keputusannya mendesak DPR dan pemerintah untuk membentuk UU Kesenian.
Jauh-jauh hari sebelum kongres berlangsung, bahkan ketika KKI II
sudah dimulai, terjadi perdebatan seru terutama mengenai pentingnya
kongres yang sempat tertidur lama akibat situasi sosial-politik.
Catatan pendek ini bukan ditulis untuk meneruskan ihwal perdebatan
kongres kesenian yang masih berlangsung atau keluh kesah semata,
melainkan sekadar menengarai bahwa setelah terbukanya kesempatan
memerbaiki keadaan (dalam hal ini para seniman), terselenggaranya
kongres yang diharapkan peserta (terutama dari luar daerah yang
sulit mencapai akses untuk berpijak dari kondisi yang menghambat
dirinya dalam berkesenian) ternyata tak lebih menjadi pathos yang
menyedihkan.
Semula, keterlibatan saya sebagai peserta tak lain mengharapkan
adanya titik temu antara pemerintah dan pelaku kebudayaan, sehingga
tercipta sinergi, lantaran selama ini posisi kesenian dan kebudayaan
cenderung diletakkan sebagai paria dan aksesoris penyambut turis
semata. Syukur-syukur ada ide yang bisa disampaikan.
Dari hari ke hari selama kongres berlangsung, ragam topik acara yang
disusun ternyata begitu campur aduk antara suasana diskusi panel,
workshop, dan rapat kerja. Campur aduknya ini barangkali disengaja,
agar suasana kongres tampak lain dari kongres sebelumnya yang
berlangsung pada 1995.
Namun, campur aduknya ini malah makin menunjukkan ketidakjelasan
maksud KKI II dilangsungkan. Tokoh-tokoh seni maupun orang penting
yang duduk dalam pemerintahan pun banyak yang absen. Mereka, para
seniman-budayawan bukannya enggan hadir, melainkan memang tak
diundang. Seorang budayawan yang tampil sebagai pembicara malah
hadir setelah acara selesai. Sehingga pantaslah, Sutanto Mendut,
budayawan yang hadir sebagai pembicara di hari ketiga dalam topik
“Mengembangkan Gerakan Kesenian Lokal yang Mandiri dan Sinambung”
tanpa tedeng aling-aling malahmengutarakan keluh kesah tanpa
membawakan makalahnya.
Baiklah, di luar carut marutnya penyelenggaraan KKI II ini, saya tak
bermaksud menghujat niat mulia penyelenggara kongres yang sedari
awal pembukaan sudah diprotes seniman yang khawatir KKI II ini bakal
melegalkan pembentukan Dewan Kesenian Indonesia (DKI), yang
berlangsung 22-25 Agustus 2005. Tapi, selama kongres berlangsung ego
dan arogansi klan yang dibalut retorika indah masih ada.
Jangankan mengharapkan pra kongres sebagai ajang pemanasan,
persiapan hal paling sederhana dan mendasar ketika kongres
berlangsung sekalipun juga tak nampak.
Sebutlah, karena tak tersedianya fasilitas Internet untuk pers yang
meliput acara KKI. Spanduk dan umbul-umbul sponsor yang bertaburan
ternyata hanya lebih sedap dipandang, seolah KKI II ini telah
berhasil menyita perhatian banyak media massa. Sehingga pantaslah,
KKI II tak lebih sebagai pentas komedi setengah hati belaka, bukan
kongres sungguhan.
Persiapan yang terburu-buru, satu hal yang lazim dilakukan dalam
semangat SKS, “Sistem Kebut Semalam” (hanya karena alasan
berbenturan dengan ibadah Puasa?), dengan tak melibatkan banyak
pihak, mulai dari tokoh seniman-budayawan, pemerintah (dalam hal ini
bidang pajak, KADIN yang dijadwalkan panitia di hari kedua), bahkan
keterlibatan produsen kesenian dalam jembatan
antarproduser-seniman-masyarakat seperti penerbit buku, majalah,
rumah produksi dan lain-lain pun, sebagai penggembira saja tak
nampak.
Bagaimana sebuah kongres besar berskala nasional dapat berlangsung
walau sudah disadari kongres ini sebetulnya bertujuan positif, yaitu
bagaimana seniman harus bersikap menghadapi proses globalisasi serta
bagaimana cara mendesak pemerintah untuk mengangkat derajat kesenian?
Sungguh menggelikan, memang, di malam yang diam dalam perjalanan
pulang dari KKI sebelum penutupan, tiba-tiba saya berpikir, inikah
yang namanya kongres nasional dengan semangat militan saja?
Wallahualam. Betapa malangnya, wahai seniman Indonesia.
Rawamangun, Oktober 2005
*) Eseis, peneliti pada komunitas Matabambu dan redaktur jurnal
Aksara, tinggal di Jakarta.
|
|