|
CERPEN
Perempuan yang Menjadi ayah
Oleh N. MURSIDI
SELALU disergap ngilu, setiap kali aku pulang ke rumah. Saat tiba di
depan rumah, sebelum bergegas masuk ataupun tatkala sejenak berdiri
di pintu pagar, nyaris membuat langkah kakiku berat untuk memasuki
dengan beringas. Apalagi, setelah kulewati pintu pagar serta
mengedarkan pandang ke halaman, aku terperangkap masa laluku. Sebuah
masa saat aku masih kecil, bermain di halaman, memanjat pohon mangga
besar yang berdiri kokoh di depan rumah dan juga kenangan saat
pulang sekolah. Kenangan itu, masih tetap tinggal dalam ingatan.
Membekas dalam rajut waktu yang sudah lalu, namun tak juga kunjung
terlupakan.
Untuk itu, aku tak segera mengetuk pintu. Berdiri lama, mematung di
depan rumah, mataku terperangkap secuil halaman yang merana. Rumah
tua yang sudah condong dengan cat putih yang mengelupas di
sana-sini. Mataku berair saat pendar mataku menukik tanah bebatuan
dan rumput kering di halaman. Ya, sebuah rumah yang tak berubah
sejak kutinggalkan tiga tahun yang lalu. Rumah yang penuh dengan
nyenyat diam, sejak ayah jatuh sakit.
Ya, jika bukan karena bunda yang selalu mengingatkanku untuk pulang,
mungkin aku tak segera memasuki. Hanya bunda-lah yang memaksa
langkah kakiku segera bergegas. Membuka pintu dengan pelan karena
aku tahu, rumah itu sudah sunyi sejak kepergianku. Lalu, seperti
kepulanganku yang sudah-sudah, bunda selalu terkejut setiap kali
melihat aku sudah berdiri di depan pintu.
"Kenapa kau seperti lupa dengan rumahmu?" Seperti kepulanganku yang
lalu, bunda, memang selalu menanyakan rasa engganku untuk pulang.
Karena aku jarang pulang bahkan saat Lebaran sekali pun.
"Sibuk terus, bunda!" Aku menjawab sekenanya, karena aku pikir rumah
itu memang tak lagi penuh dengan canda tawa. Malahan, aku tak
mencium tangan bunda. Kepulangan seorang anak yang tak seperti
kepulangan dari tanah rantau yang jauh. Ya, kepulanganku ke rumah
sejak kepergianku tiga tahun yang lalu, memang tidak ubahnya seperti
kepergianku tadi pagi, entah pergi ke mana. Tak perlu ada percakapan
dan cerita karena memang rumah itu sudah menjadi sunyi, nyenyat dan
diam. Rumah yang tidak saja hampir roboh, namun juga sudah tidak ada
percakapan yang bisa mendamaikan.
Bagaimana tidak? Ayah, tidak bisa lagi bekerja sejak sakit mengoyak
jantungnya. Ia, hanya berdiam diri di kursi goyang dengan sedikit
kesibukan tak berarti, membaca koran bekas, karena ayah memang tak
lagi mampu membeli koran. Selain itu, ayahku cuma terdiam dengan
khusuk mendengarkan radio tua, yang kutahu lebih tua dari usiaku.
Sebab kutahu, radio itu sudah bercokol di meja dekat kursi tempat
ayah membaca dan menghabiskan hari-hari tuanya yang menyakitkan.
Mungkin ayah tidak pernah membayangkan akan jatuh sakit ketika aku,
kakakku dan adikku butuh biaya kuliah. Tapi, rupanya itu kenyataan
yang menambah siksanya. Ia terserang lemah jantung, komplikasi
berbagai penyakit tua dan juga rasa bersalah.
Untuk itu, kuyakin kalau ayah sakit karena terlalu memikirkan ketiga
anaknya yang butuh biaya banyak, sementara ia tidak mampu dengan
fisik yang sudah digerogoti berbagai penyakit. Belum lagi, sejak
ayah pulang dari tanah suci, usaha pakaian ayah yang kutahu dulu
begitu maju, semakin merosot. Ayah hanya bisa berjalan-jalan di pagi
hari untuk sekadar menjaga kondisi tubuh, dan selebihnya, berdiam
diri di kursi goyang. Menatap senja di langit, saat hari sudah mulai
gelap.
Sebuah rumah yang tak banyak percakapan, juga ketika aku berjalan ke
tempat ayah, yang berdiam diri di atas kursi goyang untuk
menyodorkan koran baru. Melihatku, ayah hanya bertanya, "Ada apa
pulang?"
Selalu ada rasa berat bagiku untuk menjawab setiap pertanyaan ayah.
Entah kenapa, ayah selalu tahu bahwa setiap kali aku pulang, pasti
ada saja urusan penting. Dan itu memang benar!
"Aku pulang karena mau memperpanjang KTP".
Aku menjawab dengan seadanya. Tak juga selalu ada percakapan lebih,
dan itulah rumah yang sudah kutinggalkan tiga tahun yang lalu. Sepi
cerita. Hanya suara radio lirih di dekat ayah yang merona di daun
telingaku, sebelum aku bergegas ke belakang. Mandi.
Lalu, malam berlalu ...
***
SELALU disergap ngilu setiap kali aku pulang ke rumah. Melihat wajah
tua ayah yang sudah keriput saat sinar senja menerobos dari celah
jendela di hari kedua kepulanganku. Aku hanya bisa mengelus dada.
Bagaimana tidak? Pagi tadi, saat subuh merekah, bunda sudah
berangkat ke pasar menggantikan usaha ayah berdagang pakaian.
Padahal, kerja macam itu cukuplah berat untuk bunda. Meski bunda
masih dibantu kuli untuk sekadar mengangkut barang dagangan tapi
bunda juga masih harus membuka bungkus balutan terpal, sebelum
barang-barang itu didagangkan.
Aku tahu semua itu, karena dulu sebelum aku berangkat ke kota, aku
juga sering ke pasar menyusul ayah untuk membantu. Kini, bunda hanya
seorang diri tak ada yang membantu. Ayah sudah tak lagi kuat
melakukan kerja seperti itu di pagi buta dengan berangkat menaiki
mikrolet tua sambil membawa barang dagangan. Aku bisa membayangkan
bagaimana penderitaan bunda sejak ayah jatuh sakit dan semua itu
harus ditanggung sendiri oleh bunda untuk mengirimi aku, adikku dan
kakakku meski tidak seberapa besar jumlahnya.
Aku tak pernah tahu dari mana bunda bisa mampu mengirimi uang kuliah
untuk kami. Sebab, jika hanya mengandalkan hasil jualan pakaian,
jelas saja itu tak cukup. Seberapa besar laba yang diperoleh bunda
dari hasil dagangan untuk seorang pedagang kaki lima? Berapa besar
biaya kuliah kami, anak-anak bunda yang berjumlah tiga, meski
semuanya mendapatkan beasiswa? Tetapi bunda tak pernah mengeluh.
Bunda malah selalu berpesan pada kami untuk kuliah yang
sungguh-sungguh sebab hanya itu yang bisa dia harapkan dari kami.
Ya, bunda hanya ingin kami menjadi orang!
Untuk itu, aku jarang pulang ke rumah. Apalagi sejak mendengar kabar
kalau ayah tidak lagi kambuh meski tak lagi bisa bekerja seperti
dulu lagi. Ayah hanya menghabiskan waktu di rumah dan sejak bunda
bekerja di pasar, ayah --yang tak lagi sakit-sakitan meski tak mampu
bekerja kuat-- lalu menggantikan tugas bunda. Ayah mulai bisa
memasak, mencuci piring dan kadang juga menyapu lantai dan
membersihkan rumah.
Baru saat siang tiba, bunda pulang. Ayahku sudah makan duluan ketika
bunda tiba di rumah. Kebiasaan itu tak saja kulihat sejak aku pergi
merantau di kota atau sejak ayah jatuh sakit. Bahkan kebiasaan makan
bersama di rumah kami, memang sudah sejak dulu tidak pernah ada. Tak
ada meja makan dan canda tawa bersama saat makan bersama di pagi
hari, siang ataupun malam. Mungkin, karena itu rumah kami nyaris
nyenyat percakapan. Bukankah sebuah percakapan selalu dimulai dari
obrolan di meja makan dan rapat sebuah perusahaan selalu dilakukan
dengan acara makan bersama di sebuah restoran untuk menghasilkan
keputusan penting?
Tapi rumah kami memang bukan perusahaan. Rumah yang sepi dari banyak
percakapan, hanya nyaring radio di dekat ayah, yang sering aku
dengar hingga sore tiba. Aku yang duduk di ruang tengah, hanya bisa
menatap wajah ayah di saat senja berbias dengan muram. Sebuah wajah,
yang sudah tua dengan keriput di pipi. Sebuah wajah yang memikirkan
masa depan kami dan tak tahu berbuat apa karena ketuaan telah
membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menatap langit
untuk mendoakan masa depan kami...
Lalu, malam berlalu dan rumah kami selalu tidak ada percakapan lebih
untuk urusan yang tidak penting.
***
SELALU disergap ngilu, setiap kali aku pulang ke rumah. Untuk itulah
aku selalu tak betah tinggal lama untuk sekedar menghabiskan masa
liburan. Apalagi, jika aku harus membandingkan bunda dengan ayah,
maka aku tak lebih dari anak durhaka. Aku seorang lelaki, kenapa
membenci ayah? Apa salah ayah sehingga aku sampai tak simpati? Juga,
kenapa rumah kami sepi percakapan dan bunda harus mengganti perankan
ayah bekerja.
Aku sudah tak lagi betah melihat semua itu di depan mata. Pada hari
ketiga kepulanganku itulah, aku memutuskan untuk kembali ke kota.
Apalagi, urusan perpanjangan KTP sudah beres. Tidak ada yang
membuatku harus tinggal lebih lama. Aku tidak ingin mataku berair.
Seperti pulangku yang selalu membuat bunda terkejut, kepergianku
juga selalu membuat bunda terperanjat. Saat aku pamit bunda hanya
berpesan, "Pergilah ke mana kaki membawamu pulang karena rumah ini
adalah rumahmu!"
Aku menggangguk. Tak mencium tangan bunda, karena kepergianku kali
ini juga tak ubahnya kepergianku di pagi hari, saat aku kecil dulu
tatkala main di halaman maupun di lapangan.
Lalu aku melintasi kursi goyang ayah untuk pamitan, "Kami, anak-anak
ayah, semuanya hanya berharap ayah baik-baik dan kami tak berharap
dari ayah kecuali doa untuk keberhasilan kami!"
Ayah hanya diam. Karena hanya itu yang ia bisa lakukan...
Kuangkat tas ransel, kupasang dipunggung, untuk selanjutnya bergegas
pergi, meninggalkan rumah, yang tidak lagi penuh canda tawa, tidak
banyak percakapan yang bisa membahagiakan. Bunda serta ayah hanya
mengantar sampai di pintu, dan aku bergegas meninggalkan rumah, tak
lagi berdiri sejenak di pintu pagar yang sudah menua, yang nyaris
membuat langkah kaki seperti berat untuk pergi dengan beringas.
Setelah kulewati pintu pagar dan mengedarkan pandang ke halaman, aku
memang terperangkap masa lalu. Sebuah masa saat aku masih kecil,
bermain di halaman, memanjat pohon mangga besar yang berdiri kokoh
di depan rumah dan juga kenangan saat pulang sekolah. Kini, kenangan
itu masih tinggal dalam ingatan. Membekas dalam rajut waktu yang
sudah lama berlalu, namun tak juga kunjung terlupakan.
Apalagi saat aku harus melambaikan tangan untuk bunda yang mengantar
kepergianku saat berangkat ke sekolah sewaktu masih kecil dulu, kini
aku tak melihat semua itu lagi, kecuali ada seberkas sinar keperakan
di mata bunda, perempuan yang menjadi ayah, yang membuatku kenapa
tiba-tiba menjadi rindu untuk pulang, padahal aku belum sepenuhnya
bergegas pergi.***
Cerita untuk bunda, di Lasem
Yogyakarta, 2004
|
|