|
Sastra Arab dalam
Karya-karya Goethe
Oleh
Aguk Irawan Mizan
Bagi yang ingin memahami penyair, maka pergilah ke rumah-rumah
mereka
Mereka akan memilih hidup di negeri Timur Tatkala mengetahui bahwa
yang lama, itu juga yang baru.
Penggalan Syair ”Permintaan Maaf”
Sangatlah besar penghargaan Goethe terhadap karya sastra Arab,
membuktikan kedekatannya secara pribadi dengan warna dan nilai
sastra mahatinggi ini. Dalam beberapa puisi, Goethe terkesan
mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada bangsa Arab karena cukup
mengilhami dan mengontribusikan warna sastra tersendiri dalam
karya-karyanya.
Perkenalan Goethe dengan sastra Arab, secara intensif bermula
semenjak ia sebagai mahasiswa di Universitas Leipzig, tahun 1761
atau pertengahan abad XVIII. Saat Barat menyemarakkan studi-studi
antropologis dan ekspedisi-ekspedisi geografis ke daratan Arab.
Dalam buku keenam dari Puisi dan Cinta, Goethe mencatat perhatian
besarnya pada hasil-hasil ekspedisi itu. Terutama pada Carsten
Neibhur yang pernah mengunjungi Mesir, Yaman dan daerah-daerah Arab
lainnya (1767). Buku Nibhur yang paling ia kagumi, berjudul
Beschreibungen von Arabien atau deskripsi tentang negara-negara Arab
(1767) dan dua jilid buku berjudul Reisebeschreibung nach Arabein
und anderen umliegenden laendern atau investigasi deskriptif ke
negara-negara Arab dan sekitarnya (Kopenhagen 1774, 1778). Dua buku
ini mengilhami Goethe dalam satu karya drama berjudul Muhammad ia
tampilkan di theatre Voltaire tahun 1800. Goethe mempelajari
kesusasteraan Timur, tentunya tidak hanya dari Nibhur, tapi juga
dari beberapa pakar kebudayaan Arab lain yang sering ia sebut. Di
antaranya Peitro della Valle (1587-1652), Jean Baptiste Tavernier
(1605-1689), dan khususnya Jean Chevalier de Chardin (1643-1713)
yang banyak mengumpulkan khazanah sastra Arab.
Di Leipzig, Goethe lebih mencurahkan perhatiannya pada sastra
petualangan. Saat itulah Goethe mulai berkenalan dengan
Al-Mutanabbi, penyair sufi populer di kalangan Islam, dari satu
kasidah yang diterjemahkan Johann Jacob Reiske, seorang pakar bahasa
Arab pada masa itu. Perhatian Goethe pada sastra Arab tidak di
Leipzig saja, namun kedekatannya dengan Timur berkembang ketika di
Strassburg, di universitas ini ia bertemu Johann Gottfried Herder,
kakak kelasnya yang juga seorang pakar kebudayaan Timur, Herderlah
yang mengarahkan Goethe mendalami bahasa Arab, sastra Arab jahili,
sastra Islam dan mempelajari Al-Qur’an.
Meski demikian, tidak banyak yang mengakui kedekatan Goethe dengan
dunia sastra Timur. Fritz Strich dalam bukunya Goethe dan
Kesusastraan Dunia (1946. 2. verb. U. erg. Auflage 1957), menyatakan
tidak menemukan bukti empiris pengaruh sastra Arab lama dalam
karya-karya Goethe. Tapi bila ditelusuri lebih jauh, satu karya
monumental Goethe yang ia sebut Ontologi Puisi Timur, sangat jelas
warna dan nuansa sastra Timur mendominasi gaya dan setting-nya.
Katharina Momsen, dalam bukunya Goethe dan Seribu Satu Malam (1981)
mengungkap keterkesanan Goethe akan dunia sastra Timur. Ini terlihat
dari dialog intensif Goethe dengan karya-karya puisi agung jahili
yang diabadikan dengan nama ”Mu’allaqaat As-Sab’a” (7 kasidah cinta
emas) dan salah satu cerita rakyat (safar) Arab yang dikenal dengan
Seribu Satu Malam. Demikian juga kekagumannya akan sederet nama
penyair Arab jahili: Imru Al-Qays, Amru bin Kultsum, Antara,
Al-harits, Hatim Al-Tha’i, Qays bin Mulawwih, Labid bin Rabi’ah,
Tharfa bin ‘Abd, dan Zuhair bin Salma.
Untuk itu, tulisan singkat ini mencoba menggali warna dan roh sastra
Arab dalam karya-karya Goethe, mungkinkah hal ini mengindikasikan
lintas budaya Arab khususnya Islam dengan kebudayaan pada masa
Goethe.
”Seribu Satu Malam”
Tidak diragukan lagi hubungan erat Goethe dengan cerita rakyat ini.
Satu khazanah sastra yang mendapat penghargaan besar dari bangsanya
sendiri dan diklasifikasikan sebagai salah satu ”Buku Ibu” sastra
tradisional Arab. Katharina Momsen menyebutkan, kisah ini mempunyai
pengaruh kuat dalam karya-karya Goethe. Ia mulai tertarik dengan
cerita-cerita itu semenjak kecil dari ibu dan neneknya. Sehingga
wajar kisah sastra milik bangsa Arab ini memiliki tempat tersendiri
di hati Goethe. Tidak dari sisi pembahasaan saja, tapi juga isi,
pola penulisan dan nilainya.
Dalam beberapa puisinya, Goethe banyak menyebut ”Syahrazaad” (tokoh
pencerita dalam Seribu Satu Malam). Memerankannya untuk
mengungkapkan perasaan tertentu. Seseorang yang mengkritik kumpulan
karya Goethe, akan menemui suatu pola penulisan baru yang selalu ia
gunakan. Goethe dalam beberapa karyanya sengaja
membanding-bandingkan diri kepenyairan dengan Syarazaad, yang dengan
begitu ia mendapati sisi-sisi unik kepenyairan dalam karakteristik
Syahrazaad. Hal ini sangat mempengaruhi cara penulisan cerita
Goethe.
Salah satu novel terkenalnya Wilhelm Meisters Wanderjahre
(Tahun-tahun pengembaraan di Wilhelm Meisters), cukup membingungkan
para kritikus yang mencoba mengidentifikasi dasar bangunan dan
komposisi cerita. Penulisan novel ini terkesan tidak terikat dengan
kaidah tertentu, bebas dan lepas. Sehingga membutuhkan penelusuran
lain dari sisi kesatuan cerita dan keterkaitannya satu sama lain.
Namun pencarian ini tidak akan menemukan hasil yang tepat, karena
dalam menulisnya, Goethe mengakui menggunakan pola penceritaan
Syahrazaad dalam Seribu Satu Malam.
Novel ini ia serahkan kepada khalayak tidak dalam bentuk karya
lengkap dan tuntas, namun disajikan dalam beberapa edisi dan
bersambung. Berbentuk cerber atau drama dalam beberapa babak. Hal
ini menurutnya demi menekankan keutuhan isi dan susunan bahasa pada
setiap bagian cerita, dengan begitu khalayak akan mendapati kesan
tersendiri dalam keindahan bahasa dan isinya.
Pola penulisan ini juga ia gunakan dalam Unterhaltungen Deutscher
Ausgewanderten (Percakapan Para Pengungsi Jerman). Karya ini ia
sajikan seperti Seribu Satu Malam, bersambung dan terbagi dalam
beberapa edisi. Menekankan hanya satu peristiwa dalam tiap bagian
cerita, dan demikian selanjutnya dalam beberapa edisi. Karyanya yang
lain dengan pola penulisan yang sama adalah Puisi dan Hakikat dan
Selama Perjalanan ke Italia.
Tentunya keterpengaruhan Goethe oleh Seribu Satu Malam tidak melulu
dalam pola penulisan, namun terkadang ia juga meminjam tema, judul
cerita dan penokohan dari Seribu Satu Malam. Bahkan dalam satu drama
yang ia tulis ketika masih muda berjudul Fantasi Pecinta, salah satu
tokohnya bernama Aminah, ia ambil dari cerita Seribu Satu Malam. Di
sini ia tidak hanya menggunakan nama tokoh, tapi juga memerankan
Aminah sesuai setting dan karakteristik yang diperankan dalam Seribu
Satu Malam. Nuansa drama ini terkesan disominasi karya sastra milik
bangsa Arab itu.
Sastra Jahili
Orang pertama mengenalkan dunia Barat dengan sastra Arab jahili
adalah William Jones (1746-1794), dengan bukunya Poaseos Asiaticae
Commen tarii Libri Sex atau penjelasan Mu’allaqaat As-Sab’a yang di
terbitkan tahun 1774. Semenjak itu karya ini mewarnai wacana sastra
Barat dengan bertebarannya bentuk asli juga
terjemahan-terjemahannya.
Dalam banyak hal, Goethe tampak mencurahkan segenap perhatiannya
pada kreativitas bangsa jahili itu. Ini bisa kita baca dari
ungkapannya, ”Bangsa Arab adalah bangsa yang membangun kebesarannya
dari warisan sejarah moyang dan memegang teguh adat-istiadat yang
mereka anut semenjak dahulu kala.”
Beberapa hal yang membuat Goethe jatuh hati pada sastra jahili.
Pertama, ciri-ciri umumnya yang menggambarkan suatu kebanggaan
terhadap diri sendiri (suku), keturunan dan cara hidup. Begitu juga
ketinggian bahasa yang mampu menghiasi sesuatu menjadi begitu indah
dengan bahasa-bahasa singkat. Selain itu, keterpautannya dengan
alam, penggambaran tentang gairah hidup, tanggung jawab, keabadian
cinta, kesetiaan, pengorbanan, kepatuhan dan keteguhan mereka
memegang kepercayaan. Ciri-ciri ini didukung kondisi alam dan bentuk
sektarian struktur sosial Arab.
Seperti banyaknya pertikaian antaretnis yang memunculkan peran-peran
keperwiraan dan kejantanan dalam puisi-puisi jahili. Demikian juga
cara hidup nomaden. Sehingga hampir keseluruhan sastra jahili
berbentuk sastra petualangan. Buku Zulikha, yang ia tulis setelah
berpisah dengan Marianne Willemer sang kekasih (1815), sangat mirip
dengan langgam puisi Imru’ Al-Qays.***
Penulis adalah penyair,
tinggal di Kairo.
|
|