|
Komik Tak Pernah
Mati
Oleh Donny Anggoro
Komik Indonesia boleh saja mengalami masa surut sejak 1980-an. Komik
Indonesia boleh saja kalah pamor dengan serbuan komik asing,
terutama komik manga dan produk-produk anime dari Jepang. Komik
Indonesia juga boleh saja sulit diproduksi sehingga banyak penerbit
lebih suka menerbitkan komik impor. Di tengah-tengah gempuran
demikian, komik Indonesia diam-diam terus menggeliat, terutama
gerakan komik underground.
Sekitar tahun 1994 komik Indonesia bangkit walau tampaknya masih
terengah-engah dengan munculnya komik Rama-ShiTa:Legenda Masa Depan
dan komik Imperium Majapahit oleh Gen Mintaraga. November 1995 ada
Caroq oleh Thoriq dari Studio Qomik Nasional dan Awatar Comics oleh
Doddy Wisnuwardhana. Ajang komik nasional seperti Pekan Komik
Nasional juga kerap kali digelar, walau tak bisa setiap tahun secara
rutin dilangsungkan. Tahun 2003 komik M&C! divisi Gramedia
menerbitkan sekaligus tiga judul produk komik lokal yaitu Alakazam
(Donny), Dua Warna (Alfi ”Sekte Komik” Zachkyelle) dan Tomat
(Rachmat Riyadi).
Dua tiga tahun terakhir ini, seiring dengan geliat penerbitan
buku-buku dan media alternatif (bulletin, newsletter, community
magazine, dan e-zine) di Yogyakarta dan Bandung, dua kota tempat
perkembangan cultural studiesnya sedang memuncak, bermunculan
terbitan-terbitan komik underground mewarnai jejak perjalanan
sejarah komik Indonesia.
Beng Rahadian, satu dari komikus muda generasi komikus underground
Indonesia macam Ahmad ”Sukribo” Ismail, Agung ”komikaze” Arif
Budiman, Wahyu, dan lain-lain tak gentar membuat komik bertajuk
Selamat Pagi Urbaz terbitan Terrant Books yang baru saja sukses
mendulang keuntungan dari penerbitan novel Eiffel, I’m in Love.
Di Yogya muncul antologi komik bertajuk Subversi Komik yang terbit
sejak Mei 2004. Antologi komik ini berusaha menghimpun karya komikus
muda pejuang komik underground seperti Ahmad ”Sukribo” Ismail, Agung
”komikaze” Arif Budiman, Wahyu, Windu dan lain-lain. Uniknya,
Subversi Komik ini benar-benar sebuah produk yang tak hanya digagas
sebagai wadah kreativitas dan lahan publikasi komik underground
saja, melainkan sekaligus digagas sebagai representasi kritik
terhadap pemerintah yang telah nyata gagal menangani problem sosial
bernama kemiskinan.
Di Bandung terbit komik Bangor karya Raditya Eka Permana. Komik
bergaya kartun setengah manga ini begitu sarat dengan idiom-idiom
slang khas Bandung. Selain itu terbit pula komik Wanter yang bergaya
surealis mirip karya komikus Peter Kuper karya Dodi Rosadi
(sayangnya tak jelas komik ini diterbitkan di Bandung atau Yogya).
Ada juga komik SC (Super Condom) yang begitu nyeleneh karena secara
fisik komik ini dibuat dalam format kecil, mirip bungkus permen.
Penerbit Indira yang semula hanya dikenal menerbitkan komik impor
dengan serial Tintin sebagai produk andalannya pada tahun ini juga
ikut menerbitkan Dave Salamander komik lokal karya Tunjung Rukmo dan
Denny Djoenad. Produk-produk independen semacam ini bergeliat di
toko-toko buku komunitas (disebut ”distro”) selain ada juga yang
menempuh jalur distribusi toko buku umum seperti Subversi Komik,
Selamat Pagi Urbaz, Caroq, dan lain-lain.
Perjalanan komik pun tak hanya kepada format komik saja. Majalah
komik IndiComic Handbook yang merupakan hasil kerja bareng berbagai
komunitas komik underground seperti MKI (Masyarakat Komik
Indonesia), Indietown, Titikberat, dan lain-lain juga terbit.
Majalah yang formatnya tak sekedar etalase komik karya komikus
underground ini juga berisikan artikel, resensi, dan ulasan komik.
Tak lama kemudian, terbit pula majalah komik Wizard Indonesia yang
merupakan franchise majalah komik Amerika, Wizard. Walau majalah
franchise ini notabene mengandung artikel impor, Wizard Indonesia
juga menyediakan rubrik khusus berupa ulasan komik lokal sebagai
upaya mendukung tumbuhnya perkembangan komik underground Indonesia.
***
Mengamati perkembangan komik lokal yang diteruskan oleh para
”pejuang underground” memang menggembirakan walau sekaligus
menyimpan kecemasan. Menggembirakan karena menghasilkan produk dari
pelbagai komunitas komik seperti Sekte Komik, Daging Tumbuh, Apotik
Komik, Studio’9, dan lainnya, tapi mencemaskan karena karya yang ada
rata-rata masih gagal secara apresiatif.
Para komikus yang rata-rata ”bersembunyi” dalam profesi lain
misalnya animator film-film iklan, desainer grafis, dan ilustrator
buku/majalah notabene masih kurang mengeksplorasi kemampuan
terbaiknya dalam menghasilkan komik. Alhasil, komik yang ada
cenderung senada (kebanyakan bergaya manga dan anime Jepang). Atau
ketika mengeksplorasi gaya lain, misalnya kartun atau komik
Eropa-Amerika, tetap saja terjerembab pada kemiskinan bercerita
sehingga walau unggul secara visual tapi gagal secara naratif.
Semangat kreator yang sejatinya terbuka pada pemikiran dan
aspek-aspek lain, misalnya sastra (yang begitu dekat dengan hakikat
bercerita) jarang muncul sehingga karya yang dihasilkan kurang mampu
diapresiasi dari perspektif lain. Ini memang bukan hal yang mudah.
Namun, sejarah komik Indonesia pernah menghasilkan komikus-komikus
dengan semangat kreator. Sebutlah R.A Kosasih yang dengan komik
wayangnya adalah bukti keberhasilan dia meretas bidang lain, yaitu
sejarah dan filsafat wayang setelah pencapaian visual.
Ada juga Put On di harian Sin Po (terbit tahun 1931) karya Sopoiku
alias Kho Wang Ghie yang merupakan bibit awal komik strip pertama di
Indonesia. Put On adalah keberhasilan Kho Wang Ghie mengangkat
suasana karikatural penduduk kota yang diwujudkan dalam tokoh Put On
yang selalu sial tapi baik hati. Suasana karikatural yang ditangkap
Kho Wang Ghie dalam karyanya mengandung kekuatan aspek sosiologis.
Sama halnya dengan Kosasih, inilah kekuatan komikus lokal kita dalam
merepresentasikan aspek lain setelah teknik visual.
Kosasih dan Kho Wang Ghie adalah sebagian kecil kekuatan semangat
kreator dari sejarah komik nasional kita. Masih banyak nama lain
seperti Teguh Santosa, Ganes Th., Hans Jaladara (sejarah), Hasmi dan
Wid N.S (fiksi ilmiah), Dwi Koendoro (sejarah/sosiologi/ wayang
simbolis), GM Sudarta, Rachmat Riyadi
(sosiologi/imajiner/karikatural) dan lain-lain.
***
Bukan hal mudah jika para komikus hanya menghasilkan karya yang
notabene kurang berpotensi menjadi karya besar. Para komikus umumnya
bekerja sendiri karena komiknya dikerjakan di luar rutinitasnya
sebagai pekerja. Kehidupan dalam komunitas komik sendiri juga belum
berani membuka diri terhadap disiplin ilmu lain. Iklim sosiologis
yang kurang bersahabat dengan produk komik juga menjadi kendala
sehingga tak ada lagi yang berani menggantungkan hidupnya hanya
dengan membuat komik. Serbuan komik impor sendiri juga melulu
dianggap sebagai musuh, bukan sebagai kajian apalagi acuan mengapa
produk impor dapat unggul secara kuantitas dan kualitas.
Tumbuhnya gerakan komik underground di Indonesia memang belum
sebanding dengan yang pernah terjadi di Amerika, walau bukan berarti
tak ada harapan suatu saat karya komik lokal kita unggul setelah
pencapaian visual.
Sejarah komik underground Amerika menghasilkan komik-komik yang
apresiatif karena juga terinspirasi pada gerakan flower generation
yang antiperang (Vietnam) sebagai representasi ketidakpuasan
masyarakat terhadap kemiskinan. Produk gerakan underground lain yang
paling terkenal dan masih terbit sampai sekarang adalah majalah
komik MAD besutan Harvey Kurtzman. Majalah ini mengutamakan semangat
parodi yang diilhami dari kejadian aktual sehari-hari dari pelbagai
sudut pandang, mulai dari sosial, politik, dan budaya.
Gerakan komik underground ini makin berkembang dengan menghasilkan
karya yang tak hanya menjadi media alternatif saja, melainkan muncul
pula komik-komik yang sangat mengutamakan kebebasan berpikir.
Komik-komik ini mampu diapresiasi lebih luas, terutama untuk pembaca
dewasa seperti seri Heavy Metal atau produk komik keluaran
Fantagraphics yang sangat menonjolkan erotisme, komik seri Fables
yang meretas kisah antara dongeng, parodi, dan sastra sampai komik
jurnalistik karya Joe Sacco (sudah diterjemahkan di Indonesia) yang
mampu pula meraih penghargaan prestisius di luar komik.
***
Pada masa kini walau gerakan komik underground Indonesia masih belum
menghasilkan karya-karya yang layak secara apresiatif sejatinya
masih menyisakan harapan bahwa perjuangan dengan cita-cita
menegakkan kembali jayanya komik nasional tak pernah surut.
Kendala-kendala yang ada hendaknya membuka harapan perkembangan
komik lokal kita menuju masa depan lebih cerah.
Tumbuhnya pelbagai komunitas komik underground Indonesia sebagai
representasi perlawanan terbitnya komik impor adalah indikasi
kegairahan itu sehingga bukan tak mungkin suatu saat dapat menjadi
seperti perlawanan yang dilakukan komunitas komik underground di
Amerika, yaitu berhasil menjadi gerakan yang sekaligus unggul secara
kualitas.
Semangat kreator yang terbuka pada berbagai pemikiran hendaklah
digali lebih luas sehingga komik nasional suatu saat benar-benar
mampu berdiri tegak secara kualitas, tak hanya menjadi letupan kecil
semata. Semoga.
Penulis adalah editor sebuah penerbit dan pencinta komik, tinggal di
Jakarta.
|
|