B  U  D  A  Y  A  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Azan
 

Oleh Ulfan Rahmad Usman

Seumur hidup baru tiga kali saya mengumandangkan azan. Pertama, ketika berusia enam tahun, saat belajar mengaji di meunasah dekat rumah. Kedua, saat ujian pelajaran agama Islam di kelas tiga SMP. Terakhir, malam Minggu kemarin, waktu disuruh Pak Rizki, orang tua Gading, calon mertua saya. Kebetulan, dia mengajak saya salat Isya berjamaah di rumahnya.
Saya muslim. Keluarga saya pun begitu. Tapi, sejak kecil saya tak pernah salat, terlebih lagi azan. Bagi saya, suara azan itu aneh. Orang yang mengumandangkan azan juga aneh. Berteriak-teriak sampai urat leher keluar. Namun tetap saja masjid-masjid kosong. Azan seperti tak terdengar dan didengar. Hanya segelintir orang yang memenuhi panggilan itu.
Sebenarnya saya mempunyai kesempatan mengumandangkan azan dua hari silam. Tapi tetap saja tak saya lakukan. Meski jenazah ibu sudah dimiringkan ke liang kubur, dan cuping hidungnya telah mencium tanah, saya tetap tak mau melafazkannya. Saya memilih naik lagi ke atas liang kubur dan berpura-pura bersedih, sambil meremas-remas tanah hingga membentuk bulat-bulatan sebesar kepalan tangan.
Entah sejak kapan saya benci azan. Saya sendiri tak tahu. Yang saya tahu suara itu terasa mengganggu. Iramanya tak pernah pas. Bahkan, kerap memekakkan telinga. Karena itu saya selalu menutup telinga bila azan terdengar bersahut-sahutan, baik dari masjid dekat rumah, musala kantor, maupun dari tanah lapang saat salat Jumat. Saya benar-benar membenci suara azan. Sumpah.
Sering saya lari menghindar, karena suara azan seperti menusuk gendang telinga. Bila sayupnya terdengar di sela-sela gedung kantor, saya akan bersembunyi di basement sambil memasang walkman. Atau masuk ke dalam mobil dan menyalakan klakson keras-keras. Anggota sekuriti gedung sering marah-marah karena suara klakson mobil saya amat berisik.
Jika suara azan masuk ke dalam kamar, saya pasti akan mengeraskan volume radio sampai penuh. Setelah itu, saya akan berbaring di tempat tidur, menutup wajah dengan bantal. Saya baru berhenti menghentikan ritual ini jika suara azan sudah tak lagi terdengar.
Asal tahu saja, kalau muazin masjid melintas di depan rumah, saya akan mencegat dan mengajak dia ngobrol ngalor-ngidul di teras sambil menyuguhkannya teh manis, pisang goreng, dan beberapa batang rokok. Pokoknya saya akan berusaha sekuat tenaga agar si muazin tak mengumandangkan azan. Karena, ya, itu tadi, saya benar-benar membenci suara azan.
Teman kantor memanggil saya Si Kafir. Orang tua menjuluki saya anak dajal. Kedua adik saya, yang uang sekolahnya saya biayai, menyebut saya sebagai orang gila, calon penghuni abadi di neraka. Tapi itu tak disebutkannya di depan saya. Mereka hanya membicarakan bila saya tak ada atau menulisnya di buku harian yang sering tergeletak begitu saja.
Saya tak pernah menghiraukan julukan mereka. Bagi saya, yang penting, Gading tidak pernah tahu kalau saya sangat membenci suara azan. Di mata Gading, saya adalah lelaki baik, sopan, dan bertanggung jawab. Tak pernah sekali pun saya berusaha mencium atau meremas payudaranya, meski dia pernah tertidur pulas di kamar kos, dengan belahan paha menerawang. Kulit mulusnya memang sangat menggoda berahi. Tapi saya tidak mau menidurinya. Ini bukan karena saya tak bernafsu. Tapi semata-mata karena saya sangat menghormati wanita.
Saya masih ingat sorot tajam mata bapak ketika saya menolak azan di liang makam ibu. Mata merah itu begitu menyala. Tatapannya masuk ke rongga hati, dan membekas hingga kini. Mungkin bapak marah. Sebagai anak lelaki pertama, pasti dia berharap saya mau menunduk dan mengumandangkan azan di sisi ibu. Tapi saya emoh melakukannya. Ini bukan karena saya tak bisa azan, melainkan karena saya memang benar-benar membenci suara azan.
Saat adik turun ke dalam liang kubur dan mengumandangkan azan, saya berpura-pura menangis. Sengaja saya melakukan ini agar konsentrasi di kepala terpecah. Saya berusaha keras untuk tak mendengarkan suara azan. Kadang sengaja suara tangis saya keraskan, agar perhatian orang-orang di makam beralih. Dan, prosesi pemakaman tak lagi khidmat. Tak lagi khusyuk.
Melihat hal itu, Gading yang berada di samping saya, merapatkan tubuhnya erat-erat. Dia berusaha menenangkan saya. Terlihat bilur air di ujung matanya. Saya kasihan dan maklum, karena dia memang sangat dekat dengan ibu.
”Sabarlah Han...Semua yang berasal dari Allah, pasti akan kembali ke sisi-Nya,” Kalimat ini keluar dari mulut Gading. Dia coba menghibur saya.
”Berat rasanya kehilangan orang yang dicintai. Saya amat mencintai Ibu,” ujar saya, sambil terus berpura-pura sedih.
”Kamu jangan larut dalam kesedihan, Han. Percayalah, bukan kamu saja yang kehilangan ibu. Saya juga kehilangan,” kini isak tangis Gading mulai terdengar.
Gading… Gading… betapa bodohnya kamu. Apa kamu pikir saya benar-benar sedih atas kematian ibu? Hm, maaf saja, saya tak pernah bersedih, meski harus kehilangan bapak dan ibu sekaligus. Sudah lama saya tidak membutuhkan mereka. Tanpa mereka sekalipun, saya masih tetap hidup, meski harus dilahirkan dari rahim serigala. Saya membatin.
Sudah tiga tahun saya mengenal Gading. Kantornya di samping tempat kerja saya. Jika tak ada aral melintang, tahun depan kami menikah. Gading wanita yang baik. Keluarganya juga baik. Ayahnya imam masjid. Ibunya pengurus majelis taklim yang kerap mengikuti pengajian keliling. Tapi bukan perkara sulit bagi saya untuk mengimbangi pembicaraan mereka. Meski membenci suara azan, sedikit banyak saya cukup paham soal agama. Ini juga yang membuat saya mudah mengelabui ulama, ustad, guru agama di kelas—dulu itu—dan tentu saja orang tua Gading.
Sebenarnya di saat kuliahlah saya menjauhi azan. Pertemanan dengan Karl Marx, Che Guevara, dan Tan Malaka membuat saya kian tak perlu mendengar azan. Sering saya minum teh di kos bersama Marx sambil melewati waktu magrib atau tidur berdua Guevara hingga waktu subuh terlampaui. Saya bukannya tak berdialog dengan Syaikh Hasan Al-Banna, Jalalluddin Rummi, atau pun Imam Al-Ghazali. Tapi itu membosankan. Menjenuhkan. Dan, hanya membuat mata berkunang-kunang.
Kadang saya ingin seperti Soe Hok Gie, yang patriotik, cerdas, juga berani. Melawan pemerintahan korup dan membela kaum kecil tertindas. Tapi sering juga saya mengkhayal menjadi Ahmad Wahib. Terus berpikir tanpa pernah lelah. Terus mencari Tuhan hingga ke mana-mana. Yang membedakan saya dengan Hok Gie mungkin cuma satu; saya tak ingin mati muda. Sebab masih banyak orang yang harus saya pengaruhi.
Lambat laun, saya mulai meninggalkan mereka. Marx, Guevera, dan Malaka tak lagi menarik. Dunia kerja jauh lebih menantang. Ini adalah waktu tepat untuk terus membenci azan. Saya sengaja membuka klub soft and hard clubbing untuk menandingi pengurus musalah kantor. Soft clubbing untuk teman-teman yang sering bareng ngobrol di kafe sambil minum kopi. Sedangkan yang hard untuk teman-teman yang doyan hiburan malam.
Teman-teman saya semakin banyak. Ke mana pun saya pergi, orang selalu menyapa. Pergaulan saya juga kian luas. Mereka bukan hanya teman kantor, kuliah, atau kawan sepermainan di rumah. Anak pejabat, artis Ibu Kota, dan anggota satgas partai juga mulai akrab dengan saya. Beberapa pemain film lawas juga mulai sering menghubungi. Mereka mengaku tak punya teman lagi, setelah tidak lagi dipakai para produser. Sering kami berkumpul sambil minum tequilla dan menenggak ekstasi. Kalau sudah begini kami biasanya mencaci-maki petinggi negeri dan wak haji yang hanya bisa berjanji. Acap kami mem-booking artis sinetron baru yang bisa ”digarap”. Moto kami sederhana, kalau masih bisa berlaku jahat, kenapa harus capai-capai berbuat baik.
Ini berlangsung lama. Sampai seorang teman di Amerika sana, mengirim surat elektronik. Dalam suratnya, dia mengeluh karena sudah lama tak mendengar azan.

Burhan....
Apa kabar? Masih sinting seperti dulu :) Biar lo sinting, tapi gue suka berteman dengan lo. Soalnya, lo gak pernah kapok menraktir kita minum. Lo juga gak pernah bosen ngajak kita pesta seks gratisan. He...he...he...Thanks ya Han...Ngomong-ngomong, kabar si Ine gimana? Masih seksi nggak? Asli, gue gak bisa lupa waktu kita nelanjangin dia di apartemen lo...Edan! bersih abis man....He...he...he...
Untung gue kabur ke sini. Kalo nggak, gue makin rusak bergaul sama lo Han. Di sini hidup gue lebih teratur. Nggak sering dugem, meski banyak tawaran. ”Sinterklas” yang ngasih beasiswa nuntut gue kelar kuliah tepat waktu. Rese, sih, tapi baguslah. Gue jadi gak mikir macem-macem.
Oh ya, Han...gue lagi sedih nih. Sebab, udah lama gue gak dengar suara azan (loe pasti kaget gue kangen dengan azan). Tapi memang begitu yang terjadi. Gue sendiri heran kenapa jadi rindu azan.
Awalnya begini Han. Di sini gue merasa sendiri. Nggak ada tempat untuk mengadu. Setelah gue pikir-pikir, tempat curhat yang paling enak itu ternyata Tuhan. Soalnya dengan Dia, kita bisa bicara apa saja, pake bahasa apa saja. Iya gak sih?
Lo juga dong... sampai kapan loe mau kayak gitu terus? Hhe...he...he.... Eh, jangan lupa balas ya. Awas lo kalo nggak balas!!!

Yang kangen Tanah Air,
Roni

Membaca surat Roni, saya hanya tersenyum kecut. Kemudian dengan cepat menghapusnya, tanpa punya niat untuk membalas. Saya pikir, Roni sudah mulai gila. Buat apa dia kangen dengan suara azan? Seharusnya Roni bersyukur tak lagi mendengar suara azan. Dengan begitu dia tak perlu menutup telinga dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal.

***
Jakarta sepi. Jalan MH Thamrin lengang malam ini. Dalam kondisi mabuk berat, saya berusaha memacu kendaraan menuju apartemen. Di samping saya duduk Cathrine yang juga sudah teler. Kami sepakat mengakhiri pesta malam ini dengan bercinta.
Sepanjang jalan, mulut mungilnya terus saja bersuara. Dia mengoceh tanpa bisa dihentikan. Sebentar menghujat Inul, kemudian memujanya setinggi langit. Kadang mengutuk Soeharto, tapi tetap mau menjadi pacar Tommy. Ah, dasar pemabuk.
”Awasss!!!”
Cathrine berteriak keras. Tangannya ikut membanting setir. Dia melihat seorang perempuan menyeberang jalan. Anehnya, saya tak melihat apa-apa. Mobil yang saya kendarai oleng. Sempat menabrak pembatas jalan, sampai akhirnya terguling tiga kali.
Saat itu saya tak ingat apa-apa. Yang saya lihat hanya sebuah mobil terbalik tepat di bawah jembatan Semanggi. Roda mobil masih berputar. Di dalamnya, tampak dua pasang pemuda-pemudi berlumuran darah. Mereka sama sekali tak bergerak, tergencet atap mobil, dan terhantam pecahan kaca.
Perlahan, pengendara kendaraan mulai berkumpul. Mereka berusaha mengeluarkan dua korban dari dalam mobil. Saya masih terpaku di atas mereka. Menyaksikan semuanya dengan bingung. Polisi dan mobil ambulans juga sudah datang. Kedua korban dibawa ke rumah sakit. Saya terus mengikutinya hingga kamar jenazah.
Pagi menjelang, keluarga pria malang itu datang ke rumah sakit. Anehnya, mereka tak bersedih. Mereka tak menangis. Setelah mengurus semua tetek-bengek, jenazah itu dibawa pulang ke rumah. Saya terus mengikutinya. Melayang di atas mereka.
Rumah keluarga itu terlihat sepi. Tak ada persiapan menyambut jenazah. Tak ada bendera kuning. Tak ada doa yang dipanjatkan. Dan tak terdengar alunan ayat suci Alquran, seperti biasa orang melepas anggota keluarganya pergi ke alam baka. Hanya ada tiga orang di rumah itu.
”Kita makamkan saja mayat Burhan segera. Jangan biarkan dia berlama-lama di sini. Saya malas melihatnya,” kata pria tua di rumah itu. Ekspresinya datar.
”Iya kubur saja sekarang. Kalau perlu buang mayatnya ke kali,” yang lain menimpali. Saya hanya terdiam. Hati seperti teriris mendengarnya.
Setelah dikafani, jenazah dibawa ke pemakaman. Tak ada yang mengantar. Hanya penjaga rumah dan seorang tetangga yang mengotong seonggok tubuh kaku. Mereka jualah yang menggali kubur, serta melemparkan mayat itu ke dalamnya. Tak ada tangisan, tak ada nisan, dan tak ada azan. Ya, tak ada azan di pemakaman saya, di saat saya justru membutuhkannya.

Bekasi, Agustus 2003
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003