|
Olin Pergi ke Bulan
Cerpen M ARMAN AZ
”Selamat pagi, Olin.” ”Selamat pagi juga, Cimot.” ”Bagaimana tidurmu
semalam? Nyenyak?”
”Ya, Cimot. Semalam aku mimpi indah.”
”Oya? Mimpi apa? Ceritain, dong.”
”Mmm, aku ketemu peri cantik. Dia membawaku terbang ke langit,
Cimot. Kami tamasya ke tempat-tempat yang indah. Banyak anak-anak
sepantarku sedang menyanyi, menari, dan bermain di setiap tempat.”
”Wah, asyik dong. Lalu?”
”Terus, dia janji akan mengajakku ke istananya di bulan. Aku bebas
mau ke mana saja. Katanya, di bulan tak ada tempat untuk air mata
dan duka nestapa. Kamu nanti ikut, ya. Aku boleh mengajakmu, kok.
Dia juga janji akan mendongeng untuk kita.”
Begitulah Olin. Sejak orang-orang dalam rumah itu sibuk
masing-masing, Olin pun hanyut dalam dunianya sendiri. Dibangunnya
masa kanak-kanak dengan imajinasi, seperti membangun istana pasir di
pantai. Tak pernah sedih meski ombak menyapunya.
Bocah empat tahun itu memang beruntung. Dia terlahir dalam keluarga
serba ada, yang tidak dijangkiti kecemasan meski negaranya jatuh
melarat. Mau makan, tak perlu bersungut karena harga-harga mahal.
Apalagi antre berjam-jam di bawah terik matahari demi sekilo dua
kilo beras.
Tengok saja kamarnya. Cermin keluarga modern penghuni kota besar.
Meja belajar dan perangkat komputer lengkap. Lemari berhias ukiran
di pesan langsung dari Jepara. Isinya aneka macam boneka. Saking
banyaknya, sebagian yang tak muat di lemari di susun di pojok kamar
atau dibiarkan tergeletak di spring bed. Sejajar dengan ranjang ada
televisi plus play station. Belum lagi AC yang siap melindungi Olin
dari terik. Surga yang nyaman untuk seorang bocah.
Olin berjingkat menuju jendela. Rambut ekor kudanya
bergoyang-goyang. Jemarinya menjulur, membuka lebar-lebar daun
jendela. Angin dan sinar matahari pagi menyeruak masuk. Dia
bertengger di jendela sambil menjulurkan kepala. Sekonyong-konyong
roman muka Olin keruh, menatap pagar tembok yang tingginya menyaingi
atap rumah. Membosankan! Sudah lama Olin penasaran. Seperti apa
dunia di balik tembok tinggi itu? Pernah terpikir olehnya untuk
bertemu Doraemon dan meminjam baling-baling bambunya, agar bisa
terbang melihat kehidupan lain selain ruangan yang kelak saat ia
dewasa, akan dikenangnya sebagai penjara.
Bola matanya bergerak lincah. Di bawah sana ada Mang Parmin. Tukang
kebun rumah itu sedang memperbaiki pancuran air yang rusak sejak
tiga hari lalu. Olin tersenyum melihat gerak-geriknya.
”Kenapa tersenyum, Olin? Ada yang lucu di luar sana?”
”Hihihi, Mang Parmin basah kuyup, Cimot. Mang Parmin! Jangan main
air! Nanti sakit!”
Mang Parmin menoleh ke arah jendela. Tersenyum pada tuan putrinya,
lalu berteriak menyuruh Olin turun, menemaninya memperbaiki pancuran
air.
”Kita turun, yuk, Cimot?!”
”Ayo! Kita main di taman!”
Tangan mungil Olin meraih tangan Cimot. Memeluk dan membawanya ke
taman belakang rumah. Matahari minggu pagi bersinar ramah. Cahayanya
menyepuh daun-daun.
***
Untuk bocah seukuran Olin, apa yang tercetus dari mulutnya,
kadangkala di luar batas kewajaran anak kecil. Orang bisa
terkaget-kaget mendengar kepolosannya. Zaman telah berubah. Makanan
bergizi, informasi yang mudah dijangkau, teknologi canggih, dan otak
yang encer, bersekutu membentuk Olin yang pemikirannya dewasa secara
prematur.
Pernah suatu pagi Bik Lasmi belingsatan dan mukanya bersemu merah.
Itu terjadi setelah malamnya, Olin memergoki Winda, kakak
perempuannya yang sudah SMU, duduk berdempetan dengan seorang
mahasiswa di gazebo belakang rumah. Suasana memang remang-remang,
tapi mata bening Olin tak bisa dikelabui. Dengan nada polos, dia
bertanya pada Bik Lasmi. Sebuah pertanyaan singkat: ”Kenapa orang
pacaran meremas-remas dada, Bik?”
***
Rumah megah itu kehilangan jiwa. Penghuninya seperti orang asing
yang kebetulan bertemu di jalan. Berpapasan tanpa tegur sapa lalu
melengos membawa wajah-wajah kaku mereka. Kesibukan memang menuntut
pengorbanan. Untuk itu mereka memilih jarang pulang dan persetan
dengan keadaan keluarga.
Suatu hari, Olin hilang. Seisi rumah panik dibuatnya. Bagaimana
mungkin anak sekecil Olin bisa raib begitu saja? Jangankan
tanda-tanda telah terjadi penculikan, secuil jejak kekerasan pun tak
ditemukan di setiap jengkal rumah itu.
”Apa? Tidak mungkin! Bagaimana Olin bisa hilang? Cari sampai
ketemu!” itulah bentakan pertama yang melompat dari mulut nyonya
rumah. Roti yang tinggal beberapa senti di depan mulut yang
menganga, diletakkannya lagi di piring. Matanya melotot tajam
menatap Bik Lasmi. Perempuan tua itu telah merusak suasana paginya.
Buru-buru dia menghubungi suami, dan anak-anak.
”Maaf, Nyonya, sudah saya cari ke mana-mana, tapi Neng Olin nggak
ketemu juga.”
Ke mana anak itu? Tak ada yang tahu. Sepasang majikan dan dua tuan
muda itu bingung. Apalagi Mang Parmin dan Bik Lasmi, suami istri
yang dilimpahkan tanggung jawab penuh mengurus tetek bengek rumah.
Rasanya mustahil Olin melarikan diri. Semua yang dibutuhkannya
tersedia di rumah. Lantas, apa atau siapa yang menyebabkan Olin
hilang?
Mang Parmin susah payah menyembunyikan rasa gugupnya. Dia menyimpan
rahasia yang bisa jadi petunjuk hilangnya Olin. Tapi, sungguh tidak
masuk akal kalau menceritakan kejadian semalam. Dia mendengar Olin
ngobrol dengan seseorang. Persisnya bukan seseorang, tapi Cimot,
boneka perempuan yang kumal namun begitu disayangi Olin. Mang Parmin
masih ingat apa yang didengarnya semalam. Olin berkeluh kesah pada
Cimot tentang peri yang tak kunjung datang menjemput. Tentang bulan.
Tentang istana dan taman yang indah. Juga tentang niatnya untuk
mencari peri dalam mimpinya yang berjanji mendongengkan cerita.
Mang Parmin membayangkan ia ceritakan hal itu pada tuannya. Mereka
pasti keheranan mendengar cerita nonsens itu. Mungkin mereka akan
menganggapnya telah berbohong. Lalu bisa saja ia di tuduh berkomplot
menculik Olin, lalu minta tebusan. Bahkan, yang lebih parah, ia dan
Bik Lasmi psati dipecat majikan mereka.
Mang Parmin tersiksa. Dorongan yang memaksanya untuk bercerita, sama
berat dengan hasutan untuk tetap bungkam. Apa yang harus dilakukan,
membuat Mang Parmin seperti bertumpu di ujung tanduk.
***
Sudah berminggu-minggu pencarian dilakukan. Sudah banyak usaha di
tempuh. Menebar berita kehilangan Olin ke media massa, juga minta
bantuan orang pintar. Barangkali dengan kemampuan yang dimiliki,
mereka ada petunjuk di mana Olin berada. Tapi kesimpulannya sama
saja. Nihil. Olin seperti raib di telan bumi.
Lambat laun, perasaan duka yang memayungi rumah megah itu pudar
digerus waktu. Kesibukan menghisap mereka. Papa Olin yang pasrah
dengan nasib anaknya kembali menggeluti bisnisnya. Mamanya
disibukkan dengan butik dan sanggar senam yang baru diresmikan.
Kakak lelaki Olin tersesat di dunia hura-hura. Kakak perempuan Olin
makin tuman gonta-ganti pasangan. Mereka seperti tak merasa bahwa
Olin pernah ada. Hati mereka sudah jadi batu.
Begitulah, hari-hari berlalu seperti sedia kala. Gersang. Kesunyian
yang membentengi istana itu seperti menyaingi pekuburan. Penghuninya
makin jarang pulang. Kalau pun ada di rumah, tak pernah lama. Mereka
pura-pura lupa bahwa Olin pernah ada.
Tinggal Mang Parmin dan Bik Lasmi menunggui rumah itu, tanpa pernah
mengerti apa yang sesungguhnya sedang mereka tunggu. Kalau suasana
sudah benar-benar sepi, kedua jongos tua itu akan duduk di taman
belakang. Biasanya, mereka melirik jendela kamar itu. Tempat seorang
bidadari mungil biasa bertengger, dan dengan tongkat ajaibnya
menyulap rumah itu jadi penuh warna. Sejak Olin pergi, hidup mereka
tak lagi dihiasi mimpi indah. Ketika di puncak kehilangan, mereka
kerap bergumam lirih dan nyaris tak terdengar, ”Olin, ke mana kamu
pergi?”
Bandarlampung, 2002
|
|