|
Sri Ajati: Chairil Anwar Tak Pernah Menyatakan Cinta
MAGELANG—Wanita tua yang kini telah berusia lebih dari 83 tahun dan
tinggal di kompleks ABRI, Taman Badakan, Magelang, itu masih
menyisakan garis-garis kecantikannya di wajahnya. Sekalipun harus
duduk di kursi roda, ia tak pernah mengurangi aktivitasnya, termasuk
kegiatan sosialnya di Rotary Club Magelang.
Ingatannya masih tajam. Ia bahkan masih fasih berbahasa Belanda,
Inggris, Jawa, Sunda, Padang, Aceh, dan Banjar.
Dia adalah Sri Ajati alias Ny. R.H. Soeparsono, istri almarhum Mayor
Jenderal TNI dokter R.H. Soeparsono—mantan Kepala Rumah Sakit
Tentara (RST) dr. Soedjono, Magelang, yang wafat tahun 1994. Nama
Sri Ajati diabadikan oleh penyair (almarhum) Chairil Anwar dalam
sajaknya yang terkenal ”Senja di Pelabuhan Kecil” yang selengkapnya
berbunyi:
Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Dari : Deru Campur Debu (1949)
Kritkus Sastra Indonesia Dr. HB. Jassin (almarhum) menilai sajak
tersebut sebagai suatu kerawanan hati, suatu kesedihan yang mendalam
yang ”tidak terucapkan”. Apakah latar belakang sajak ini ?
Kata kuncinya adalah seorang gadis yang bernama Sri Ajati, seorang
gadis yang tinggi semampai, warna kulitnya hitam manis, rambutnya
berombak, kerling matanya, kerling matanya sejuk dan dalam. ”Tidak
ada agaknya pemuda sehat yang tidak akan jatuh cinta padanya,” kata
Jassin dalam bukunya ”Pengarang Indonesia dan Dunianya” (Penerbit
PT.Gramedia, Jakarta 1983).
Apa yang hendak diungkapkan Chairil Anwar yang meninggal 28 April
1949 di Jakarta dengan sajaknya Senja di Pelabuhan Kecil? Tanpa
kata-kata ”sedih” dan ”rawan”, hanya dengan lukisan suatu keadaan
yang menimbulkan rawan itu, kita seolah-olah melihat suatu pigura
dalam sajak itu.
Sebuah lukisan pemandangan di tepi laut, dengan gudang-gudang dan
rumah tua. Kapal dan perahu yang berlabuh tiada bergerak. Hari
gerimis menjelang malam. Terdengar kelepak elang di kejauhan. Di
tengah perjalanan yang muram itu, si penyair berjalan tanpa cinta
dan harapan, berjalan seorang diri sepanjang semenanjung.
Merasa Tergetar
Sri Ajati alias Ny. R.H. Soeparsono yang kini telah menjadi nenek
dari 4 orang putra dan 6 orang cucu, ketika ditemui SH baru-baru
ini, di Magelang menyatakan merasa tergetar dengan sajak Chairil
Senja di Pelabuhan Kecil . ”Saya merasa tergetar dan sedih membaca
sajak tersebut. Saya tahu kalau Chairil membuat sajak untuk saya
dari cerita Mimik Sjahrir, anak angkat Bung Sjahrir (almarhum).
Konon sajak itu indah sekali,” ujarnya.
Sri Ajati kenal baik dengan Chairil ketika ia bekerja sebagai
penyiar radio Jepang di Jakarta tahun 1942. Sri Ajati kelahiran
Tegal, Jawa Tengah, 83 tahun lalu, pernah kuliah di Fakultas Sastra
di Jakarta.
Ketika Jepang masuk Indonesia, semua sekolah ditutup dan ia terpaksa
menganggur. ”Saya tidak mendapat kiriman uang dari orangtua yang
saat itu berada di Binjai, Sumatera Utara. Untung saya dipanggil
Mr.Utojo Ramelan, bapak Farida Utojo, untuk bekerja sebagai penyiar
di Radio Jepang,” tambahnya.
Di sinilah, Sri Ajati mulai kenal dan sering berkumpul dengan
seniman muda waktu itu, seperti Usmar Ismail, Rosihan Anwar, Gadis
Rasid, Nursamsu, Zus Ratulangi, H.B.Jassin dan seniman muda Chairil
Anwar.
Chairil, kata Sri Ajati, sering datang ke rumahnya di Jalan
Kesehatan, Tanah Abang, Jakarta. ”Suatu hari Chairil datang ke rumah
saya. Saya duduk di kursi rotan, sedang Chairil duduk di lantai
sambil menceritakan bahwa ia baru mengunjungi seorang temannya
bernama Sri. Sang gadis yang bernama Sri memakai daster. Sambil
memegang daster yang saya pakai, Chairil berkata bahwa daster yang
dipakai Sri terbuat dari sutera asli. Kebetulan daster yang saya
pakai terbuat dari sutera asli. Saya tidak tahu siapa yang dimaksud
dengan gadis yang bernama Sri,” katanya.
Apakah Chairil pernah menyatakan cintanya kepada Sri Ajati dengan
terus terang? ”Orang mengira dengan lahirnya sajak itu seakan-akan
Chairil jatuh cinta pada saya, dan seolah-olah berkata-kata langsung
kepada saya. Lagian waktu itu saya sudah punya pacar, seorang calon
dokter, bernama Soeparsono,” jelasnya.
Ny. R.H. Soeparsono yang pernah tampil di pentas ”Ken Arok dan Ken
Dedes” karya Muhammad Yamin di Gedung Kesenian Jakarta tahun 1947,
menyebut penyair pelopor angkatan ’45 ini sebagai seorang seniman
komplet seratus persen.
”Dia orang yang di dalam hatinya selalu ada desakan-desakan untuk
melahirkan sesuatu. Dia bukan orang atau seniman biasa. Setiap kali
saya berjumpa, ciri khasnya adalah matanya merah karena kurang
tidur, rambutnya berantakan, di tangan kiri atau kanan selalu
membawa buku. Memang Chairil dikenal sebagai seorang yang gila dan
kutu buku,” kisahnya.
Masuk Penjara
Sehabis diterima Presiden Soeharto di Istana Merdeka sekitar tahun
‘90-an, Ny. R.H. Soeparsono yang saat itu sedang mendampingi
suaminya didekati seorang wartawan yang kebetulan tahu ”kisah
khusus”-nya dengan Chairil Anwar. Wartawan itu bertanya andaikata
penyair ini hidup di zaman Orde Baru, apa yang bakal terjadi?
Dengan terenyum, Ny.R. H. Soeparsono menjawab, ”Pasti dia masuk
tahanan atau penjara. Chairil adalah seorang seniman yang jujur, tak
tahan dan tidak bisa melihat hal-hal yang kurang baik dan kurang
benar. Dia selalu berkata apa adanya.”
Istri dokter ini masih suka menyanyi, terutama lagu-lagu klasik.
Rumahnya di komplek ABRI, Magelang di tahu 60-an pernah dijadikan
markas seniman-seniman Magelang untuk berlatih drama.
Tidak heran kalau Sri Ajati alias Ny.RH.Soeparsono dalam usianya
yang ke-83 tahun lebih masih dekat dengan seniman dan masih aktif
mengikuti perkembangan kesenian di Indonesia dan dunia
Internasional.
Ada kisah lucu di tahun ‘70-an. Waktu itu, rumahnya sedang dipakai
oleh seniman-seniman Magelang yang tergabung dalam Teater Magelang
(Tema) pimpinan Hamung Tukijan berlatih drama Mega-Mega karya
almarhum Arifin.C.Noer. Dalam latihan terkadang terdengar suara
keras dan teriakan-teriakan. Mendengar suara itu, salah seorang
tetangganya, Ny.Roos Taher berlari-lari mendatangai rumahnya untuk
melihat apa yang terjadi.
”Ketika melihat yang terjadi di rumah saya, para seniman yang sedang
berlatih drama, Ny. Roos Taher hanya tersenyum, dan malah mengikuti
latihan itu sampai usai,” kata Ny. R.H.Soeparsono dengan tersenyum.
Siapa Ny. Roos Taher? Ia adalah isteri Jenderal Taher, yang waktu
itu menjabat Gubernur AKABRI. Dia juga seorang seniwati, yang pernah
mengajar teater di IKJ.
(SH/bambang soebendo)
|