|
Pramoedya Ananta Toer:
Dulu, Saya Tak Pernah Menyangka
akan
Menjadi Tua
JAKARTA—Kabar tentang terpilihnya Pramoedya Ananta Toer sebagai
orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari
Indonesia) versi majalah Time ternyata ditanggapi dengan sangat
biasa oleh yang bersangkutan. Menurutnya, pemilihan semacam itu
adalah hak dari publik. ”Saya memang sudah sering ditulis dan
diwawancara oleh Time. Untuk kabar ini, saya belum membacanya, baru
dengar dari wartawan,” ujarnya.
Namun, sesungguhnya ada kabar lain yang menggembirakan hatinya.
Novel Nyanyi Sunyi Seorang Bisu telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Portugal. Pada sampul novel yang judulnya menjadi Soliloquio Mudo,
dikutip juga tentang pernyataan majalah Time beberapa waktu lalu,
bahwa Pramoedya adalah salah satu penulis kuat untuk calon pemenang
Nobel. ”Sejak 1981, saya telah menjadi kandidat Nobel,” katanya.
Matahari belum menunjukkan kegarangannya saat SH menemui seorang
sastrawan besar yang karyanya terkenal ke seantero dunia, Pramoedya
Ananta Toer di rumahnya yang cukup luas. Kata orang, sastrawan
memang kerap memilih kediaman yang terpencil. Lihat saja Rendra,
Hamsad Rangkuti, atau Gerson Poyk yang tinggal di Depok. Mungkin
Pram bisa masuk kategori itu. Namun, sekalipun terpencil di daerah
Bojong Gede, rumahnya tetap terbuka. Cahaya matahari dapat masuk
dengan leluasa ke setiap kisi pintu dan jendela.
Tiba di kediamannnya—setelah terlebih dahulu menetapkan janji untuk
bertemu—kami melihat sebuah kendaraan dengan tanda CD (Corps
Diplomatic) terparkir di halaman rumah. Pram sedang menerima tamu
dari Kedutaan Portugal. Untungnya, dalam percakapan keduanya yang
serius itu, ibu Maemunah—istri Pram—melihat kedatangan kami dan
mempersilakan duduk. Senyum yang ramah bercampur keakraban menyambut
kehadiran kami disambung dengan sajian teh.
Baru setelah tamu dari Kedutaan Portugal pamit, Pram kemudian
muncul. ”Tunggu ya,” katanya, dengan wajah dan senyum yang tak
berubah. Hangat. Kami pun menunggu di teras rumahnya. Pram masuk
sebentar, kembali dengan sebungkus rokoknya.
”Dari media mana tadi? Sinar Harapan?” kata lelaki kelahiran 6
Februari 1925. Kami lalu mengatakan niat untuk mewawancarainya
sehubungan dengan berita tentang Pramoedya Ananta Toer yang terpilih
sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia versi majalah Time.
”Saya tidak tahu itu, saya justru baru dengar dari wartawan,”
katanya. Namun, Pram mengatakan telah beberapa kali diwawancara oleh
Time. Nyatanya, tak hanya penghargaan dari majalah itu, anugerah
Magsaysay pun sudah pernah diraihnya. Bahkan pada novel Nyanyi Sunyi
Seorang Bisu, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Portugal,
Soliloquio Mudo tertera keterangan di sampulnya: O Principal
candidato asiatico ao premio Nobel (Time)—bahwa Pram adalah calon
kuat peraih Nobel.
Tentang Nobel, Pram mengatakan telah mendengar beberapa kali tentang
pencalonannya. Soal kontroversi di negaranya sendiri, menurutnya
Amerika kadang bisa lebih demokratis dalam melihat profil seorang
pemikir. ”Gao Xingjian, pemenang Nobel dari Cina yang lari ke
Amerika atau siapa itu yang dari Italia (komedian Dario Fo-red), itu
kan juga kontroversial. Waktu mereka menang, banyak orang yang
marah,” ujar mantan karyawan Kantor Berita Domei di masa penjajahan
Jepang.
Seberapa kuat karya sastra bisa mempengaruhi masyarakat global? ”Ya
persisnya saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah karya saya yang
telah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia. Artinya,
apa yang ada di karya saya itu masuk ke dalam alam pikiran pembaca.
Tentang apakah alam pikiran bisa menggerakkan perbuatan atau tidak,
itu soal lain,” ujarnya.
Nyatanya, bagi Pram, Indonesia memang suatu saat harus mampu
menampilkan penulis Indonesia yang mampu memperoleh Nobel. ”Kalau
Indonesia tidak bisa meraih Nobel karena mungkin Akademi Swedia
tidak punya ahli bahasa Indonesia sehingga semuanya harus melalui
terjemahan,” ujar Pram, setengah bercanda.
Detail
Hidup Pram memang tak lepas dari terali penjara. Tak hanya dalam
rezim Orde Baru, pada pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan
pada tahun 1947—1949. Tahun 1965 hingga 1979, dia pun kembali
ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang,
Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.
Begitu pun dengan nasib karyanya. Banyak hasil tulisannya yang
dirampas Belanda, Inggris dan bahkan pemerintahan Indonesia sendiri.
”Nggak ngerti hidup saya begini. Dirampasin, diinjek, dihina,”
katanya. Bahkan saat mendengar tentang karyanya yang pernah dibakar
dan dirampas oleh rezim Orde Baru, wajah Pram makin terlihat
mendung. ”Nggak ngerti saya, kalau negara membutuhkan, silakan
ambil. Tapi, pakai tanda terima segala macem. Itu ‘kan lebih baik.
Ini dirampas dan dibakari, nggak ngerti. Naskah-naskah, dokumentasi,
dokumentasi saya itu mulai abad sebelumnya, berapa harganya, nggak
bisa dihitung. Nggak ngerti kok bisa berbuat begitu,” ujarnya.
Suaranya tertahan, ada tangisan yang berusaha dia sembunyikan di
balik wajah tuanya.
Menurut Pram, setiap sastrawan, harus siap menanggung segala
konsekuensi atas karya-karyanya. ”Penulis harus berani. Dia harus
mau mempertanggungjawabkan karyanya,” ujar Pram. Perkara keberanian
juga membuat dia tetap konsisten untuk berkarya, bahkan ketika ia
dipenjara sekalipun. Pada tahun 1972, saat di penjara, Pram
”terpaksa” diperbolehkan oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di
penjara. Waktu itu, Amerikalah yang memaksa rezim agar Pram dikirimi
mesin tik—walau kiriman mesin tik itu nyatanya tidak pernah
sampai—sehingga kawan-kawan sesama napi pun terpaksa membikinkan
mesin tik bekas buat Pram.
Lantas, apakah pengarang yang cukup dikenal di dunia ini juga
menyukai karya sastrawan lain? Dengan rendah hati, dia katakan kalau
dia pun menyukai beberapa karya dari luar, termasuk Leo Tolstoy,
Anton Chekov, atau John Steinbeck. ”Saya belajar dari Steinbeck,
pernah baca karya Steinbeck? Coba perhatikan, sampai lalat terbang,
segala macam diungkap untuk menggambarkan suasana. Sehingga kalau
kita baca Steinbeck seperti nonton film. Nah, itu berpengaruh sama
saya. Kalau baca buku saya ‘kan seperti nonton film. Pelajari gaya
bahasa dia, itu gaya plastik namanya. Kita baca seperti nonton film,
semua tergambar,” ujarnya. Namun, Pram tidak suka dengan karya
Ernest Hemingway, ”Tidak manusiawi,” kata pengagum peraih Nobel,
Gunter Grass.
Selain membuat novel, ternyata Pram pernah juga menyusun syair-syair
puisi. ”Tapi saya sudah mulai bosan dengan perasaan,” kata anak
Kepala Sekolah Instituut Boedi Oetomo, Blora. Karena itu, dia hanya
membuat novel yang rasional, dan sama sekali tak menyukai sastra
yang bergaya irasional.
Pram berpendapat penulis sekarang juga harus berani dan mampu
mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Hanya, dia
sadari kondisi saat ini membuat penulis dan pemikir muda harus
menghadapi sesuatu yang sangat berat, keberanian menempuh risiko
seorang diri. Di negara dunia ketiga di mana kondisi rakyat
memprihatinkan, para penulis sesungguhnya memikul tanggung jawab
yang lebih berat. Cuma, banyak generasi sekarang yang pemikirannya
terlampau miskin, perhatiannya pada kemanusiaan nggak ada. ”Cuma,
itu urusan kalian lho. Sudah bukan urusan saya lagi,” kata Pram,
dengan nada yang kocak.
Tegar
Kini, Pram mengaku sudah makin kepayahan. Mencangkul yang dulu dia
bisa lakukan enam hingga delapan jam hanya bisa dua jam saja. Bahkan
pernah, selama dua tahun, Pram sama sekali tidak bisa mengangkat
benda apa pun. Itu mulai dia sadari saat hujan datang, ketika dia
masih mencangkul di kebun. ”Rupanya suhu badan saya dipatahkan oleh
suhu alam,” katanya, dengan gaya bahasa khas Pram.
Dia bahkan sudah tidak membuat karya lagi kini. Bagaimana kalau ada
ide yang mendesak, tidak berupa Kali Lusi di Blora, tapi tentang rel
di Stasiun Bojong Gede? Menjawab itu, Pram hanya tersenyum tipis,
sedikit menggiris. ”Lha, konsentrasinya udah bubar nggak keruan.
Itulah, dulu saya tidak pernah menyangka akan menjadi tua.
Perasaan kuat badan saya, nggak tahunya sama saja dengan yang lain,
kemerosotan otak,” kata lelaki asal Blora yang berasal dari daerah
bagian kelompok masyarakat Samin. ”Masyarakat Samin yang dikenal
antiperaturan kolonialis itu menginspirasi Gandhi lewat Swadeshi dan
Satyagraha lho,” ujarnya.
Kini, dia ingin bersunyi-sunyi di kediamannya, berternak dan
berkebun. Dia memang sudah lama tidak ke Blora. ”Nanti dari Eropa,
mungkin saya ke sana. Betulin rumah,” katanya. Mulai bulan Mei, dia
akan melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Negara yang
akan ditujunya pertama adalah Swiss, lalu menyeberang ke Italia
untuk menerima penghargaan Laureate Novelist dari Universitas
Bologna, Italia Utara.
Dia juga berencana akan ke Spanyol (dalam bahasa Catalon) dan ke
Yunani untuk meluncurkan Gadis Pantai. ”Juga undangan ke Prancis
yang saya tidak tahu acaranya,” ujar lelaki ini sambil terus
menghisap rokoknya dalam-dalam. Tampaknya, novelis Anak Segala
Bangsa ini telah menjadi anak segala bangsa dalam arti sesungguhnya.
Berkelana, mengarungi beberapa negara dan bangsa ...
(SH/sihar ramses simatupang)
|