P A R I W I S A T A  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Sensasi Wisata Taman Nasional
 

Oleh ES Damayanti

Liburan adalah hal yang paling membahagiakan. Kenapa demikian? Bagi kami sekeluarga, waktu liburan seringkali kami rindukan. Pada saat liburan inilah, kami baru bisa berkumpul. Secara intens bisa menatap anak-anak kami sepanjang hari. Musim liburan ini, kami mengunjungi taman nasional Tanjung Putting, Kalimantan. Perjalanan yang tidak terlalu jauh, untuk bisa kami tempuh. Karena, kalau mau naik kapal laut bisa kami lakukan dari Semarang. Atau kalau memilih yang lebih praktis, naik pesawat.
Mengunjungi Taman Nasional Tanjung Putting, memang sangat menakjubkan. Di taman nasional ini, begitu banyak pengalaman yang bisa kami dapat. Walau, hanya dalam beberapa hari saja. Menyusuri sungai-sungai Kalimantan, menuju Taman Nasional Tanjung Putting, dengan kapal klothok, adalah pengalaman baru bagi kami sekeluarga. Tidak rugi memang, kami sudah menabung selama setahun untuk bisa mengunjungi Taman Nasinal Tanjung Putting ini. Di kawasan ini, paling tidak anak-anak saya bisa melihat orang utan. Hewan yang sangat langka dan seringkali menjadi bahan perbincangan banyak kalangan, karena potensi kepunahannya.
Di balik perjalanan wisata kami ke Tanjung Putting, sekiranya ada sesuatu yang mengganjal yakni persoalan pengembangan taman nasional. Pernahkah kita membayangkan, bahwa sesungguhnya Taman Nasional, seperti Taman Nasional hutan dan Taman Nasional laut, bisa dijual? Selama ini, tampaknya kita jarang sekali mengetahui, bagaimana sesungguhnya Taman Nasional bisa mendatangkan keuntungan yang besar manakala dikelola secara ekonomis. Pengalaman negara-negara maju, justru wisata Taman Nasional adalah aset yang sangat berharga untuk bisa dikembangkan.
Namun, apakah selama ini pemerintah telah benar-benar mempunyai kebijakan yang signifikan dan genius untuk mengembangkan taman nasional di semua tempat? Barangkali persoalan ini layak untuk dikaji, lantaran banyak wilayah taman nasional yang terbengkalai pengelolaannya. Artinya, nasib taman nasional makin tak terurus, seiring dengan begitu banyaknya perubahan dan iklim politis yang mempengaruhinya.

***
Istilah Taman Nasional, memang belum populer. Istilah tersebut baru dikenal sejak 20 tahun lalu. Dan selama kurun waktu ini, sosialisasi taman nasional sebagai tempat untuk berwisata memang kurang populis. Masyarakat wisatawan lebih akrab dengan wisata ke tempat-tempat khusus, yang lebih dahulu populer. Misalnya: wisata candi Borobudur, Prambanan, dan wisata pantai Pangandaran, Parangtritis, ataupun wisata kultural Bali, dan yang lain.
Yang terjadi selama ini adalah orang berkunjung ke satu tempat karena tempat tersebut memang kerap dikunjungi banyak orang. Populasi di sana pun menjadi sangat padat. Pertemuan dengan kepadatan yang sangat tinggi itulah yang selama ini menjadi semangat banyak orang untuk berwisata. Sementara selama ini, jika memilih untuk berkunjung ke taman nasional yang tersebar di banyak pulau, kita justru mengalami sensasi yang berbeda.
Taman nasional di banyak negara maju menjadi salah satu tempat paling digemari. Alasan mereka datang ke taman nasional adalah keinginan untuk bisa memperoleh satu eksotisme visual dan kesegaran lingkungan. Kesegaran alam atau keinginan untuk lebih dekat dengan alam yang asli (nature), menjadi salah satu alasan utama. Bagi mereka yang setiap hari mengalami kejenuhan dengan problem kerja, tampaknya menatap pohon yang besar dan tinggi, melihat burung-burung yang bebas beterbangan, atau menghirup segarnya udara pagi dan cahaya mentari tanpa polusi menjadi alasan utamanya. Selain itu, sensasi suara-suara alam (sound of nature) memberikan kesegaran tersendiri.
Aset taman nasional memang beragam. Mulai dari pohon yang sudah ratusan tahun, satwa dan lingkungan yang bisa membuat orang lepas dari segenap kepenatannya. Mereka yang mempunyai hobi berpetualang, jelas akan begitu menikmati wisata di tanah taman nasional. Karena setiap wilayah taman nasional biasanya menyediakan kawasan yang bisa dimanfaatkan oleh publik atau lebih sering disebut dengan zona pemanfaatan publik.
Sudah menjadi hal yang lumrah dan wajar, pada masyarakat yang mempunyai kesadaran lingkungan yang tinggi, akan mempunyai mental tinggi untuk bisa menghargai kawasan taman nasional. Kesadaran untuk bisa memanfaatkan taman nasional oleh publik, setidaknya juga harus ditopang oleh sebuah kebijakan konkret yang digulirkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tetapi persoalan yang lantas mengganjal adalah era otonomi, paling tidak telah menghadirkan sebuah paradigma baru menyangkut pengupayaan dan pemanfaatan setiap taman nasional.
Yang pasti memang, publik belum tahu bahwa Indonesia saat ini telah mempunyai 41 kawasan taman nasional. Luas total dari taman nasional itu adalah sebanyak 15 juta ha. Terdiri dari 11,3 juta ha kawasan darat (teresterial) dan lebih kurang 3,7 juta ha kawasan taman nasional laut. Kawasan yang begitu potensial, namun selama ini kurang teroptimalisasikan penggarapannya. Kenyataan bahwa taman nasional selama ini kurang tergarap secara serius, tampaknya berangkat dari kondisi bahwa: pertama, makin menurunnya biaya (budget) yang dialokasikan oleh pemerintah, kedua, masih terbatasnya pengembangan infrastruktur pada setiap kawasan taman nasional.
Selain itu, ada kesan bahwa sekalipun kebijakan tentang guna, fungsi Taman Nasional telah dideklarasikan sejak tahun 1980, namun dalam pelaksanaannya belum memperoleh perhatian yang intens dalam political will selanjutnya. Kita tahu bahwa kebijakan pemanfaatan taman nasional baru terasa efektif pada dekade 1990-an. Sementara ini, pemerintah tampaknya lebih serius dalam melahirkan pengaturan tentang pengelolaan sumber daya hutan, penebangan kayu, pembukaan lahan, perladangan dan eksploitasi lainnya. Alhasil, selama ini masyarakat belum bisa merasakan bagaimana bisa mendapatkan pemanfaatan dari hutan yang lestari.
***
Sesungguhnya ada begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari pemanfaatan secara optimal dari taman nasional. Biasanya, kendala dari pemanfaatan taman nasional berangkat dari masih kacaunya pembagian wilayah-wilayah dan pembangunan infrastruktur yang mendukungnya. Satu persoalan yang acapkali dijumpai adalah, masih belum adanya visitor centre yang disediakan pada setiap wilayah taman nasional.
Taman nasional merupakan kawasan konservasi dengan multifungsi yang luar biasa. Karena, setiap kawasan taman nasional bisa dibagi lagi dalam zona-zona dengan tingkat pemanfaatannya sendiri. Misalnya, di taman nasional ada core zone, yakni kawasan yang sama sekali tidak boleh diganggu, kecuali untuk kepentingan dan tujuan penelitian. Atau yang lebih serius adalah untuk tujuan konservasi. Ada lagi zona rimba (wilderness zone) yang difungsikan untuk melapis zona inti. Dan yang terakhir adalah ulitilization zone (zona pemanfaatan) yang bisa dikembangkan secara optimal untuk rekreasi.
Apa yang ditawarkan oleh taman nasional, bagi kegiatan rekreasi memang luar biasa manfaatnya. Ada kesegaran dan relaksasi: mata dan suara. Orang akan dengan mudah melakukan rekreasi mata, melakukan penjelajahan, mencoba bertanya tentang misteri alam lewat pohon-pohon yang usianya sudah ratusan tahun, mencoba menemukan jawaban ketika begitu banyak species yang telah diciptakan. Atau, pada sisi lain mereka akan bisa menemukan sensasi suara burung, teriakan orang utan, monyet, atau yang lain.
Sensasi inilah yang bisa didapat. Tetapi akankah taman nasional akan tetap utuh terjaga? Ini persoalannya.*

Penulis adalah pelaku dan pengamat wisata
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003