|
Mengintip Geliat Pariwisata Malaysia
Jangan Malu Belajar pada Negeri Tetangga
Kuala Lumpur –
”Nah, kalau mau shopping Anda bisa pilih beberapa tempat. Mau yang
murah, dapat pergi ke Petaling Street atau Chinatown,” ujar Faz
Aziz, salah seorang staf Pusat Pelancongan Malaysia (Malaysia
Tourism Centre), ramah. Belum lagi mulut ini terkatup, Faz Aziz
sudah kembali menebar sederet informasi pendukung. Dari tempat
belanja lainnya hingga akses transportasi menuju tempat yang dituju
tadi.
Keramahan dan kelihaian Faz Aziz menerangkan detail informasi wisata
memang sempat membuat kami melongo sejenak. Sambutan ini sungguh tak
terduga. Cara memanjakan wisatawan terasa betul di sini. Bagi orang
baru pertama kali datang ke Kuala Lumpur (KL), cara itu sungguh
membangkitkan kepercayaan diri melancong di Malaysia.
Pusat Pelancongan Malaysia berada di Jalan Ampang, dekat menara
kembar Petronas nan megah itu. Gudang info wisata Malaysia ini buka
24 jam dan tak kenal libur. Waktu kami mampir pun, Sabtu (5/6) lalu
sebetulnya hari libur nasional. Mereka sedang merayakan ulang tahun
Raja Malaysia.
Faz Aziz tak hanya
gape bahasa Melayu dan Indonesia, ia pun menguasai bahasa
internasional, Inggris dengan fasih. Setiap turis yang masuk selalu
disapa dengan ramah. Meski, beberapa di antaranya hanya meminta
brosur dan peta KL. Melihat itu, Dian Suita – pelancong dari
Jakarta, hanya bergumam pendek, ”Kapan ya kita bisa dapat seperti
ini di Jakarta?”
Kunjungan ke KL bukan sekadar mampir. Bersama dua rekan jurnalis
dari Indonesia, SH berkesempatan memenuhi undangan Bank Pembangunan
Asia (Asian Development Bank/ADB) mengikuti workshop jurnalis soal
isu dan kebijakan air di Ibu Kota Malaysia ini. Tentu saja, begitu
kerja usai, acara bebas langsung diisi dengan tamasya keliling kota.
Terlebih, kami sempat dibisiki rekan jurnalis lokal, KL adalah kota
gemerlap.
Gejala Positif
Menurut catatan divisi komunikasi Pariwisata Malaysia (Tourism
Malaysia) dunia pariwisata negeri ini menunjukkan geliat baru.
Terbukti, selama April lalu tercatat 1.266.886 wisatawan yang
mengunjungi negeri jiran ini. Bila dibandingkan dengan periode yang
sama pada tahun 2003 terjadi kenaikan sebesar 175,8% (April 2003 =
459.374 orang).
Kenaikan kunjungan
juga ditunjukkan dari angka total kedatangan turis pada kuartal
pertama 2004. Tahun ini, periode Januari hingga April tercatat angka
total 5.245.100 wisatawan yang masuk ke negeri yang berslogan ”The
Truly Asia” ini. Perhitungan statisik muncul kenaikan sebesar 57,3%
dibanding periode yang sama pada 2003 (3.334.521 orang).
Adanya gejala positif itu tentu saja seperti angin segar bagi
Kementerian Pariwisata Malaysia (The Tourism Ministry). Maklum saja,
beberapa waktu lalu, dunia pariwisata negeri Mahatir Mohamad ini
harus kalang kabut gara-gara isu SARS, invasi AS ke Irak dan isu
global lainnya, termasuk terorisme. Wajar saja, bila adanya
pertumbuhan positif ini membuat para pelaku pariwisata segera
ancang-ancang untuk kembali ”berlari”.
Berbagai insiden global – SARS, Bom Bali, invasi AS ke Irak, dan
lainnya – membuat hitung-hitungan Kementerian Pariwisata Malaysia
berantakan. Pada 2002, pariwisata mampu menyumbang kocek kerajaan
sebesar 25,8 miliar ringgit (sekitar Rp 64,5 triliun) yang bersumber
dari 13,3 juta pengunjung. Namun, pada 2003 angka prestasi itu
justru menyusut. Mereka ”hanya” menerima 21,29 miliar ringgit
(sekitar Rp 53,23 triliun) dari 10,57 juta orang.
Bila dirinci pemasukan 21,29 miliar ringgit (sekitar Rp 53,23
triliun) itu berasal dari beragam sektor. Paling besar dari
akomodasi (39,4%), lalu diikuti wisata belanja (20,7%), makanan dan
minuman (16,4%), transportasi lokal (8,4%), tamasya (4,7%), tarif
domestik (4,1%), hiburan (4%) dan lain-lain (2,3%).
Strategi dan Promosi
Guna mendongkrak kembali pariwisata Malaysia, kementerian
mengeluarkan segala jurus. Tahun ini rasa optimistis mengejar
kenaikan pemasukan dan kunjungan sudah ditebar jauh hari. Apalagi
semua usaha itu dibarengi dengan kerja keras dan mengenalkan merek
(brand) di posisi yang pas, terutama slogan ”Malaysia Truly Asia”
terus didengungkan ke mancanegara.
Slogan ”Truly Asia” boleh jadi dipilih atas dasar keanekaragaman ras
dan budaya yang terdapat di Malaysia. Keanekaragaman inilah yang
menjadi kunci keberhasilan pariwisata Malaysia merayu para pelancong
untuk singgah ke negeri ini. Padahal kalau mau jujur, membandingkan
antara jualan mereka dan apa yang kita (baca: Indonesia) punya,
hanya beda-beda tipis saja.
Pelajaran berharga itu bukan cuma soal strategi pemasaran dan
kemasan potensi wisata. Secara keseluruhan, Malaysia juga berhasil
memberi bukti lain: tanpa harus baku pukul antar-ras dan budaya,
roda kegiatan dan perekonomian berjalan mulus.
Promosi gencar juga melibatkan media massa, elektronik dan media
cetak, untuk dalam serta luar negeri. Lewat program tur yang diberi
tajuk ”Malaysia Mega Familiarisation”, badan pariwisata Malaysia
mengajak jalan-jalan lebih dari 6.000 jurnalis – cetak dan
elektronik, agen&biro perjalanan, termasuk para petinggi dan staf
operasi agen tur tersebut. Dan semua itu terbukti efektif, getok
tular memang menular ke mana-mana.
Strategi jitu lainnya adalah promosi di kawasan regional ASEAN dan
merayu wisatawan dari negara-negara yang tak terkena krisis keuangan
di Asia, termasuk Timur Tengah, Uni Eropa, Cina, India dan Jepang.
Beberapa kawasan baru mulai dibidik, seperti Pakistan, Bangladesh,
dan negara-negara di kawasan Indo Cina.
Di Indonesia, selama 12-23 April lalu, Malaysia Tourism Promotion
Board bersama Malaysia Airlines secara khusus menggelar promosi di
empat kota: Jakarta, Bandung, Surabaya, serta Semarang. Pada Agustus
mendatang promosi yang sama digelar lagi di Makassar, Balikpapan,
Pontianak, dan beberapa kota besar lainnya.
Arab Saudi, Paling
Boros
Negara tetangga mereka, Singapura secara signifikan memasok
kunjungan turis ke Malaysia. Tercatat sampai April tahun ini,
sekitar 3.224.421 orang datang dari Singapura. Disusul, Thailand
(481.728 orang) dan Indonesia (250.144 orang). Selama April lalu,
negara kita memasok 51.718 pengunjung, ketiga setelah Singapura
(809.640 orang) dan Thailand (135,805 pengunjung).
Wisatawan paling boros membuang uang justru berasal dari Arab Saudi.
Meski jumlahnya tak begitu banyak, tetapi orang-orang Arab paling
doyan menghamburkan uang selama di Malaysia. Data Kementerian
Pariwisata Malaysia menyebutkan, tiap orang Arab rata-rata
membelanjakan uang sebesar 6.765,8 ringgit (sekitar Rp 16,9 juta).
Di urutan berikut, Uni Emirat Arab (RM 5.036,7), Turki (RM 4.522,4),
Siria (RM 4.203,3), Afrika Selatan (RM 3.774,4) dan lainnya.
Salah satu alasan kenapa orang-orang Arab itu boros adalah mereka
doyan belanja di Malaysia. Maklum, di negeri ini harga-harga yang
mereka dapat tergolong murah tanpa harus mengorbankan mutu barang.
Apalagi, tiap tahun selalu ada pesta diskon besar-besaran.
Selama periode 2004, Kementerian dan Badan Promosi Pariwisata
Malaysia telah pasang target. Mereka membidik waktu tinggal turis
yang lebih lama, dari 7,2 malam pada 2003 menjadi 8 malam. Dan
mendongkrak kunjungan wisatawan lokal dari 18,3 juta orang pada 2003
menjadi 20 juta orang. Sedang, wisatawan mancanegara ditargetkan
naik menjadi 13,3 juta orang, naik 30 persen ketimbang tahun lalu.
Untuk menembus target kenaikan wisatwan lokal, strategi pemasarannya
adalah meluncurkan program dan paket liburan yang disebut Cuti-Cuti
Malaysia, program tur anak sekolah dan wisata khusus bagi grup
pelancong.
Periode 2004 – 2005 Kementerian Pariwisata Malaysia sudah
mencanangkan sebagai tahun Cuti-Cuti Malaysia. Ini merupakan bagian
dari usaha kampanye untuk mendongkrak arus kunjungan pelancong
lokal. Mereka pun sadar, pelancong lokal dapat memberi kontribusi
yang bagus ketika dunia pariwisata diterpa isu global yang tak
menguntungkan.
Kedatangan turis asing boleh saja turun, tetapi pelancong lokal
datang untuk menolong gerak pariwisata Malaysia pada tahun lalu.
Survei AC Nielsen menyebutkan, orang Malaysia yang menginap di hotel
pada tahun lalu mengalami kenaikan, 11,4 persen menjadi 18,3 juta
orang dari 16,4 juta orang pada 2002. Oleh sebab itu, dimanja pula
pelancong lokal itu. Selamat datang ke Malaysia
(SH/bayu dwi mardana)
|
|