|
BAHASAN
Wisata Candi, Bukan Hanya Tumpukan Batu
Oleh Djulianto
Susanto
Indonesia pantas mendapat julukan ”Negeri Seribu Candi”. Banyak
candi bertebaran di sini, dengan pusatnya di Pulau Jawa. Bukan cuma
Candi Borobudur, Candi Prambanan dan beberapa candi besar lainnya,
kita juga memiliki banyak candi yang berukuran lebih kecil dan
memiliki ciri khas yang berbeda.
Candi Muara Takus di Riau, Biaro Bahal di Sumatera Utara, atau Candi
Agung di Kalimantan Timur, menunjukkan candi bukan milik Pulau Jawa
saja. Dulu candi dibangun di seantero Nusantara oleh sebuah kerajaan
untuk menunjukkan kekuasaannya.
Candi adalah sebuah istilah untuk menyebutkan sebuah bangunan yang
berasal dari masa klasik sejarah Indonesia, yaitu dari kurun waktu
abad ke-5 M hingga ke-16 M. Candi dapat berupa bangunan kuil yang
berdiri sendiri atau berkelompok. Dapat pula berupa bangunan
berbentuk gapura beratap (Paduraksa) dan tidak beratap (Candi
Bentar). Petirtaan yang dilengkapi kolam dan arca pancuran juga
kerap disebut candi.
Istilah ”candi” umumnya hanya dikenal di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Di daerah-daerah lain seperti Sumatera Utara dikenal istilah ”biaro”
dan di Jawa Timur istilah ”cungkub”. Namun, masyarakat lebih
mengenal istilah candi, apa pun jenis bangunan kuno—termasuk
reruntuhan—dan di mana pun letaknya. Kata ”candi” berasal dari salah
satu nama untuk Dewi Durga, isteri Dewa Siwa, sebagai Dewi Maut,
yaitu Candika.
Kerajaan Kuno
Candi merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan kuno yang pernah ada
di Indonesia, seperti Mataram Hindu, Singasari, Majapahit, dan
Sriwijaya. Candi Borobudur dan Candi Prambanan (Loro Jonggrang)
adalah bukti-bukti kejayaan Kerajaan Mataram dari abad ke-8 hingga
ke-11. Candi Singasari, Kidal, dan Jago merupakan sisa-sisa
kebesaran Kerajaan Singasari, dari abad ke-11 hingga ke-13. Candi
Tikus, Bajangratu, Brahu, dan Wringin Lawang adalah peninggalan
Kerajaan Majapahit, dari abad ke-13 hingga ke-15. Candi-candi di
sekitar Muara Jambi diduga merupakan sisa-sisa Kerjaaan Sriwijaya
dari abad ke-7 hingga ke-11.
Candi-candi di Indonesia umumnya bercirikan agama Budha (terutama
aliran Mahayana dan Tantrayana) dan agama Hindu (terutama aliran
Siwaisme). Candi bersifat Budha dikenal lewat arca Budha dan bentuk
stupa, misalnya Borobudur dan Mendut. Sementara itu, Candi bersifat
Hindu mempunyai arca-arca dewa-dewi di dalamnya, misalnya Prambanan
dan Dieng. Uniknya, beberapa candi bersifat campuran Siwa-Budha,
antara lain Singasari dan Jawi di Jawa Timur.
Menurut sejumlah arkeolog, berdasarkan langgam seninya candi-candi
di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian. Pertama,
langgam Jawa Tengah Utara. Contohnya Candi Gunungwukir, Badut,
Dieng, dan Gedongsongo. Kedua, Langgam Jawa Tengah Selatan misalnya
Candi Kalasan, Sari, Borobudur, Mendut, Sewu, Plaosan, dan
Prambanan. Ketiga, langgam Jawa Timur, termasuk candi-candi di Bali,
Sumatera dan Kalimantan. Contohnya Candi Kidal, Jago, Singasari,
Jawi, Panataran, Jabung, Muara Takus dan Gunung Tua.
Ditilik dari corak dan bentuknya, pada dasarnya candi di Jawa Tengah
Utara tidak bergeda dari candi-candi Jawa Tengah Selatan. Hanya
candi-candi di Jawa Tengah Selatan lebih mewah dan lebih megah dalam
bentuk dan hiasan dibandingkan candi-candi Jawa Tengah Utara.
Perbedaan yang nyata terdapat pada candi-candi Jawa Tengah dan Jawa
Timur.
Umumnya candi langgam Jawa Tengah berbentuk tambun, atapnya
berundak-undak, menghadap ke Timur, dan berbahan batu andesit.
Sementara itu, candi langgam Jawa Timur berbentuk ramping, atapnya
merupakan perpaduan tingkatan menghadap ke barat dan berbahan batu
bata.
Sejumlah arkeolog berpendapat lain. Mereka menamakan gaya seni candi
berdasarkan aspek zaman dan periode, yaitu gaya Mataram Kuno (abad
VIII-X), gaya Singasari (abad XII-XIV), dan gaya Majapahit (abad
XIII-XV).
Pemugaran
Dari ratusan candi yang pernah ada di Indonesia, kini hanya
seratus-dua ratus saja yang sampai pada kita. Selebihnya masih
terpendam di dalam tanah karena berbagai faktor penyebab, seperti
tertimbun lahar akibat letusan gunung berapi dan gempa bumi.
Sementara itu, yang sudah muncul ke permukaan, sebagian ditemukan
dalam keadaan berantakan atau tidak utuh lagi, bahkan lebih
menyerupai onggokan batu.
Hal ini disebabkan pengrusakan besar-besaran yang dialami oleh tanah
tempat candi itu berdiri. Misalnya, gembur dan longsor karena hujan.
Ulah manusia juga memperparah keadaan itu. Banyak batu candi (yang
berbahan batu andesit) diambil masyarakat sekitar untuk berbagi
keperluan, seperti tembok, sumur, pondasi rumah, pagar halaman dan
pengganjal tiang. Tragisnya, batu-batu bata merah di kompleks
percandian Trowulan, digerusi penduduk untuk dijadikan semen merah.
Puluhan candi telah musnah tanpa sempat dibuatkan rekaman
tertulisnya.
Sebenarnya, selain batu andesit dan batu merah, beberapa candi
mempunyai keunikan. Candi Bendo, misalnya, diminati banyak pakar
karena terbuat dari batu kapur yang sangat langka. Sayang candi itu
kini cuma tinggal nama karena beberapa tahun lalu telah
ditenggelamkan Waduk Wonogiri.
Terhadap candi yang amburadul seringkali dilakukan pemugaran.
Pemugaran adalah upaya mengembalikan kondisi candi sedapat mungkin
ke dalam bentuk aslinya. Pemugaran pun sering menimbulkan
pertentangan di antara pakar. Sebagian menganggap pemugaran yang
sesungguhnya hanya menggunakan batu asli. Pemugaran yang lengkap pun
hanya boleh dilakukan di atas kertas.
Sebagian lagi berpandangan, penggunaan batu palsu atau buatan masa
kini baru dibenarkan bila memang batu asli telah musnah. Itupun
batu-batunya harus benar-benar dicatat atau ditandai agar tidak
timbul kesan manipulasi data. Pemugaran seperti ini biasanya untuk
kepentingan pariwisata. Dengan alasan para wisatawan tidak akan
tertarik dengan puing-puing berserakan.
Wisata
Banyak candi yang telah dan berpotensi mengundang wisatawan.
Contohnya saja Candi Songgoriti yang terletak beberapa kilometer
dari Malang. Candi ini terkenal karena air panasnya yang mengandung
belerang. Atau, banyak orang yang mendatangi Candi Sukuh di kaki
Gunung Lawu adalah sasaran lain wisatawan. Candi ini terkenal karena
mitosnya, yaitu menguji kesetiaan seorang isteri. Daya tarik lain
adalah arca dan relief yang dianggap erotis.
Sayang sebagian besar candi yang bertebaran di seluruh Indonesia
berbentuk kecil dan berlokasi di daerah terpencil atau puncak
gunung. Akibatnya, pemugaran belum menjadi prioritas utama. Namanya
pun belum dimasukkan ke dalam brosur-brosur pariwisata. Simak saja
nama-nama berikut: Candi Ngempon, Ijo, Kepung, Ampelgading, Perot,
Dawangsari, dan Pertapaan. Mana ada orang yang mengenal nama-nama
ini kecuali kalangan arkeolog.
Sebenarnya banyak candi menarik dijelajahi karena bentuknya yang
unik atau konsepnya yang filosofis, macam candi-candi di Gunung
Penanggunan (Jawa Timur). Di sana terdapat sekitar 100 candi dan
untuk menjangkaunya dibutuhkan waktu paling cepat tujuh hari.
Bila jeli, wisata arkeologi, wisata alam, wisata remaja dan wisata
petualangan bisa sekaligus terpadu. Bersatunya beberapa jenis wisata
bisa membuat orang tidak hanya melihat tumpukan dan serakan batu,
atau puing-puing masa lalu, tetapi menghayati makna apa yang
terkandung di dalamnya.
Untuk itu pihak berwenang harus membuat brosur yang intinya
mengungkapkan latar belakang sejarah candi. Jika sudah ada, tentu
orang akan mampu memperoleh segala informasi yang terdapat di dalam
batu-batu tersebut. Maka, wisata candi bukan hanya untuk melihat
tumpukan batu, tetapi juga untuk melestarikan warisan budaya nenek
moyang. ***
Penulis adalah Arkeolog.
|
|