|
Cita-cita Ekowisata dari Madina

SH/Darma Lubis
1. Pemandangan rumah beratap ijuk dengan latar belakang rimba
Batanggadis.
MADINA – Usia Kabupaten Mandailing Natal
(Madina), Sumatera Utara memang baru seumur jagung. Namun sang
”bayi” punya cita-cita besar: menggali potensi ekowisata dari daerah
seluas 662.070 hektare dan berpenduduk sekitar 370.000 jiwa ini. Ini
sengaja dipilih karena pemkab Madina tak ingin memakai konsep
pariwisata massal untuk mengelola obyek wisata daerah ini.
”Saat ini kan tren yang sedang diminati adalah ekowisata dan orang
makin jenuh dengan pariwisata massal,” ungkap Budi Ismoyo, Kepala
Dinas Kehutanan Kabupaten Madina. Rencananya prinsip ekowisata juga
akan diterapkan untuk mengelola hutan yang mendominasi daerah ini.
Bila kita melihat statistik mengenai lahan di wilayah Kabupaten
Madina, sebagian besar memang masih berupa hutan. Rinciannya, hutan
negara seluas 317.825 hektare (48 persen) yang hingga kini masih
merupakan bagian terluas dari total lahan di daerah itu. Sisanya,
yakni berupa hutan rakyat seluas 42.176 hektare atau hanya sekitar
enam persen dari luas seluruh lahan, perkebunan sekitar 67.707
hektare, rawa-rawa 59.976 hektare, dan selebihnya merupakan areal
persawahan, perladangan, tambak, permukiman, dan lain-lain.
Ke depan, pemkab Madina Piha akan menyusun konsep pengelolaan
pariwisata bersama masyarakat dan mitra, seperti Conservation
International (CI) Indonesia – lembaga konservasi internasional
papan atas. ”Yang pasti, pengelolaannya akan berkolaborasi dengan
masyarakat,” timpal Erwin Perbatakusuma dari CI Indonesia.
Pengembangan ekowisata di daerah ini akan memanfaatkan zona
penyangga dari (calon) Taman Nasional Batanggadis. Upaya ini
diharapkan akan membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal/sekitar
kawasan. Namun, proses paling penting adalah menghargai usaha mereka
mempertahankan kearifan lokal.
Hunian Ijuk nan Sejuk
Untuk membuktikan potensi ekowisata Madina, kami sempat mengunjungi
Sibanggor.
Wilayah Sibanggor terdiri dari tiga desa: Sibanggor Jae, Sibanggor
Tonga dan Sibanggor Julu. Bila Anda berada di ketiga desa ini
dijamin akan betah berlama-lama. Dengan kontur yang menaik,
pemandangan desa dari tempat yang tinggi terlihat begitu cantik.
Semuanya masih tradisional dan alami. Apalagi di desa Sibanggor
Tonga dan Sibanggor Julu, rumah-rumah penduduk terlihat asli dengan
gaya rumah panggung beratapkan ijuk.
Penduduk memakai ijuk sebagai bahan utama atap rumah karena di
daerah ini udaranya banyak mengandung belerang. Bila memakai bahan
seng, atap jadi cepat berkarat. Gas belerang datang dari kawah
puncak Gunung Sorik Marapi (2.142 mdpl).
Bicara rumah
beratap ijuk, Bupati Madina Amru Daulay akan mengeluarkan keputusan
yang mewajibkan penduduk untuk memakai ijuk sebagai atap rumah.
”Tahun ini kami akan mengeluarkan peraturan daerah yang melarang
pembangunan atap rumah dari bahan seng,” tandas Amru.
Dengan ijuk semuanya akan terlihat alami dan sekaligus mendukung
cita-cita ekowisata. Untuk itu, pemkab Madina juga akan
mengembangkan penanaman pohon enau. Tentu saja akibat dikeluarkan
aturan itu harga ijuk akan melonjak. Amru sadar akan hal ini.
Sebagai antisipasi, Amru berujar, ”Jangan khawatir, bagi masyarakat
yang kurang mampu akan kami beri subsidi.”
Hunian ijuk nan sejuk itu dapat dikembangkan sebagai pendukung
cita-cita ekowisata Madina. Pemandangan deretan rumah penduduk amat
sedap dipandang dari puncak bukit. Ini akan memancing minat para
wisatawan.
Bila pengelola daerah jeli, masyarakat dapat membuka homestay di
rumah-rumah mereka. Tak perlu dilengkapi fasilitas mewah yang
bergaya metropolis, macam pendingin ruangan, lemari es atau lainnya.
Namun, kunci utama homestay ini justru pada prinsip sanitasi dan
keasrian yang dijunjung tinggi.
Bila sanitasi dan keasrian sudah dikantungi, jangan lupakan pula
persoalan tarif. Sebagai promosi, hitung-hitungan hunian jangan
terburu-buru untuk mematok harga tinggi. Itu sebabnya riset ekonomi
wajib dilakukan pihak pemerintah kabupaten. Langkah berikut, tinggal
membina masyarakat agar terbiasa menerima kunjungan turis –
terutama, turis berselera ekowisata.
Air Panas Sibanggor
Di wilayah Sibanggor, kita dapat menemukan sumber-sumber air panas
alami. Air panas yang kaya dengan kandungan belerang itu sangat
bagus untuk menjaga kesehatan kulit. Penyakit kulit macam panu,
kadas dan kurap kabarnya bisa diobati di sini.
Saat ini, tempat yang paling nyaman untuk menikmati air panas alami
itu terletak di daerah Sibanggor Julu. Lokasinya ada di pinggir
jalan. Di belakang sumber air panas menghampar pemandangan ”karpet
hijau”. Dari sawah sampai rimba dan puncak Gunung Sorik Marapi. Bila
cuaca mendukung, kita dapat memuaskan diri untuk memainkan kamera
atau alat perekam gambar.
Di sini sudah
terbangun beberapa fasilitas, seperti kolam pemandian, sarana mandi
uap, WC umum, dan tempat ibadah. Sayang bangunan-bangunan ini tak
mendapat perawatan khusus hingga kondisinya amat memprihatinkan,
kecuali untuk tempat ibadah. Paling parah, WC umum yang tak lagi
berfungsi, rusak dan kotor.
Fitri (17) siswi SMU Muara Sipongi - datang ke tempat ini bukan
sekadar rekreasi. Bersama keluarganya, ia menikmati air panas itu
sebagai terapi pengobatan pada bagian kulit. ”Kami pergi ke sini
dengan menyewa mobil. Sekali jalan habis seratus ribu,” katanya.
Pada dijumpai, Fitri asyik merebus telur ayam pada salah satu sumber
air panas. Di dekatnya ada sekelompok remaja putri yang mengikuti
jejak Fitri.
Saat ini kamar mandi uap dikelola oleh masyarakat sekitar. Tak ada
retribusi khusus, tetapi cukup bayar sukarela kepada warga yang
bertugas menjaga fasilitas ini. Menurut Ilham Tanjung (43),
fasilitas yang ada di tempat ini dibangun atas swadaya masyarakat
dengan bantuan pemkab. Karena banyak yang berkunjung, masyarakat
kedodoran untuk memelihara fasilitas yang ada.
Masalah sampah juga menjadi perhatian khusus. Di sekitar tempat
berpotensi wisata ini tak tersedia tempat sampah. Jadi jangan kaget
bila sisa buangan kegiatan manusia ini berceceran di tiap sudut.
Paling kentara, ceceran plastik. Memang, sampah jenis ini butuh
waktu yang lama untuk hancur. Mau tak mau supaya cita-cita ekowisata
dapat terwujud, semua pihak harus turun tangan menangani masalah
ini.
Ekowisata boleh jadi cita-cita. Untuk mewujudkannya pekerjaan rumah
telah menanti untuk diberesi. Bila serius cita-cita pun bisa
tergapai dan paling penting punya nilai keberlanjutan tinggi.
Selamat bekerja Madina.
(SH/bayu dwi mardana/darma lubis)
|
|