|
Tiga Keraton
Cirebon, Sebuah Porselen Retak
Pengantar:
Libur Lebaran lumayan panjang. Tak ingin menyia-nyiakan waktu selama
itu untuk berdiam diri di rumah, kami pun merencanakan perjalanan ke
salah satu kota di pulau Jawa. Cirebon, itu pilihan kami. Kota ini
menjadi kota transit bagi para pemudik yang ingin bersilaturahmi ke
kampung halaman di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, bukan
itu alasan kami memilih kota ini sebagai tujuan perjalanan. Kota
yang terletak di jalur pantai utara ini menyimpan banyak objek
wisata, terutama karena peninggalan-peninggalan fisik sejarah masa
lalu.
Cirebon bukan sekadar nama tanpa sejarah. Konon, Cirebon berasal
dari Caruban atau tempat pertemuan atau persimpangan jalan. Ada juga
yang meyakini nama itu berasal dari kata carub dalam bahasa Jawa
yang berarti campuran. Bentuk “caruban” ini oleh Tome Pires dicatat
sebagai Choroboarn. Ada kemungkinan terpengaruh bahasa Sunda yang
berawalan Ci (berarti air atau aliran sungai), kota ini pun lama
kelamaan disebut Cirebon—atau kalau mau diartikan sungai yang
mengandung banyak udang (rebon berarti udang kecil). Ini bisa
dilihat dari oleh-oleh khas kota ini yang kebanyakan berasal dari
olahan udang.
Pengalaman perjalanan tim ”SH”—yang terdiri dari Bayu Dwi Mardana,
Desman, Ida Rosdalina, Job Palar—ke kota rebon ini terangkum dalam
tiga halaman berikut.
CIREBON — Pemerintah Hindia Belanda pusing. Niat mereka untuk
berkuasa sepenuhnya di tanah Cirebon selalu saja mentok karena
tentangan dari Pangeran Raja Kanoman, putra Sultan Anom IV yang
bertahta di Keraton Kanoman pada tahun 1803.
Di saat yang sama di negeri Belanda nun jauh di seberang lautan,
kekuasaan sedang beralih. Negeri Belanda diduduki Prancis dengan
panglima perangnya, Napoleon. Maksud hati ingin berkuasa mutlak di
kota pelabuhan penting bernama Cirebon, pemerintah Hindia Belanda
malah kehilangan basis kekuasaannya sendiri.
Namun, rencana tetap dilakukan. Toh, Deandels sebagai penguasa baru
utusan Prancis tidak mengganti seluruh pejabat Belanda di negeri
ini.
Setelah sang Sultan Anom IV, penguasa Keraton Kanoman wafat, Belanda
mulai melancarkan siasat busuk yang selalu saja mengena diterapkan
di tanah jajahan termasuk di Jawa ini, devide et impera.
Seharusnya tahta segera diisi oleh sang putra mahkota, Pangeran Raja
Kanoman. Namun, sebagai ”penguasa sesungguhnya” tentu saja Belanda
tak ingin Pangeran Raja Kanoman yang naik tahta. Belanda malah
melantik putra Sultan Anom IV yang lain, Abu Sholeh Imaduddin,
sebagai Sultan Anom V.
Kerajaan pun geger dan rakyat terpecah. Rakyat jelas lebih mendukung
Pangeran Raja Kanoman sebagai sultan mereka yang sah. Pangeran pun
daripada terkukung di dalam keraton lebih baik keluar dari
lingkungan Keraton Kanoman dan bergabung dengan para pemberontak.
Keadaan malah makin memanas. Tak ada jalan lain Pangeran Raja
Kanoman harus ditangkap. Belanda pun menangkapnya dan membawa sang
pangeran ke Batavia. Batavia dekat dengan Banten, Banten adalah
sekutu ”sedarah” dengan Cirebon. Tentu saja, perlawanan membebaskan
Pengeran ini terjadi di Batavia. Keadaan makin ricuh, rakyat sudah
kehilangan simpati pada Sultan ”boneka” buatan Belanda alias Sultan
Anom V.
Dibuanglah Pangeran ke Ambon. Harapannya, jika pangeran nan
flamboyan ini dibuang jauh dari tanah Jawa, maka rakyat akan merasa
kehilangan target untuk diperjuangkan dan daya juang pun menurun.
Lagi-lagi Belanda salah. Perang malah makin tak terkendali.
Pemerintah Hindia Belanda makin kewalahan menghadapi perlawanan
”para pemberontak”.
Deandels tentu kesal dengan kebijakan ”para anak buahnya” ini.
Kebijakan dikeluarkan. Pangeran Raja Kanoman harus dibawa kembali ke
sini, Cirebon. Gubernur Laut Timur Jawa Engelhard pun pada tanggal 1
Januari 1808 diperintahkan untuk menjemput Pangeran Raja Kanoman di
Ambon.
Sementara di Cirebon sendiri, keraton baru disiapkan pemerintah
Hindia Belanda sebagai tempat Pangeran Anom bertahta. Pada 13 Maret
1808, Pangeran Raja Kanoman diangkat menjadi Sultan Carbon
Kacirebonan. Rakyat pun mengelu-elukan Sultan baru ini. Cirebon pun
akhirnya resmi memiliki tiga keraton, Kasepuhan, Kanoman, dan
Kacirebonan.
Jangan dikira pengangkatan ini sesuatu yang ikhlas. Segala aturan
dibuat Deandels khusus untuk Kasultanan Kacirebonan. Reglement
dikeluarkan untuk mengatur hak dan kekuasaan kesultanan baru ini
sehingga kesultanan baru itu hanyalah ”hiasan” belaka. Intinya
kekuasaan politik sang Sultan, termasuk Sultan di Keraton Kasepuhan
dan Kanoman, dihapus. Mereka hanyalah pegawai pemerintah biasa dan
diberi gaji.
Namun, hawa perlawanan tak juga surut. Sultan Carbon tetap berjuang
walau hanya dengan mengawasi perjuangan yang dilakukan rakyat. Wujud
pemberontakan Sultan Carbon adalah ia tidak mau menerima gaji dari
pemerintah Hindia Belanda sampai akhir hayatnya.
Pemerintah penjajah tak mau kehilangan muka. Status Sultan Carbon
Kacirebonan tak ada lagi untuk penerus tahta. Statusnya diturunkan
menjadi Raja Madenda. Gelar ini kalah gengsi dengan dua kesultanan
yang lain, Kasepuhan dan Kanoman.
Suram
Gengsi yang hilang ini pun berbekas sampai saat ini. Jika Anda yang
bukan warga Cirebon lewat di Jalan Pulasaren, barangkali Anda tak
akan menyangka sedang melewati sebuah keraton bernama Kacirebonan.
Dikelilingi tembok putih yang lusuh setinggi sekitar 1,5 meter,
bangunan bernama Keraton Kacirebonan terlihat kusam dan tak terawat.
Bangunannya memang bukan bangunan kuno ala keraton raja-raja Jawa,
tetapi bangunan Eropa ala arsitektur Belanda.
Ciri ketiga keraton di Cirebon sangatlah jelas. Ciri pertama,
bangunan keraton selalu menghadap ke utara. Di sebelah timur keraton
selalu ada masjid. Setiap keraton selalu menyediakan alun-alun
sebagai tempat rakyat berkumpul dan pasar. Di taman setiap keraton
selalu ada patung macan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi,
tokoh sentral terbentuknya Cirebon.
Satu lagi yang menjadi ciri utama adalah piring-piring porselen asli
Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak
cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di
seluruh situs bersejarah di Cirebon.
Keraton Kacirebonan juga menghadap ke utara. Namun, masjid sebagai
simbol ketaatan penghuni keraton pada agama Islam tak terlihat
menjadi bagian dari keraton itu sendiri. Masjidnya kecil dan nyaris
tak terawat. Alun-alun pun hanya berupa hamparan tanah merah yang
tak jelas fungsinya.
Yang mengagetkan, aset-aset Keraton Kacirebonan banyak yang sudah
tak jelas nasibnya. Bagian-bagian ruangan keraton pun sudah
”diambil-alih” oleh sanak famili dari Abdul Gani Natadiningrat,
Sultan yang terakhir.
Kursi-kursi tua yang sangat khas malah teronggok tak berdaya di
sebuah sudut kamar yang rupanya bekas kamar mandi umum untuk
wisatawan. Satu benda bersejarah yang berumur sekitar 100 tahun dan
masih terpelihara dengan rapih adalah kursi pelaminan yang biasa
dipakai para sultan.
Patung macan sebagai perlambang Prabu Siliwangi malah hampir-hampir
tak terlihat karena tak terawat dan tertutup semak-semak.
Kasepuhan
Kelusuhan yang tampak di Keraton Kacirebonan barangkali memang
merupakan konsekuensi sejarah. Namun, kesuraman itu tak tampak di
Keraton Kasepuhan. Dari ketiga keraton yang ada di Cirebon,
Kasepuhan adalah keraton yang paling terawat, paling megah, dan
paling bermakna dalam. Tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari
bata merah khas arsitektur Jawa.
Keraton Kasepuhan yang dibangun sekitar tahun 1529 sebagai perluasan
dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati, yang dibangun oleh
Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon pada 1445. Keraton Pakungwati
terletak di belakang Keraton Kasepuhan.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton
Kasepuhan begitu indah. Masjid Agung itu berdiri pada tahun 1549.
Keraton ini juga memiliki kereta yang dikeramatkan, Kereta Singa
Barong. Pada tahun 1942, kereta ini tidak boleh dipergunakan lagi,
dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.
Penguasa pertama di Keraton Kasepuhan adalah Syech Syarief
Hidayattulah. Syarief Hidayattulah dikenal juga dengan Sunan Gunung
Jati. Dari tokoh inilah, kisah tentang daerah bernama Cirebon itu
bergulir.
Kanoman
Keraton Kanoman memang berumur lebih muda dari Kasepuhan. Kanoman
berasal dari kata ”anom” yang bermakna ”muda”. Terbelahnya kekuasaan
Keraton di Cirebon berawal dari sebuah kisah nan unik namun tanpa
darah.
Pada tahun 1662, Amangkurat I mengundang Panembahan Adiningkusumah
untuk datang ke Mataram di samping untuk menghormatinya juga
mempertanggungjawabkan sikapnya terhadap Banten dan juga Mataram.
Disertai oleh kedua orang putranya, Pangeran Martawijaya dan
Pangeran Kartawijaya, ia memenuhi undangan tersebut.
Namun, setelah upacara penghormatan selesai, mereka tidak
diperkenankan kembali ke Cirebon, melainkan harus tetap tinggal di
Ibu Kota Mataram dan diberi tempat kediaman yang layak serta tetap
diakui sebagai penguasa Cirebon.
Sejak Panembahan Girilaya dan kedua putranya berada di Ibu Kota
Mataram, pemerintahan sehari-hari di Cirebon dilaksanakan oleh
Pangeran Wangsakerta yang tidak ikut ke Mataram antara tahun
1662-1667. Berkat usaha Pangeran Wangsakerta dibantu Sultan Ageng
Tirtayasa dari Banten, kedua Pangeran Cirebon dapat pergi dari
Mataram dan kembali ke Cirebon melalui Banten.
Tatkala Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya berada di
Banten, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat kedua Pangeran itu sebagai
sultan di Cirebon dan menetapkan pembagian wilayah serta rakyat
masing-masing.
Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh yang berkuasa di Keraton
Kasepuhan dan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Anom yang berkuasa
di Keraton Kanoman. Adapun Pangeran Wangsakerta diangkat menjadi
Panembahan Cirebon, tetapi tidak memiliki wilayah kekuasaan dan
keraton secara formal.
Keraton Kanoman menyimpan kembaran dari Kereta Singa Barong yang ada
di Kasepuhan bernama Paksi Naga Liman. Satu hal yang begitu membuat
hati miris, kompleks keraton telah tertutup oleh pasar rakyat yang
sebetulnya menjadi bagian dari keraton itu sendiri.
Keramik Cina
Alkisah, seorang raja Cina mengundang Sunan Gunung Jati alias Syech
Syarief Hidayatullah datang untuk menguji kesaktian san sunan. Oleh
raja, Sunan diminta untuk menebak apakah anaknya Tan Hong Tien Nio
yang populer dengan sebutan Putri Ong Tien hamil atau tidak. Sunan
menebak sang putri hamil, padahal perut sang putir sengaja diisi
tempat beras agar kelihatan hamil.
Sunan Gunung Jati ditertawakan oleh para pembesar raja. Namun,
ternyata sang putri benar-benar hamil.
Untuk menghindari malu, Putri Ong Tien pun dikawinkan oleh raja
dengan Sunan Gunung Jati. Rombongan besar pengantin datang dari Cina
ke Cirebon dengan membawa keramik, porselen, piring, dan
barang-barang khas Cina lainnya.
Kisah ini tak jelas kebenarannya. Yang jelas, kisah ini menuturkan
persentuhan budaya antara Islam dan Cina. Makam Putri Ong Tien pun
bisa dijumpai di sisi makam Sunan Gunung Jati.
Semua situs bersejarah di Cirebon, dari ketiga keraton, kompleks
makam Sunan Gunung Jati, masjid-masjid agung, sampai tempat
pemandian Sunyaragi memiliki ornamen utama berupa porselen asal
Cina.
Sekali lagi sayang, tangan-tangan jahil mencopoti porselen-porselen
yang menghiasi dinding-dinding di setiap bangunan bersejarah. (*)
|
|