|
Konsep Mebel Eropa
Laku di Pasar Asia

Ist
MER Furniture Center, pusat belanja mebel hasil kerjasama Garant
Mobel Indonesia dengan Garant Mobil Asia dan Internasional.
JAKARTA – Penataan
interior suatu ruangan akan lebih enak dilihat jika perpaduan
komposisi furnitur atau mebel pas. Boleh jadi tidak harus simetris
dalam bentuk, tapi kalau warnanya senada, rasanya tidak ada masalah.
Ini terjadi biasanya pada interior yang memiliki gaya kontemporer
minimalis.
Menata interior yang ideal bukanlah semata harus bergantung pada
imajinasi seorang desainer interior saja, namun sebenarnya toko-toko
mebel pun memiliki peran tidak kalah penting dalam memberi solusi
untuk membantu konsumen menentukan komposisi mebel yang pas.
Ini tidak lepas dari segi performa, kualitas hingga penataan mebel
itu sendiri di dalam toko di mana dapat menciptakan suasana yang
menyenangkan sekaligus memberi gambaran penataan mebel pada lokasi
tepat sesampainya barang tersebut di rumah atau kantor.
Berangkat dari tuntutan pasar untuk memenuhi kebutuhan mebel di
rumah atau kantor, toko-toko mebel pun bermunculan tiap saat.
Masing-masing toko mebel memiliki target pasar masing-masing dalam
mendistribusikan produknya. Ada yang bernuansa antik, klasik,
kontemporer, dan modern. Ada yang bermain di pasar menengah ke
bawah, tapi ada pula yang bermain hanya untuk kalangan papan atas
dan didatangkan dari luar negeri.
Ada beberapa jenis toko mebel. Ada yang sebagai distributor, ada
yang berproduksi dengan cara home base atau berbasis di rumah dan
memiliki warehouse. Ada yang menjual mebel berkualitas menengah ke
atas dan menengah ke bawah. Ini ditentukan pula oleh lokasi dan
merek tertentu.
Sempit
Di Jakarta, jika Anda datang ke sebuah toko mebel sepanjang Jalan
Otto Iskandar Dinata di kawasan Cawang Jakarta Timur dan daerah Roxy
Jakarta Pusat, maka yang Anda lihat dari dalam toko adalah tumpukan
produk-produk. Di sana akan berjajar beberapa tempat tidur dengan
ukuran masing-masing, kumpulan sofa dan berbagai rak.
Agaknya, penataan letak barang di lokasi itu kurang diperhatikan.
Ini akibat kondisi toko sempit. Kendati demikian, penyediaan barang
di sana terbilang lengkap. Hampir semua merek mebel yang keluar di
pasar Indonesia ada terutama model baru. Harganya pun bervariasi ada
yang murah sampai mahal sekalipun. Ini tergantung pada merek mebel,
lokal atau impor dari luar negeri.
Selain itu, setiap
toko pun memiliki brosur dari berbagai merek barang yang dijual di
toko tersebut. Jika seseorang menginginkan sesuatu barang, maka
pihak penjual mebel setempat akan menelepon pemasoknya atau
perusahaan bersangkutan.
Sementara mebel yang berbasis di rumah, pembuatan mebel dilakukan
setelah pemesanan. Ini biasanya akan selesai dalam kurun waktu
berminggu-minggu. Biasanya, pembuatan perlengkapan mebel tersebut
menggunakan tangan dan amat jarang yang menggunakan mesin.
Kondisi toko atau warehouse menengah ke bawah memang kelihatannya
banyak yang seperti itu. Namun amat berbeda dengan toko-toko mebel
di dalam mal besar seperti Vinotti Living, Floral Home dan lainnya
di Jakarta. Belum lagi sederet toko mebel yang membuka usaha di
gedung Jakarta Design Center (JDC) di Jalan S. Parman, Slipi Jakarta
Barat. Kemudian akan berbeda lagi jika Anda berkunjung ke sebuah
perusahaan mebel raksasa papan atas di Jakarta seperti Da Vinci.
Toko penjual mebel ini pun memiliki inhouse desainer, interior
khusus untuk membantu para konsumen dalam memilih barang sesuai
dengan keinginan dan keadaan ruangan.
Berbicara masalah kualitas, yang satu ini tidak perlu diragukan
lagi. Walaupun memang harga yang harus dibayar untuk menebusnya
sangat mahal dan hanya bisa dibeli oleh sekelompok orang atau
perusahaan tertentu.
Mebel Waralaba
Tampaknya, beberapa perusahaan mebel mulai memperhatikan daya beli
pasar. Tren yang mempengaruhi dunia mebel pun tidak ubahnya bagaikan
dunia mode pakaian. Baik itu dari segi model maupun penempatan
produk-produknya tersebut.
Pergantian ini bergerak cepat dan terasa perkembangannya. In berarti
selera masyarakat dalam memilih mebel pun sudah beralih jauh lebih
baik. Perkembangan tersebut memicu perkembangan mebel di Indonesia
menjadi pesat. Kini bukan hanya makanan cepat saji saja yang bisa
mengambil konsep waralaba, tapi juga dunia mebel.
Patut diakui kalau produksi mebel yang sudah mendunia berasal dari
Eropa. Au Bintoro sebagai pimpinan Olympic Furniture sekaligus
Garant Mobel Indonesia Sabtu lalu (31/5) meluncurkan sebuah
perusahaan mebel waralaba dari pusatnya Rheda-Weidenburck, Jerman
yaitu Mer Furniture Centre di kawasan Depok.
Pemasaran dan pelayanan terhadap konsumen dalam dunia mebel di
Indonesia semakin terasa. Sebab, orang membeli tempat tidur kini
bukan lagi hanya memperhatikan fungsionalnya saja melainkan hal-hal
lain yang bisa menciptakan suasana kamar tidur menjadi lebih cantik.
Perhatian terhadap konsumen dalam sebuah pemasaran dan pelayanan
dicetuskan melalui hadirnya waralaba pertama dalam bidang ritel
mebel. Menariknya, akan ada kemudahan dan keuntungan berganda pada
pemasok, toko ritel, dan konsumen langsung. Di Indonesia, konsep
tersebut dipelopori oleh Garant Mobel Indonesia yang bekerjasama
dengan Garant Mobel Asia dan Internasional untuk menghadirkan Mer
Furniture Centre.
”Ini adalah usaha yang didirikan untuk memberikan solusi pada kepada
pabrik, bagaimana menjual produk ke toko lalu pihak toko akan
melanjutkan penjualan ke konsumen dengan harga terjangkau,” ujar Au
Bintoro di Toko Santi, Waralaba Mer Furniture Centre pertama, saat
pembukaannya di Depok.
Mengingat masyarakat menengah ke bawah sangat mendominasi di
Indonesia maka Garant Mobel Indonesia cukup optimis untuk
mengembangkan usahanya tersebut.
”Kami mentargetkan tahun ini akan ada 10 cabang toko waralaba Mer
Furniture Centre di seluruh kawasan Jabotabek,” ujar A. Irawan
Gozali yang bertindak sebagai Mer Module Manager. Apalagi harga yang
diberikan relatif murah. ”Satu set tempat tidur harganya berkisar Rp
2 juta,” ujar Irawan kepada wartawan. Bahkan menurut Irawan, pada
tahun ketiga ditargetkan akan berdiri satu cabang setiap minggu.
Namun, syarat luas tiap-tiap toko sekitar 400 meter persegi. Ini
untuk membuat toko bisa menampilkan display barang dengan leluasa.
Mer Furniture Centre akan mengumpulkan perlengkapan mebel terpilih
dan ditata sedemikian cantik untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Barang-barang yang didatangkan ada yang lokal dan dari negara-negara
tetangga seperti Cina, Thailand dan Malaysia.
Seorang pengusaha yang ingin membeli waralaba tersebut, dikenakan
franchise fee sebesar Rp100 juta per enam tahun, juga sejumlah uang
deposit yang besarnya ditentukan sesuai luas lokasi toko.
Desain, signage, dan lay out toko selama masih berada di bawah
waralaba Mer Furniture Centre, harus memiliki tampilan yang sama.
Karena pangsa pasar yang dibidik ialah menengah ke bawah, maka
penyediaan produk mebel pun disesuaikan dengan kocek kalangan
tersebut. Hal ini juga menentukan kualitas mebelnya. Mer Furniture
Centre menghadirkan pilihan mebel lokal dengan kualitas nomor satu
seperti Guhdo, Romance, Olympic dan lainnya.
Diakui atau tidak, kehadiran waralaba dalam dunia mebel seperti Mer
Furniture Centre di bawah naungan Garant Mobel Indonesia,
menunjukkan bahwa perkembangan ritel dalam kancah furnitur di
Indonesia cukup terasa.
Kendatipun ada gembar-gembor krisis ekonomi sejak tahun 1997 di
negara kita, nyatanya roda perekonomian pelan-pelan berjalan karena
adanya peluang bisnis di berbagai sektor.
Bukti lain, konsep dari Eropa berhasil diserap oleh beberapa negara
di pasar Asia yang notabene sedang dalam proses penyembuhan dari
krisis yang melanda. Kendatipun krisis, toh pangsa pasar dalam mebel
masih saja eksis.
Diharapkan dengan adanya konsep baru yang ditawarkan oleh Garant
Mobel Indonesia ini, setiap konsumen akan semakin kreatif dalam
menata ruang dan mengisinya dengan pilihan mebel yang berkualitas,
sehingga komposisi ruang akan terlihat lebih pas.
(SH/sally piri)
|
|