R I T E L  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 Semula Hobi Kini Menjadi Komoditas

 


Jakarta – ”Awalnya, sejak kecil saya suka menata ruangan.” Demikianlah penuturan Sri Hartini, perancang sekaligus Direktur Margriet Embroidery & Crafts. Ia mengelola bisnis yang bergerak dalam bidang pembuatan perlengkapan rumah dihiasi dengan bordir dan sulaman. Dari taplak meja, alas piring dan gelas, handuk, sprei dan selimut sampai kepada hiasan bunga serta masih banyak lagi. Kini, pemasaran produknya sudah sampai keluar negeri.
Hobi lama nan sederhana itu kini berkembang menjadi suatu kreasi cemerlang. Bahkan ia pun pantas untuk dibilang sukses. Pasalnya, seorang ibu yang akrab dipanggil Ibu Nini itu sering unjuk gigi pada setiap pameran interior desain dan kerajinan tangan baik dalam maupun luar negeri. Semua ini beranjak dari kesukaannya menata ruang, kemudian memulai dengan mencoba menekuni hiasan bordir dan sulaman. Hal ini ditekuninya sejak lulus SMU sekitar tahun 70-an.
Hasrat yang timbul di benaknya itu didukung dengan mengikuti kursus membordir selama sebulan. Tapi ia masih merasa belum puas. Berangkat dari ketidakpuasan itu justru malah membangkitkan kemauannya untuk lebih berkembang. ”Setelah SMU, saya sempat beli mesin breijn dari Jepang yang pakai tusuk dua itu, lho?” ujarnya mengenasi mesin sulam dan bordir pertamanya. Kemudian, ia mengatakan bahwa sekitar tahun 70-an ia sudah membuat baju-baju sendiri. Menurutnya, kala itu teman-teman dan kerabatnya sangat menyukai hasil jahitan Ibu Nini.
Ia mengatakan kalau dahulu, ia mengembangkan teknik yang didapatnya sendiri. Dalam membordir dan menyulam, ia mencari arahnya sendiri. Setelah itu bahan yang sudah dihias dengan bordir langsung disetrika supaya bisa tampak lurus. Baru dipola dan dijahit sesuai kebutuhan. Mengenai modelnya, Ibu Nini berhasil mendapatkan sebuah modeblad – majalah mode dengan pola - dari negeri Belanda. ”Saya punya teman karib yang bekerja sebagai pramugari, lalu saya nitip sebuah modeblad darinya,” ujar Ibu Nini yang sempat meneruskan studi di sebuah perguruan tinggi teologia di Malang, Jawa Timur.
Merasa bosan dengan hiasan taplak yang warnanya didominasi putih pada zaman dahulu, ia mulai melahirkan ide-ide baru melalui hiasan bordir dan sulamannya. Ia mulai membentuk motif buah-buahan mengikuti bentuk stroberi, apel dan lainnya. Kemudian, lembaran-lembaran yang sudah diberi motif tersebut dipola. Kala itu, ia sudah tidak lagi membuat baju melainkan malah menempelkan kain keras di bagian belakang lembaran bermotif tadi. ”Saya beri kain keras supaya terlihat paten dan kekar,” ujar Ibu Nini yang kini dibantu oleh 50 karyawan yang siap selalu di bengkel kerjanya di Surabaya.
Pucuk dicinta ulam tiba. Begitulah kata sebuah peribahasa. Hal ini berlaku untuk Ibu Nini yang sudah mencoba mengubah aplikasi bordirannya kepada lembaran-lembaran kain dan bukan untuk baju lagi. Motif buah-buahan tadi pun laku keras di pasaran. Teman-teman dan kerabatnya pun menyukainya.
Setahun setelah menikah, ia pun mulai membuat taplak yang dibordir. ”Saya membeli mesin sederhana ”Yanome” untuk bordir aplikasi. Motif yang dibuat, ada yang ditempel di pinggir dengan aneka bentuk buah-buahan. Kemudian setelah ditempel ia langsung membordirnya. Selain taplak, Ibu Nini pun mencoba dengan pernak-pernik lain seperti serbet. ”Eh, ternyata laku juga!” ujarnya.
Mengikuti Pameran
Pameran pertama yang dihadirinya, yaitu tahun 1996. Ada beberapa upaya yang dilakukannya terlebih dahulu sebelum pergi ke pameran. Kala itu ada pembinaan selama tiga tahun oleh Jetro dari perdagangan Jepang. Di sini, badan tersebut mencari pengrajin-pengrajin berbakat Indonesia untuk dibina. Di situlah badan dengan nama Jetro ini bertemu dengan Ibu Nini yang saat itu sudah memakai nama Margriet untuk produknya. ”Margriet itu diambil dari jenis bunga yang hampir menyerupai bentuk bunga Daisy,” ujar penggemar bunga itu.
Akhirnya, Ibu Nini pun berhasil merambah Jepang dengan hasil produksinya tersebut. Bahkan, jika diperhatikan penggemar nuansa Eropis dan klasik itu kini sudah dipengaruhi oleh nuansa Asia termasuk Jepang. Hal tersebut terlihat pada hasil-hasil produksinya belakangan ini. Selain pameran Jetro selama tiga kali ia bahkan sudah mengikuti pameran Asian Center. Belum lagi Pameran Produksi Indonesia dan lain-lain yang tidak ia lewatkan.
Dari pengalaman pameran tersebut, ia pun masih terus mempelajari hal-hal baru lainnya seperti bordir komputer. Yang satu ini tidak lain tidak bukan dicetak berdasarkan film yang sudah diprogram dan menggunakan komputer. Menurut Ibu Nini, kelebihan dari terobosan ini adalah bisa membentuk motif yang sama persis. Artinya, benar-benar tidak memperlihatkan perbedaan antara bentuk yang satu dengan lainnya, jika motif tersebut serupa. Tapi menurutnya pula, kekurangan dari hal yang canggih pun ada. ”Bordir komputer terlihat kaku dan Saya kurang puas akan hal itu,” ujar pemilik Margriet yang membuka gerai seni di bilangan Kemang itu.
Menurutnya lagi, hal yang membedakan produk Margriet dengan produk sejenis lainnya di pasaran adalah dalam hal bordir aplikasi. ”Sebenarnya semua orang pun bisa membuatnya,” ujar Ibu Nini. Namun bagi penggemar Margriet, mereka tetap setia dengan produk-produk yang saya rancang.”
Dalam persaingan yang cukup ketat dalam dunia bordiran dan sulaman ini, Ibu Nini percaya bahwa bisnis ini memiliki prospek yang cerah ke depan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa rekannya yang mencoba bisnis tersebut setelah melihat kehadiran Ibu Nini di pameran.
Margriet yang resmi berdiri sejak tahun 80-an meski sudah berjalan mantap sejak tahun 1978 itu memiliki pelanggan mulai dari para ibu-ibu rumah tangga yang masih muda sampai yang sudah berumur. Dan tentunya semakin hari bisnis yang bergerak menangani hiasan bordiran dan sulaman tersebut terus melanglang buana baik lokal maupun internasional. Pemasarannya pun selain melalui pameran, Margriet dibuka di Jalan Kemang Selatan VIII No. 67 H-I. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, Ibu Nini pun memberanikan diri untuk melakukan ekspor ke luar negeri dalam menjalankan bisnis tersebut. Walau awalnya hanya dari hobi menata ruang sendiri, kini Ibu Nini banyak diminta untuk menata ruang rumah orang lain karena hasil karyanya yang cemerlang itu.(SH/sally piri)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2002