|
Sepeda Motor 2 Tak
Terapkan Teknologi Ramah Lingkungan
Produksi 2003 sebesar 1.576 juta unit,
sementara produksi 2004 mencapai 2.037 juta unit atau meningkat 29
persen. Penjualan tahun lalu, menurutnya, didominasi oleh tipe bebek
terutama Supra X dan Karisma.
Di tahun 2005 ini, walau Honda dipastikan memegang kendali pasar,
namun jurus untuk mempertahan pasar, selalu dijunjung tinggi. Kiat
untuk berkompetisi dangan para pesaing yang utama, menurut
Kristanto, adalah tetap menjaga kualitas produk dan pengembangan
jaringan penjualan serta bengkel perawatan.
“Meningkatnya kepemilikan sepeda motor, khususnya yang berkaitan
dengan berkembangnya lembaga pembiayaan (kredit), cukup
menggembirakan.
Ini lebih menguntungkan masyarakat, karena saat ini mereka dapat
memiliki kendaraan sebagai sarana transportasi yang dibutuhkan
dengan cara kredit, apalagi ditambah pula dengan uang muka dan
cicilannya yang relatif terjangkau,” jelasnya.
Promosi rutin, menurutnya, jelas dilakukan untuk memelihara
kelanggengan pasar. Ini dilakukan secara indoor dan outdoor. Atau
promosi khusus lewat gelaran khusus di antaranya Servis Gratis,
Kontes Mekanik, dan gelaran bersejarah yang akan dilakukan paling
dekat adalah menyambut pencapaian produksi ke-15 juta unit tahun
ini.
Untuk itu, pihaknya akan melaksanakan Honda One Make Race bagi para
pemilik motor Honda dan Lomba Irit Bahan Bakar di 15 kota dengan
menggandeng para diler utama merek motor itu..
Tapi sebagai pemimpin pasar, timbul dampak yang merugikan Honda.
Menurut Kristanto, pemalsuan suku cadang kerap terjadi. Atas kasus
ini, tentu saja sangat merugikan AHM selaku pemegang merek dan hak
paten.
“Perusahaan sudah banyak mengeluarkan biaya untuk itu, serta
kewajiban membayar pajak untuk pemerintah. Sementara pihak pemalsu
enak-enak memetik untung yang cukup tinggi dengan kualitas produk
yang rendah. Akibatnya, pihak yang dirugikan bukan hanya kami tapi
juga pemerintah dan konsumen,” jelasnya.
Untuk tindakan pemalsuan itu, AHM, menurut Kristanto, sudah
melakukan tindakan hukum, baik itu kepada pihak yang membuat maupun
yang memasarkan. Beberapa waktu yang lalu AHM sudah mengadukan
kepada pihak kepolisian 2 toko yang menjual suku cadang Honda palsu
di wilayah Jakarta Barat.
“Prosesnya sudah sampai sidang pengadilan dan pada akhir Januari
2005 yang lalu, keduanya sudah divonis 6 bulan penjara,” ujarnya.
Gencar
Sementara diler utama Honda untuk Jakarta dan Tangerang, yakni PT
Wahana Makmur Sejati (WMS), menyikapi gemerlap pasar motor 2005
dengan menggencarkan sejumlah program. “Awal tahun ini kami bersama
PT Astra Honda Motor menyelenggarakan Honda One Make Race dan Lomba
Irit Bahan Bakar,” kata Robbyanto Budiman, President Director WMS,
Selasa (22/2).
Dua program ini menjadi salah satu senjata untuk membidik pasar
sepeda motor dengan angka 300.000 unit. Tahun lalu, WMH berhasil
meraih penjualan sebesar 224.500 unit.
Seperti tahun lalu, segmen motor bebek tahun ini tetap menjadi
prioritasnya. Dengan demikian, dari 300.000 unit yang dibidiknya
itu, WMS mengarahkan target untuk dapat menjual family bike ini
dengan 90 persen. Perinciannya, 40 persen dari varian Karisma dan
sisanya dibagi merata antara Supra Fit dan Supra X.
Menurut Robbyanto, pihaknya optimistis meraih target itu dengan
dukungan beberapa hal. Antara lain dukungan perusahaan leasing yang
semakin baik, kebutuhan angkutan umum yang belum terpenuhi dengan
baik, dan adanya rencana kenaikan BBM.
“Kami optimis, melihat kondisi saat ini di mana pada Januari 2005
kami berhasil menjual 22.000 unit. Bukan tidak mungkin kami
meningkatkan target pada pertengahan tahun ini,” ujarnya yakin.
Ninja Tersendat
Sementara itu, Kawasaki yang salah satu produknya bermain di segmen
2 tak agak hati-hati. Mengingat rencana pemerintah yang akan
memberlakukan ketentuan tentang emisi gas buang. Hal ini berpengaruh
besar terhadap penjualan produk andalan PT Kawasaki Motor Indonesia
(KMI), yakni Ninja yang menggunakan mesin 2 tak 150 cc itu.
Dari data penjualan KMI pada 2004 lalu, ATPM motor Kawasaki ini
hanya mampu menuai penjualan sekitar 173.000 unit. Dari total
penjualan ini, kontribusi seri Ninja yang terdiri dari Ninja, Ninja
R, dan Ninja RR, hanya mencapai angka 10 persen atau sekitar 17.388
unit saja.
Dengan demikian, rata-rata penjualan seri Ninja setiap bulannya
hanya sekitar 1.499 unit. Varian CBU ini memiliki peminat terbatas
di wilayah Medan dan Jakarta. Di Jakarta, isu larangan motor 2 tak
melintasi jalan-jalan protokol jelas mengganggu pemasaran seri Ninja
ini.
Menyikapi isu itu, Kawasaki melakukan penyempurnaan pada teknologi
yang diaplikasi pada Ninja Saat ini merek itu telah mengaplikasi
teknologi terkini pada seri tersebut.
Teknologi anyar itu adalah Super KIPS (Kawasaki Integrated
Powervalve System), HSAS (High-performance Secondary Air System),
Catalytic Converter (katalisator), serta Super Electrofusion
Cylinder.
Dengan teknologi ini, penggemar Kawasaki Ninja tidak akan kehilangan
performa dan akselerasi khas Ninja. Bahkan, kini emisi gas buang
Ninja menjadi lebih ramah lingkungan. Menurut Freddyanto Basuki,
Manager Service Department, Marketing Division KMI, teknologi Super
KIPS sendiri bukan barang baru.
Bagi Kawasaki Heavy Industries Ltd. (KHI), teknologi ini sudah
diadopsi pada versi Ninja generasi yang sudah lebih dahulu lahir.
Teknologi ini membantu proses pembakaran secara sempurna terutama
pada putaran (rpm) tinggi.
Sementara keberadaan teknologi Super Electrofusion Cylinder (SEC),
sudah menjadi standarisasi Kawasaki Jepang yang tidak bisa ditawar.
Meski fungsi SEC ini tidak langsung berhubungan dengan gas Nox dan
CO ataupun HC. Namun lebih ke arah kabut asap, di mana SEC
meminimalisasi efek kabut asap tersebut, seperti yang terdapat pada
asap buang knalpot motor 2 tak.
Aplikasi SEC pada Ninja, terang Freddy, setidaknya menciptakan
silinder seakan memiliki “pori-pori” yang dapat menahan oli pelumas
di dalamnya.
Berkat teknologi tersebut paling tidak menjamin penggunaan oli pada
Ninja sesuai kebutuhan (tidak berlebihan). Sehingga efek kabut asap
bisa sekaligus diminimalisasi. “Tidak cukup hanya dengan
mengandalkan iming-iming pelumas low smoke semata jika teknologi dan
kualitas kerja mesin sendiri tidak dioptimalkan,” ujarnya.
RX-King Anjlok
Isu akan diberlakukannya Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru
dan Kendaraan Bermotor yang Sedang Diproduksi, dan ditambah larangan
sepeda motor 2 melintasi jalan protokol juga menggoyang pasar
Yamaha, khususnya RX-King.
Menurut data AISI, penjualan “Si Raja Jalanan” menurun terus pada
Oktober 2004. Bulan itu RX-King mulai kehilangan “tenaga” dengan
mengantungi penjualan 7.969 unit. Padahal bulan sebelumnya
(September) angkanya masih bertengger pada 8.722 unit. November
melorot lagi menjadi 6.963 unit, tapi Desember sempat melonjak
menjadi 7.545 unit.
Kekuatan isu pemberlakuan emisi membuat penjualan RX-King di awal
tahun ayam (Januari 2005), limbung kembali. Angka yang dicapai hanya
6.905 unit.
Melihat gelagat ini, ATPM Yamaha sudah mempersiapkan teknologi baru
untuk meminimalisasi emisi agar memenuhi persyaratan yang
ditentukan.
Tapi tampaknya sosialisasi penerapan teknologi oleh Yamaha yang
ramah lingkungan itu belum merata diterima masyarakat luas.
(eri/tot)
|
|