|
Melacak Peninggalan
Karya Harry Roesli
Oleh Denny Sakrie
Ketika terjadi kerusuhan pada 12 Mei 1998, tiba-tiba sebuah stasiun
radio di kawasan Menteng Jakarta yang berformat classic rock, M97FM
memutar lagu milik Harry Roesli ”Jangan Menangis Indonesia” dari
album ”LTO (Lima Tahun Oposisi)” (Musica Studio 1978):
Janganlah menangis Indonesia
Janganlah bersedih Indonesia
Kami berdiri menjagamu pertiwi
Yang mendengarkan lagu ini pun terperangah. Ada yang sudah pernah
mendengarkan lagu ini sebelumnya, tapi banyak juga yang baru
mendengarkannya bahkan mengira lagu tersebut baru diciptakan Harry
Roesli karena konteks kejadiannya pas dengan kerusuhan yang tengah
terjadi.
Yang pernah mendengarkan dan pernah memiliki kasetnya seperti
menemukan sesuatu yang hilang. Bisa jadi, bagi mereka mendengarkan
kembali Harry Roesli lewat gelombang radio merupakan sesuatu yang
surprise. Tak terduga. Karena betapa sulit menemukan kaset-kaset
yang pernah dirilis Harry Roesli pada dekade 70-an dan 80-an di toko
kaset.
Almarhum Harry Roesli pun sempat terperanjat mengetahui lagu ”Jangan
Menangis Indonesia” terdengar di radio. Saat itu, Harry Roesli yang
bernama lengkap Djauhar Zaharsyah Fakhruddin Roesli, mengaku tidak
memiliki lagi album yang dikeluarkan Musica Studio sekitar 20 tahun
yang silam.
Beruntunglah saya, yang saat itu menjadi penyiar di radio M97FM
masih menyimpan album Harry Roesli tersebut. Bahkan, saat Harry
Roesli melakukan konser ”Reuni Gang of Harry Roesli” di Poster Café
Oktober 1997, ia meminjam seluruh koleksi kaset Harry Roesli milik
saya.” Untuk dipakai latihan di Bandung euy,” tuturnya, ketika itu.
Akhirnya, mengumpulkan atau mengoleksi kaset-kaset lama itu toh tak
sia-sia. Apalagi banyak sahabat saya yang mencibir: ”Buat apa sih
nyimpen album-album tua kayak gitu”. Tapi sebagai dokumentasi,
album-album Harry Roesli yang saya koleksi ternyata cukup banyak
membantu.
Di saat berita tentang berpulangnya Harry Roesli pada 11 Desember
2004 lalu, banyak di antara rekan dan sahabat yang menghubungi saya
ingin merekam album-album lama Harry Roesli yang fenomenal seperti
Philosophy Gang (1971), Titik Api (1976) dan Ken Arok (1976).
Eddy Sukma, mantan pemain kibor DKSB (Depot Kreasi Seni Bandung)
juga menghubungi saya untuk mengumpulkan kembali repertoar yang
pernah dibuat Harry Roesli semasa hidupnya. Demikian juga halnya
rekan-rekan dari Teater Mandiri–nya Putu Wijaya juga minta
direkamkan beberapa karya dari Harry Roesli. Tak kurang pula Remy
Soetansyah, wartawan hiburan yang juga meminta bantuan saya untuk
mendata dan merekam album-album milik Harry Roesli dalam bentuk
replika yang rencananya akan menjadi bagian dari Pusat Dokumentasi
Harry Roesli yang tengah dirintis pembentukannya.
Kontroversial
Bukan hanya kepergian Harry Roesli yang banyak membuat orang rindu
terhadap karya-karyanya terdahulu. Tetapi juga artis pemusik dan
penyanyi lainnya, misalnya album-album milik Benyamin S, atau The
Rollies di saat tiga personelnya menghadap Yang Kuasa yaitu Deddy
Stanzah, Delly Rollies dan Bonnie Rollies. Dan dari
peristiwa-peristiwa di atas tadi sebetulnya kita harus menyadari
betapa pentingnya dokumentasi musik di negeri ini. Bangsa kita
rasanya kurang begitu perduli dengan dokumentasi karya pemusiknya
sendiri.
Sangat jauh berbeda dengan bangsa Barat yang telah mendokumentasikan
seluruh hasil rekaman pemusik dan penyanyi sedemikian rupa. Hingga,
ketika sang pemusik atau penyanyi telah berpulang, karya-karyanya
masih bisa dirilis ulang. Misalnya, karya-karya The Beatles, Elvis
Presley, The Doors dan masih banyak lagi.
Harry Roesli mulai merilis album pada tahun 1971 bertajuk Philosophy
Gang yang antara lain melejitkan lagu ”Peacock Dog” dan ”Malaria”.
Album yang didukung Harry Roesli (vokal, bas), Indra Rivai (kibor),
Harry Pochang (vokal, harmonica),Yanto Sudjono (dram) dan Albert
Warnerin (gitar). Album ini direkam di Musica Studio dan diedarkan
oleh Lion Record, sebuah perusahaan rekaman di Singapura.
Saat itu, album yang hanya diedarkan dalam format piringan hitam,
tidak beredar secara luas. Kenapa? Karena album ini memang sarat
kontroversi. Mulai dari visualisasi sampul album saja, Harry Roesli
telah berurusan dengan pihak berwajib. Ini dikarenakan, sampul album
yang digarap oleh A.Murad Kusumo Handojo, seorang pelukis surealis
jebolan Seni Rupa ITB, dianggap menawarkan pornografi.
Sampul depan album Philosophy Gang menampilkan lukisan seorang
wanita renta dengan payudara yang terlihat menjulur ke bawah.
Sementara, di sampul bagian belakang terlihat gambar jarum suntik
yang berkonotasi narkotika serta alat kelamin yang tengah dalam
keadaan ereksi. Dan album yang liriknya menyindir pemerintah itu pun
akhirnya disensor. Jadilah album ini menjadi collector’s item yang
diuber para kolektor hingga saat ini. Bukan hanya kolektor dalam
negeri tapi juga dari luar negeri, seperti Tetsu Nagata - seorang
kolektor album-album lama pemusik Indonesia yang membeli album
Philosophy Gang dengan harga lumayan mahal dari penjual album-album
lama di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur.
Di beberapa lapak khusus menjual kaset-kaset loakan seperti di
Jatinegara, Jalan Surabaya, Taman Puring hingga Tanah Abang,
album-album Harry Roesli yang fenomenal seperti Titik Api, Gadis
Plastik dan Ken Arok dipatok dengan harga tinggi. Berkisar antara Rp
40.000, Rp 50.000 bahkan Rp 75.000. Di sebuah kios di bilangan Taman
Puring, beberapa album milik Harry Roesli seperti Jika Hari Tak
Berangin, Tiga Bendera, Gadis Plastik, Titik Api, Ken Arok dan LTO
malah telah direkam dalam bentuk cakram padat (CD/compact disc)
dengan menggunakan cover hasil scan dari kaset aslinya dan dijual
seharga Rp 50.000.
Untunglah, saya dengan telaten memelihara album-album Harry Roesli
saya sejak dahulu ketika masih duduk di bangku SMP. Ketika kaset
Harry Roesli masih dijual seharga Rp 600 dan Rp 800.
Namun tak bisa dipungkiri, sesuatu benda atau barang baru bernilai
dan berarti jika barang itu telah lenyap dari pasaran. Saat itu,
orang mulai beramai-ramai melacak keberadaan barang atau benda
tersebut. Dan ketika album Harry Roesli masuk dalam kategori
”Collector’s Item”, maka para pedagang pun tak segan-segan mematok
harga tinggi.
Penulis adalah kolektor kaset,
CD dan piringan hitam
|
|