|
Berburu Koleksi Harry Roesli

Jakarta – Seniman bengal itu memang telah wafat, 11 Desember
silam. Kepergiannya ditangisi puluhan penggemar, sahabat hingga
rekan sejawat dalam karier bermusik. Yang pasti, almarhum Harry
Roesli meninggalkan sederet cerita, termasuk karya-karya papan
atas selama kariernya. Tentu saja, karya-karya itu menarik untuk
diburu sebagai barang koleksi.
”Waduh, saya baru aja ngelepas (baca: menjual) dua kaset Harry
Roesli kemarin. Telat sih datangnya,” sebut Bang Haji, salah
seorang penjual kaset dan piringan hitam lawas di bilangan Jl.
Surabaya, Jakarta. Dua kaset tadi berhasil dilego seharga Rp
100.000. Dan, kini Bang Haji mengaku kehabisan stok koleksi
karya-karya Harry Roesli.
Menurut pengakuan Bang Haji, dirinya pernah berhasil tiga kali
melego piringan hitam Philosophy Gang. Ini album pertama seniman
asal Bandung itu yang dirilis pada 1971 dengan label Lion Record
Singapore. Sayang, Bang Haji tak lagi ingat soal waktu dan harga
penjualan album tersebut. Yang pasti, harganya belum melambung
seperti sekarang ini. ”Waktu itu, senimannya kan masih ada,” ujar
Bang Haji yang ditemui di kiosnya.
Berburu koleksi karya-karya Harry Roesli bukanlah hal gampang. Di
penjual-penjual kaset lawas dan koleksi piringan hitam tak selalu
memiliki stok. Lian (41 tahun), penjual piringan hitam dan kaset
lawas di Jl. Surabaya, malah menyarankan SH untuk mencari koleksi
album seniman musik Indonesia lainnya, macam Koes Plus, A.K.A atau
Dara Puspita. ”Album Harry Roesli memang susah didapatnya,” kata
Lian, ramah.
Selain jumlah kaset atau piringan hitamnya sedikit, sebut Lian,
penggemar musik Harry Roesli memang terbatas jumlahnya. Di masa
silam, kolektor yang mencari karya-karya seniman bernama komplet
Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli ini tak perlu dihitung dengan
bantuan kalkulator alias sedikit. Kosong stok juga diakui Yusfar,
penjual kaset dan piringan hitam lawas yang kiosnya tak seberapa
jauh dengan kios milik Lian.
Sebetulnya, Lian mendapat pesanan kaset dan piringan hitam musik
Indonesia dari Kevin Blyth – kolektor asal Australia. Di antara
sederet pesanan yang dikirimkan lewat selembar daftar ”barang”
yang diburu, terselip pesanan kaset Titik Api – album karya Harry
Roesli yang dirilis di bawah payung Aktuil Musicollection (1976).
Kelangkaan album
koleksi Harry Roesli tentu melambungkan harga jual. Menurut
pantauan Denny Sakrie – pengamat musik sekaligus kolektor karya
seniman musik Indonesia - pada beberapa lapak khusus menjual
kaset-kaset loakan seperti di Jatinegara, Jalan Surabaya, Taman
Puring hingga Tanah Abang, album-album Harry Roesli yang fenomenal
seperti Titik Api,Gadis Plastik dan Ken Arok dipatok dengan harga
tinggi. Berkisar antara Rp 40.000, Rp 50.000 bahkan Rp 75.000.
(baca juga: ”Melacak Peninggalan Karya Harry Roesli”).
Padahal, ketika kaset tersebut pertama kali dirilis, Denny
membelinya dengan harga antara Rp 600 - Rp 800. ”Waktu itu, saya
masih SMP.” Denny paling suka dengan Philosophy Gang. Selain
sampul albumnya yang kontroversial, materi lagunya juga sarat
dengan kritik sosial.
Denny pernah siaran bareng dengan pemusik kelahiran Bandung, 10
September 1951 ini di radio M97FM Jalan Borobudur Menteng Jakarta.
”Gue siaran sama almarhum hari Minggu, 2 Agustus 1997.” Waktu itu,
Harry datang bersama gang lamanya kayak Albert Warnerin, Triawan
Munaf dan Eddy Mehong.
Ada cerita yang menarik pada saat siaran bareng itu. Saking
semangatnya, Harry sudah datang ke studio pukul 18.00 WIB –
padahal baru mulai pukul 21.00 WIB. Akhirnya, sembari mengobrol
ngalor-ngidul Denny menunjukkan Harry, koleksi album lawas
miliknya. Kebetulan, materi siaran tak jauh dari lagu-lagu yang
terdapat dalam album Philosophy Gang, Titik Api, Ken Arok, Tiga
Bendera, Daun, Ode & Ode, DKSB, Gadis Plastik dan lainnya.
Begitu ”dipamerkan”, cerita Denny, Harry Roesli justru terhenyak.
Mau tahu komentar seniman yang pernah berurusan dengan pihak
berwajib karena menyanyikan lagu Garuda Pancasila secara plesetan
ini ketika itu, ”Gila.....euy gua sendiri kagak nyimpen.” Nah lo!
”Kontroversi” soal koleksi Harry Roesli memang tak berhenti sampai
di situ. Denny pernah mendapat diskografi lengkap dari si empunya
karya-karya ciamik itu. Hasilnya, ada sejumlah album yang ”hilang”
alias tak pernah ditemukan di pasaran. ”Gue nggak punya
koleksinya, malahan sampe sekarang gue belum pernah liat
barangnya,” kekeh Denny. Mau tahu album ”langka” itu? Harry Roesli
Solo 1 (1972), Harry Roesli Solo 2 (1973), Harry Roesli Solo 3
(1974), Harry Roesli Solo 4 (1975), Asmat Dream (1990), Orang
Basah (1991) dan Cuaca Buruk (1992). Empat album yang pertama
disebut tadi dirilis dengan label Diamond Malaysia dengan format
piringan hitam. Sisanya bernaung di bawah Frog Peak, Amerika
Serikat dalam bentuk cakram padat (CD/compact disc). Apa pun
karya-karya Harry Roesli memang menarik untuk dikoleksi.
(SH/bayu dwi mardana)
|
|