|
Pernikahan ala Penyelam
Terumbu Karang pun Jadi Saksi Janji Setia

JAKARTA – Setiap orang tentu
menginginkan pesta pernikahannya meninggalkan kesan indah dan tak
terlupakan. Tak heran, pemilihan tempat selalu dilakukan secermat
mungkin, agar pesta berlangsung tepat seperti yang diinginkan si
pengantin. Nah, bagi seorang pehobi selam, tempat mana lagi yang
lebih pas untuk menyelenggarakan pesta pernikahan, kalau bukan di
dasar laut?
Sabtu (27/11) lalu, saya berkesempatan menyaksikan peristiwa unik
itu. Upacara pernikahan yang berlangsung di Pulau Sangyang, Anyer
itu diadakan komunitas pehobi selam Anak Laut untuk dua
anggotanya, Leon dan Lili. Uniknya lagi, Leon sendiri sama sekali
tak tahu-menahu tentang rencana upacara perkawinan bawah air itu.
Pesta itu memang merupakan hadiah kejutan dari mempelai wanita,
dan pelaksanaannya dibantu teman-teman komunitas.
Kami berangkat secara bertahap meninggalkan Jakarta. Tim pertama
berangkat pukul 04.30 WIB, karena masih harus menyiapkan dekorasi.
Lantaran ingin mengabadikan semua tahap persiapan pesta, saya
memilih pergi bersama tim pertama. Ups, lumayan mengantuk juga.
Maklum, hari masih terlampau dini. Bulan purnama masih bulat
bersinar di langit dan mentari belum lagi keluar dari peraduannya.
Setiba di Pelabuhan
Pakuan sekitar pukul 05.00, Pak Kosim – nelayan setempat yang
perahunya sering kami sewa– sudah menyiapkan kerangka pergola yang
kami pesan. “Tim dekorasi” segera sibuk menempelkan bunga dan
janur di kerangka pergola yang terbuat dari besi itu. Rencananya,
pergola itu akan dibawa ke dasar laut. Karena itu, semua bunga
diikat kuat-kuat, agar tak lepas terbawa arus.
Perahu yang akan membawa kami ke dive site juga dihias dengan
janur dan bunga imitasi. Lumayanlah, cukup meriah. Paling tidak
cukup untuk menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di
Pelabuhan Pakuan.
Tengah hari, barulah semua perlengkapan pesta siap. Tabung dan
semua peralatan yang diperlukan sudah berada di atas perahu.
Demikian pula pergola cantik berhias bunga dan rangkaian janur.
Seperti biasa, sebelum berangkat kami berkumpul di dermaga untuk
berdoa bersama dan briefing singkat. Tiba saatnya untuk membuka
kejutan bagi si pengantin pria. Maklum, dengan keterbatasan
komunikasi di bawah air, tak mungkin menyelenggarakan upacara
tersebut tanpa sepengetahuan si pengantin.
Leon, seperti sudah diperkirakan, terkejut mengetahui akan
diadakan upacara perkawinan di bawah laut bagi dirinya. “Wah, gue
nggak nyangka. Gue pikir perahu ini dihias karena bekas dipakai
pesta kawinan penduduk setempat,” ujarnya.
Upacara Sederhana
Prosesi upacara perkawinan itu sendiri cukup sederhana. Menurut
rencana, dua orang rekan yang bertugas memegangi pergola (agar tak
terombang-ambing arus) akan turun terlebih dulu. Setelah itu, Adi
– salah satu rekan yang berprofesi sebagai pendeta dan karenanya
bertugas memimpin upacara perkawinan - akan turun dan menunggu di
depan pergola. Adi diikuti empat rekan lain, yang bertugas sebagai
“pagar bagus”. Para pagar bagus itu akan bersimpuh di kiri kanan
jalan yang akan dilalui pasangan pengantin, sambil memegangi
untaian bunga matahari kuning cerah.
Baru setelah semuanya siap, Lili dan Leon turun ke kedalaman air
dibantu oleh buddy masing-masing. Buddy itu bertugas membantu Lili
dan Leon melepas fin (sepatu katak), agar mereka bisa berjalan di
dasar laut, tak ubahnya pengantin lain berjalan menuju altar
gereja.
Dive site tempat upacara itu berlangsung dikenal sebagai Batu
Raden. Untuk upacara, memang sengaja dipilih sebuah tempat datar
yang hanya diselingi sedikit karang dan soft coral sehingga
tersedia cukup tempat untuk prosesi.
Kami beruntung,
karena meskipun lima hari sebelumnya hujan turun nyaris tanpa
henti, hari itu cuaca cukup cerah. Sinar matahari bahkan terasa
cukup terik. Arus sedikit kuat, tapi tak menjadi soal.
Satu per satu, kami mulai melakukan water entry. Adi, Aidil,
Trias, Sarwo dan teman-teman lain yang bertugas menjadi “pagar
bagus” dan camera man turun terlebih dulu, sesuai rencana. Setelah
itu, menyusul Lili dan Leon. Untuk diving istimewa itu, Lili sudah
mengganti wet suit-nya dengan gaun putih dan cadar, layaknya
seorang pengantin putri. Di tangannya, tergenggam sebuah karangan
bunga terbuat dari mawar merah imitasi. Sedangkan Leon, meskipun
dengan sedikit paksaan, akhirnya mau juga mengenakan kemeja putih
dan celana panjang hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupunya.
Tak lama, kami semua mulai menyelam. Sayang, entah karena arus
yang cukup kuat atau karena gerakan kami, air di tempat itu
lumayan keruh. Jarak pandang paling hanya mencapai 2-3 meter.
Tetapi lamat-lamat, saya masih bisa melihat Lili turun ke dasar,
lalu melepas fin-nya dengan bantuan Dwi, rekan yang bertugas
sebagai bride maid alias pendamping pengantin wanita. Hanya
mengenakan boot, ia kemudian bergandengan dengan Leon berjalan di
atas pasir menuju pergola, dimana Adi telah menunggu.
Janji perkawinan semuanya tertulis di atas kertas berlapis
laminating, yang kemudian disodorkan Adi untuk dibaca kedua
pengantin secara bergantian. Untuk mengisyaratkan mereka
menyetujui janji itu, mereka menunjukkan isyarat “OK,” membentuk
bulatan dengan telunjuk dan ibu jari. Tak lama setelah pembacaan
janji-janji yang jumlahnya beberapa halaman itu, saya lihat kedua
mempelai membuka masker dan melepas mouth piece, lalu saling
berciuman. “You are now husband and wife”. Tak terasa saya nyengir
menyaksikan adegan itu.
Selesai upacara pemberkatan pernikahan, Leon dan Lili mengenakan
kembali fin masing-masing. Lili membuka BCD-nya, lalu memasukkan
octopus (mouth piece cadangan) dari BCD Leon ke mulutnya.
Bergandengan, berbagi udara dari satu tabung, sepasang pengantin
itu kemudian berenang meninggalkan area upacara. Begitulah cara
pehobi selam mengikat janji sehidup semati. Hehmm... asyik kan?
(SH/ruth hesti utami)
|
|