|
Kilas Balik
Petualangan Srikandi Indonesia
Sebelum badai krisis
menerpa Indonesia, dunia petualangan putri kita sempat ramai. Pada
pertengahan delapan puluhan sampai pertengahan 90-an menjadi masa
emas ekspedisi khusus putri Indonesia. Pemberitaan yang cukup sering
berhasil memunculkan nama-nama beken dalam beragam kisah fenomenal.
Sebut saja, Karina Arifin, Ita Budi, Dwi Astuti, Aryati, Jonetje
Wambaruw, Diah Bisono, Clara Sumarwati, Lala, Amalia Yunita, Heni
Juhaeni, Vreytha C Ilvia dan masih banyak lagi.
Pada 1987, para petualang putri Indonesia berhasil menjejak puncak
Imja Tse (Island Peak) setinggi 6169 meter di Himalaya, Nepal. Boleh
dibilang inilah tim petualang putri Indonesia pertama yang go
international.
Berikutnya, 17 Maret 1988 Tim putri Aranyacala Trisakti Jakarta
bikin kejutan. Mereka sukses memanjat Tower III Gunung Parang,
Purwakarta. Waktu itu, terpilih tujuh pemanjat putri yang memenuhi
syarat sebagai anggota inti ekspedisi. Sebut saja, Teja Sari, Amalia
Yunita, Vreytha C Ilvia, Elisa, Rinto Widya Prasti, Laksmiana S dan
Emma Alvita Bukit. Dalam waktu 18 hari mereka berhasil menuntaskan
”Ekspedisi Putri Parang Aranyacala 1988”.
Usai sukses meraih puncak Imja Tse, pendaki putri Indonesia kembali
menggeliat. Kali ini sasarannya tak tanggung-tanggung: 5 puncak
tertinggi di 5 negara Eropa. Bila dirinci: Mont Blanc (4.807m,
Perancis), Grand Paradiso (4.601 m, Italia), Monterosa (4.634 m,
Swiss), Grossgiockner (3.978 m, Austria) dan Zugsptee (2.964 m,
Jerman Barat). Ekspedisi yang digelar pada 1.989 itu diberi tajuk
”Ekspedisi Wanita Alpen Indonesia”. Tim pendaki dibagi menjadi dua
kelompok. Regu I bertugas meraih puncak Grossgiockner dan Grand
Paradiso. Regu II mendaki Zugsptee dan puncak Dufourspitz – titik
tertinggi dari sepuluh puncak Monterosa. Lalu kedua regu
bersama-sama mendaki Mont Blanc.
Di tahun yang sama, ada Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala di
Bambapuang, Sulawesi Selatan. Sayang, sebelum puncak tergapai telah
terjadi musibah - Ali Irfan Batubara, fotografer tim, tewas
tergelincir dari ketinggian.
”Tahun 1990 ada dua ekspedisi yang berdekatan, pertama Ekspedisi
Chulu West Putri Patria Indonesia dan Ekspedisi Annapurna Putri
Patria Indonesia,” ujar Dwi Astuti – petualang putri senior yang
menjadi anggota Trupala dan Pataga Universitas 17 Agustus Jakarta.
Ekspedisi ke Annapurna berhasil mengantarkan Aryati menjadi wanita
Asia pertama yang berhasil meraih puncak Annapurna IV, Himalaya
(7525 meter).
Ekspedisi putri terus bergulir. Pada 1991, Tim Srikandi Tim Panjat
Tebing Yogyakarta (6 orang) membuat jalur di Bukit Tanggul, Tulung
Agung, Jawa Timur. Prestasi luar negeri ditorehkan di Puncak Tebing
Cima Ovest, Lavaredo, Italia. Ekspedisi Pemanjat Putri Indonesia itu
berhasil membuat rute baru yang dinamai Jalur Putri Indonesia. Dalam
tim ini ada delapan pemanjat: Aik, Erna, Endang, Henny, Wiona, Rina,
Itut dan Nonie. Ketua ekpedisi berada di tangan Lisa (Fe-USAKTI
Jakarta) dan Iyel sebagai technical advisor (Aranyacala USAKTI
Jakarta).
Tahun 1992, putri-putri dari Aranyacala USAKTI Jakarta kembali buat
ekspedisi. Dengan bendera Ekspedisi Putri Trisakti-Indonesia, mereka
sukses di bumi Amerika. Hebatnya, ekspedisi ini merupakan gabungan
dari empat kegiatan: arung jeram, penelusuran gua, pendakian gua dan
panjat tebing. Ada juga ekspedisi Putri Khatulistiwa Tim Panjat
Tebing Yogyakarta memanjat dinding utara Bukit Kelam, Sintang,
Kalimantan Barat.
Jonetje Wambaruw tersenyum lega saat menjejakkan kaki di puncak
Aconcagua, Argentina (6.960 meter). Bersama Aryati, Lala dan Clara
Sumarwati, ia mendaki titik tertinggi di Amerika Selatan itu pada
Januari 1993.
Tahun selanjutnya, ada Ekspedisi Putri Trisakti ke Afrika. Format
petualangan Kartini-kartini muda asal Aranyacala itu sama dengan
ekspedisi ke Amerika. Amalia Yunita bergabung bersama Herawati
Rambe, Dini Pusianawati, Tejasari, Daisy Harsa dan Nova Novianti
dalam tim Arung Jeram di Sungai Zambezi, yang melintang di dua
negara Zimbabwe dan Zaire.
Pada tim penelusuran gua, ada Lis Isniati, Eva Sophia Asmara dan
Lyra Ramdhoni. Sedang panjat tebing: Maya Sari Arienty, Eva Maria
dan Susi Susilowati dan terakhir tim pendakian gunung: Dewi
Ratnasari. Konon, ekspedisi ini menelan biaya sekitar 400 juta
rupiah.
Sempat vakum beberapa tahun, dunia petualangan dikejutkan dengan
keberhasilan Clara Sumarwati meraih puncak Everest pada 1996.
Sayangnya, keberhasilan Clara menjadi kontroversi lantaran ia gagal
menunjukkan foto di puncak tertinggi dunia itu.
Pada 1997, Ekspedisi Putri Mapala UI merampungkan pemanjatan
Bambapuang di Sulawesi Selatan. Tercatat lima pemanjat dalam tim
ini: Andi Purnomowati, Maya, Nadira, Dian, dan Ita. Badai krisis
datang, kisah petualangan putri kita makin meredup. Mereka tak dapat
membuat tim khusus putri gara-gara harus terbentur segepok perkara.
Ujung-ujungnya, memang masalah dana. Kapan ya semangat Kartini
berkobar lagi di arena petualangan kita? (bay)
|
|