H O B I  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Surga Raja Udang di Pucuk Sulawesi


Sunarto
Raja udang pipi-ungu (Cittura cyanotis). Burung ini bukan hanya jenisnya tapi marga/genus-nya endemik di Sulawesi (atas).

 

Bila Anda gemar birdwatching (mengamati burung) di alam bebas rasanya tak boleh melewatkan tempat satu ini. Niscaya, Anda bakal merasakan surga untuk mengintip tingkah laku bangsa aves. Apalagi, jika punya minat membuat karya fotografi satwa liar. Penasaran? Mari kita tengok tempat itu.

Selamat datang di Tangkoko. Ini adalah tempat mungil yang mudah dijangkau. Bila cuma punya waktu singkat untuk menjelajahi Sulawesi, lebih baik berpetualang ke tempat ini. Banyak orang bilang, Tangkoko adalah miniatur Sulawesi, sebab tipe-tipe ekosistem utama pulau ini terwakili di sini.
Meski mungil, Cagar Alam Tangkoko-Duasudara – nama resmi Tangkoko - berada di pinggir lautan dan sekaligus mencakup tiga puncak gunung api yang saling berdekatan. Karena itu, mulai dari terumbu karang, hutan dataran rendah sampai ekosistem alpin ada di sana. Tentu saja, beberapa jenis satwa khas Sulawesi seperti monyet yaki (Macaca nigra), tarsius (Tarsius spectrum), kuse (Ailurops ursinus), dan ratusan jenis burung pun hidup di sana.
Lebih dari 150 jenis burung pernah tercatat di Tangkoko. Termasuk, beragam jenis burung endemik Sulawesi yang tak mudah ditemukan di bagian lain pulau itu. Ada 47 jenis burung endemik Sulawesi yang tercatat menghuni kawasan ini. Sekedar menyebutkan beberapa, seperti dua jenis burung rangkong endemik Sulawesi: julang Sulawesi (Aceros cassidix) dan kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus).

Raja Udang
Bagi birder (pengamat burung), salah satu poin yang paling menarik di Tangkoko adalah raja udang. Jika Sulawesi telah dikenal sebagai salah satu pusat sebaran raja udang di dunia, maka Tangkoko adalah pusat sebaran raja udang di Sulawesi. Uniknya, meski kelompok burung ini sangat identik dengan perairan, beberapa jenis raja udang di Tangkoko justru hidup di hutan yang jauh dari perairan.
Untuk para pemula, raja udang adalah burung yang sangat memikat. Burung ini memiliki bulu tubuh yang warna-warni. Berparuh lurus panjang berbentuk belati, raja udang sangat piawai dalam menemukan dan melumpuhkan mangsanya. Mangsanya sangat beragam, tergantung jenisnya. Ada ikan, udang, kepiting, kodok, siput, serangga air, belalang, tonggeret, cacing tanah sampai lebah.
Bagi mereka yang punya rasa memiliki kelewat tinggi alias hobi memelihara burung dalam sangkar mungkin perlu diperingatkan bahwa raja-udang bukanlah jenis yang cocok dipelihara. Alasannya, burung ini memang sangat sulit dipisahkan dari habitat alaminya. Raja udang juga bukan jenis burung yang hobi berkicau. Biasanya, keluarga burung ini hanya berkekek saat terbang menyusuri sungai atau melintasi badan air. Terakhir, semua jenis raja-udang dilindungi undang-undang. Nekat memelihara berarti harus siap bila disita yang berwajib, selain menghadapi ancaman pidana.
Ada 10 jenis burung raja udang yang menghuni kawasan mungil Tangkoko. Lima di antaranya, jenis endemik Sulawesi alias tak ditemukan di daerah lain. Saking uniknya, salah satu jenis yang hidup di sana yaitu raja udang pipi-ungu (Cittura cyanotis). Burung ini bukan hanya jenisnya tapi marga/genus-nya endemik di Sulawesi.
Jika kita perhatikan penampakan fisik dan perilakunya, burung itu memang berbeda dari jenis raja udang lain. Relatif terhadap tubuhnya, paruh raja-udang pipi ungu tampak lebih kecil dibanding jenis lain. Begitu juga dengan perilakunya. Raja udang penghuni habitat hutan itu sangat jinak ketika dijumpai dan cukup percaya diri untuk tidak lekas kabur.

Teori Ekonomi
Dengan mengamati tingkah laku raja udang di Tangkoko, kita bisa belajar teori ekonomi. Tak percaya? Lihat saja cara mereka hidup berdampingan dalam persaingan sumberdaya yang ketat. Dengan menonjolkan keunikan dan kelebihannya masing-masing, sepuluh jenis rajaudang tersebut dapat hidup berdampingan dengan serasi.
Masing-masing jenis memang memiliki keunikan. Itu nyata dari morfologi alias penampakan luarnya, perilakunya dan kemampuannya beradaptasi dengan habitat yang berbeda.
Dari ukurannya, sepuluh jenis raja udang yang ada di Tangkoko sangat bervariasi. Ada raja udang-merah Sulawesi alias raja udang kerdil Sulawesi (Ceyx fallax) yang mungil. Panjang total tubuhnya dari ujung paruh sampai ujung ekor hanya 12 cm. Bandingkan dengan pekaka bua-bua (Pelargopsis melanorhyncha) yang sekitar lima kali lipat besarnya. Di antara dua jenis yang berukuran ekstrem itu ada delapan jenis yang ukurannya beragam.
Tidak di sembarang tempat di Tangkoko kita bisa menemukan setiap jenis raja-udang. Setiap jenis menempati relungnya masing-masing. Dengan begitu, mereka tidak harus menghabiskan waktunya untuk berkelai satu jenis dengan lainnya. Ada jenis-jenis yang hanya menghuni daerah pantai. Ada yang hanya menghuni daerah sungai. Ada yang tidak dapat pergi dari hutan dataran rendah. Ada juga jenis yang tak pernah turun dari puncak gunung.
Jenis yang paling setia di pantai adalah pekaka bua-bua dan cekakak suci (Todirhampus sanctus). Sekali-sekali datang juga cekakak sungai (Todirhampus chloris) yang senang dengan tempat-tempat terbuka. Dengan habitat kesukaan yang seperti itu, cekakak sungai dapat menghuni perkebunan bahkan perkampungan di pinggir kebun. Tak heran kalau jenis ini sangat tersebar luas di seluruh Indonesia bahkan Asia Tenggara dan Australia.
Masih di sekitar perairan namun di tempat yang lebih tertutup ada beberapa jenis lain yang menempati. Salah satunya yang paling setia adalah cekakak merah (Halcyon coromanda). Selain itu, ada juga raja udang Erasia (Alcedo atthis) dan raja udang meninting (Alcedo meninting) yang lebih sering terlihat di daerah sungai.
Meski menghuni habitat yang serupa, mereka tak pernah berkelahi. Setelah diteliti berbulan-bulan, di bagian sungai rupanya mereka menyukai tempat yang berbeda. Raja-udang Erasia dan raja-udang meninting yang berukuran sama rupanya menyukai tempat yang berbeda.
Raja-udang Erasia lebih sering terlihat di bagian hilir sungai, padahal raja-udang meninting tampaknya lebih menyukai bagian hulu. Sementara itu, cekakak merah yang sangat pemalu untuk muncul di tempat yang terbuka, lebih banyak bersembunyi. Dari balik kerimbunan vegetasi sungai dan pantai dia menunggu mangsanya.
Meski berdekatan, cekakak merah tidak akan masuk terlalu jauh ke hutan karena di sana ada tiga jenis yang siap menghelanya.
Di hutan dataran rendah, ada tiga jenis utama yang hidup berdampingan. Mereka adalah raja-udang pipi-ungu, cekakak-hutan tungging-hijau (Actenoides monachus), dan udang-merah Sulawesi.
Meski bersaing ketat satu-sama lain dalam mencara sumber daya, mereka toh dapat juga coexist alias hidup berdampingan dengan serasi. Apa sih rahasianya? Ketika ditengok lebih rinci, rupanya mereka pandai sekali berbagi sumberdaya. Dalam memilih tempat hinggap saja, mereka tidak tumpang tindih. Begitu juga untuk tempat bersarang, musim berbiak, jenis pakan, dan masih banyak lagi.
Di puncak gunung yang dingin, ada satu jenis yang sangat setia menunggu. Namanya cekakak-hutan dada-sisik (Actenoides princeps).
Untuk menemukan semua itu, tak perlu kawatir untuk harus bersusah-payah sendirian mencari jalan karena di sana ada sejumlah pemandu yang sangat berpengalaman. Bahkan, boleh dibilang ahli-ahli lokal untuk mengenali satwa liar di Sulawesi, banyak yang ‘bersarang’ di Tangkoko. Banyak dari mereka bahkan juga aktif dalam berbagai kegiatan penelitian ekologi satwa liar di bagian lain Sulawesi seperti Cagar Alam Nantu, Taman Nasional Bogani Naniwartabone, Togean, Kepulauan Sangir-Talaud dan daerah lainnya.
Beberapa nama yang telah biasa menghiasi publikasi tentang satwa liar Sulawesi yang mangkal di Tangkoko antara lain Yunus Masala, Nelman Kakauhe, Yopie Manderos, Tulende Wodi, Noldi Kakauhe, dan Jemmy Lambaiang. Ketika sebagian dari mereka telah mulai beranjak usia, tak kurang juga bibit-bibit muda pemandu yang mulai bermunculan. Orang-orang ini bukan hanya mengenal medan dan memahami prinsip-prinsip konservasi dan ekologi hutan tetapi juga dapat menjadi teman yang menyenangkan.

(Sunarto, pengamat burung - bekerja untuk Conservation International Indonesia)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003