|
Suiseki
Mencintai Alam lewat Imajinasi Batu

SH/bayu dwi mardana
Koleksi – Contoh- contoh koleksi suiseki yang dipamerkan pada
Pameran Suiseki Indonesia Jepang 22 – 29 Agustus di Pusat Kebudayaan
Jepang, Jakarta (atas).
JAKARTA – Suiseki termasuk salah satu
hasil karya alam yang indah dan penuh misteri. Terbentuk secara
alami dari proses penderitaan panjang lewat kekuatan alam selama
ribuan–malahan sampai jutaan tahun. Waktu mengamatinya, para
pehobi suiseki punya beragam imajinasi. Itu sebabnya, hobi unik
ini bisa disebut sebagai seni imajinasi.
”Mengamati suiseki bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan
tersendiri,” sebut M. Paiman, ketua Perkumpulan Penggemar Suiseki
Indonesia (PPSI). Dalam kekerasan bentuk dan kekuatan batu tadi
terdapat kelembutan alami yang sangat memukau. ”Hati nurani terasa
bergetar dan mampu membawa kedamaian dalam hati sanubari. Di
sinilah, kita sadari betapa besarnya kekuasaan Tuhan Sang Maha
Pencipta.”
Sejak awal, M. Paiman mengingatkan bahwa suiseki tak ada kaitannya
dengan aliran agama atau kepercayaan. Filosofi yang agung itu
didapat karena manusia mau mengenal lebih dalam tentang alam dan
juga mau kembali ke alam. Dari situ, tentu saja semuanya balik
lagi kepada keagungan Yang Maha Kuasa.
”Mengamati suiseki bisa dengan cara menyemprotkan air ke batu.
Tiap batu punya karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang yang
sepuluh menit kering, ada juga yang kering setelah tiga puluh
menit kita semprot,” ujar Paiman berusaha memberi contoh.
Lalu di mana keindahannya ? Di sinilah letak seni imajinasi
suiseki berjalan. Pada keadaan setengah basah, batu bisa
memberikan beragam persepsi tentang alam. Keindahannya akan
terlihat sejalan proses menguapnya air dari permukaan batu.
”Puncak kebahagiaan dalam menatap pemandangan itu umumnya
dirasakan pada saat batu perlahan-lahan mulai mengering. Berubah
sedikit demi sedikit dari gelap menjadi terang. Ini persis dengan
terbitnya mentari pagi yang membawa perubahan pada lingkungan
sekitarnya,” papar Paiman.
Kesabaran menanti
datangnya momen seperti tadi merupakan intrik kedisiplinan yang
kita bentuk dalam mengagumi suiseki. Pada saat ini, kolektor
terbawa dalam bentuk ketenangan yang sempurna. Kalau sudah begini,
nilainya tak bisa diganjar dengan uang. Kepuasan batin adalah
jawaban segalanya.
Menurut Paiman, manusia itu bagaikan daun yang tertiup angin,
mudah terpengaruh oleh emosi. Dengan memusatkan pikiran pada
kekuatan dalam batu ini—dan belajar mengendalikan kekuatan yang
kita pelajari dari kekuatan alam—banyak yang bisa kita resapi.
Sebab, tiap batu yang beraneka ragam bentuknya itu sampai ke
tangan kita setelah lewat perjalanan penderitaan panjang.
Penderitaan panjang sebuah batu itu terjadi selama ribuan, bahkan
jutaan tahun. Selama itu, batu dibentuk alami lewat kikisan air
sungai, derasnya air hujan, ganasnya gelombang laut dan dahsyatnya
kekuatan alam.
Tampilan alami itu bukan tanpa cacat. Suiseki pun punya kekurangan
dan kelemahan – seperti halnya manusia. Mereka yang biasa bertukar
rasa dalam kontak batin dengan batu ini membentuk kecintaan alam
yang dapat memperkuat iman dalam menghadapi ganasnya kehidupan.
Pehobi suiseki umumnya menjadi orang yang rendah hati, pecinta
kedamaian dan alam. Paling tidak, dia sadar bahwa segala sesuatu
dicapai setelah lewat pengorbanan.
”Dan jangan lupa, kegemaran terhadap suiseki itu dilakukan tanpa
merusak lingkungan. Ada beberapa kriteria utama yang harus
diperhatikan sebelum memindahkan batu tadi dari alamnya,” ujar
Budi Sulistyo, sekretaris jendral PPSI. Ada keseimbangan,
kesebandingan, keiramaan, kekontrasan dan keharmonisan serta
kemenyatuan.
Selain kriteria tadi, kekerasan batu juga tak bisa disepelekan.
Suiseki yang mendekati sempurna, kekerasannya seharusnya lebih
dari 4,5 skala MOHS. Suiseki juga tak boleh tergores oleh pisau
saku. Sentuhan tangan manusia harus diminimalkan, kalau tak mau
mengurangi penilaian.
Hadi Wijaya, kolektor suiseki asal Bogor mengaku kepincut suiseki
sekitar tahun 1970-an. Dia mengaku banyak belajar pada orang
Jepang. ”Pada dasarnya saya memang suka dengan batu-batu alam.
Setelah belajar itu, saya makin serius menekuni hobi ini.”
Koleksi Hadi jumlahnya sudah ribuan. Untuk kualitas yang baik,
katanya ”cuma” ada ratusan saja. Koleksi yang paling dia senangi
adalah fosil batu asal Sungai Baliem, Papua. Fosil ini disebut
Amonet. Umurnya lebih dari 170 juta tahun.
Untuk mendapatkan
fosil batu itu, Hadi sudah tiga kali bolak-balik menyusuri sungai
di kawasan Lembah Baliem itu. ”Saya pertama kali mencari pada 1993
dan terakhir tahun 1995. Kalau sekarang saya sudah nggak berani
lagi. Waktu dulu saja saya diantar oleh polisi setempat.” Alasan
keamanan tampaknya yang menjadi pertimbangan Hadi.
Saking sayangnya pada koleksi suiseki, Hadi pernah menampik
tawaran 7.000 dolar AS. Ceritanya, ada kolektor asal Taiwan yang
kepincut dengan ”Black Beauty”, salah satu koleksi suiseki
miliknya. Batu indah ini didapat dari Sungai Umbilin, Padang.
”Batu ini pernah dapat nominasi pada Pameran Akbar Seni Suiseki
Nasional 1996, 31 Agustus—8 September 1996, di Istora Senayan
Jakarta.”
Kata Hadi, secara garis besar bentuk suiseki dapat dibedakan
menjadi enam kelompok besar, yaitu pemandangan alam, simbolik,
abstrak, indah serat, indah warna dan fosil. Bisa dikatakan bahwa
kelompok pemandangan alam, simbolik dan abstrak punya keindahan
karena ungkapan dan imajinasi manusia. Sedang sisanya punya
keindahan karena pancaran suisekinya sendiri.
Kalau dikaji secara mendalam, pembagian kelompok tadi hanyalah
bersifat garis besar. Sebab masih banyak variasi suiseki yang
lain. Perkembangannya mirip dengan tampilan gaya seni dasar
bonsai. Dengan begitu, penerapan pengelompokan suiseki sudah
sepantasnya diberlakukan secara longgar dan tak kaku. Jangan lupa,
nilai keindahan kadang-kadang diterima secara objektif dan bisa
juga ditampilkan secara abstrak.
(SH/bayu dwi mardana) |
|