H O B I  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

FORUM
Pameran Seni Batu Indah
 

JAKARTA – Perkumpulan Penggemar Suiseki Indonesia (PPSI) bekerja sama dengan Urasanke Indonesia (asosiasi minum teh tradisi Jepang) dan Pusat Kebudayaan Jepang akan menggelar pameran suiseki pada 22 – 29 Agustus mendatang. Pameran yang bertema ”Keharmonisan Manusia dengan Alam” mengambil tempat di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta. Rencananya, gelaran akan dibuka Menteri Pendidikan Nasional, Malik Fajar pada Jumat (22/8).
Menurut M. Paiman, ketua PPSI, pameran tak melulu diisi dengan kegiatan memamerkan batu yang indah tetapi juga bakal digelar peragaan upacara minum teh tradisi Jepang. Acara unik ini akan dibawakan oleh Urasenke Indonesia. Pada Sabtu (23/8), M. Paiman akan memberikan ceramah soal suiseki. Temanya ”keindahan suiseki” (seni batu indah alami).
Suiseki adalah seni batu indah alami. Asalnya dari Asia Timur. ”Lebih tepatnya dari negeri Cina,” sebut M. Paiman pada acara temu wartawan, kemarin (19/8), di Jakarta. Seni ini muncul kira-kira 1.500 tahun lalu, sekitar tahun 618 sampai 907. Waktu itu, masanya Kerajaan Dinasti Tan dan Sung. Pada saat yang sama, seni bonsai ikut dilahirkan.
Di negeri Tiongkok itu, suiseki lahir dengan sebutan Shang-Sek atau Yah-Sek. Artinya, batu yang dapat dinikmati keindahannya dalam jenis dan arti yang lebih luas. ”Pada dasarnya, suiseki hanyalah salah satu dari sekian jenis batu indah alami dan tidak terbatas hanya dari jenis batuan akibat kikisan air,” tandas M. Paiman dengan semangat.
Nama suiseki berasal dari akar kata Sui-Sek dalam bahasa Cina, yang berarti batu air. Suiseki ini adalah sebutan versi Jepang. ”Karena terbentuk akibat erosi air di sungai. Kalau di Korea diberi nama Su-Seok,” imbuh M.Paiman. Sebuah karya ciptaan alam yang sangat berharga ini dinilai bentuk seninya dari kemampuan yang dimilikinya untuk menampilkan keindahan jagad raya dalam mikrokosmos.
Aliran seni suiseki mulai menyebar ke Korea dan Jepang sekitar tahun 1205. Kata Paiman, seni ini amat digemari kaum intelektual, kelas atas dan pelajar. Utamanya, para penggemar musik, lukisan, kaligrafi dan sastra.
Suiseki betul-betul telah dipengaruhi oleh filosofi Taoisme dan Zen. Selayaknya tradisi lukisan Cina yang minimalis mampu menangkap intisari misteri dalam pemandangan pegunungan yang liar dan indah dalam goresan kuas yang sederhana. ”Seni ini juga bisa menciptakan sugesti tentang apa yang ada di dalamnya. Suiseki juga bisa memberi ilham pada kita dengan berbagai macam persepsi,” ujar Paiman.
Budi Sulistyo, sekretaris jendral PPSI, ikut menambahkan bahwa suiseki adalah suatu seni penikmatan batu asli yang diperoleh dari alam terbuka, terutama di sungai dan gunung. Terpaan cuaca berupa kikisan air, angin, panas, dingin, oksidasi dan waktu akan memberi bentuk pada batu-batu tersebut. Itu sebabnya, batu-batu tadi punya bentuk yang beraneka ragam dan unik. Persis pemandangan alam ataupun bentuk simbolik yang lain. ”Penikmatan keindahan batu ini sering membawa kita pada keheningan sebuah semedi yang mempersatukan kita dengan alam dalam suasana harmonis. Ini tak jauh beda dengan upacara Urasenke,” terang Budi.
Sebagai negeri kepulauan dan banyak memiliki gunung berapi, Indonesia tentu saja punya banyak batu suiseki berkualitas tinggi. Apalagi negeri ini banyak menenerima siraman hujan hampir sepanjang tahun. Kondisi ini banyak kemiripan dengan alam negeri Jepang. Sayangnya, karena minimnya pengetahuan, banyak orang kita yang ditipu para kolektor dari luar negeri.
”Secara ekonomis, suiseki bisa membantu mengangkat masyarakat lokal. Sebab, buat kolektor fanatik batu suiseki harganya bisa mencapai jutaan dolar,” kata Paiman. Karena itu, dengan seringnya gelaran pameran di daerah tentu bisa membuka mata publik terhadap karya seni indah ini. (bay)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003