H O B I  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Meringis di Puncak Rengganis


Dok. Budiyanto
Melintas Taman Kering (atas).

 

JAKARTA – Budiyanto cuma bisa meringis. Sebelumnya, tak terlintas di benak pemuda berambut gondrong ini kalau usaha meraih puncak Rengganis butuh banyak waktu. Bayangkan, ia sampai tertahan delapan hari di kawasan Pegunungan Iyang, Jawa Timur. Dua kali Budiyanto mencoba naik sendiri tapi harus gigit jari lantaran diadang cuaca buruk, hujan deras tanpa kompromi. Ketika didaki bersama beberapa teman, gunung ini jauh lebih ramah. Ini kah ”sihir” Dewi Rengganis?

Cerita Dewi Rengganis adalah sepenggal legenda yang tersisa di masyarakat kaki Pegunungan Iyang. Konon, pada masa jaya kerajaan Majapahit di pelataran puncak Gunung Argopuro (3.088 mdpl) berdiri sebuah istana megah. Istana ini lengkap dengan segala atributnya, dari bala tentara, dayang-dayang, hewan ternak sampai taman yang indah. Semua itu dibangun demi memanjakan sang Dewi. Maklum saja, kabarnya Dewi Rengganis adalah salah seorang selir raja Majapahit.
Meski cuma legenda, kehebatan Dewi Rengganis ternyata amat dipercaya oleh masyarakat sekitar kawasan. Sebagai wujud penghormatan itu, mereka menyebut Pegunungan Iyang dengan Gunung Argopuro. Berasal dari kata arged dan puro. Dalam bahasa Madura itu artinya tempat atau istana yang paling tinggi.
Masyarakat sekitar juga percaya kalau mau naik gunung ini kita tak boleh gegabah. Dilarang ngomong sembarangan, mengganggu ”penghuni” hutan dan seterusnya. ”Buat saya aturan itu bagus sebagai rambu-rambu yang harus ditaati. Sebab, saya sendiri sempat merasakan getahnya,” kata Budiyanto. Tanpa menunggu aba-aba, Iwan—sapaan akrab Budiyanto—langsung bercerita.
Setelah mengurus perizinan di Polsek Krucil, Iwan segera bergegas menyiapkan pendakian. ”Waktu itu hari Jumat tanggal 9 Mei, karena sendiri saya siap-siap dari jam setengah sembilan pagi supaya siapa tahu bisa ketemu rombongan lain.” Ia juga mengaku tak ingin gagal dalam usahanya meraih puncak pertama dalam ekspedisi pendakian solo 17 gunung Jawa.
Lepas dari desa Bremi, Iwan mulai memasuki kawasan hutan tropis. Awal abad ke-20, kawasan hutan Argopuro terlihat begitu cantik. Rusa berbiak dengan cepat. Ratusan macan dahan bebas menikmati udara segar. Saat waktu makan tiba, sang macan pun mengintip dan menerkam rusa yang lengah. Gagal dapat rusa, macan masih tenang-tenang saja. Sebab masih ada kucing hutan, babi, ajak, dan kijang. Pertumbuhan ayam hutan juga sangat bagus.
Potret kehidupan itu diadaptasi dari catatan harian Junghuhn, warga Eropa pertama yang jalan-jalan ke kawasan Pegunungan Iyang. Junghuhn sempat membuat hitung-hitungan kasar terhadap jumlah rusa yang berbiak pada saat itu. Pada 1844, ia melihat lebih dari 50.000 ekor. Kawanan rusa hidup dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor.
Selain kaya satwa, Pegunungan Iyang memiliki sungai yang banyak ditumbuhi Primula polifera. Tanaman ini tumbuh cantik di antara rerumputan. Jajaran cemara (Casuarina junghuhniana) berdiri gagah. Lebih ke atas lagi, ada ”perkebunan” edelweis (Anaphalis viscida) yang menghiasi lapangan rumput Pegunungan Iyang. Sesekali kabut tipis menyelimuti aneka vegetasi tadi.
Sayangnya, wajah cantik Iyang hanya bisa dibuktikan oleh JA Wormser, pendaki asal Negeri Belanda. Wormser mendaki Argopuro gara-gara kepincut catatan harian Junghuhn tadi. Setelah dia melihat sendiri, kalimat puji-pujian seperti tiada habisnya meluncur dalam bentuk tulisan. Wormser mencapai Puncak Rengganis pada 1927. Ia muncak setelah menempuh perjalanan dua hari yang dibantu delapan orang porter.
Kini pada awal abad baru, semuanya sudah berubah. Iwan mengaku sulit menangkap bayangan kisah indah tersebut. Melihat aktivitas satwa bukan perkara mudah. Macan dahan pergi entah ke mana. Sesekali babi hutan memang masih sempat terlihat, tetapi itu pun jumlahnya tak melebihi hitungan jari. Populasi rusa, kucing hutan, kijang dan satwa lainnya merosot jauh.
Balik lagi ke pendakian, setelah empat jam jalan kaki Iwan sampai di Danau Taman Hidup. Ini merupakan sumber air tawar yang jadi kebanggaan penghuni hutan. Airnya segar, ikannya banyak dan daerah agak tertutup karena dikelilingi tajuk hutan. Manusia dan satwa sama-sama bahagia atas sumber air ini.
Kebanyakan pendaki bisa betah berlama-lama kemping di sekitar sini. Selain dekat dengan sumber kehidupan, suasana sekitar Taman Hidup yang kalem bisa jadi obat mujarab pelepas lelah menghadapi rutinitas sehari-hari. Malah, ada yang benar-benar mengkhususkan diri untuk bermalam di sini.
Puas dengan Taman Hidup, Iwan lanjut lagi. Menjelang Pegunungan Iyang, di sinilah mulai terjadi petaka. Hujan lebat tanpa kompromi mengguyurnya. ”Tiga jam saya harus meringkuk kedinginan. Tak ada teman waktu itu,” cerita Iwan. Badan yang sudah menggigil, membuatnya harus kembali ke Desa Bremi. Ia sempat bergumam, ”Mungkin saya memang nggak diizinin naik hari Jumat.”
Karena tak mau gagal, Iwan kembali mencoba pada Minggu (11/7). Kali ini ia ditemani beberapa rekannya asal Probolinggo. Setelah Iwan menginap di gugusan Dataran Tinggi Iyang, perjalanan harus kembali mundur. ”Payah, teman-teman ngeri waktu saya ceritakan di sini hujannya lebat sekali. Alasannya, salah bawa ponco,” kisah Iwan sambil bersungut-sungut, kesal. Tak lama, rombongan itu turun dan buat Iwan ini sudah kesekian kalinya ia bolak-balik jalur Dataran Iyang - Taman Hidup - Bremi.
Semangat pemuda berusia 30 tahun ini kembali menyala saat bertemu tiga orang pendaki asal Jakarta. Dua cowok dan satu perempuan. Karena merasa tak kenal medan, ketiga pendaki tadi lantas mengajak Iwan untuk muncak bareng-bareng. Dan terbukti ini keputusan yang tepat.
”Akhirnya, kami sampai di Taman Kering hari Rabu tanggal 14 Mei jam 10 pagi.” Setelah istirahat tiga puluh menit, Iwan mengajak rekan-rekan barunya itu langsung tujuan Puncak pada hari yang sama. Pertimbangannya, lebih nyaman membuka camp di Puncak Rengganis dan sekalian bisa menikmati pemandangan indah saat matahari pagi dan terbenam.
Taman Kering terlewati, jalur panjang memang jadi ujian. Tapi sekitar satu jam ke depan, mereka sudah menemukan mata air yang berikut, Cisentor. Argopuro memang tak pelit air. Masih ada, sungai Aeng Kenek dan Aeng Poteh. Belum lagi satu sumber air terakhir sebelum puncak, daerah Rawa Embik. Dengan begini kita amat mudah mengatur strategi bekal dan manajemen pendakian.
Dari Rawa Embik, puncak Rengganis sudah dekat. Cuma satu jam jalan kaki dengan rute sedikit bergelombang. Biasanya, pendaki memilih membuka tenda di daerah padang rumput yang datar dan cukup luas itu. Selain masih banyak pohon tinggi, sumber kehidupan amat mudah dijangkau.
Namun karena pertimbangan waktu pula, Iwan memutuskan untuk bermalam di puncak. Walau sempat mengalami masalah pada awal pendakian, akhirnya dua puncak bisa raih. Di utara puncak Argopuro dan sebelah selatan ada puncak Rengganis. Mereka pun bisa menyaksikan reruntuhan candi peninggalan Dewi Rengganis. Dengan persiapan matang, pendakian bisa ditakar keberhasilannya. Apalagi didukung dengan performa tim yang mantap. Dan kuncinya, jangan pernah menyerah sebelumnya. Di puncak, Iwan kembali meringis saat mengingat kisah awal perjalanannya itu. Ia pun makin optimistis titik tertinggi milik 16 gunung di tanah Jawa bisa digapai. (bay)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003