|
Hobi Mendaki Gunung
Menyambangi Kawah Raksasa Gunung Tambora

SH/Adiseno
Kawah Tambora
Sumbawa Besar – Mendaki Gunung Tambora (2.722 m dpl) adalah salah
satu ‘agenda’ bagi pehobi mendaki gunung Indonesia. Maklum, selain
panorama kawahnya yang memikat, gunung ini adalah gunung tertinggi
di Pulau Sumbawa. Waktu yang tepat untuk mendaki Tambora adalah
bulan Juli dan Agustus, karena biasanya kedua bulan ini bertepatan
dengan waktu libur dan, tentu saja, keadaan cuaca yang ramah.
Minggu pagi itu, di kota Bima.
Sinar matahari terasa menyengat kulit, membuat siapa saja lebih
memilih berteduh. Tapi terik matahari tak mampu menyurutkan
aktivitas di terminal bis antarkota. Semakin siang, semakin ramai
suasana tempat itu. Sebuah bis kecil dengan tujuan Labuhan Kenanga
tampak beranjak meninggalkan hiruk-pikuk terminal.
Bis yang sudah penuh oleh penumpang, semakin sesak ketika di
tengah perjalanan awak bus tetap memaksa mengambil penumpang,
meski tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa di dalam bis. Belum
lagi barang bawaan para penumpang yang segambreng, sungguh tidak
menyisakan ruang yang cukup lega di dalam bis.
Iklim savana tropis menganugerahkan pemandangan alam yang khas
sepanjang perjalanan dari Bima. Perbukitan yang ditumbuhi
pepohonan dan semak belukar yang menonjolkan warna kecokelatan
atau kekuningan. Hamparan padang rumput luas dengan selingan
pohon-pohon keringnya. Serasa di Afrika, begitu kurang lebih
penisbahan yang terpikir di benak.
Selepas Kempo (56 km ke arah barat dari Bima), pemandangan
bertambah. Dari arah barat, Teluk Saleh menampakkan pesona biru
lautnya. Menyegarkan pandangan mata yang selepas kota Bima
dicekoki oleh pemandangan daratan.
Di desa Kadindi, transportasi beralih ke truk. Truk ini yang
mengantar perjalanan selanjutnya menuju dusun Pancasila, yang
masih harus ditempuh kurang lebih 6 kilometer lagi. Pancasila
adalah nama kampung di kaki barat laut Gunung Tambora yang
merupakan salah satu titik awal pendakian Gunung Tambora.
Pendakian
Meninggalkan dusun Pancasila, jalan tanah tak beraspal menuntun
langkah kaki. Sisi kiri dan kanan jalan ditumbuhi oleh pepohonan
lebat. Kalau beruntung, akan terlihat kera-kera bergelayutan,
berpindah dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lain.
Bahkan tanpa rasa takut, mereka melintas menyeberangi jalan.
Semakin jauh berjalan, hari semakin gelap. Sementara, jalan yang
semula hanya bisa dilewati dua truk kecil, berujung pada jalan
besar yang lebarnya cukup untuk dilalui oleh dua truk besar secara
berdampingan. Rupanya jalan besar ini adalah jalur truk-truk besar
yang lalu-lalang mengangkut kayu gelondongan hasil penebangan di
kaki Gunung Tambora. Entah ke mana kayu-kayu tersebut diangkut.
Di tempat truk berhenti, ada sebuah jalan kecil masuk ke dalam
hutan. Inilah jalur pendakian menuju puncak Tambora. Jalur yang
dilewati cukup lebar dan landai untuk dilewati sepeda motor. Jadi
tak terlalu melelahkan untuk mencapai shelter pertama. Shelter
pertama adalah sebuah bangunan tak berdinding. Inilah shelter
satu-satunya yang berwujud bangunan.
Shelter berikutnya, meski disebut shelter, hanyalah sebutan untuk
tempat perhentian tanpa bangunan. Beberapa meter dari shelter
pertama, terdapat sebuah sumber air yang dibuat dengan menampung
air yang disalurkan oleh pipa.
Semakin dekat dengan shelter kedua, kondisi jalur mulai berbeda
dan sedikit menyulitkan. Selain semak belukar yang mulai menutupi
jalur, banyak batang pohon roboh yang melintang di tengah jalur.
Mengangkat kaki tinggi-tinggi atau merangkak di bawah
batang-batang pohon tersebut adalah gerakan tambahan yang harus
dilakukan. Seakan memaksa agar lebih giat menggerakkan anggota
tubuh selain kaki.
Dari shelter ini, pendakian dilanjutkan dengan menyeberang sungai
kecil dekat tempat bermalam. Bersiap-siaplah untuk
tersengal-sengal. Karena bila sebelum tiba di shelter kedua,
paru-paru dimanjakan oleh jalur yang landai, setelah melintas
sungai kecil ini, jalur menanjak telah menanti.
Berhasil melewati tanjakan, jalur berliku-liku lengkap dengan
batang-batang pohon tumbang yang melintang, kembali menghadang.
Bak ”polisi tidur”, batang-batang pepohonan itu mengurangi laju
ayunan langkah kaki. Sedikit menyebalkan memang. Tapi kokok ayam
hutan menjelang sore itu, menjadi pengalih perhatian dari
kejengkelan terhadap batang-batang pohon tadi.
Shelter ketiga berhasil dicapai ketika hari sudah sore. Di sinilah
pendakian hari kedua berakhir. Letak shelter di punggungan yang
tidak terlalu lebar, membuat pemandangan lembah di kiri kanannya
dapat terlihat. Sebuah tanda terpasang di pohon, menunjukkan arah
sumber air. Tampaknya tidak sulit mendapatkan air saat mendaki
Tambora.
Purnama kembali menampakkan diri, ketika malam mengganti siang.
Rasanya sayang sekali, harus meninggalkan pemandangan alam ini
dengan meringkuk menahan dingin di dalam tenda. Apalagi dinihari
keesokan harinya, summit attack (mencapai puncak dengan membawa
barang secukupnya) akan dilakukan. Sambil mempersiapkan summit
attack, pemandangan malam hari di lereng Tambora ternikmati jua.
Summit attack
Memangnya sedang mendaki Everest! Begitu gerutu yang sempat
terlontar dari mulut, ketika dinihari pukul 04.00 harus bangun dan
memaksa mengeluarkan tubuh dari pelukan sleeping bag yang hangat.
Tapi tak ada pilihan lain. Hanya ini cara yang mungkin untuk
mencapai puncak sebelum tengah hari. Menembus kegelapan dinihari,
hajatan menuju puncak ditunaikan. Di langit, bulan purnama telah
meninggi. Cahayanya yang terang, menembus sela-sela rerimbunan
daun pepohonan. Pertanda keadaan alam yang ramah.
Sesekali bibir meringis menahan rasa perih di telapak tangan dan
kaki. Rupanya sepanjang jalan banyak tumbuh jelatang. Daun-daunnya
yang berduri halus, menyambar anggota tubuh yang telanjang tanpa
pelindung. Bahkan celana panjang tak sanggup melindungi kaki dari
sengatan tumbuhan itu.
Masih cukup jauh dari zona puncak, sewaktu fajar merekah, menandai
pergantian hari. Kokok ayam hutan terdengar bersahut-sahutan,
seiring hari baru yang semakin terang. Sejenak langkah dihentikan
untuk mengisi perut. Sarapan yang telah disiapkan sejak malam pun
segera dikeluarkan dari day pack untuk disantap. Sayang, sudah
dingin.
Kawah
Berangsur-angsur vegetasi beralih dari pepohonan menjadi semak dan
perdu. Suatu pertanda bahwa sebentar lagi zona puncak akan
dimasuki. Memang betul. Di kejauhan tampak puncak Tambora yang
tandus dan berwarna kecokelatan. Begitu pula ketika menoleh ke
arah barat, laut dan pulau-pulau di sekitar Sumbawa dapat
terlihat. Yang agak mengherankan adalah onggokan kotoran menjangan
di atas tanah. Ternyata tak hanya manusia yang sering mengunjungi
puncak. Bisa dibilang, puncak Tambora adalah bagian dari dunia
komunitas hewan berkaki empat itu.
Sampailah langkah kaki kami di bibir kawah. Kalau menghitung dari
peta topografi, diameter kawah sekitar 6 km. Dinding-dinding
terjalnya, menjulang tinggi hingga lebih dari 1.000 m. Dataran
luas terhampar di dasar kawah. Inilah sisa letusan tahun 1815.
Bisa dibayangkan betapa dahsyat letusan kala itu. Ahli geologi
memperkirakan bahwa volume puncak yang hilang karena pembentukan
kawah ini sebesar 30 km3. Mungkin tepat di atas tengah kawah
inilah dulunya puncak 4.000 m berada.
Sebuah bukit kecil tandus menjulang di sisi barat kawah. Itulah
puncak Tambora setelah malapetaka tahun 1815. Segera perhatian
tertuju ke sana. Hanya hati-hati. Semenjak memasuki zona puncak,
permukaan tanah ditutupi oleh kerikil. Bila tidak waspada, bisa
terjungkal karena terpeleset.
Di pucuk bukit, tonggak batu yang tingginya kira-kira setengah
meter, telah menanti. Inilah tanda ketinggian 2.722 m.
Dari sini pandangan bisa diarahkan dengan leluasa. Selain kawah di
sebelah timur, nun jauh di arah barat pucuk Gunung Rinjani
terlihat menyembul dari selaput tipis awan. Sementara, rasa lelah
pun terasa luruh ketika hembusan angin menerpa tubuh.(Andi
Amran) |
|