|
Mari Bermain Tanah
Liat

SH/Tinnes Sanger
Aneka bentuk keramik dalam proses pengeringan (atas).
Jakarta – Bermain tanah liat ternyata
bisa mengundang kenikmatan tersendiri. Kenikmatan itu muncul
ketika seseorang berhasil menggali ekspresi dalam diri.
Dalam pengungkapan ekspresi tentu butuh derajat kebebasan yang tak
terbatas. Dari situ tercipta keramik berseni tinggi. Malah, bukan
cuma itu bermain tanah liat diakui bisa jadi latihan kepekaan
diri.
”Awas, hati-hati memotong dasarnya. Coba cek dulu ketebalannya.”
Instruksi ini mengalir ketika Keng Sien mengawasi salah seorang
peserta kursus membuat keramik. Setelah selesai membentuk tanah
liat menjadi sebuah bejana, si murid ingin melepaskan hasil
karyanya itu dari tatakan tripleks. Karena tak ingin gagal, ada
keraguan menyelimuti diri. Melihat gelagat itu, dengan sigap Keng
Sien mencontohkan pemotongan.
Buat Keng Sien kesibukan ini bukan sesuatu yang aneh. Sejak 1992,
ia mendirikan bengkel kerja (workshop) keramik Appelsien di Jalan
Lombok, Jakarta Pusat. Dari sini, Keng Sien coba menularkan ilmu
membuat keramik kepada awam.
Lokasi kursus
bermain tanah liat ini tidak seberapa luas, cuma tiga kali tiga
meter saja. Sudah begitu, ruangan ini masih harus dibagi dengan
beragam contoh keramik setengah jadi, perlengkapan membuat keramik
dan beberapa meja. Karena di bagian belakang dan depan ruangan tak
memakai dinding pembatas, kesan sumpek pun amat jauh.
Ketika dikunjungi pada Senin (14/04), Keng Sien tampak sedang
mengajari empat murid di Appelsien. Satu laki-laki dan tiga
perempuan. Semuanya asyik berkutat dengan tanah liat. Ada yang
sibuk membuat dekorasi, ada juga yang bersiap memindahkan hasil
karyanya dari tatakan tripleks.
”Sejak awal, saya buka kursus bukan untuk komersial kok. Tujuan
utamanya mencari bibit baru dalam dunia ini (keramik),” sebut pria
kelahiran Jakarta 20 Desember 1954 ini. Itu sebabnya, dalam satu
bulan jumlah murid-muridnya tak pernah melewati hitungan sepuluh
jari. ”Kebetulan aja, bulan (April) ini pesertanya lumayan, ada
sepuluh orang.” Tapi kalau ditotal, dari 1992 Keng Sien sudah
menghasilkan 600 murid yang terbantu menjadi lebih mandiri di masa
krisis moneter.
Keng Sien pun tak pernah woro-woro soal kursus membuat keramik
ini. Informasi dari mulut ke mulut adalah cara efektif menyebutkan
di mana tempat kursus itu.
Metoda
Belakangan, bermain tanah liat makin diminati kaum hawa. Kegiatan
yang mulanya hanya digeluti industri rumah tangga ini merambah ke
masyarakat biasa. Bahkan pesertanya bukan melulu orang dewasa,
anak-anak pun mulai menggemari pembuatan aneka barang seperti
asbak, gelas atau hiasan.
Dari sekian muridnya, Keng Sien menganggap belum ada yang
berhasil. Ini terjadi karena kebanyakan muridnya dihinggapi
kebiasaan serba instan, mau cepat bisa tanpa usaha keras. Malah,
banyak juga yang tak bangga dengan hasil karyanya sendiri.
”Itu sama saja dia belum memahami arti proses,” kritik seniman
keramik angkatan F. Widayanto, Hilda, Lidya, Suyatna dan Bony
Surya itu. Bermain tanah liat hingga menghasilkan sebuah karya
(keramik) adalah sebuah proses. Sebetulnya ini proses sederhana,
memindahkan tanah liat dari bumi sampai berada di dalam ruangan.
Hanya saja, dalam proses itu butuh ketekunan, kesabaran dan
pengendalian emosi.
Karena sebuah proses, peserta kursus pun diberi kebebasan
berkreativitas. Apa saja bisa dituangkan di sini, mau membuat
benda seni atau yang ingin digunakan sehari-hari. ”Saya tak pernah
membakukan keramik,” tegas seniman keramik intelektual yang aktif
membawa ungkapan misi pada karya-karyanya. Itu sebabnya ia sendiri
selalu mementingkan untuk menyelipkan unsur cerita di balik
karya-karya keramiknya. Karyanya lebih diutamakan sebagai media
ekspresi yang sekaligus indah sebagai hiasan.
Dalam setiap kursus, Keng Sien punya metoda yang simpel. Pada
tahap awal, murid akan dikenalkan pada seluk-beluk keramik dan
merasakan tanah liat. Langkah berikut, mengaktifkan sepuluh jari.
Disambung, pengenalan api yang diikuti melihat proses pembakaran.
”Bila cukup cepat, berikutnya teknik mengglasir.” Namun, ia
menekankan pada pentingnya mengaktifkan sepuluh jari dalam bermain
tanah liat.
Untuk satu bulan kursus, Keng Sien memungut ”SPP” 650 ribu perak
pada tiap murid. Selama 16 jam tatap muka dilakukan pertemuan
efektif di studio Appelsien, termasuk praktik dan teori.
Bila semuanya berjalan lancar, Keng Sien juga akan menurunkan ilmu
merintis pendirian studio keramik hingga manajemen produksi. Tak
ketinggalan, falsafah dalam bermain tanah liat bahwa keramik itu
terdiri dari lima unsur alami bumi, yaitu tanah liat, api, logam,
kayu dan air. Kalau semua itu diikuti, kepekaan diri terhadap
lingkungan sekitar akan tumbuh.
Bebas Berekspresi
Kebebasan berekspresi dalam bermain tanah liat juga dialami
Liliana (37), keramikus dari Studio Keramik Teratai, Bekasi.
Ketertarikannya pada dunia keramik lebih banyak dipicu dari
kebebasan itu. ”Buat saya, keramik itu lebih hidup dan dalam
mengungkapkan inspirasi juga lebih masuk,” tutur wanita asal Solo
yang akrab disapa Lili ini.
Selama berkutat dengan media tiga dimensi ini, Lili mengaku lebih
puas dalam menampilkan karakter sebuah karya seni. Dari situ,
energi ekspresi diri lebih tercurah. ”Saya juga senang melukis,
tapi saya merasa lebih ekspresif kalo sudah bermain tanah liat.”
Tantangan lainnya adalah kesabaran. Menurut Lili, uji kendali
emosi ini menjadi sangat penting ketika sudah berhadapan dengan
tanah liat. Dalam prosesnya menjadi sebuah karya keramik, tanah
liat harus menjalani beberapa tahapan. Tentu saja, semua itu makan
waktu. ”Justru di sinilah kesabaran seseorang diuji.”
Tanah liat yang menjadi bahan keramik harus diolah terlebih dulu.
Kata Lili, bongkahan tanah liat sebelumnya direndam selama dua
sampai tiga hari lalu diaduk dalam sebuah bak batu bata. Setelah
jadi lumpur, proses selanjutnya penyaringan. Hasilnya tanah liat
diendapkan kemudian dikeringkan sampai bisa diuleni. ”Kalau sudah,
tanah liat ini bisa disimpan dalam kantong plastik dan didiamkan
selama satu bulan.”
Pada saat pembentukan, kesabaran kembali diuji. Tanah liat yang
sudah dibentuk dengan teknik putar, slab, coil atau cetak itu tak
bisa buru-buru dinyatakan selesai. Masih ada tahap pembakaran dan
pengglasiran. Pembakaran saja dilakukan dua kali, pertama pada
suhu 900 derajat C dan sekitar 1.200 derajat C.
Kadangkala dari perjalanan tahapan tadi, muncul rasa
kejutan-kejutan unik dalam diri. Ini yang dirasakan Evy Yonathan.
Lulusan Travel & Tourism di National Business College, Virgnia USA
1994, ini mengaku amat menikmati kejutan yang dihasilkan dari
pembakaran tanah liat dan pengglasiran. Ketika menunggu hasil
bakaran rasanya lama sekali, ia ingin cepat-cepat melihat
hasilnya. Sering terjadi kegagalan, hasilnya berbeda dengan yang
direncanakan. Tak jarang, tekstur dan warna yang keluar lebih
menarik, dan menghasilkan kejutan-kejutan lain yang dirasakannya
sangat menarik.
Kejenuhannya pada pekerjaan yang telah digelutinya selama lima
tahun, membuat Evy beralih ke keramik. Dia pun mencoba mengikuti
kursus keramik, yang ternyata sangat dinikmatinya. Proses
berkreasi yang bervariasi dalam pembuatan keramik sangat
mengasyikkan. Ujung-ujungnya, memunculkan sensasi tersendiri dalam
diri. (SH/bayu dwi mardana)
|
|