|
Skate Park
Sebetulnya Fasilitas Umum
JAKARTA – Ide membuat skate park di
kawasan Kemang, Jakarta Selatan ini sebetulnya muncul secara
kebetulan. Dalam konsep awalnya, pengelola Street X Arena hanya
berpikir bagaimana bisa membuat taman alami nan sejuk sebagai tempat
kongkow warga kawasan elite ini. Boleh jadi, konsep ini didasari
atas kebutuhan taman rekreasi yang makin sulit didapati. Sekaligus
menyediakan ruang terbuka di tengah himpitan bangunan.
”Tapi waktu itu, bos saya tiba-tiba punya ide, kenapa nggak sekalian
kita buat arena skateboard. Lagi pula, kalau melihat lingkungan
Kemang banyak dihuni keluarga ekspatriat, otomatis, anak-anak mereka
suka main skateboard,” cerita Maninda Rustam, manajer operasional
Street X Arena.
Akhirnya, konsep membuat skate park di kawasan elite kota ini
disepakati. Dari situ, konsep terus dikembangkan. Pengelola skate
park seluas 4.000 meter persegi ini juga banyak berdiskusi dengan
komunitas skateboard, seperti ISA (Indonesian Skateboarding
Association).
”Selain cari data dari berbagai sumber, desain arena ini didukung
oleh ISA,” timpal Alan Yusuf, akuntan Street X Arena.
Dari semua data dan masukan itu akhirnya jadilah sebuah arena
bermain olahraga ekstrem dan bergaya, macam skateboard, BMX, sepatu
roda atau roller blade seperti sekarang ini. Pembangunan semua
fasilitas itu memakan waktu satu tahun. ”Pertama buka bulan Oktober
2001 dan hasilnya ya langsung seperti ini.” Sampai saat ini belum
ada renovasi total hingga mengubah wajah. Perbaikan lebih kepada
perawatan alat dan penambalan jalur yang bolong.
Arena ini dikelilingi kios-kios untuk berjualan. Dari restoran
Prancis, café hingga toko aksesori skate. Total kios, ada delapan
bangunan. Uniknya, kios-kios itu dibangun bukan dari adukan semen
dan pasir serta berdinding bata merah, tetapi justru memanfaatkan
kontainer bekas yang dimodifikasi. Saat berada di dalamnya tak ada
yang beda dengan bangunan biasa. Nyaman dengan tiupan sepoi-sepoi
udara pendingin.
Di Indonesia, skate park macam begini termasuk langka. Jumlahnya tak
sampai bilangan ketiga. ”Satu lagi ada di Parung. Di sana semuanya
terbuat dari semen. Kalau di Semarang masih dalam tahap rencana
pembangunan,” ujar Didi Arifin dari ISA. Sebelumnya ada di Pulomas,
tapi belakangan tutup. Sedang di Senayan, juga tak bisa hidup
langgeng. Kalaupun ada sebatas hasil gotong royong di antara para
skater .
Kenyataan ini sungguh memprihatinkan. Sebab, kata Didi Arifin,
Indonesia mampu mencetak atlet berprestasi di tingkat Asia. Sebut
saja, Ardy Polli yang berhasil menjadi kampiun dalam kelas vert
skate, atau ada Reno Pratama di peringkat lima.
Tak usah jauh membandingkan dengan trend setter hobi ini, Amerika
Serikat. Dengan beberapa negara Asia saja, Indonesia tertinggal jauh
soal fasilitas bermain skate, BMX atau roller blade ini. ”Di Taipei,
ada lima skate park. Itu baru satu kota, lho. Jadi kalau dihitung
seluruhnya, di Taiwan itu jumlah skate park sampai puluhan,” ujar
Didi. Korea Selatan, Jepang, Thailand dan Malaysia adalah contoh
lain negeri yang maju soal taman hobi ekstrem ini.
Di sana, skate park bisa tumbuh subur karena ada dukungan penuh dari
pemerintah lokal. Mereka menjamin dan merawat taman hobi ini sebagai
sarana publik. Untuk menikmatinya, tak dipungut biaya sepeser pun
alias gratis.
”Ya, kami cuma berharap pemerintah mau mencontoh sikap itu,” kata
Didi berharap. Semoga.
(SH/bayu dwi mardana) |
|