|
Kaktus,
Tumbuhan Berduri dengan Adaptasi Tinggi
JAKARTA – Unik, khas dan tidak
neko-neko soal perawatannya. Pertama lihat, ditanggung langsung
jatuh hati. Maaf, ini bukan jargon iklan, tapi begitulah gambaran
keunggulan kaktus sebagai tanaman hias.
Berkat faktor unggul itu pula kaktus banyak digemari para pehobi
tanaman. Entah itu sebagai penambah semarak ruang hijau di rumah,
atau penyegar beragam acara di tempat-tempat macam hotel
berbintang. Dari situ, terkuak sebuah peluang bisnis yang cukup
menjanjikan.

SH/Tinnes Sanger
Dengan proses penyambungan bentuk unik seperti ini bukan hal aneh
lagi.
”Tri Listiyarini, seorang penggemar
kaktus, mengaku terpikat karena tiga hal tadi. Bentuk yang unik dan
khas dalam penampilan, membuat dirinya merasa perlu bergaul dengan
kaktus. ”Keunikan kaktus ada pada bentuk yang beraneka macam. Ada
yang berbulu seperti sikat, batang totol-totol, silinder dan masih
banyak lagi.”
Bentuk yang unik itu bisa dilihat dari beragamnya jenis kaktus.
Kaktus misalnya bisa dibedakan berdasar tempat asalnya, ragam bentuk
dan golongan duri. Biasanya, penggemar kaktus mencari jenis yang
populer, seperti kaktus totol (Opuntia microdasys cristata), kaktus
sinterklas (Opuntia vestita cristata), kaktus peniti (Mammillaria
bocasana), kaktus spiral (Mammillaria tolimensis), kaktus uban
(Cephalocereus senilis), kaktus pagoda (Gymnocalycium hossei) dan
lainnya.
Dari jenis yang ada, para pehobi tak lantas puas begitu saja. Mereka
coba melakukan penggabungan di antaranya demi mendapat bentuk dan
silangan yang baru nan langka (abnormal). Cara ini lazim disebut
dengan penyambungan atau grafting. ”Teknik grafting ini ada lima
cara. Pertama, flat grafting (sambung rata). Lalu cleft grafting
(sambung celah), side grafting (sambung samping), stab grafting
(sambung tusuk) dan terakhir, seedling grafting (sambung tunas),”
papar Tri yang kali pertama berkenalan dengan kaktus ketika masih di
SMA.
Gampangnya perawatan juga menjadi faktor pendukung kepopuleran
kaktus. Menurut Ir. Joesi Endah, seorang pehobi kaktus yang juga
konsultan pertanian, untuk merawat kaktus nggak ada yang harus
dipusingkan. Taruh saja pot berisi kaktus pada sudut ruangan yang
sesuai dengan syarat hidupnya, misalnya cahaya matahari, suhu,
kelembapan udara dan sirkulasi udara yang cukup baik.
Untuk penyiraman tak perlu terlalu sering. Sebab, kaktus dikenal
dengan tanaman sukulen, mampu menyimpan air pada batangnya. Cukup
disiram saat pot terlihat kering. Demikian saran Tri maupun Joesi.
Jika cuaca kering, penyiraman bisa dilakukan dua atau tiga kali
seminggu. Bila kondisi basah atau dingin, siramlah dengan frekuensi
dua kali dalam sebulan. Mereka juga mengingatkan, media yang masih
terlalu basah sebaiknya jangan disiram. Kaktus bisa menjadi busuk
akibat kelebihan air.
Banyaknya penggemar kaktus di Indonesia tak urung membuka peluang
usaha di antara pehobi tanaman. Terbukti antara 1985 – 1988, bisnis
kaktus mengalami booming. Namun sayang seperti kata Joesi, bisnis
itu hanya berusia seumur jagung karena oversupply di pasaran.
”Persediaan terlalu banyak, harga jadi turun. Akhirnya orang jadi
jenuh main di kaktus. Ya bubarlah bisnis kaktus ini.”
Kini, dengan beragam cara mereka yang masih bertahan berupaya
menjaga agar bisnis kaktus tak kembali terpuruk. Caranya, membuat
kaktus menjadi elemen dari hiasan interior dan ekterior, macam
terarium atau paludarium.


SH/Tinnes Sanger
Salah satu contoh bentuk sambungan (grafting) pada tumbuhan kaktus.
Penggabungan sengaja dilakukan demi mendapat bentuk dan silangan
yang baru nan langka (abnormal).
. Tumbuhan Berduri
Kaktus berasal dari kata Yunani kaktos. Artinya, tanaman berduri.
Adalah Linneaus, ahli botani yang membuat klasifikasi tanaman, yang
memasukkan kaktus ke dalam kelompok tumbuhan berduri atau Cactaceae.
Bila merujuk pada sejarah, kaktus telah tumbuh sekitar 100 juta
tahun lalu. Dulu kaktus punya bentuk tubuh yang tinggi. Lalu sekitar
60 juta tahun kemudian, kaktus dinyatakan punah. Ini terjadi akibat
letusan gunung berapi yang ikut menenggelamkan Benua Amerika, yang
notabene tempatnya bertumbuh.
Usai kegiatan vulkanik gunung berapi itu berhenti, kaktus kembali
tumbuh. Namun kaktus generasi ”anyar” ini tumbuh dengan bentuk yang
lebih pendek dari moyangnya tadi. Kaktus bentuk pendek itulah yang
sering kita jumpai pada masa kini.
Umumnya, kaktus datang dari dataran tandus seperti Amerika Selatan
dan Meksiko. Daerah-daerah itu punya curah hujan rendah dengan
frekuensi yang tak tentu. Perubahan suhu yang ada pun sangat
ekstrem. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kaktus itu berasal
dari Amerika Tengah dan Selatan, Kanada Utara sampai ke Kepulauan
Galapagos, di Pasifik dan Kepulauan tropis di India Timur dan
Karibia.
Wilayah hidup kaktus amat beragam. Dari daerah pantai yang mengarah
ke laut, hutan belantara sampai ke gunung berbalut es macam
Pegunungan Andes. Jadi, bukan hal aneh bila bertemu kaktus pada
ketinggian 3000 – 4000 m dpl.
Dari kenyataan tadi, bisa dibilang kaktus termasuk tanaman yang
mampu bertahan di segala medan. Kaktus mudah melakukan penyesuaian
dan bentuk-bentuk adaptasi pada tubuhnya. ”Contoh adaptasi ini bisa
dilihat dengan jelas. Bila kondisi alamnya tidak sesuai, ukuran daun
kaktus akan mengecil atau malah sama sekali tidak keluar daun.
Perakarannya menyempit dan batang dijadikan tempat penyimpanan air,”
tutur Joesi yang sejak sekolah dasar sudah tertarik pada kaktus.
Saat berada di daerah yang bersuhu panas dan tanah gersang, kaktus
beradaptasi dengan cara membentuk kulit tubuh yang tebal dan
berlapis lilin. Tak ketinggalan, tumbuh bulu-bulu halus atau
duri-duri yang tajam. Fungsinya jelas, mengurangi pengeluaran air
dari tubuh.
Dalam hal penyebaran, burung pemakan buah kaktus dianggap berjasa
menebarkan benih ke segala tempat di belahan dunia. Walau begitu,
manusia tetap diakui sebagai faktor utama dalam menyebarluaskan
tanaman berkeping dua ini. Peran itu bisa dilihat ketika mereka
melakukan perpindahan tempat, kaktus tak pernah tertinggal dalam
daftar bawaan.
Contoh paling gampang, proses penyebaran kaktus di negeri sendiri.
Di Indonesia, kaktus masuk lewat tangan-tangan pemerintahan jajahan
Belanda. Bule-bule asal negeri kincir angin itu yang pertama kali
dan membudidayakan bibit kaktus. ”Saat pemerintahan Belanda, kaktus
menyebar ke berbagai daerah (di Nusantara),” kata Joesi.
Kebiasaan membawa-bawa kaktus ke tempat baru juga dilakukan Joesi.
”Karena ayah saya sering berpindah tugas, kaktus koleksi keluarga
sering ikut dibawa.Tapi karena terlalu banyak, ada juga yang sengaja
ditinggal,” katanya. (SH/bayu dwi mardana)

SH/Tinnes Sanger
Erwin (35), salah seorang pehobi kaktus tampak asyik merawat
beberapa koleksinya. Belakangan, ia mencoba terjun dalam bisnis
tanaman berduri ini.
|
|