|
”Deco
Book”
Menyulap Buku Tua Menjadi Berguna
Jakarta – Berbagai upaya dilakukan
manusia untuk menyenangkan diri sendiri. Bentuk kesenangan itu
macam-macam, termasuk menggemari sesuatu yang sudah dan
mengubahnya menjadi ciptaan baru. Deco book adalah kesenangan atau
hobi yang di Indonesia terbilang baru dan mungkin hanya ditemukan
di Jakarta. Peminatnya pun bisa dihitung dengan jari.

SH/Gatot Irawan
Proses akhir adalah menghias. Dalam tahap ini unsur seni berperan
dalam menentukan hasil akhirnya. Aksesori hiasan bisa memakai apa
saja, asalkan serasi.
Deco book atau menghias buku lama
yang sudah tak terpakai untuk dijadikan barang hiasan adalah
pendatang baru di bidang hobi kerajinan Indonesia. Melalui proses
yang sederhana, wajah buku kusam jadi tampil menawan.
Foto pernikahan bisa diselipkan di salah satu sisinya. Sementara di
sisi lain adalah kata-kata mutiara. Penambahan aksesori bunga atau
kristal, menguatkan aksen seni dalam deco book.
Ada juga pehobi yang menampilkan foto anak-anaknya. Ini unik karena
sebagai pengganti pigura konvensional, deco book bisa diatur berdiri
dengan bantuan kaki. Handai taulan yang berkunjung tak mungkin
matanya tak melihat kehadiran benda itu di ruang tamu. Bukan karena
di situ tertera foto, namun karena ada pigura yang bentuknya ”aneh.”
Menurut Josephine Retno Widyati (36), kehadiran deco book di
Indonesia belumlah genap dua tahun. Melihat usianya yang masih
balita, tak heran jika peminatnya juga masih sedikit. Kebanyakan
orang memang belum tahu apa itu deco book. Namun jika pecinta
kerajinan tahu, pasti akan tertarik untuk mencoba membuat.
Mevrouw Pengajar
Bermula hobi ini diperkenalkan oleh perempuan Belanda yang bernama
Riek Schuitemaker, pakar deco book. Kedatangannya ke Indonesia,
menurut ibu dua anak itu, awalnya hanya main-main. Sebagai penggemar
kerajinan, kuping Josephine dan teman-temannya tajam juga. Mereka
lalu saling kontak untuk memastikan itu. Ketika Riek tiba, langsung
diciduk untuk menurunkan ilmunya pada sekitar 11 peminat yang
rata-rata ibu-ibu itu.

Alhasil, mulailah sejarah deco book di Indonesia, tepatnya Januari
2001. Sebagai hobi yang masih hangat ketika itu, semangat para
pelakunya juga tinggi. Ilmu yang didapat betul-betul dihayati.
Salah satu peserta yang ikut ”penataran” kilat bersama Riek ketika
itu, yakni Alice Arianto (38) berpendapat, belajar dari yang ahli
lebih baik ketimbang belajar dari muridnya. Jika belajar dari
pakarnya, basic skill yang diperoleh lebih mantap.
Menurut Alice, mevrouw Belanda itu cukup dikenal di negeri Kincir
Angin itu. Dia bukan hanya ahli deco book, namun juga parchment
craft (kerajinan kertas kalkir).
Di Belanda sendiri, kerajinan ini baru dikenal 10 tahun lalu dan
baru berkembang sekitar 5 tahun belakangan ini. Kepopulerannya itu
berkat diterbitkannya buku-buku tentang deco book yang disertai
foto-foto yang menarik.
Beberapa murid Riek itu, salah satunya Josephine, bersemangat sekali
dan kini malah memberikan kursus pada mereka yang tertarik. Sampai
saat ini total murid Josephine sekitar 20 orang.
Kalau dijumlah dengan temen-temannya yang juga mengajar maka yang
memperdalam hobi ini masih di bawah angka 40-an orang.

”Belum terlalu memasyarakat, namun prospeknya baik,” ujar Josephine.
Menurutnya, perkembangan yang tersendat itu salah satunya mungkin
karena tak semua teman seangkatannya mengajar. Mereka rata-rata ibu
rumah tangga yang mendalami hobi hanya sebatas mengisi waktu.
Berbeda dengan dirinya yang memang ingin memasyarakatkan hobi ini
agar dikenal luas. Beberapa kali dia ikut pameran dan bazar internal
di lingkungan sekolah.
Belum Untuk Mengajar
Cerita-cerita tentang hobi baru ini kemudian meluas walau
samar-samar. Namun banyak juga yang meneleponnya. Kebanyakan
penelepon itu dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari Irian ingin
belajar lewat telepon.
Sulit baginya memberikan penjelasan sebab harus dengan demo. Tapi
dia kagum dengan muridnya dari Bandung yang subuh-subuh berangkat
dari sana untuk bisa ikut kursus di Jakarta
”Itulah yang namanya hobi, selalu ada keasyikkannya tersendiri.
Apalagi jika hasilnya dipuji orang. Bukan hanya kepuasan, tapi juga
bangga,” ujar arsitek alumnus Universitas Atmajaya itu.
Yoana Liani (32), lain lagi ceritanya. Pehobi yang mukim di Serpong
itu awalnya melihat ”barang antik” ini di sebuah pameran. Dia
penasaran dan tertarik untuk belajar. Kebetulan yang berpameran saat
itu adalah Josephine. Maka setelah mengatur waktu yang tepat, Liani
resmi menjadi murid Josephine.
Dia tak menduga bahwa membuatnya ternyata simpel, namun butuh
ketelitian.
Dia mengaku ikut kursus hanya untuk menyalurkan hobi. Mengajar deco
book, belum terpikir di benaknya. Sebab sarjana akuntan dan pengajar
bahasa Mandarin itu, waktunya habis untuk pekerjaan dan keluarga.
Walau begitu sudah cukup banyak karyanya yang dipajang di ruang tamu
atau yang dihadiahkan pada teman-temannya. ”Saya suka hobi ini
karena menuntut kreatifitas yang tinggi,” ujar Yoana yang sering
menerima order deco book dari teman-temannya.
Melihat bentuk deco book yang sudah jadi tampak rumit membuatnya.
Namun tidak demikian, menurut Josephine. Dia bisa maklum jika awam
sulit membayangkan bagaimana itu bisa terjadi. Tekniknya sederhana
dan tak sesulit seperti yang dibayangkan. Hanya dengan 4 kali
pertemuan, orang sudah bisa membuatnya. Tidak repot seperti membuat
kerajinan kertas kalkir (parchment craft) yang membutuhkan banyak
peralatan.
Patina Komponen Asing
Yang diperlukan hanya buku hard cover bekas dengan tebal maksimal
400 halaman (5 cm) dan kertasnya HVS. Ketebalan buku itu
mempengaruhi hasil akhir. Kalau kelewat tebal, hasilnya jelek
Kertaspun demikian, kalau memakai yang lebih tipis hasilnya bakal
keriput. Mencari buku bekas kalau tidak punya, bisa dicari si tukang
loak
Alat lain adalah lem khusus untuk wall paper, cat tembok (akrilik),
dan cat Patina. Perlengkapan yang terakhir ini yang mungkin akan
jadi kendala, sebab tak tersedia di sini dan masih diimpor dari
Belanda. Menurut Josephine, cat Patina itulah yang akan memberikan
efek antik pada deco book.
Pehobi di Indonesia tampaknya menerima keadaan ini. Toh, harga cat
itu relatif terjangkau bagi penggemarnya. ”Buat apa coba-coba bikin
cat. Kita kan belum tahu komposisi kimianya seperti apa. Kalau yang
paten itu sudah pasti dan tidak perlu try and error lagi,” ujar
Alice.
Secara teknik memang gampang, namun praktiknya diakui Alice ada
kendala yakni pada ketersediaan cat yang tak mudah diperoleh di
pasaran.
Untungnya selama ini suplai masih lancar, sehingga hobinya tak
tersendat. Kebetulan karena komunitas pehobi deco book masih sedikit
maka soal stok masih cukup. Arsitek lulusan ITB itu kini sedang
menggarap deco book untuk dihadiahkan pada anaknya tercinta.
Mudah Namun Susah
Alice mengaku memang mudah membuatnya. Ketika dia belajar pada orang
Belanda itu hanya empat kali pertemuan dan dia sudah bisa
membuatnya. Hari pertama yang diajarkan adalah buku itu hanya
dibalur lem. Caranya, buku itu dibuka sama tebalnya. Barulah
permukaannya dilem dengan cara memakai kuas. Ditunggu sehari sampai
kering.
Pada pertemuan kedua, buku yang sudah terlapis lem itu dibalur cat
akrilik warna putih. Pertemuan ketiga cat tembok dicampur cat
akrilik warna dan dikuaskan. Pemilihan warna tergantung pada selera
masing-masing. Pada pertemuan final, barulah cat Patina dikuas di
seluruh buku. Warna cat ini macam-macam, namun efeknya memberikan
kesan antik, seperti urat-urat kayu.
Pada tahap satu sampai tiga, mungkin akan sama hasilnya. Buku masih
‘gundul” dan belum dihias. Yang menentukan apakah deco book itu
bernilai atau tidak adalah di tahap akhir ketika pehobi mencat
dengan Patina dan menghiasnya. Menurut Josephine, hasil akhir dari
masing-masing orang akan berbeda.
Sejauh ini, timpal Alice, belum pernah dia melihat deco book yang
mirip satu dengan lainnya. Sentuhan seninya kentara sekali. Jadi
jangan berpikir bahwa suatu hari produk kerajinan ini diproduksi
massal.
Misalnya untuk dijadikan lahan bisnis. Hasilnya tidak sesuai
keinginan. Pernah dia minta bantuan stafnya untuk membuatkan deco
book, namun dari 10 yang dibuat, hanya 1 yang memenuhi syarat.
”Orang-orang itu mungkin bekerja bukan dengan kesenangan, tapi
target. Beda dengan mereka yang memang pehobi,” ujarnya.
Namanya juga kerajinan, maka dalam pengerjaannya pun dituntut rajin
dan tidak asal-asalan. Makanya di Belanda kalau lihat harga sebuah
deco book yang lebih mahal dan mahal. (tidak ada yang murah di
sana), harus melihat siapa dulu yang membuatnya. Sama halnya seperti
lukisan, siapa dulu pelukisnya. Di Indonesia harga sebuah deco book
paling murah Rp 300 ribu sampai jutaan rupiah, tergantung pada
aksesori yang dipakai.
Untuk membuat sebuah deco book butuh waktu sekitar seminggu. Namun
dalam praktik bisa lebih dari itu. Kadang ketika akan masuk tahap
akhir, buku itu dionggokan saja karena belum sempat. Barulah sebulan
kemudian dikerjakan hingga selesai. ”Kalau lagi bad mood jangan
coba-coba finishing, sebab jadinya bakal berantakan,” sambung Alice
lagi.
Menyaksikan demo dan produk akhir deco book, boleh jadi dia akan
populer dan digemari banyak orang. Namun yang jadi ganjalan apakah
stok buku tua kita cukup? Buat kolektor buku tua, kini musti pasang
kuda-kuda. Jangan-jangan buku koleksinya tiba-tiba ada di tukang
loak karena permintaan pasar cukup banyak. Nah lho!
(SH/gatot irawan)

|
|