C A F E      &     R E S T O  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Nyonya Cuisine
Perpaduan Melayu dan Tionghoa yang Kaya Rempah



Istimwea
1. Ayam Buah Keluak adalah salah satu santapan populer ”Nyonya Cuisine” dari Malaka, Malaysia.
2. Hidangan utama ”Nyonya Cuisine” rasanya belum lengkap tanpa kehadiran Sambal Belacan.
3. Konsultan kuliner ”Nyonya Cuisine” asal Malaka, Amy Koh. Sebagai salah satu anggota Badan Kesenian Baba & Nyonya Malaka (KEBAYA), ia terpanggil untuk turut memperkenalkan budaya Baba Nyonya Malaka melalui aneka santapan Java Restaurant, Hotel Intercontinental MidPlaza Jakarta.

JAKARTA – Ketika baru pertama kali melihat presentasi beberapa penganan utama asal Malaka, boleh jadi yang terbersit di pikiran ialah: wow…santan pekat semua!

Selidik punya selidik, setelah berbincang-bincang dengan seorang konsultan kuliner Malaka, ternyata penganan ala sana tidak selalu mengandung santan. Malah, kuncinya ada pada rempah-rempah, bukan hanya santan kelapa. Sebenarnya apa saja kandungan santapan khas Malaka dan bagaimana asal-usulnya?

Baba Nyonya Malaka
Malaka —sebuah negara bagian Malaysia di pesisir barat— menyimpan unsur yang kaya akan budaya, tradisi, arsitektur, kuliner, dan dialek bahasa yang beda dengan negara bagian lainnya di Malaysia. Sejarahnya, telah terjadi asimilasi antara dua kebudayaan Melayu dan Tionghoa sejak abad ke-15. Kala itu, para pedagang asal Tiongkok melakukan perjalanan ke Malaka via laut yang dibantu oleh angin tenggara. Lalu berpulang kembali ke Tiongkok dengan tuntunan angin timur laut setelah bermukim selama lima bulan di Malaka.
Lahirlah sebuah babak baru sejak itu. ”Terbentuklah kebudayaan baru yang kini disebut Baba Nyonya Malaka,” jelas Koh Kim Bok, Ketua Badan Kesenian Baba Nyonya Melaka (Kebaya). Istilah ini juga menjadi sebutan bagi setiap lelaki dan perempuan yang berasal dari Malaka. Awalnya dulu terjadi perkawinan antara penduduk Melayu dan bangsa Tionghoa yang datang sebagai pedagang. Lalu keturunan generasi pertama pun berkembang turun-temurun.
Lebih lanjut, unsur barat pun tercermin dalam budaya Baba Nyonya Malaka. Tentu karena pengaruh Inggris setelah mendarat di Malaka. Nah kemudian, kebudayaan Malaka tersebut menyebar ke Penang dan Singapura. Bahkan, tidak dapat dipungkiri kalau budaya Malaka memiliki persamaan dengan budaya Indonesia terutama di Jawa dan Sumatera bagi penduduk yang bermukim di sekitar bandar/ pelabuhan. Contohnya, tak perlu heran jika dalam dunia kuliner, penduduk Malaka juga memasak lauk dengan menggunakan biji keluak. Di Jawa, keluak digunakan ketika memasak Sop Rawon.

Ramuan Inti
Istilah Baba Nyonya Malaka berlaku secara keseluruhan untuk menggambarkan budaya Malaka itu sendiri. Namun ketika topiknya berbicara kuliner, maka sebutannya berubah menjadi: ”Nyonya Cuisine” (santapan ala Nyonya).
Bahan-bahan utama yang digunakan pada menu Nyonya mudah didapat di Indonesia. ”Santapan Nyonya Malaka amat kaya dengan rempah-rempah,” kata Amy Koh, konsultan kuliner asal Malaka. Tentu saja, format masakannya juga merupakan perpaduan Tiongkok dengan Melayu. Rempah-rempah yang menjadi standar ramuan inti yang ia maksudkan ialah cabe segar atau kering, bawang, belacan, kemiri, serai, lengkuas dan kunyit. Resep orang Melayu memang tidak jauh-jauh dari herbal dan rempah. Bahan-bahan tersebut seyogyanya mudah didapat karena lazim ditanam di halaman rumah. Sementara pengaruh Tionghoa teraplikasi pada pemakaian bahan-bahan seperti tahu, kecap, kacang kedelai, jamur kering, dan cabe. Sementara itu, pola masak yang lazim dilakukan yakni rebus, oseng-oseng, goreng, dan kukus.
Amy, anggota dari Badan Kebaya berkunjung ke Jakarta atas undangan Presiden Perwakilan Jakarta, Datin Amy Hamidon yang juga istri dari Dubes Malaysia untuk Jakarta, Dato’ Hamidon Ali. ”Menu Nyonya didominasi dengan rasa manis meski ada juga santapan yang asin dan asam,” imbuh Amy, generasi Nyonya Malaka yang mengaku belajar masak dari resep keluarga secara turun-temurun.
Salah satu suguhan tambahan yang selalu disertakan pada saat makan yakni sambal belacan, cincalok dan acar. Sambal belacan merupakan salah satu penganan populer ala Nyonya selain Ayam Buah Keluak dan Pong Teh. Jika berkunjung ke Malaka, santapan-santapan tersebut akan mudah ditemui di restoran.
Menu penutup ala Nyonya seperti aneka kue juga terbilang variatif. Tak perlu heran jika memiliki kesamaan juga dengan beberapa aneka kue Indonesia. Maklum, kalau ditarik berdasarkan sejarah memang kedua negara tersebut saling terkait. Bahan-bahan untuk aneka kue ala Nyonya terbilang mudah didapat dan murah. Antara lain akar tapioka, ubi, agar-agar, beras ketan, gula, santan, dan daun pandan.
Di Jakarta, aneka Nyonya Cuisine bisa dicicipi pada saat makan siang dan malam di Java Restaurant, mulai 12-21 Juli 2004 dengan harga Rp128.000++ per orang. Ada diskon 50 persen bagi anak-anak usia di bawah 12 tahun dan diskon untuk dua anak yang berusia di bawah 5 tahun. Suguhan ini berkaitan dengan acara ”The Melaka Baba-Nyonya Culture & Cuisine Festival” di Hotel Intercontinental MidPlaza Jakarta.
(SH/sally piri)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003