T R E N  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Tren
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Keajaiban Keli Mutu, Renaissance,
dan Art Nouveau dari Didi Budiardjo


SH/john js
KOLEKSI SPRING/SUMMER 2005 – Koleksi busana high fashion dari Didi Budiardjo untuk Spring/Summer 2005 yang hadir di HK Fashion Week beberapa waktu lalu, muncul ulang di lobi apartemen The Peak, Jakarta Selatan.

JAKARTA - Hong Kong Fashion Week untuk koleksi tren Spring/Summer 2005 telah berlangsung di Hong Kong Convention and Exhibition Centre pada 13-16 Juli lalu. HK Fashion Week kali ini beratraksi total yang menghadirkan 767 eksibitor dari Hong Kong, dan 14 negara yakni Cina, India, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, Sri Lanka, Vietnam, Makau, Prancis, Amerika Serikat, Australia, termasuk Indonesia.

Sudah tentu, tren paling penting yang muncul di saat itu adalah koleksi baju spring/summer dan ragam aksesoris terbaru, seperti tas tangan, sepatu, kostum perhiasan, tekstil hingga garmen.
HK Fashion Week tahun ini, utamanya menampilkan koleksi high fashion dari 38 desainer yang di antaranya asal Indonesia, yakni Arifan Mas, Denny Khosuma, Dina Midiani, Sandryant, Sebastian Gunawan, Stephanus Hamy, Tuty Cholid dan Didi Budiardjo dalam pergelaran akbar International Fashion Designer Showcase. Bagian inti yang menarik dari HK Fashion Week berupa eksibisi, dan enam parade fashion yang menjerat perhatian pembeli. Animo besar pengunjung HK Fashion Week, termasuk perhatian luas mereka terhadap koleksi terbaru dari perancang busana Indonesia yang menyajikan tema ”In Line with Khatulistiwa”.
Sayangnya, delapan duta fashion Indonesia itu minim publisitas, dan hanya Didi yang berinisiatif menggelar peragaan busana susulan di area lobi apartemen The Peak, minggu lalu. Didi memperlihatkan koleksi rancangannya itu, dan kali ini Didi terinspirasi dari keindahan danau tiga warna Gunung Keli Mutu di Flores (Nusa Tenggara Timur), budaya Renaissance, dan gaya Art Nouveau.
Inspirasi penggabungan kekayaan budaya Indonesia yang penuh keindahan muncul pada bagian pertama. Di sini Didi mengangkat keajaiban Danau Keli Mutu yang memiliki tiga warna berbeda. Keli Mutu atau Geli Mutu adalah gunung api majemuk yang tersohor karena kawah/telaga tiga warna. Danau kawah tersebut adalah Tiwu Ata Polo (danau merah), Tiwu Nua Muri Kooh Fai (danau hijau), dan Tiwu Ata Mbupu (danau biru).
Antara danau hijau dan danau biru letaknya berdekatan, dan hanya dipisahkan oleh dinding selebar 15 sampai 20 meter. Kondisinya terjal hampir tegak lurus. Bentuk danaunya lonjong dengan garis tengah terpanjang lebih kurang 200-250 m. Pada bagian dinding timur danau hijau, terdapat beberapa kegiatan solfatara yang mengepulkan uap dan SO2. Pematang-pematang kawah bagian timur berwarna kuning karena endapan belerang dan solfatara.
Kurang lebih 300 m sebelah barat kawah/danau hijau, terdapat kawah ketiga atau danau biru dengan pematang kawah berbentuk lingkaran dan jari-jari 175 m-200 m. Dinding kawah demikian terjal dan mencapai tinggi 50-75 m di atas dasar kawah. Di tengah dasar telaga ini terdapat sebuah kawah sisa letusan muda yang mirip lingkaran dengan garis tengah lebih kurang 75 m. Di bagian timur kawah hijau itu menjulang sebuah bukit berbentuk kerucut dengan puncaknya yang bundar, yaitu Buu Ria sebagai titik tertinggi dari kompleks Keli Mutu.

Sederhana Bergaya Ketimuran
Keseluruhan panorama danau Keli Mutu yang ajaib, mungkin sebagai inti dari hasil rancangan Didi yang membumi dan menampilkan perpaduan warna yang serasi. Selain itu budaya Renaissance dan Art Nouveau disebut menambah sentuhan lunak, romantis namun tetap sederhana dengan gaya ketimuran. Dalam inspirasinya itu, Didi membayangkan Alessandro Boticelli (pelukis Early Renaissance, 1445-1510) yang melukiskan kecantikan para bidadari dan dewi oriental. Karya-karya lukisan indah elegan dari perajin Italia kuno bergaris corak kekinian dari Boticelli, seakan hendak ditiru secara baik oleh Didi melalui garis rancangannya.
Bisa dibayangkan imajinasi kelembutan Didi saat memainkan corak Renaissance atau kebangkitan kembali, yang padahal aslinya berupa gambar perubahan radikal dan komprehensif dalam kebudayaan Eropa di abad ke-15 dan 16. Tren yang membawa pertanda kematian kultur Abad Pertengahan, atau awal perwujudan pertama kali dari nilai-nilai dunia modern dan baru.
Kesadaran bangkitnya kembali kebudayaan menjadi karakteristik utama Renaissance. Kalangan sarjana dan kritikus Italia pada periode ini memproklamasi abad kemajuan meninggalkan era barbarisme, dan melahirkan inspirasi sangat paralel dalam peradaban Yunani dan Romawi kuno.
Patut dikenang pula hadirnya hubungan periode brilian dari karya-karya artistik di Abad ke-16 melalui Leonardo da Vinci, Raphael dan Michelangelo. Abad Renaissance ini juga menghadirkan kalangan humanis reformis, seperti Desiderius ERASMUS dari Belanda dan John Colet (1467-1519) asal Inggris yang metode pengembangan studi New Testament.
Namun pemikir agung di masa Renaissance tentu adalah Nicolo MACHIAVELLI, yang mengenalkan konsep realistis human nature yang membantu perubahan hidup masyarakat Italia dan menciptakan perlindungan hak sipil. Prinsipnya sebagai penganut partai republik diperlihatkan melalui pandangan pragmatis suatu kekuatan politik.

Dekoratif Elegan
Hubungan koleksi baju Spring/Summer 2005 dari Didi Budiardjo dan konsep Art Nouveau, mungkin terbentuk dari upaya pertemuan desain busana Didi kali ini dengan ciri konsep gaya kesenian dekoratif elegan yang hadir di akhir Abad ke-19 hingga awal Abad ke-20 itu. Yang berkarakteristik detail ruwet dari garis-garis bajunya. Konsep Art Nouveau berakar di Inggris Raya melalui pergerakan seni dan kerajinan yang diprakarsai William Morris. Konsep kesenian ini menjadi popular di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Praktisioner penyuluh Art Nouveau, di antaranya adalah Aubrey Beardsley, Gustav Klimt, Alphonse Mucha, dan perajin gelas Amerika, Louis Comfort Tiffany.
Ihwal rancangan baju terbaru Didi Budiardjo mengarah pada penggunaan kain berlapis, transparan dengan permukaan yang berkilauan untuk penonjolan kesan feminin. Pilihannya kali ini tertuju pada kain sifon, sutra dan satin dengan motif hias lipat bersulam dengan pernak-pernik kristal Swarovski.
Arahan warna Didi terarah pada corak pastel dan pualam, maksudnya untuk menambah nuansa kelembutan dan ciri feminitas.(SH/john js).
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003