USAHA KECIL & MENENGAH  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Telekomunikasi
UK&M
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Sentra Pengrajin Kaos Suci, Riwayatmu Kini 



Oleh
Didit Ernanto

Bandung - Kawasan ini sebenarnya telah berganti nama menjadi Jalan Surapati. Kendati demikian orang lebih mengenal kawasan yang letaknya tak jauh dari Lapangan Gasibu Bandung sebagai Jalan Suci. Selama ini kawasan Suci identik dengan sentra pengrajin kaos. Ini dapat dilihat dari deretan ruang pamer pengrajin kaos yang berada di kanan kiri jalan.
Menurut Sekretaris Asosiasi Pengrajin Kaos Suci, Elly, jumlah pengrajin kaos di kawasan Suci diperkirakan lebih dari 200 pengrajin. Mereka tak hanya ada di sepanjang Jl.Suci.
“Banyak pengrajin yang ada di gang-gang belakang Jl. Suci. Mereka itu tidak punya ruang pamer sendiri,” kata Elly kepada SH yang menemuinya belum lama ini.
Kawasan Suci mulai dikenal sebagai sentra pengrajin kaos pada tahun 1982-an. Kala itu jumlahnya masih sedikit. Hanya sebatas warga yang memiliki rumah di pinggir jalan. Dari jumlah yang sedikit ini kemudian terus berkembang. Kesuksesan mereka yang membuka usaha membuat kaos lantas ditiru oleh tetangganya.
Walhasil jumlah pengrajin pun terus bertambah. Elly menuturkan tidak sedikit di antara mereka awalnya hanya sebagai pekerja di pengrajin yang telah ada. Karena ingin sukses, mereka lalu mengikuti jejak dengan membuka usaha membuat kaos di kawasan Suci.
Dan puncaknya terjadi sekitar tahun 1996. Saat itu pesanan banyak mengalir. Menurut Elly saat itu seluruh pengrajin kaos praktis tak kesulitan memperoleh order. Selalu saja ada pesanan membuat kaos. Mulanya memang yang dikerjakan pengrajin hanya khusus membuat kaos. “Mulai dari menjahit hingga kaos itu disablon dilakukan sendiri oleh pengrajin,” tutur Elly.
Pesanan kaos pun tak cuma datang dari Kota Bandung semata. Banyak pesanan kaos yang datang dari daerah lain. Bahkan hingga ke luar Jawa seperti Kalimantan, Sumatera serta Timor Timur (sekarang Timor Leste). Kaos yang dipesan kebanyakan adalah kaos olahraga untuk keperluan sekolah.
Seiring dengan perjalanan waktu, semakin banyaknya pengrajin kaos justru menimbulkan masalah baru. Terlebih ketika pesanan mulai berkurang. Hal ini menyebabkan persaingan di antara pengrajin semakin ketat. Persaingan ini mulai mengarah kepada perang harga yang dinilai tidak wajar. Elly menyebutkan untuk memperoleh pesanan, pengrajin tak segan-segan banting harga. Akibatnya pengrajin lainnya mengalami kerugian.

Calo
Bukan hanya itu saja. Ada orang-orang yang sengaja menjadi calo. Menurut Elly para calo ini sengaja mendatangi konsumen untuk melakukan kontrak pembelian. “Padahal para calo itu tidak memiliki usaha apa-apa di Suci,” tandas Elly. Keberadaan calo ini membuat pengrajin tidak dapat melakukan tawar-menawar harga dengan konsumen. Harga sepenuhnya di tangan calo yang bisa memainkan harga untuk mengeruk keuntungan lebih banyak.
Untuk mengikis praktik percaloan ini kemudian dibentuk asosiasi. Asosiasi ini kemudian yang menentukan harga. Harga kaos ditentukan oleh asosiasi berdasarkan kesepakatan seluruh anggota asosiasi.
Lain dulu lain sekarang. Jika tahun 1996 para pengrajin kaos Suci kebanjiran order, maka kini mulai kesulitan memperoleh order. Elly mengakui hal itu. Pesanan memang tak lagi datang tiap hari. Elly mengatakan order pembuatan kaos baru ada pada saat-saat tertentu. Seperti saat tahun ajaran baru maupun saat Pemilu. Selebihnya, pengrajin harus berupaya untuk memperoleh pesanan. Sepinya order diakui oleh pengrajin kaos di bilangan Jl. Suci bernama Iwan Kurniawan.
“Ramainya memang saat tahun ajaran baru. Di luar tahun ajaran baru order sepi. Turun sampai 50 persen,” ungkap Iwan.
Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan usaha. Di antaranya adalah dengan menerima order lain seperti membuat jaket maupun membuat topi. Bukan hanya itu saja, pesanan membuat spanduk pun mereka terima demi kepentingan mempertahankan usaha.
Baik Elly maupun Iwan mengatakan kalau tidak melakukan diversifikasi order, jelas sulit. Mengandalkan order dari pembuatan kaos tidak mungkin dilakukan terus-menerus. Terlebih lagi order pembuatan kaos ini tak datang tiap hari. Bukan hanya sepi order semata. Melonjaknya harga bahan kaos juga menjadi masalah tersendiri. Elly menyebutkan harga bahan kaos terus naik. Untuk bahan kaos jenis katun kini harganya Rp 60 ribu/kg.
“Awal tahun kemarin masih di bawah Rp 55 ribu/kg,” ujar Elly. Harga bahan kaos dipastikan terus naik seiring dengan kenaikkan harga BBM yang rencananya diberlakukan mulai Oktober.

Diversifikasi
Posisi pengrajin kaos Suci serba sulit dalam menyikapi kenaikan harga bahan kaos ini. Menurut Elly kalau harga kaos dinaikkan, pemesan keberatan hingga berdampak pada semakin turunnya order. Sebaliknya, jika harga kaos tidak naik, beban pengrajin makin berat.
Riwayat sentra kerajinan Suci kini memang boleh dibilang kembang kempis. Namun sayangnya belum ada upaya dari Pemkot Bandung untuk membantu meringankan beban para pengrajin tersebut. Menurut Elly sampai saat ini belum ada pengrajin yang diberi bantuan seperti keringanan kredit usaha. Jangankan untuk kredit usaha, lanjut Elly, dibantu agar diberi kemudahan memperoleh bahan baku kaos dengan harga murah saja belum pernah dilakukan.
Kerja keras para pengrajin kaos Suci agar tetap eksis patut diberi dukungan. Keberadaan sentra pengrajin kaos Suci perlu dipertahankan sebagai salah satu indikator Kota Bandung yang populer dengan kemajuan dunia fesyen-nya. n

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003