|
Perkembangan Wilayah Serpong
Kawasan Prospektif setelah DKI Jakarta

SH/Rudy Victor Sinaga
BUMI SERPONG DAMAI (BSD) – Pembangunan areal komersial di
Serpong, salah satunya di BSD, sama pesatnya dengan aktivitas
penyediaan
perumahan yang layak huni.
JAKARTA – Tidak banyak dari kita
pernah membayangkan “wajah” dari kawasan Serpong akan berubah
sedemikian drastisnya hingga menjadi seperti saat ini. Satu dekade
silam, kawasan ini masih jarang dihuni.
Perumahan yang bagus hanya satu dua. Demikian pula toko-toko tidak
banyak. Yang bikin pening kepala adalah sulitnya akses bagi mereka
yang tinggal di Serpong bila ingin ke Jakarta.
Dan sekarang yang “terhidang” di depan mata adalah ruko-ruko, mal,
dan SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang berjejer di
sepanjang Jalan Serpong Raya. Jalan utama yang sebenarnya bisa
dilalui enam kendaraan sekaligus itu, pada jam kerja di hari biasa
lebih-lebih di hari Sabtu-Minggu seringkali macet. Penuh sesak,
itulah kesan pertama bila keluar dari exit tol dan akan masuk ke
Serpong.
Perkembangan kawasan Serpong khususnya di sektor properti sangatlah
fantastis. Developer atau pengembang banyak yang membangun perumahan
di kawasan itu, di antaranya Melati Mas (500 hektare). Salah satunya
kini meluncurkan Melati Mas Residence, Bumi Serpong Damai (BSD)
City, yang mengembangkan 6.000 hektare lahan, Summarecon Serpong
dengan lahan seluas 1.200 hektare, membangun Gading Serpong Permai,
Alam Sutera seluas 1.700 hektare yang dikembangkan oleh PT Alfa
Goldland Realty, dan pengembang lainnya yang menawarkan perumahan
seperti Villa Serpong dan Serpong Park.
BSD City yang dikenal sebagai yang terbesar disana, hingga kini
sudah menjual sekitar 18.000 unit rumah dan dari jumlah itu 15.000
unit sudah dihuni. Bila dihitung, penghuni BSD City berjumlah kurang
lebih 100.000 orang, dari rencana sekitar 600.000 orang.
Bagaimana dengan ruko? Di Serpong sudah berdiri ribuan toko. Gading
Serpong misalnya, hingga kini punya 1.500 ruko, BSD City kurang
lebih 750 ruko, dan akan bertambah dengan hadirnya ITC dan
pengembangan kawasan komersial lain. Villa Melati Mas membangun 300
ruko, Alam Sutera juga mengembangkan Sutera Niaga 2 dan Sutera Niaga
3, menjadikan Serpong kaya akan ruko untuk tempat usaha.
Prospektif
Tak mengherankan bila Panangian Simanungkalit, Direktur Pusat Studi
Properti Indonesia, menyebut kawasan Serpong sangat berpotensi
menjadi kota dalam kawasan Jabodetabek (Greater Jakarta).
Penilaiannya itu didasari dengan luas kawasan Serpong yang kurang
lebih mencapai 10.000 hektare akan dihuni sekitar 2 juta penduduk.
Menurutnya, kecepatan membangun kawasan Serpong sekarang sudah
hampir tidak sebanding dengan percepatan kenaikan harga tanah di
wilayah itu. Oleh karena itu, ia optimistis kawasan Serpong akan
menjadi kota tersendiri/mandiri.
“Kawasan yang prospektif di Jabodetabek salah satunya adalah
Serpong. Ia menjadi prospektif karena dekat dengan Tangerang yang
merupakan kawasan industri,” ujarnya.
Sejauh ini perkembangan di Serpong masih sejalan dengan rencana tata
ruang yang disusun. Asisten I Pemerintah Daerah Tangerang, Bunyamin
Davnie, pernah menyatakan, rencana induk dan Rencana Umum Tata Ruang
(RUTR) memang mengarahkan Serpong sebagai kawasan bisnis dan
perdagangan internasional di masa depan. Karena itu, dirinya
menyambut baik perkembangan industri dan komersial yang terjadi di
BSD City, Gading Serpong, dan lokasi lain yang dikembangkan
pengembang lain.
Dari sisi fasilitas yang menunjang denyut sebuah kota, Serpong cukup
representatif. Untuk sarana olahraga, di sini terdapat dua lapangan
golf yaitu di BSD dan Gading Serpong. Untuk berbelanja dan hiburan,
tersedia Plaza Serpong, Mal WTC Matahari dan tak lama lagi Serpong
Town Square (STS) yang dikembangkan oleh Gapura Prima Grup.
Superblok
Membicarakan kondisi Serpong saat ini dan ke depan kurang pas
rasanya bila membahas perkembangan di BSD City. Sebagai leader di
kawasan Serpong, BSD City telah mengembangkan 1.400 hektare dari
ijin membebaskan 6.000 hektare.
Itu merupakan kombinasi dari areal perumahan (residential),
komersial dan industri. Sementara untuk komersial sendiri, yang
sudah dibangun baru mencapai 200 hektare dari rencana seluas 1.560
hektare.
Dhony Rahajoe, General Manager Public Service PT BSD, mengemukakan,
paling tidak dibutuhkan waktu 14 tahun ke depan sebelum kawasan BSD
seluruhnya dikembangkan. Itu pun dengan prasyarat kondisi mirip
seperti saat ini dimana politik relatif stabil, suku bunga bank
rendah dan daya beli masyarakat meningkat.
Di BSD City dan Serpong, jelas Dhony, komposisi antara residential
dan komersial relatif berimbang. Pusat belanja Carrefour, Giant,
Makro, Alfa dan fasilitas sekolah Al Azhar, German Centre, dsb,
turut meramaikan kawasan itu. Adanya taman kota, instalasi air,
pembibitan tanaman, pedes-trian, ikut pula menata BSD sebagai kota
yang humanis.
“Tahun ini BSD katanya, akan lebih ekspansif. Tidak kurang dari 30
cluster baru akan diluncurkan, termasuk pusat belanja dan pusat
rekreasi,” katanya menjelaskan.
Superblok DeLatinos seluas 80 hektare adalah contohnya. Terdiri dari
12 cluster, superblok ini juga dilengkapi sarana bermain dan
rumah-rumah yang bertemakan Meksiko dan Amerika Latin. Termasuk juga
superblok The Green (10-12 cluster) dan fasilitas BSD Junction
Citywalk (BJC) yang juga akan segera direalisasikan. The Green akan
menjadi lifestyle dining, cocok untuk hangout dan tempat makan.
Sementara BJC sebagai pusat gallery shop dilengkapi kios-kios yang
dapat dijadikan sarana usaha.
Diferensiasi
Pemain besar lainnya di kawasan Serpong adalah Summarecon Serpong
yang mengembangkan Gading Serpong Permai. Ingin “mengekor” sukses
pengembangan di Kelapa Gading Permai, manajemen Summarecon Serpong
intens membangun kawasan hunian dan komersial di Serpong. Di kawasan
seluas 400 hektare yang sudah dikembangkan berdiri Pusat onderdil,
SPBU, dan Pusat Bisnis Sentra Gading Serpong yang mencakup pasar
modern Sinpasa, pusat makanan Salsa Food City dan sentra bursa
mobil.
Pihak Summarecon Serpong juga merencanakan membangun Mal Gading
Serpong yang kualitasnya dijanjikan tidak kalah dibandingkan Mal
Kelapa Gading (MKG).
Johanes Mardjuki, Direktur PT Summarecon Agung Tbk, mengakui
pihaknya ingin mengulang sukses dari Kelapa Gading Permai mengingat
Gading Serpong adalah aset yang paling mungkin dikembangkan oleh
Summarecon Agung di masa mendatang.
“Kita punya strategi tersendiri atau diferensiasi. Caranya, kita
ingin mengkopi Kelapa Gading di Serpong ini, tetapi dengan tetap
mempertahankan bangunan dan cluster yang asri, nyaman, dan aman,”
ujarnya.
Sangat wajar bila perusahaan sebesar Summarecon Agung berinvestasi
tidak tanggung-tanggung di Gading Serpong. Kawasan Kelapa Gading
diakui oleh Johanes sudah sulit dikembangkan lagi. Ini mengingat
dari luas lahan 500 hektare yang dimiliki, yang tersisa hanya
sekitar 30 hektare lagi. Pembangunan mal (ada 3 mal yang dimiliki
Summarecon di Kelapa Gading) dinilai sudah mencapai titik tertinggi,
dan yang paling mungkin hanyalah residential atau apartemen.
Sementara di Gading Serpong Permai, perusahaan masih punya lahan
ratusan hektare yang bisa diolah dan dikembangkan.
Johanes mengaku sangat gembira bahwa sejauh ini semua produk yang
diluncurkan ke masyarakat di Gading Serpong Permai, ludes dibeli. Ia
mencontohkan cluster Alexandrite Residence seluas 5,5 hektare saat
ini sudah terjual seluruhnya.
“Karena itu kita optimistis masa depan Gading Serpong Permai bakal
cerah. Dan tentu saja kawasan Serpong akan turut berkembang pesat,”
ucapnya.
Menarik menantikan kiprah dari dua pengembang besar BSD City dan
Gading Serpong Permai sebagai motor pengembangan kawasan Serpong.
Setidaknya start awal sudah ada.
Di tangan Summarecon Agung, Kelapa Gading menjelma seperti saat ini.
Akankah Serpong akan mengikuti jejak Kelapa Gading? Kita tunggu
saja. (SH/rudy victor sinaga)
|
|