P R O P E R T I  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Properti di Mangga Dua:
Pusat Bisnis Mangga Dua Haruskah Mereposisi Konsep?
 

JAKARTA – Siapa yang tak kenal kawasan Mangga Dua? Dikenal sebagai kawasan pusat bisnis, Mangga Dua berkembang sedemikian rupa menjadi barometer transaksi grosir di seantero Jakarta dan nasional bahkan internasional. Bila Tanah Abang lebih menghembuskan “aroma tradisional” maka Mangga Dua menawarkan sesuatu yang terkesan “modern”. Ini bisa dilihat dari keberadaan ITC Mangga Dua, M2M (Mangga Dua Mal), disamping Pasar Pagi yang sudah lebih dulu hadir di sana.

Sejalan dengan aktivitas bisnis di kawasan tersebut yang semakin berkembang pesat, permintaan atas ruko (rumah toko), rukan (rumah kantor) dan kios-kios di Mangga Dua terus meningkat. Dibandingkan kawasan lain seperti Kelapa Gading, Pondok Indah atau Fatmawati, harga unit ruko/rukan di Mangga Dua boleh dibilang paling tinggi.
Tidak percaya? Tanyakan berapa harga ruko di dekat ITC Mangga Dua. Untuk yang berukuran 4,5x15 meter persegi setinggi 3,5 lantai, harganya berkisar Rp 4-5 miliar. Luar biasa bukan? Bahkan untuk kios-kios di dalam ITC atau Pasar Pagi, harganya melonjak hingga mencapai miliaran rupiah. Harga ini masih lebih tinggi dibandingkan ruko di Pondok Indah yang mencapai Rp 4 miliar, juga tetap lebih mahal dibandingkan ruko di Kelapa Gading yang Rp 3,5 miliar dan Fatmawati yang harganya Rp 2,2 miliar.
Pertanyaannya, mengapa harga properti Mangga Dua sedemikian mahalnya? Jawabnya, tidak lain karena pasokan ruko di daerah ini sudah tidak ada lagi sementara permintaan membludak sehingga harga rukonya membumbung tinggi. Itu terjadi pada ruko-ruko yang dekat dengan ITC Mangga Dua atau Mangga Dua Mal.
“Kawasan Mangga Dua memang sudah berkembang sedemikian rupa hingga mencapai tahapan seperti sekarang. Selama bertahun-tahun Mangga Dua kukuh pada konsepnya sebagai kawasan pusat grosir yang menawarkan beragam produk dengan harga murah. Maka persepsi orang jika mencari barang murah datanglah ke Mangga Dua. Itu yang mendongrak pertumbuhan Mangga Dua seperti saat ini,” ujar pengamat ekonomi Aviliani kepada SH beberapa waktu lalu.

Anomali
Beberapa tahun terakhir ini bermunculan pusat grosir-pusat grosir baru di berbagai wilayah di DKI Jakarta dan Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Semuanya mengusung konsep sebagai pusat grosir. Kita mendengar nama-nama diantaranya Pusat Grosir Cililitan (PGC), Bekasi Trade Center (BTC) yang sudah lebih dulu beroperasi. Bahkan ITC juga mengekor dengan membangun ITC di Kuningan, Permata Hijau, Fatmawati, Cempaka Putih, dan yang akan hadir di Bumi Serpong Damai (BSD).
Hadirnya pusat grosir dan trade center tersebut, di satu sisi memang menjadikan distribusi belanja masyarakat menjadi lebih merata. Artinya, konsumen di pinggiran kota Jakarta kini tidak perlu jauh-jauh datang ke Mangga Dua karena bisa mendapatkan barang sejenis dengan harga tidak kalah murah di lokasi pusat grosir yang berdekatan dengan rumah. Inilah fenomena baru yang terjadi di sektor properti ritel/komersial di Indonesia.
Selama bertahun-tahun pula kawasan Mangga Dua teguh pada konsep sebagai pusat grosir modern. Harga yang murah menjadi jualan utama dari Mangga Dua. Untuk soal lain seperti kenyamanan berbelanja, wah nanti dulu. Pasar Pagi dan ITC Mangga Dua, identik dengan kerumunan orang-orang yang lalu lalang berbelanja, nyaris tidak ada bedanya dengan aktivitas di pasar tradisional.
Anomali atau perbedaan mungkin bisa dijumpai pada WTC (Wholesale Trade Center) yang didirikan oleh Grup Djarum. Harus diakui, untuk saat ini WTC faktanya, belum mengekor sukses yang diraih oleh ITC Mangga Dua atau yang lainnya. Berdiri megah, kios-kios di sana banyak yang kosong atau tutup. Pengunjung pun tidak seramai pusat perbelanjaan lainnya di kawasan yang sama. Mengapa demikian? Apakah pamor Mangga Dua sudah sedemikian turun hingga investor tidak lagi berminat?
“Tidak bisa dibilang demikian. Kita harus kasih waktu beberapa lama untuk WTC beroperasi, tidak bisa langsung menuding properti disana tidak berkembang. Dulu, ITC dan Pasar Pagi juga tidak serta merta langsung ramai. Butuh waktu 3-4 tahun untuk dikenal dan setelah itu ramai hingga seperti sekarang,“ ujar Panangian Simanungkalit, Direktur Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI).
Ada yang beranggapan bahwa agaknya Mangga Dua perlu menata diri (reposisi). Dikatakan, ke depan tidak bisa lagi hanya mengandalkan grosir atau harga murah karena sudah banyak pusat grosir yang bertebaran. Tanpa perubahan konsep dikhawatirkan pengunjung akan semakin berkurang dan denyut aktivitas bisnis di kawasan ini menurun.

24 Jam
Reposisi konsep di kawasan Mangga Dua kini dibawakan oleh Mangga Dua Square (M2-Square). Tidak seperti pusat belanja lainnya yang cenderung hanya membangun mal atau deretan ruko semata, M2-Square mengusung konsep one stop shopping. Agaknya ini menjadi terobosan baru di kawasan bisnis ini.
Apa itu sesuatu yang baru yang dihadirkan oleh Mangga Dua Square? Di lahan seluas kurang lebih 10 hektare, PT Mandiri Dipta Cipta, anak perusahaan Agung Sedayu Group, membangun mal, ruko, hotel, bioskop, tempat hiburan bahkan kolam renang, dalam satu kawasan terintegrasi. Di sana nantinya akan terdapat tidak kurang dari 271 ruko (rumah toko), 5.000 unit kios dan counter. Dengan harga kios berkisar mulai dari Rp 200 juta, tentunya kehadiran M2-Square dipandang cukup menggoyang pasar ritel di kawasan Mangga Dua.
Jelas sesuatu yang baru bila M2-Square menghadirkan aktivitas bisnis dan hiburan 24 jam di kawasan tersebut. Sebelumnya hotel yang sudah ada hanyalah Hotel Dusit Mangga Dua dan Hotel Ibis. Tidak lama lagi bertambah satu hotel yakni Hotel Novotel di kawasan M2-Square. Itu ditambah dengan hadirnya bioskop, karaoke, diskotik, dan foodcourt berkelas internasional di tempat ini. Hypermarket Carrefour seluas 17.000 meter persegi menjadi anchor tenant yang akan semakin menarik pengunjung.
Pihak Agung Sedayu Group merasa cukup yakin konsep ini akan diminati oleh konsumen dan investor. Meski letaknya berhadap-hadapan dengan WTC di pojokan Jl.Mangga Dua dan Gunung Sahari, namun M2-Square optimis proyek ini bisa menarik banyak konsumen ketika akan dibuka secara resmi pada 15 Oktober mendatang.
Pengamatan SH di lokasi, Kamis (23/9), menunjukkan optimisme. Di kantor pemasaran PT Mandiri Dipta Cipta, hari itu beberapa calon pembeli asyik bertanya kepada staf pemasaran.
Sepasang suami-istri siang itu baru masuk ke kantor. Belum duduk di kursi yang tersedia, si istri dengan raut wajah serius langsung bertanya, “Kalau ruko sudah habis ya? Saya mau ambil nih“ Ketika staf pemasaran menyatakan bahwa masih ada ruko yang tersedia, wanita tersebut wajahnya terlihat lega.
Belakangan, ketika wanita tersebut duduk dan diberikan brosur, seorang staf pemasaran nyeletuk, “Si ibu itu sudah beli kios. Dan dia mau nambah lagi dengan membeli ruko,“ kata staf tersebut dengan nada perlahan.
Dialog di atas cukup menggambarkan antusiasme pembelian properti di Mangga Dua khususnya di M2-Square. Tentu saja hal itu merefleksikan geliat properti di Mangga Dua yang terus meningkat. Artinya, Mangga Dua ke depan masih menawarkan prospek yang bagus. Kita lihat saja.
(SH/rudy victor sinaga)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003