|
Meski Bercitra Kampung
Bisnis Properti di Kawasan Pondok Gede
Berkembang Pesat
JAKARTA – Bagi sebagian masyarakat,
keinginan membangun rumah baru di tengah kota Jakarta dan dekat
dengan pusat kota atau CBD (Central Business District) agaknya harus
dipendam dalam-dalam. Pasalnya, harga tanah yang membumbung tinggi
sangat tidak memungkinkan. Jangan tanya berapa harga tanah di
bilangan Menteng, Kuningan, Slipi. Paling tidak di atas Rp 8 juta
per meter. Bahkan kawasan Kelapa Gading yang kini berkembang pesat,
per meternya sudah mencapai Rp 4-5 juta. Kalau tabungan pas-pasan,
jelas sulit mewujudkan mimpi punya rumah baru.
Sedikit ke Timur, harga tanah juga tetap masih tinggi. SH sempat
terpana seakan tak percaya ketika menanyakan harga rumah yang
ditawarkan untuk dijual di kawasan Pengadegan Utara, Jakarta Timur.
“Luas tanahnya 120 meter dan terpakai seluruhnya untuk bangunan
rumah. Memang kondisi bangunan sekitar 80 persen dan sedang kami
perbaiki. Kalau Bapak mau beli, kita buka dengan harga Rp 600 juta.
Kalau mau kontrak, per tahunnya harganya Rp 20 juta. Silakan Bapak
lihat sendiri, kita punya orang yang jaga di sana,“ ujar Pak
Sutisna, si empunya rumah yang akan dikontrakkan/dijual itu.
Apabila bangunan dihargai per meternya Rp 1 juta, maka itu berarti
harga tanah per meternya mencapai Rp 4 juta. Bukan main mahalnya!
Harga ini bahkan melebihi harga tanah di seputaran Tebet, yang masih
bisa didapat dengan harga Rp 1-2 juta per meter.
Pada akhirnya kawasan pinggiran kota Jakarta, kini menjadi incaran
banyak pihak. Tengok saja, Cibubur, Depok, Tangerang, dan Bekasi
menjadi alternatif membangun rumah. Namun pesatnya pembangunan rumah
di kawasan-kawasan ini membuat harga tanah pun merangkak naik.
Cibubur, misalnya, sulit sekali mendapatkan harga tanah di bawah Rp
500.000 meter persegi. Hal yang sama juga bakal ditemui di kawasan
Depok, kecuali di pinggiran Depok arah ke Sawangan atau Cimanggis.
Murah
Bila kita jeli melihat prospek kawasan hunian di seputaran Jakarta,
sesungguhnya wilayah Pondok Gede, Bekasi, masih sangat menjanjikan.
Tidak terlalu seagresif tetangganya Cibubur yang berkembang sangat
pesat dengan pembangunan perumahan elit di sana-sini, kawasan Pondok
Gede boleh dikata bergerak relatif lambat.
Padahal untuk wilayah hunian, Pondok Gede cukup bagus. Pasalnya,
harga tanah di sini masih sangat terjangkau.
Menurut riset harga tanah yang dilakukan oleh Pusat Studi Properti
Indonesia (PSPI) pada akhir Desember 2003, di kawasan Jatibening,
Jatiwarna, Jatiwaringin, Jatirahayu, Jatimakmur, yang menjadi bagian
dari kawasan Pondok Gede, harga tanah berkisar ratusan ribu rupiah.
Harga tertinggi hanya ditemui dekat pasar Pondok Gede yang harganya
Rp 1 juta hingga Rp 1,2 juta. Selanjutnya, di pinggiran tol harga
tanah juga cukup tinggi.
Seperti di sekitar Perumahan Tamansari Persada Raya dekat dengan
exit tol Jatibening, harga tanah berkisar Rp 740-850 ribu. Tetapi
selebihnya di bawah Rp 300.000 per meter.
Bahkan di seputaran Puri Gading dimana terdapat Perumahan Puri
Gading yang dibangun oleh developer anak perusahaan Duta Putra Group
pimpinan Herman Sudarsono, harga tanah disana masih murah sekitar Rp
73.000 hingga Rp 91.000 per meter. Padahal masuk ke kompleks, harga
rumah tipe 36/72 di Perumahan Puri Gading sudah mencapai Rp 70 juta
per unit, yang berarti per meternya dihargai lebih dari Rp 450.000.
Citra
Pengamat properti Panangian Simanungkalit pernah menyatakan, wilayah
Pondok Gede sesungguhnya sangat ideal untuk dijadikan kawasan
hunian. Alasannya, kawasan ini relatif mudah aksesnya ke Jakarta.
Akses tol Jatibening atau Cikampek menurutnya menjadi nilai tambah
bagi Pondok Gede. Jika tidak memiliki mobil, jalan raya Pondok Gede
yang semakin mulus, dapat menjadi alternatif.
“Kendalanya hanya pada citra kawasan Pondok Gede yang masih dianggap
sebagai wilayah kampung, terisolir. Padahal sekarang tidak lagi
demikian. Kalau mau jujur, wilayah ini lingkungannya masih asri dan
bersih, dan dekat dengan Jakarta. Sedikit sekali kawasan yang
demikian,” ujarnya.
Pembangunan jalan tol JORR (Jakarta Outer Ring Road) tak pelak lagi
membuat kawasan Pondok Gede semakin terbuka. Dan itu membuka akses
yang lebih mudah dari dan ke pusat kota Jakarta.
Faktor akses yang semakin gampang ini pula yang mendorong teman SH
yang juga berprofesi sebagai wartawan, berani mengambil rumah di
Perumahan Puri Gading, Pondok Gede.
“Sebentar lagi jalan tol selesai dibangun, jadi saya bisa gampang ke
tempat kerja atau ke Jakarta. Mau ke Cibubur juga dekat, begitu juga
ke Bekasi tidak sulit. Ketimbang di Depok atau Tangerang, tinggal di
Pondok Gede jauh lebih nyaman,” katanya. Rekan tersebut mengambil
rumah tipe 36/72 dan merencanakan akan segera menempatinya di bulan
Juli mendatang. Informasi yang semakin menguatkan niatnya membeli
rumah di sana adalah kawasan Puri Gading dan sekitarnya tidak
berpotensi banjir.
Bagi seorang Pak Lumbanraja, faktor lingkungan yang asri menjadi
determinan utama sebelum memutuskan membangun rumah di Pondok Gede.
“Harga tanah di sini masih murah. Dan yang penting, udaranya masih
segar. Polusi belum separah Jakarta. Air juga tidak persoalan karena
masih bersih. Buat ditinggali, Pondok Gede sangat cocok,” ucapnya.
Jika mau diambil perbandingan, masalah kemacetan di Pondok Gede
boleh dikata relatif tidak separah Depok. Titik-titik kemacetan
hanya berada di seputaran Lubang Buaya, Pasar Pondok Gede dan
persimpangan Ratna. Namun terjadinya tidak setiap hari. Ini berbeda
dengan kemacetan di Depok yang terjadi di sepanjang Jalan Margonda
mulai dari Jalan Tole Iskandar, Terminal Depok, Margonda, dan terus
berlanjut hingga Pasar Minggu. Dan itu terjadi setiap hari terutama
di pagi dan sore hingga malam hari. Tanpa sadar waktu akan tersita
banyak di jalan ketimbang menikmati hidup di rumah.
(SH/rudy victor sinaga)
|
|