|
Perbankan Syariah
Makin Diminati Masyarakat
JAKARTA – Dalam beberapa tahun
terakhir, perbankan syariah terus menunjukkan perkembangan yang
lebih cepat dari perkiraan. Bank-bank konvensional mulai berlomba
membuka divisi syariah karena melihat minat masyarakat yang demikian
tinggi pada produk perbankan syariah.
Hal yang mendorong kalangan perbankan mencoba peruntungannya di
lahan ini tak lain adalah besarnya pangsa pasar. Tak pelak, semakin
banyak bank yang terjun dalam industri perbankan syariah, memicu
persaingan yang kian tajam dalam menggaet nasabah.
Data menunjukkan, sampai Mei 2004, aset perbankan syariah sudah
mencapai Rp 11,56 triliun atau tumbuh 131 persen dibandingkan
periode yang sama tahun 2003 yang sebesar Rp 5 triliun. Porsi aset
perbankan syariah terhadap perbankan konvensional sudah menembus 1
persen.
Melihat perkembangan perbankan syariah yang semakin hari semakin
pesat tersebut, Ketua Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia
(Asbisindo) Wahyu Dwi Agung memperkirakan, harapan Bank Indonesia
(BI) agar porsi aset perbankan syariah mencapai 5 persen pada tahun
2011 bisa lebih cepat terealisasi pada tahun 2007.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI, Maulana Ibrahim, mengatakan,
perbankan syariah sedang berada dalam fase pertumbuhan cepat.
Meskipun kontribusinya masih kecil, wujud dukungan perbankan syariah
terhadap sektor riil sangat nyata, terutama untuk sektor usaha
menengah, kecil, dan mikro (UMKM) yang porsi pembiayaannya mencapai
lebih dari 90 persen.
Menurut data BI, dana yang dihimpun perbankan syariah per Mei 2004
mencapai Rp 7,77 triliun atau meningkat 34,9 persen dibandingkan
akhir tahun 2003. Adapun pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 7,56
triliun, naik 35,87 persen dibandingkan pada akhir tahun 2003.
Rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (financing to deposits
ratio/FDR) perbankan syariah per Mei 2004 mencapai 97,26 persen,
naik dibandingkan Desember 2003 sebesar 96,57 persen.
Jumlah bank syariah juga semakin banyak dari waktu ke waktu. Saat
ini ada 10 bank syariah, yang terdiri dari dua bank umum yaitu Bank
Muamalat dan Bank Syariah Mandiri, dan delapan Unit Usaha Syariah
(UUS), yaitu PT Bank IFI, Bank Negara Indonesia, Bank Jabar, Bank
Rakyat Indonesia, Bank Danamon, Bank Bukopin, Bank Internasional
Indonesia, dan HSBC. Bank syariah dipastikan akan bertambah empat
lagi, yaitu BTN, Bank Permata, Bank Niaga, dan Bank Mega Syariah
Indonesia
Para pengamat ekonomi maupun praktisi sendiri memperkirakan, peta
persaingan akan kian meruncing mengingat Dewan Syariah Nasional
(DSN) masih menjanjikan pemberian izin pembukaan bank syariah hingga
menjadi 20 hingga akhir tahun nanti.
Menarik untuk disimak, segmen mana yang digarap masing-masing pelaku
industri karena mereka pun menyadari tidak semua segmen memiliki
prospek bisnis yang menarik.
Ketika jumlah pemain di industri perbankan syariah masih bisa
dihitung dengan jari dan kapasitasnya pun tidak besar, target
segmennya baru melingkupi sebagian kecil entitas umat Islam di
Indonesia.
Nasabah Loyalis
Bahkan sebagian besar nasabah yang dirangkul perbankan syariah
ditengarai berasal dari kaum syariah loyalis atau mereka yang masih
meyakini hukum bunga bank adalah riba dan haram.
Riset yang dilakukan Karim Business Consulting (KBC) mulai awal
tahun 2004 melalui wawancara dengan jajaran direksi 21 bank
nasional, menunjukkan potensi dana nasabah loyalis diperkirakan
sebesar Rp 10 triliun yang sudah habis tergarap terutama oleh Bank
Muamalat dan Bank Syariah Mandiri.
Lembaga ini membagi tiga golongan nasabah yang kemungkinan bisa
menopang penghimpunan dana masyarakat bagi industri perbankan.
Selain loyalis, ada pula floating market (pasar mengambang) dan
konvensional loyalis.
Potensi yang dimiliki oleh floating market ini diperkirakan sebesar
Rp 720 triliun, sementara potensi dari kaum loyalis konvensional dan
tidak mau berpindah menjadi nasabah bank syariah hanya sebesar Rp
240 triliun. Adiwarman Karim, Presiden Direktur KBC menyebutkan
potensi floating market hingga kini belum tergarap secara maksimal
oleh perbankan syariah.
Alhasil, kue bisnis dengan nilai prediksi sebesar Rp 720 triliun
tersebut membuat pelaku industri perbankan berlomba-lomba merebut
pangsa pasar. Bila dipecah-pecah, pasar floating terdiri dari
nasabah individual maupun korporasi yang menginginkan layanan
perbankan biasa serta nasabah kakap yang tentunya membutuhkan
layanan lebih bersifat privasi.
Mulanya BI mengharapkan bank syariah domestik bermain di segmen
ritel dan usaha kecil, sementara bank syariah asing diarahkan
menggarap sektor bisnis korporasi mengingat dukungan dananya cukup
besar.
Namun bila melihat tren saat ini, dengan asumsi pasar floating terus
tumbuh, banyak bank syariah lokal ikutan terjun ke bisnis syariah
yang lebih besar seperti sektor korporasi maupun layanan platinum.
Lihat saja langkah pionir yang dilakukan BII Syariah Platinum Access
(BSPA) berhasil menghimpun dana masyarakat sebesar Rp 5 miliar hanya
dalam waktu sebulan ketika salah satu cabangnya dibuka.
BNI secara resmi membuka layanan BNI Syariah Prima pada sebuah
cabang di Jalan Sudirman Jakarta. Sebagaimana dikatakan Kepala
Divisi Syariah Rizqullah, layanan ini akan menghadirkan jasa
perbankan yang mengedepankan pendekatan pribadi, namun tetap
berprinsip pada syariah.
Lain lagi dengan dua bank sudah mengantongi izin prinsip dari Bank
Indonesia yaitu Bank Niaga dan Bank Permata yang akan membidik
nasabah kelas menengah dan tidak ketinggalan nasabah ritel UKM.
“Kami akan menitikberatkan pada sektor UKM,” ujar Priagung Suprapto,
General Manager Bisnis Unit Syariah Bank Permata. Sedangkan Kepala
Unit Usaha Syariah Bank Niaga, Ari Purwandono mengatakan pihaknya
akan memfokuskan pada nasabah floating.
Bank Niaga merupakan pendatang baru di bisnis perbankan syariah,
baru pada 27 September 2004 secara resmi mengoperasikan Unit Usaha
Syariah. Unit Usaha Syariah tersebut dibuka sebagai bagian upaya
Bank Niaga pada 2007 untuk menjadi lima besar Bank di Indonesia yang
menitikberatkan fokus usahanya disektor ritel dan juga didukung oleh
pemegang saham mayoritas (Commerce Asset-Holding Berhad Malaysia).
Menurut Presiden Direktur Bank Niaga, Peter B Stok, Bank Niaga
Syariah berencana mengincar pangsa pasar yang berbasis pada nasabah
yang berkarakter floating yang memberikan kesan Bank Syariah modern.
Penentuan segmen ini didasarkan juga pada sebuah penelitian yang
menunjukkan bahwa dana nasabah floating diperkirakan sebesar Rp 720
triliun sedangkan segmen konvensional dan segmen syariah
masing-masing diperkirakan Rp 240 triliun dan Rp 10 triliun. Bank
Niaga Syariah menyediakan keanekaragaman produk syariah dan produk
pembiayaan.
Bila melihat euforia yang muncul di bisnis perbankan syariah, perlu
dibuat batasan agar tidak terjadi pelanggaran kepatuhan pada prinsip
syariah. “Apapun inovasi serta strategi bisnis syariah yang
dilakukan tetap saja ketentuan BI dan DSN harus dipatuhi sebagai
industri yang karakternya memegang amanah dari nasabah,” kata
Adiwarman.
(SH/komarul hidayat/sigit/danang joko)
|
|