P R O M A R K E T I N G  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Sepeda Motor Non-Jepang
Serbu Pasar Indonesia
 

JAKARTA – Penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2004 selama satu bulan penuh (pertengahan Juni hingga 18 Juli 2004) baru saja usai. Bagi orang yang berkesempatan mengunjungi pameran terbesar di Indonesia itu, tentu langsung dikejutkan oleh banyak berdirinya stan kendaraan roda dua non Jepang seperti dari Cina, Korea, Taiwan dan Malaysia. Stan-stan tersebut tidak kurang luas sejengkalpun dengan stan motor Jepang sehingga memungkinkan pengunjung dengan leluasa mengamati dari dekat aneka jenis produk kendaraan roda dua yang dipamerkan.
Jika ada yang perlu ditanyakan mengenai spesifikasi produk, harga dan sebagainya, para pengunjung tidak perlu khawatir karena para Sales Promotion Girl (SPG) yang rupawan dan bertubuh semampai dengan senang hati akan memberikan brosur dan menerangkan kepada pengunjung sejelas-jelasnya.
Tentu saja lengkap dengan segala bujuk rayunya, bila melakukan akad kredit atau membeli tunai produknya selama PRJ akan diberi harga khusus dan souvenir menarik. “Kalau PRJ sudah selesai, harganya akan dinaikkan lho Mas,” begitu bujuk salah seorang SPG yang berstatus mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat kepada SH beberapa waktu lalu.
Meski rata-rata alasan utama keikutsertaan di PRJ untuk lebih memperkenalkan produk ke pengunjung yang sebagian besar warga Jakarta, harus diakui pula momen ini dimanfaatkan untuk mendongkrak penjualan.
Motor buatan negeri Jiran, JRD misalnya. Meski sudah mendirikan pabrik perakitan dan suku cadang di Cikande, Banten, sejak 2001, keikutsertaannya dalam PRJ merupakan kali pertamanya.
Dari penuturan Dewi Patty, SPG yang bertugas, terungkap bahwa yang menjadi tugas utamanya adalah memperkenalkan produk JRD kepada pengunjung tanpa dibebani diberikan target kuantitas. Meski alasan Dewi demikian, toh ia mengaku setidaknya sudah 100 unit motor JRD yang transaksikan selama PRJ berlangsung.
Strategi mendongkrak penjualan yang dijalankan bervariasi dari sekadar memberikan paket khusus, hadiah dan diskon besar-besaran sampai menggunakan sistem lelang yang melibatkan partisipasi aktif pengunjung.
Stan Jialing misalnya, memberi paket khusus. Jika membayar tunai, konsumen cukup menyetorkan uang Rp 5,95 juta untuk membawa pulang motor jenis bebek 90 cc, Target. Atau, bisa pula kredit dengan uang muka yang sangat ringan, Rp 500 ribu dan cicilan mulai 6 kali sampai 36 kali.
Stan milik salah satu diler Beijing terbesar di Indonesia tersebut, Bintang Jaya Motor (BJM), juga jor-joran memberi kemudahan konsumen untuk memiliki sepeda motor. Menurut penjelasan SPG, Mika, proses kreditnya hanya membutuhkan waktu satu jam tanpa dikenakan biaya tambahan apapun. Patongan angsurannya sampai dengan Rp 30 ribu per bulan, dan berhadiah langsung pula Televisi, Handphone, mesin cuci, sepeda gunung dan sebagainya.
Sejak diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada Maret 2000, motor beijing tak hanya berdiri sebagai salah satu pionir di pasar motor cina tetapi juga menjadi market leader di segmen ini. BJM sendiri sampai kini memiliki lebih dari 20 diler yang siap melayani konsumen.
Sementara di stan Loncin, selain menggunakan cara konvensional, penjualan sepeda motor juga menggunakan sistem lelang yang diadakan seminggu tiga kali yakni hari Rabu, Jumat, minggu. Pada hari Rabu, yang dilelang adalah sepeda motor jenis bebek, hari Jumat giliran motor laki-laki sedangkan hari minggu kedua-duanya. Saat SH melihat-lihat stan Loncin, ada seorang pengunjung yang beruntung bisa membawa pulang sepeda motor bebek Terra S 100 cc seharga Rp 7,3 juta hanya dengan mengeluarkan uang Rp 4,150 juta. “Bapak itu memberikan harga tertinggi sehingga berhak mendapatkan sepeda motor Terra,” kata Kalina, SPG Loncin.
Yang menarik, dari aneka tipe sepeda motor non Jepang yang dipamerkan, bukan motor bebek yang paling diminati konsumen dengan alasan sudah pasaran akan tetapi jenis trail termasuk minitrail maupun jenis skuter. Di stan JRD contohnya, skuter Storm 125cc lah menjadi primadonanya. Dijual dengan harga khusus selama PRJ Rp 9,35 juta, skuter tersebut banyak diminati warga Jakarta. “Selain gayanya yang unik, Storm cocok dipakai di dalam kompleks perumahan yang banyak ditemukan di Jakarta,” kata Dewi.
Memang, JRD selama ini lebih banyak dijual di Indonesia bagian Timur seperti Tenggarong, Makassar dan Balikpapan dengan alasan target pasarnya lebih tepat. Selain itu, persaingan dengan motor Jepang tidak seketat di Jakarta. Sementara di stan Loncin, menurut penuturan Kalina, sepeda motor jenis minitrail ATV-150cc sudah terjual sebanyak 50 unit.

Kebutuhan Mutlak
Lunardi Widjaja, CEO PT. Global Lestari Motorindo, produsen Motor Beijing mengatakan sepeda motor, telah menjadi kebutuhan mutlak bagi masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan area geografis yang sangat luas, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki potensial sangat tinggi untuk industri sepeda motor.
Sepeda motor buatan China telah melakukan penetrasi pasar di Indonesia sejak awal tahun 2000. Dalam beberapa bulan pertama, terdapat lebih dari 115 merk sepeda motor yang mendaftarkan diri. Kompetisi ini semakin hari menjadi semakin sempit oleh karena timbulnya ‘seleksi alam’ yang mengakibatkan telah berkurangnya jumlah pemain hingga menjadi kurang dari 10 merek.
Berkurangnya jumlah pemain ini antara lain disebabkan oleh kurangnya penyediaan fasilitas kredit serta tidak adanya jaminan after-sales service yang nyata.
Hal-hal inilah yang menyebabkan image motor buatan Cina sempat terganggu meskipun sekarang telah mampu merebut kembali pangsa pasar nasional hingga lebih dari 15 persen. Berbicara mengenai prospek, pasar sepeda motor di Indonesia sendiri adalah sangat menjanjikan, melihat dari besarnya potensi negara Indonesia sebagai pasar sepeda motor ketiga terbesar di dunia setelah China dan India.
Hal ini juga terlihat dengan adanya peningkatan jumlah penjualan nasional dari 1,9 juta unit pada tahun 2001, 2,4 juta unit pada tahun 2002, 2,8 juta unit pada tahun 2003, dan diperkirakan menjadi 3,4 juta di tahun 2004.
Sementara bagi produsen motor Jepang, jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat, Industri sepeda motor non Jepang tidak mustahil dapat menjadi ancaman serius. Cina sendiri yang saat ini menjadi produsen sepeda motor terbesar di dunia pasti akan mempersiapkan diri untuk bisa menerobos pasar Asia sekuat mungkin. Demikian dikatakan Direktur PT Astra Otoparts Tbk, Mochamad Koeswono beberapa waktu lalu.
Menurut Koeswono, peluang Cina untuk menerobos pasar kendaraan roda dua di Indonesia sangat kuat. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pangsa pasar sepeda motor Cina yang saat ini masih di bawah 20 persen dari total pasar sepeda motor sebanyak 2,5 juta unit per tahun bisa meningkat lagi.
”Dalam tiga tahun terakhir, ekspansi motor (kendaraan roda dua) Cina di Indonesia memang terkesan lamban. Namun, dalam waktu dekat saya perkirakan produsen motor Cina akan memperkuat kembali pasarnya. Mereka akan melakukan layanan purnajual yang lebih baik lagi dan pendanaan yang lebih besar,” katanya.
Pasar sepeda motor Cina waktu itu tidak tumbuh dengan baik karena memang tidak didukung dengan layanan purnajual yang baik. Dukungan dana untuk memperbesar akses pasar tersebut ke tangan konsumen juga lamban karena lemahnya lembaga pembiayaan yang mau menangani produk Cina tersebut.
Di sisi lain, produsen motor Jepang melakukan antisipasi yang begitu besar untuk membendung masuknya motor non Jepang tersebut sehingga praktis pasar mereka pun menjadi tertekan. Selain itu, importir atau perakit motor Cina mengambil produk tersebut dari Negeri Tirai Bambu dengan harga yang rendah sehingga berpengaruh terhadap kualitas motor tersebut. Dengan demikian, pasar sepeda motor tersebut akhirnya tetap didominasi oleh pasar produk Jepang.
“Namun, jika dilihat secara keseluruhan, ke depan, produsen motor non Jepang yang akan masuk ke Indonesia bisa lebih kuat lagi, dan hal itu bukan tidak mungkin mengingat volume mereka mencapai 12,5 juta unit per tahun sehingga menempatkan Cina sebagai produsen terbesar di dunia.,” Koeswono.
Posisi kedua ditempati India dengan volume sekitar 5 juta unit. Indonesia berada di posisi ketiga dengan volume 2,5 juta unit per tahun. Dengan volume sebesar itu, sangat mungkin bagi produsen motor Cina untuk mencapai skala ekonomi sehingga produknya pun bisa lebih efisien.
(SH/gatot irawan/danang jm)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003