|
Bisnis Otomotif Makin
Menggeliat
Perusahaan Pembiayaan Berlomba
Kucurkan Kredit Murah
JAKARTA – Saat ini banyak bank yang
sedang melakukan promosi dengan memberikan kredit pemilikan mobil
(KPM) dengan bunga yang sangat ringan. Mengambil KPM dari bank
memiliki kelebihan, salah satunya bunga yang lebih ringan.
Kekurangannya, syarat yang dibutuhkan berderet sebab bank merupakan
badan yang tersistematis. Jadi proses pengajuan kreditnya relatif
lebih lama. Selain itu bank enggan membiayai kredit untuk mobil
bekas, karena risiko yang ditanggung lebih besar.
Tapi dengan semakin banyaknya kebutuhan untuk memiliki mobil, maka
semakin menjamur pula perusahaan pembiayaan (leasing), dari yang
berskala kecil hingga skala besar. Kelebihan dari mengambil kredit
perusahaan leasing adalah prosesnya yang cepat dan persyaratan yang
sederhana. Selain itu, perusahaan tersebut juga mau melayani
pembelian mobil bekas.
Perkembangan bisnis pembiayaan mobil yang melaju di Tanah Air,
menurut Wahjudi Budijono, Senior Asisten Manajer Marketing
Department PT Dipo Star Finance, karena bisnis pembiayaan otomotif
(auto finance) sangat menjanjikan. Indikasinya dalam dilihat dari
peningkatan penjualan otomotif nasional dari tahun ke tahun. Pada
tahun 2003, penjualan mobil sebanyak 354.000 unit, terjadi
peningkatan penjualan sebesar 11 persen dari tahun 2002. Prediksi
dari Gaikindo, kenaikan penjualan pada tahun ini kemungkinan
menyamai kenaikan tahun lalu yakni mencapai angka 390.000 unit.
Jika jumlah tersebut tercapai sampai akhir 2004, berarti Indonesia
sudah melampaui penjualan mobil pada masa sebelum krisis ekonomi
tahun 1997 yang mencapai kisaran 370.000-an unit. Munculnya
varian-varian mobil baru dengan harga terjangkau membuat agen
tunggal prmegang merek (ATPM) membidik pasar ini sehingga membuat
konsumen merasa terlayani. Selain itu, kecenderungan menurunnya suku
bunga turut merangsang pasar.
Suku bunga yang ringan membuat konsumen merasa senang dan pada
akhirnya mendongkrak penjualan mobil. “Boleh dikatakan terjadi
sinergi. ATPM menyediakan varian beragam yang ditunjang pula oleh
perusahaan pembiayaan yang memberikan suku bunga rendah,” kata
Wahjudi kepada SH, minggu lalu.
Ancaman Bank
Gencarnya sektor perbankan menyalurkan kredit konsumsif dalam bentuk
Kredit Pembiayaan Mobil (KPM) belakangan ini diakui Wahjudi
merupakan ancaman bagi perusahaan pembiayaan. Untuk masalah ini ia
tidak ingin mengomentari perusahaan lain. “Yang jelas Dipo Star
merasa tersaingi,” katanya. Pertama, lanjut dia, perbankan bisa
mendapat pendanaan murah yang berasal dari tabungan dan deposito
nasabah. Sementara, perusahaan pembiayaan selama ini mendapatkan
dana dari perbankan.
Namun demikian, Dipo Star, menurut Wahjudi, tidak bersaing secara
langsung dengan perbankan yang hanya memberikan kredit yang sifatnya
konsumtif, dalam hal ini jenis mobil penumpang (passanger car).
Sementara Dipo Star sejak dulu lebih berkonsentrasi pada kendaraan
komersil (commercial car) yang persentasenya bisa mencapai 85
persen.
Perusahaan pembiayaan yang kuat bisa dilihat dengan siapa perusahaan
tersebut berafiliasi. Finance company yang akan tumbuh nantinya
hanyalah yang berafiliasi dengan bank atau produsen mobil dan agen
tunggal pemegang merek (ATPM).
Dengan afiliasi bank, dukungan dana menjadi kuat sehingga kapasitas
nasabah bisa terus digenjot. Adapun afiliasi dengan ATPM, perusahaan
pembiayaan akan mendapatkan prioritas pasar.
Sementara itu, menurut Darmawan Widjaya, CEO Astra Credit Company
(ACC), untuk besaran bunga, perusahaan pembiayaan tak hanya bersaing
dengan sesama, tetapi juga dengan perbankan, yang umumnya menawarkan
bunga lebih rendah.
“Penetrasi bank dalam pembiayaan otomotif cukup mengganggu kinerja
finance company. Sebab, bunga yang ditawarkan benar-benar rendah,
hanya 7 sampai 8 persen. Padahal, sebenarnya total biaya yang harus
dikeluarkan nasabah sama saja dengan perusahaan pembiayaan,” ujarnya
usai acara peuncuran ACC Gold Card, Senin (31/5).
Menurutnya, apa yang dilakukan bank hanyalah trik mengingat bank
menggunakan cara perhitungan yang berbeda. Jika bank berani memberi
bunga sebesar 7 persen, itu sebenarnya 14 persen. Bank bisa terkesan
lebih murah memberikan bunga sebab cara perhitungannya berbeda.
Pertama, bank mengharuskan angsuran bulanan pertama langsung dibayar
bersama uang muka. Ini akan membuat biaya menjadi lebih murah
sehingga bunganya bisa diperkecil. Tapi biaya administrasi bank
biasanya lebih tinggi dan bank akan mendapatkan keuntungan lagi
dengan mengharuskan konsumen membuka tabungan.
Program bersifat umum yang sering dilakukan perusahaan pembiayaan
dengan menawarkan suku bunga murah bahkan dengan DP (uang muka) 10
persen. Selain itu, ada pula program yang bersifat khusus seperti
kerjasama eksklusif dengan ATPM tertentu. Dipo Star sendiri, menurut
Wahyudi, tidak secara khusus membiayai kredit hanya pada satu merek
tertentu. Meski demikian ada pula keunggulan di merek tertentu
seperti Mitsubishi di jenis kendaraan komersial.
Persaingan Wajar
Wahjudi memandang persaingan yang terjadi di bisnis pembiayaan
otomotif selama ini masih dalam batas kewajaran, sepanjang
persaingan tersebut terbuka dan transparan. Perlakuan khusus
(special treatment) yang diberikan perusahaan pembiayaan ke konsumen
pun juga dilakukan pihaknya. Ia mengakui, demi mengejar target
kuantitas, ada perusahaan pembiayaan yang kurang menjalankan prinsip
kehati-hatian dalam memberikan fasilitas pembiayaan. Akibatnya,
banyak kendaraan yang hanya satu-dua bulan berada di tangan konsumen
karena kemudian ditarik kembali lantaran konsumen gagal melanjutkan
pembayaran kredit.
Namun dia meyakinkan hal tersebut tidak akan ditemui di Dipo Star.
Ia menjelaskan bahwa di perusahaannya di samping ada kebijakan yang
bersifat kuantitas, juga kualitas. Barangkali memang ada perusahaan
pembiayaan yang mengesampingkan aspek kualitas, sementara Dipo Star
tetap berkomitmen pada kualitas. Konsumen yang masuk kategori layak
diberikan kredit oleh Dipo Star, bila telah dinilai karakter,
kapabilitas dan prospek usahanya.
Jika usahanya bagus namun karakternya jelek juga percuma. Melalui
kunjungan dan wacancara langsung oleh staf pemasaran ke calon
konsumen akan dicocokkan data dengan kondisi sebenarnya.
Di Dipo Star, kurang lebih 90 persen proposal kredit disetujui.
Bagaimanapun juga kita sudah menerapkan kondisi standar. Misalnya
dengan menetapkan uang muka dalam besaran tertentu. Bila konsumen
sanggup menyediakan dana untuk membayar DP tersebut tetap dilakukan
penyaringan. “Di sinilah analis kredit berperan menganalisis prospek
usaha calon konsumen. Selama masih dalam kategori layak, akan kita
berikan,” tandasnya.
Untuk tahun 2004 ini, dana yang tersalur untuk pembiayaan mobil,
nilainya cukup “gila-gilaan.” Dari satu perusahaan saja, ACC
misalnya, menurut Darmawan menargetkan bakal menembus angka Rp 9
triliun. Sebab sampai April 2004 saja sudah mencapai Rp 2,9 triliun.
“Dengan pencapaian itu, mungkin pembiayaan sampai akhir tahun bisa
mencapai Rp 9,5 triliun. Salah satu pemicunya adalah adanya mobil
murah,” tuturnya.
Yang membuat bisnis ACC berkibar, menurut Darmawan, karena memiliki
jaringan kuat di 27 provinsi dan bersinergi dengan 1.600 diler
mobil. Pada tahun 2003, total pembiayaan ACC yang disalurkan
mencapai Rp 6,44 triliun. Salah satu strategi yang dikembangkan
untuk menarik nasabah, memasukkan premi untuk personal accident.
“Jadi, jika nasabah meninggal dunia, pembayaran cicilan akan
dilanjutkan oleh asuransi,” ucapnya.
Soal tingginya konsumsi masyarakat pada produk otomotif, diakuinya,
membuat industri leasing berkibar. Itu bisa terjadi sebab 70 persen
pembelian mobil dilakukan secara kredit. Para pelaku bisnis ini
memprediksi potensi kredit otomotif tahun 2004 diperkirakan bakal
mencapai sebesar Rp 103,5 triliun, yang berarti mencapai seperlima
dari total kredit perbankan yang sekitar Rp 477 triliun.
Banyak faktor yang membuat industri tersebut booming.
Faktor-faktornya adalah likuiditas perbankan yang berlebih,
banyaknya finance company yang punya kapasitas besar, dan harga
mobil yang semakin murah. “Apalagi prediksi penjualan mobil tahun
2004 akan menembus angka 390.000. Jika hal itu terjadi, maka untuk
pertama kalinya, penjualan mobil bisa melebihi angka sebelum
terjadinya krisis,” ujarnya.
(SH/danang joko/gatot irawan)
|
|