|
TV Plasma, Trend
Menonton Masa Kini
JAKARTA – Impian untuk menonton televisi yang menempel di dinding
kini menjadi kenyataan. Teknologi plasma telah mewujudkan impian
itu. Bagaimana tidak, kemajuan teknologi televisi berjalan sangat
cepat. Belum lama masyarakat di perkenalkan dengan teknologi
televisi layar datar, kini teknologi plasma telah menjadi trend.
Televisi super tipis ini, karena tebalnya hanya beberapa inci,
menjadi teknologi terdepan di industri televisi dan merupakan cara
terbaik untuk membuat televisi layar datar dengan mutu gambar bagus,
serta ukuran layar besar yang bisa ditonton di tiap bentuk ruangan.
Banyak produsen yang mencoba berlomba mengeluarkan jenis televisi
ini. Sebut saja, LG, Sharp, Fujitsu, Samsung, Philips, Panasonic
adalah merek yang sudah dikenal baik di teknologi plasma.
TV Plasma merupakan generasi ketiga dari teknologi televisi setelah
generasi yang menggunakan sistem tabung dan kemudian dilanjutkan
dengan teknologi proyeksi (TV projection).
Secara teknis, plasma terdiri dari modul Plasma Display Panel (PDP)
yang digabungkan dengan signal processing part yang terdiri dari
sinyal processing IC board, front filter, front, dan rear cabinet,
speaker, dan set top box.
Cara kerja televisi ini memakai ribuan ruang kaca tertutup
bertekanan rendah yang diisi campuran neon dan xenon. Di belakang
ruang itu terdapat fosfor berwarna-warni. Ada yang merah, biru, dan
hijau untuk tiap ruangnya. Saat dinyalakan, ruang plasma memancarkan
cahaya ultraviolet yang tak tampak mata. Kemudian cahaya ini
mengenai fosfor merah, hijau, dan biru di bagian belakang kaca
displai dan fosfor itu lalu menghasilkan cahaya yang terlihat mata.
Fosfor tadi terbuat dari tipe yang sama seperti dalam perangkat CRT
konvensional. Hasilnya, orang bisa menikmati warna-warna yang cerah
dan dinamis seperti yang diharapkan.
Sejumlah keunggulan dari televisi plasma antara lain resolusi yang
tinggi ketimbang televisi biasa, dan mampu mempertontonkan sinyal
teve digital serta VGA dari komputer.
Televisi jenis ini juga tebalnya hanya beberapa inci sehingga
pilihan penempatannya bisa bervariasi. Selain dipajang berdiri,
model ini bisa dipasang di dinding atau bahkan di langit-langit
sehingga tak terlalu makan tempat.
Orang bilang bentuknya elegan. Karena tak memerlukan unit proyeksi
dan layarnya, maka ideal dipakai untuk tiap aplikasi komersial dan
bisnis, di saat pemakaian proyektor tak dimungkinkan. Karena
tipisnya, pemasangannya bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalnya
ditempelkan di dinding atau langit-langit, tegak lurus dari lantai
atau ditempatkan dengan desktop stand atau ceiling bracket, seumpama
mau digantung.
“Semua produk TV Plasma bisa pivot (berputar), artinya bisa
menampilkan gambar dalam bentuk vertikal. Sedangkan produk televisi
lain pada umumnya menampilkan gambar horisontal. Selain itu karena
bentuknya yang ramping, TV Plasma tidak butuh ruang (space) yang
luas,” ucap Adi Jaya, Product Marketing TV Plasma LG Electronics
Indonesia menyebut keunggulan TV jenis ini, kepada SH di Jakarta,
akhir pekan lalu.
Mewah
Tidak bisa dipungkiri TV Plasma masih menjadi barang yang super
mewah bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Meski demikian, tidak
menyurutkan langkah para produsen televisi untuk memasarkan
produknya di Indonesia.
PT LG Electronics Indonesia (LGEI) sebagai contoh. Produsen
elektronik asal Korea ini, ketika meluncurkan produk plasma sangat
yakin produknya akan diterima oleh masyarakat Indonesia. Tidak
tanggung-tanggung, April 2003, LG meluncurkan tiga jenis sekaligus
dengan ukuran 42 inci, 50 inci dan 60 inci. Bahkan mereka mengklaim
produksinya sebagai televisi plasma paling tipis di dunia yakni cuma
7,8 cm.
Pada saat peluncuran saja, televisi ini ditawarkan dengan harga
selangit. Harga retail untuk ukuran 42 inci US$ 6.000, sedang untuk
50 inci dijual dengan kisaran US$ 9.500 dan ukuran 60 inci US$
17.500.
"LG menargetkan penjualan sebanyak 500 unit selama satu tahun tipe
42 inci dan 60 inci menjadi jenis yang paling laku dan dicari di
pasaran," kata Presiden Direktur LG Indonesia Young Ha Kim ketika
peluncuran televisi plasma beberapa waktu lalu.
Dari informasi yang diperoleh, untuk mengembangkan bisnis dan
teknologi plasma, LG Electronics pada tahun 2001 telah mengeluarkan
dana sekitar US$ 170 juta. Sedangkan untuk 3 tahun ke depan, LG
telah menyisihkan dana sekitar US$ 226 juta, sebab melihat
kecenderungan penggunaan plasma yang bakal mencapai 1,4 juta unit
pada 2003 dan 5,21 juta unit pada 2005.
Pemasaran Bersama
Dari pantauan di pasar, meski harga sangat mahal penjualan televisi
plasma mengalami kenaikan meskipun sangat lambat. Lihat saja di
Electronic City. Agar lebih dikenal, televisi semacam ini
diperkenalkan secara agresif dengan dibuatnya Plasma Counter Corner.
Sejak dibuat dua bulan lalu yang merupakan hasil kerja sama dengan
seluruh produsen televisi plasma, penjualan televisi ini bisa bisa
terjual lebih dari lima selama sebulan. Padahal sebelumnya dalam
satu bulan selalu kurang dari lima.
Produsen televisi plasma berharap dibangunnya Plasma Counter Corner
akan lebih mempopulerkan TV Plasma kepada konsumen dan juga agar
konsumen bisa leluasa membandingkan kelebihan dan kekurangan
tiap-tiap merek TV Plasma yang dipajang di dinding.
Strategi ini pemasaran semacam ini, bertujuan untuk mempopulerkan
teknologi plasma yang masih belum banyak diketahui masyarakat.
Diakui, sebagian besar konsumen memang belum mengerti apa yang
dimaksud TV Plasma. Berbeda dengan TV berteknologi LCD (liquid
crystal display) yang lebih dulu dikenal masyarakat, layar TV Plasma
terbuat dari gas dan dikhususkan untuk menampilkan gambar DVD dengan
format 16:9.
Tak heran, mengingat harganya yang cukup menguras kantong, pembeli
televisi ini hanya terbatas dari kalangan berduit. Itu pun, televisi
ini dipandang belum menjadi satu kebutuhan prioritas. Harganya jauh
lebih mahal dibandingkan dengan harga TV LCD. Apalagi bila
dibandingkan dengan TV-TV bertabung CRT (cembung). Karena itu,
mengatakan, TV Plasma paling banyak digunakan di kantor-kantor,
bukan untuk perumahan.
"Siaran televisi dan VCD, tidak bisa ditampilkan secara penuh dalam
layar TV Plasma karena formatnya 4:3," terang staf Electronic City
Agus.
Televisi Plasma yang paling murah dibandrol Rp 49 juta yakni TV
plasma bermerek LG 42 inci sedangkan TV Plasma paling mahal, buatan
Philips berukuran 32 inci yang harganya mencapai Rp 141 juta.
Sejak TV Plasma dipasarkan di Indonesia dua tahun lalu, merek
terlaris dipegang produk buatan Korea mengingat kualitasnya cukup
bagus dan juga harganya yang lebih murah dibanding TV Plasma buatan
Jepang dan Eropa.
Mengenai harga TV Plasma saat ini, Agus menerangkan, sudah jauh
menurun ketimbang dua tahun lalu yang disebabkan penguatan kurs
rupiah terhadap dolar. “TV Plasma yang sekarang harganya Rp 55 juta,
dua tahun lalu harganya di atas Rp 100 juta,” kata Agus.
Impor
Sementara itu Adi Jaya (LG) mengakui, untuk saat ini pihak LG masih
menargetkan kalangan menengah atas sebagai target pasar untuk produk
TV Plasma LG. Apalagi untuk LG, mengingat teknologinya yang masih
terkini, seluruh produk TV Plasma yang ada di Indonesia saat ini
masih diimpor utuh dari Korea Selatan.
Namun bagi masyarakat yang berminat, terang Adi, tidak akan
kesulitan mendapatkan produk sejenis. Karena TV Plasma LG katanya,
dapat dijumpai di seluruh 13 cabang LGEI yang ada di Indonesia.
Ia percaya seiring dengan berjalannya waktu, trend TV Plasma tak
pelak akan terjadi pula di Indonesia. Sebagai perbandingan
(benchmark), Adi mengemukakan bahwa di Korea pihak LG bahkan telah
meluncurkan model TV Plasma terbesar dengan layar seukuran 71 inchi.
“Kita dari LG optimis melihat respons pasar yang bagus di Indonesia.
Trend masyarakat saya kira orang-orang mulai mencari TV Plasma yang
harus diakui jauh lebih baik dari jenis televisi lain,” kata Adi.
(SH/naomi siagian/danang joko murdono/rudi victor sinaga)
|
|