P R O M A R K E T I N G  
 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 Bisnis Pizza Menerobos hingga Pelosok Jakarta
Raih Keberhasilan dengan Manajemen Terbuka

JAKARTA – Beberapa tahun terakhir atau era tahun 1990-an, penggemar pizza luar biasa. Mulai dari anak kecil, muda-mudi, hingga orang tua. Begitu banyak penggemarnya, gerai pizza bertumbuhan bagaikan jamur.
Kini, hampir dengan mudah ditemukan gerai pizza di hampir seluruh pelosok Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang dan Bogor, terutama di mal-mal bergengsi. Dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir, lidah orang Indonesia sudah lebih akrab dengan hidangan-hidangan barat, sehingga berbagai jenis hidangan barat banyak bermunculan di pasaran Jakarta dan sekitarnya.
Munculnya banyak gerai baru dari berbagai hidangan asing termasuk pizza ini dipicu dengan kebutuhan para penggemar ”goyang lidah” dan pemburu hidangan ”junkfood”. Mereka mendatangi kafe dan mal bergengsi mencari pizza yang kini menjadi hidangan populer tua dan muda. Hampir semua gerai pizza selalu ramai dikunjungi penggemarnya.
Peluang pasar di bidang industri makanan semacam pizza ini ternyata sangat terbuka luas. Hal itu terlihat dengan kehadiran sejumlah gerai baru makanan jenis pizza.
Hal itu juga diakui oleh Direktur Papa Ron’s Pizza, Ron Mullers. Kini, dia menjadikan bisnis pizza itu sebagai bisnis urunan bagi untung atau lebih dikenal dengan waralaba (franchise). Dan dalam kurun waktu satu tahun ini dia sanggup membuat 14 gerai pizza di Jakarta. Hingga Desember mendatang waralaba ini akan meresmikan cabang Duri, Riau, Medan, Bandung dan Palembang.
Istimewanya lagi, Papa Ron’s Pizza ini belum lama ini berhasil mendapatkan predikat sebagai ”pizza nomor satu” dalam pemilihan yang diprakarsai salah satu media Jakarta. Dari beberapa pizza yang dijual di pasaran Jakarta, Papa Ron’s Pizza ini mempunyai roti dasar (crush) tebal sesuai dengan produk pizza di Amerika.
Mungkin karena itu, Papa Ron’s Pizza semakin digemari. Buktinya, perusahaan ini terus berkembang. Bahkan, kini Ron Mullers sedang merekrut serta melatih para calon karyawan di beberapa gerai yang akan dibuka dalam waktu dekat. Ron Muller yang keturunan Belanda - Sunda lahir di Pekan Baru 49 tahun silam dan oleh ayahnya dikirim untuk sekolah ke Amerika.
Ron Muller pernah menjabat selama 13 tahun sebagai manajer Pizza Hut di tahun 1980-an hingga 1990. Karena itu, baginya bisnis pizza bukan hal baru. Malah bisa dikatakan sudah sangat paham mengenai seluk beluk bisnis ini. Berangkat dari situ pula, ia membuat Papa Ron’s Pizza.

Manajemen Terbuka
Ron mengakui bahwa sejak masih di Pizza Hut dulu, ia juga merekrut serta melatih setiap karyawan. Kegiatan itu dia lanjutkan hingga kini di Papa Ron’s Pizza. Tujuannya, melatih dan mendidik staf atau karyawan. Selain terampil, mereka juga dapat menemukan jati diri, termasuk akhirnya berdiri sendiri. ”Banyak karyawan yang pernah bergabung dalam grup saya kini mereka telah berhasil dengan baik, sebagian sudah mempunyai usaha sendiri,” ujar Ron Muller.
Bagi Ron Mullers, profesinya mengembangkan karya perorangan merupakan kepuasan tersendiri, meskipun itu tidak dipertunjukkan kepada lain orang. Namun ia sendiri tidak pernah menonjolkan diri bahwa ia selalu bersedia membantu. Yang penting menurutnya dalam ikut membangun perusahaan maupun memimpin karyawan, ia mempunyai satu prinsip yakni transparansi (manajemen terbuka) dalam segala hal.
Dalam usaha untuk mengekspansikan bisnis pizza Ron Mullers di bawah PT. Setiamandiri Mitratama Tbk. Di bawah Panderosa Group juga menaungi beberapa perusahaan lain seperti Super Ice Scating, Amigos, Putt-Putt Golf & Games, Basket Mania dan Putt-Putt Café.
Menurutnya hingga kini ia masih menerima investor yang ingin ikut bisnis waralaba ini. Untuk itu para investor hanya cukup menyediakan sebesar US$ 10.000.- dan investor membayar on going royalty sebesar 5 persen dari hasil bersih penjualan sebulan.

Belum Waralaba
Lain halnya dengan Izzi Pizza yang baru Maret lalu melakukan launcing pizza asli Italia di Pondok Indah Plaza terletak hanya 120 meter dari gerai kompetitornya yakni Pizza Hut. Karena begitu banyaknya penggemar pizza di daerah tersebut, Izzi Pizza tetap saja ramai. Bahkan dinilai mampu bersaing dengan Pizza Hut yang namanya cukup terkenal selama ini.
Baru beberapa bulan dibuka di Indonesia, langsung banyak penggemarnya. Produk ini cukup enak dan mempunyai rasa khas otentik Italia. Itu menjadi keunggulan. Terbukti, setelah pizza asli Italia ini diperkenalkan, mendapat sambutan dari para pelanggan.
Chief Executive Officer (CEO) Izzi Pizza, Andy Ryan mengatakan, meskipun Izzi Pizza banyak peminatnya, namun pihaknya belum memberikan kesempatan untuk waralaba. Targetnya hingga tahun 2003 akan membuka 12 gerai baru di Jakarta.
Secara keseluruhan gerai Izzi Pizza cukup menyenangkan, mewah dan rapi. Mulai dari kursi dan meja hingga dapur yang terbuka diatur begitu cantik. Sehingga mengesankan profesionalisme para manajemen resto itu. Kemudian, seluruh pramusaji wanita maupun pria memakai baju seragam yang sederhana dan rapi. Cara penyambutan untuk para tamupun demikian ramah, penuh senyum, sehingga membuat pelanggan betah.
Biasanya gerai yang memproduksi pizza mempunyai dapur untuk memanggang pizza di dalam atau tersembunyi. Tapi di setiap gerai Izzi Pizza dapur berada di luar berdekatan dengan meja tempat makan pelanggan. Hal itu membuat para pelanggan dapat melihat langsung proses pemasakan pizza. Hal itu akan membuat para pelanggan lebih senang. ” Di sana kita bisa lihat sendiri cara pembuatannya, ini benar-benar luar biasa” ujar Elis, salah seorang pelanggan yang sedang asyik memperhatikan dari meja makannya.
Kenapa Izzi Pizza demikian cepat melejit dan digandrungi pelanggan? Salah satu alasannya karena bumbu ataupun rempah-rempahnya didatangkan langsung dari negeri asalnya Italia. Aroma dan rasanya masih terasa sangat kental sekali. Bahkan menurut Sales and Marketing Manager, Dina Carol, kebayakan bumbu masih diimpor, namun ada juga yang memakai bahan lokal.
Sebetulnya pizza tidak hanya dijual di gerai Papa Rons, Pizza Hut atau Izzi Pizza saja. Di resto Italian atau lainnya juga banyak disediakan pizza. Tapi hanya sebagai hidangan pelengkap saja. Papa Rons Pizza sendiri ada delapan gerai, Izzi Pizza empat gerai dan Pizza Hut sekitar 70 gerai, belum lagi termasuk di sejumlah kafe dan resto Italia lain.
Meskipun gerai Pizza Hut menurut sumber sudah mencapai 70 di seluruh Indonesia dan Papa Rons Pizza akan mencapai 12 bahkan Izzi Pizza dalam waktu dekat akan mencapai 14 gerai, namun sebetulnya tidaklah mudah membuat gerai-gerai baru lain. Untuk membuat suatu gerai baru membutuhkan penelitian dan strategi yang jitu.
Sekarang bagaimana caranya mengatur strategi pemasaran, terobosan produk baru bahkan aroma rasa pizza itu sendiri harus diperbaiki. ” Dan jangan lupa, satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah layanan antar atau pesan jemput (take away) yang harus terus ditingkatkan,” ujar seorang karyawan Pizza Hut.
Dalam pengertian lebih cepat lagi pengantarannya lebih baik. Faktor pelayanan di bisnis ini sangat menentukan, di samping kualitasnya. Kalau pelanggan memesan melalui telepon karena bagaimanapun juga pelanggan yang memesan itu pastilah senang jika pizza yang dipesan itu datang cepat.
Sebagai perbandingan kalau kita memesan pizza di luar negeri atau di negara barat biasanya waktu datang ditentukan paling lama 30 menit. Lebih dari waktu yang ditentukan, maka pelanggan pasti merasa tidak puas. Jadi, factor pelayanan dan rasa di bisnis ini sangat menentukan keberhasilannya. (SH/indra rondonuwu)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2002