|
Mengubah yang Terburuk Menjadi yang
Terbaik
Oleh:
Roy Sembel,
Direktur MM Finance and Investment, Universitas Bina
Nusantara (www.roy-sembel.com),
Sandra Sembel,
Pemerhati dan praktisi pengembangan SDM
(ssembel@yahoo.com)
Jika Anda mendapat tawaran untuk
menduduki posisi puncak di sebuah perusahaan, apa yang akan Anda
lakukan? Menerima tawaran ini atau menolaknya? Hampir dapat
di-pastikan Anda akan menerimanya. Tapi, tunggu dulu. Bagaimana
kalau perusahaan yang ditawarkan untuk Anda pimpin itu sedang berada
di ujung jurang kehancuran (dua kali pernah hampir bangkrut dan
sekarang sedang mengalami krisis dan menunjukkan tanda-tanda menuju
kebangkrutan)? Tanda-tandanya sangat jelas: perusahaan merugi,
hampir kehabisan uang tunai, dililit utang, karyawan berseteru
dengan top management, dan yang terburuk adalah perusahaan sudah
mulai ditinggalkan oleh pelanggan karena kualitas layanan yang
sangat buruk.
Nah, apakah Anda jadi memutuskan untuk menerima tawaran menjadi CEO
di perusahaan yang sedang melaju menuju kematiannya ini? Kali ini
mungkin Anda akan berpikir lebih lama sebelum memberi jawaban.
Jawaban ‘Ya’ bisa saja tetap Anda berikan jika Anda tahu strategi
yang bisa Anda terapkan untuk memutar balik keadaan krisis menjadi
sukses. Ingin tahu strategi yang bisa mengubah kondisi terburuk
menjadi terbaik? Mari kita berguru pada Gordon Bethune yang sudah
berhasil mengubah Continental Airlines yang ketika itu sedang berada
di ujung kematian menjadi salah satu perusahaan penerbangan terbaik
di Amerika Serikat.
|
|