|
Kebiasaan
yang Membawa Sukses
Kebiasaan atau habit dalam bahasa
Inggris, apa sama dengan habitat ya? Bisa ya bisa tidak. Ya, karena
setiap orang sukses selalu berkumpul dengan sesama orang sukses, dan
kumpulan ini bisa disebut dengan nama habitat. Tidak, karena orang
sukses tadinya tidak memiliki lingkungan yang membuat dia sukses,
tetapi karena kemauan, keinginan dan impian yang keras serta jangan
lupa aksinya yang benar membuat dia memiliki habitatnya sekarang.
Jadi orang sukses bisa membuat habitatnya sendiri dan menarik orang
lain memasukinya.
Situasi ini mirip dengan hukum gravitasi. Di mana terdapat massa
yang sangat besar maka massa tersebut akan menarik massa yang lebih
kecil darinya. Kekuatan massa itu akan lebih besar efeknya bila
jaraknya lebih dekat. Siapa sih yang mau melawan hukum alam?
Cobalah, beberapa waktu lalu demam bola semakin kentara, Anda tonton
pertandingan piala dunia sendiri di rumah, apakah ada perasaan seru?
Sekarang bandingkan dengan kalau berkumpul dengan sesama penggemar
bola, bagaimana rasanya sekarang? Atau Anda sedang menonton
pertandingan bola ini sendirian di rumah, tiba-tiba terdengar sorak
riuh rendah dari rumah tetangga Anda, apalagi yang nonton sampai di
luar rumah tetangga Anda, kira-kira?
"Mau dong ikut bergabung, nonton bareng ya, boleh kan nonton di
sini?" Mungkin kata-kata itu yang keluar dari lubuk hati Anda. Lalu
sepulang dari rumah tetangga perasaan bahwa Anda menjadi seorang
pemain bola kelas dunia masih membara dalam benak Anda. Bahkan Anda
merasa sukses membawa tim kesayangan Anda memenangkan pertandingan.
Oleh karena itu, kalau mau sukses dan belum merasa diri sendiri
sukses cari lingkungan orang-orang sukses dan melebur dengan mereka.
Lho kenapa nonton bola menjadi tolok ukur untuk memiliki kebiasaan
sukses? Itu hanya sebuah ilustrasi kecil untuk menggambarkan
kekuatan massa.
Habitat dan lingkungan awal muasal pembentuk watak dan pribadi kita
masing-masing. Ada yang bilang bahwa orang sukses biasanya dimulai
dari keluarga yang harmonis. Keluarga adalah kekuatan, massa
terkecil dan terkuat untuk membentuk seseorang untuk menjadi sesuatu
di masa depannya.
Lalu apa hubungannya dengan kebiasaan orang sukses? Kalau disurvei
hampir semua orang sukses mempunyai satu alat yang sangat murah,
mudah, kadang disepelekan, dianggap aneh kalau kita menyebutkannya
dan kita sendiri kadang-kadang risi menyebutkannya.
Alat ini adalah langkah awal, senjata rahasia semua orang sukses
walau pada awalnya mereka tidak pernah mengetahui kekuatannya. Alat
ini adalah impian, cita-cita, dream, keinginan yang beremosi, visi.
Mimpi dan Laksanakan
Beberapa waktu lalu di salah satu stasiun TV disiarkan mengenai
keberhasilan seorang juru masak. Juru masak ini saat ini membawahi
lebih dari 50 juru masak lainnya, dan bekerja di hotel berbintang
banyak di kota paling gemerlap di Amerika yaitu Las Vegas. Dalam
wawancaranya dia menyatakan bahwa sejak kecil bercita-cita untuk
menjadi juru masak, dan setiap langkah yang dijalaninya adalah
menuju dan yang menunjang tercapainya cita-cita tersebut.
Seorang gitaris grup muda terkenal di Indonesia, sudah mengimpikan
untuk menjadi pemusik sejak usia dini. Lalu semua kegiatan yang
dilakukannya tidak pernah terlepas dari impiannya ini, walaupun
banyak tantangan serta hambatan, yang diubahnya menjadi tantangan
untuk sukses. Impian untuk sukses tidak harus impian masa kecil,
bisa juga saat usia sudah senja.
Ingat kegigihan Kolonel Sanders pendiri franchise ayam goreng
terkenal. Dia memulainya di usia 66 tahun, pensiunan angkatan darat
dari negara adidaya, tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari
tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis.
Dia memiliki keahlian dalam memasak, dia tawarkan resep masakannya
ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Akhirnya restoran yang
ke-1008, menerima resepnya tersebut dan kini kita dapat menikmatinya
di Indonesia, Kentucky Fried Chicken.
Mungkin impian Kolonel Sanders sangat sederhana, ingin memiliki uang
yang layak untuk hidup di hari tuanya yang tinggal sebentar lagi.
Contoh menarik lagi mengenai impian di hari tua pernah disiarkan di
salah satu stasiun TV swasta, mengenai seorang ibu rumah tangga
kulit berwarna. Ibu ini dapat menyekolahkan lebih dari 20 murid
sekolah SD sampai ke perguruan tinggi hanya dengan biaya dari
tangannya.
Dimulai beberapa belas tahun sebelumnya ketika dalam perjalanan
pulang dari kantornya ibu ini berjumpa dengan seorang wanita muda
kelaparan. Dengan ketulusan hatinya dia mengajak wanita muda itu ke
sebuah toko makanan, lalu mempersilakannya untuk mengambil makanan
yang ia inginkan. Ternyata wanita muda ini mengambil roti, susu
bayi, sosis, telur dan beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya yang
tidak wajar diinginkan oleh wanita muda sebayanya.
Ketika ditanya asal usulnya, wanita muda ini tidak mau menjelaskan,
hanya dikatakan bahwa dia sudah tidak bersekolah.
Sejak saat itu ibu ini berjanji untuk menyekolahkan setiap anak ke
perguruan tinggi.
Hidup Jadi Bermakna
Impian, cita-cita, dream, visi, dan masih banyak lagi padanan
katanya yang menunjukkan tujuan kita untuk mengarungi hidup ini
dengan penuh makna. Impian tidak selalu bagi diri sendiri, tidak
selalu harus materi, tidak selalu harus kemewahan.
Impian bisa untuk orang membahagiakan orang lain, untuk kebaikan
lingkungan hidup sekitar kita, atau impian sederhana, hanya ingin
mengajak nenek kita, orang tua kita, anak kita berkunjung ke Candi
Borobudur misalnya.
Impian bisa impian waktu kecil, impian waktu sekolah, impian saat
bekerja, impian saat mendapat tekanan dari pihak lain, impian saat
sengsara, impian saat mendekati ajal.
Dunia ini berkembang karena impian-impian yang dianggap gila di
masanya. Jules Verne bermimpi orang bisa terbang ke bulan, bermimpi
orang bisa menyelam di kedalaman laut yang paling dalam. Hari ini
hampir setiap enam bulan ada saja penerbangan berawak manusia ke
antariksa, bahkan negara-negara besar berkolaborasi mendirikan
stasiun angkasa luar di mana manusia bisa tinggal dengan nyaman.
Hari ini manusia dapat melihat kedalaman laut yang paling dalam,
yang paling gelap yang besar tekanan per incinya, dapat menemukan
spesies-spesies baru yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Ibu Kartini, memimpikan bahwa wanita sebangsanya bisa mendapat
pendidikan yang layak, dapat mengenyam kehidupan yang setara. Hari
ini semakin banyak wanita Indonesia mendapat pendidikan tinggi,
mempunyai karier setingkat dengan rekan prianya, bahkan presiden
kita seorang wanita. Gajahmada bermimpi untuk menyatukan wilayah
Majapahit yang luas dengan berpuasa makan palapa. Saat ini bukan
hanya wilayah Majapahit bersatu menjadi Negara Kesatuan Republik
Indonesia tetapi Satelit Palapa sudah dapat menyatukan negara-negara
di Asia Tenggara.
Dengan impian beberapa orang bisa mendapatkan kekayaan sesaat,
melalui tebak-tebak nomor. Wah, itu salah satu mimpi juga, tapi
jangan diikuti lho.
Tuliskan Impian Anda
Impian adalah alat yang sangat murah untuk menjadikan diri kita
sukses. Ya, murah, karena yang diperlukan hanya mungkin secarik
kertas dan alat tulisnya. Bahkan dalam salah satu konferensi
Teknologi Informasi yang pernah diadakan di Taiwan, coret-coretan di
atas kertas tisu saat kita makan siang bisa merupakan impian baru
terciptanya alat baru pula.
Lho kok secarik kertas untuk impian, memang, impian yang akan
menjadi kenyataan adalah impian yang ditulis dan divisualisasikan.
Salah satu dari penulis artikel ini mempunyai impian dapat menulis
buku sendiri semenjak lulus dari perguruan tinggi.
Saat ini lebih dari tujuh buku dan ratusan artikel sudah diterbitkan
bahkan beberapa di antaranya menjadi Best Seller dalam waktu tak
lebih dari lima tahun. Selain itu, penulis juga sudah membantu
beberapa orang lagi untuk juga menulis buku, artikel dan mengikuti
jejak kesuksesannya.
Bergumul dengan impian, baca terus, bicarakan, lihat terus
gambar-gambarnya, diskusikan, afirmasikan, rasakan sudah terjadi,
lalu buat komitmen untuk mendapatkan dream tersebut apa pun
pekerjaannya. Bacakan impian-impian itu setiap harinya, lihat
gambar-gambarnya setiap hari, setiap saat. Buat komitmen, buat janji
pada impian tersebut bahwa saya dapat mencapainya, saya pasti
berhasil untuk mendapatkan impian tersebut. Buat rencana-rencana
untuk impian-impian tersebut.
Penulis membuat tulisan-tulisan kecil yang kemudian disimpan di
dompetnya, dan dibawa terus-menerus ke mana saja ia bepergian,
dibaca setiap pagi hari sebelum memulai aktivitas.
Pada dasarnya semua manusia memiliki impian yang jelas, hanya saja,
impian-impian itu sering dicuri oleh orang-orang terdekat,
lingkungan, oleh orang yang dicintai bahkan oleh diri sendiri.
Mundur beberapa tahun lalu pada saat kita masih kanak-kanak, setiap
dari kita selalu ditanya oleh orang yang lebih tua akan impian kita
kelak di masa yang akan datang.
Banyak sekali dari kita dapat menceritakan apa impian kita, apa
cita-cita kita, apa keinginan kita nantinya, walau kita sendiri
belum tahu atau belum mengerti apa yang dinamakan cita-cita itu,
mungkin.
Ada sebuah riset mengenai orang sukses. Dari 100 orang yang dites,
30 - 40 tahun lampau, 80 orang tidak memiliki sama sekali
cita-citanya, 10 orang memiliki tapi tidak yakin, 7 orang memiliki
dan ditulis, 3 orang memiliki ditulis divisualisasikan dan yakin
bahwa cita-citanya akan tercapai.
Dari statistik ini pula ternyata hanya 3 orang yang menjadi orang
sukses, entah secara finansial, kesehatan, keluarga, atau bahkan
menjadi pemimpin sebuah negara. Anda mau termasuk dalam kategori
yang mana ? Pilihan ada di tangan Anda.*
|
|