|
Menemukan
Kebahagiaan dalam Diri
Setiap orang memiliki pendapat dan
definisi yang berbeda tentang kebahagiaan. Untuk lebih memudahkan
saya mencoba untuk membagi ke dalam 3 macam tipe manusia yang
mendefinisikan arti bahagia.
Edisi MANDIRI kali ini menyajikan artikel-artikel yang ditulis oleh
mahasiswa program Magister Manajemen Unggulan Universitas Bina
Nusantara sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah People Skills.
Keterampilan ini (people skills) merupakan dua dari tiga kompetensi
utama yang perlu dimiliki oleh seorang manajer, yaitu:
intra-personal skills (self management) dan inter-personal skills
(relationship, communication and networking), selain dari kemampuan
analytical skills (hardskills dalam bidang manajemen seperti:
marketing, finance, organization, information technology, dll).
Oleh: Dwi Sanjaya
Tipe I adalah orang yang mengatakan bahwa dirinya akan merasa
bahagia jika apa yang telah lama diinginkannya dapat tercapai.
Biasanya orang tipe I ini mengapresiasikan kebahagiaan dengan
banyaknya benda – benda material yang dapat dimiliki (materialism).
Misalnya orang tipe I ini akan merasa bahagia jika ia dapat memiliki
sebuah rumah mewah dan megah dan tinggal di dalamnya, atau ia akan
merasa bahagia jika dapat memiliki banyak mobil mewah. Dengan kata
lain manusia tipe I ini akan merasa bahagia jika ia memiliki banyak
uang sehingga bisa membeli apa pun yang ia inginkan.
Sedangkan manusia dengan tipe II adalah mereka yang merasa bahagia
jika mereka dapat meraih kesuksesan. Kesuksesan yang diperolehnya
ini bisa berupa kesuksesan dalam studi maupun karier. Manusia
bertipe II ini tidak terlalu menilai kesuksesan ini dengan banyaknya
materi yang diperoleh, tetapi lebih memfokuskan diri untuk meraih
keberhasilan (achievements) dalam segala bidang yang ditekuninya.
Di samping itu ada juga manusia yang merasa bahagia jika ia dapat
bersama dengan seseorang yang ia cintai, atau dengan kata lain telah
menemukan cinta sejatinya dan membentuk keluarga yang bahagia
(loving and fulfilling relationship). Manusia dengan ciri seperti
ini saya masukkan ke dalam tipe III.
Selain ketiga tipe manusia yang baru saja saya sebutkan di atas,
masih ada lagi tipe manusia lain yang mendefinisikan arti bahagia.
Namun sebagian besar, manusia mengatakan bahwa ia akan merasa
bahagia jika telah mendapatkan hal-hal tersebut di atas.
Mengapa Kebahagiaan Sulit Didapatkan ?
Di dunia ini, kita banyak menjumpai orang yang merasa tidak bahagia.
Setelah ditelusuri, orang – orang tersebut memiliki alasan yang
berbeda-beda mengapa mereka merasa tidak bahagia. Ada yang
mengatakan bahwa mereka tidak bahagia karena mereka selalu hidup
dalam kekurangan, ada pula yang merasa tidak bahagia karena belum
menemukan pasangan hidup yang tepat, ada pula yang tidak dapat
menemukan kebahagiaan dalam keluarganya karena tidak adanya
keharmonisan dalam keluarga tersebut. Atau dengan kata lain mereka
tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka dambakan atau impikan.
Selain itu, kita juga banyak menemukan orang yang tidak pernah puas
dengan apa yang telah diperoleh atau dimilikinya, sehingga apabila
orang tersebut telah berhasil meraih sesuatu, ia tidak pernah sempat
untuk menikmati kebahagiaan dengan apa yang telah diperolehnya itu
dan kemudian membuat target baru untuk dicapainya, dan begitu
seterusnya. Dan orang ini akan selalu merasa cemas apabila tujuan
berikutnya tidak tercapai.
Hal lain mengapa manusia tidak dapat merasakan kebahagiaan adalah
karena manusia cenderung untuk merenungi nasib buruk yang telah
menimpanya dan tidak mau berbuat sesuatu untuk memperbaikinya.
Mereka terlalu terpaku pada hal yang telah berlalu dan tidak dapat
melupakan masa lalunya yang pahit. Padahal jika ia mau mencoba untuk
keluar dari masa lalunya yang kelam, ia kemungkinan besar masih
dapat menemukan kebahagiaan.
Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kecenderungan
manusia untuk berbuat mengikuti kata hati dan hawa nafsunya yang
sering menjerumuskan manusia ke dalam dosa dan menyebabkan manusia
itu terjerumus dalam lembah kesedihan.
Dosa manusia saya kelompokkan menjadi 7 macam yang merupakan dosa
bawaan yang pada dasarnya terdapat dalam diri setiap pribadi.
Dosa-dosa tersebut yaitu hawa nafsu, serakah, egois, iri hati,mudah
tergoda, suka menyimpan dendam, dan emosional.
Semua perbuatan dosa tersebut seringkali membuat manusia tidak dapat
merasakan kebahagiaan dalam dirinya.
Bahagia vs Tidak Bahagia
Berikut saya akan coba untuk memaparkan beberapa kisah orang yang
berbahagia terlebih dahulu.
Kisah pertama adalah kisah tentang seorang pria yang sejak muda
selalu berusaha menemukan kebahagiaan dari dalam dirinya dengan cara
melalui meditasi. Untuk itu ia mencari tempat-tempat yang sepi dan
kemudian mendalami kemampuan meditasinya. Sejalan dengan berlalunya
waktu, kemampuan meditasinya meningkat sampai suatu saat ia berhasil
menemukan kebahagiaan sempurna ketika sedang bermeditasi di bawah
pohon Budhis dan mendapatkan pencerahan. Orang tersebut dikenal
dengan nama Budha Gautama yang kemudian menjadi pelopor lahirnya
agama Budha.
Kisah yang lain adalah kisah seorang pria yang setiap harinya sibuk
dengan pekerjaannya. Siang malam ia bekerja dengan keras, seringkali
ia merelakan waktu istirahatnya, merelakan waktu rekreasi bersama
dengan istri dan anak-anaknya dan kurang perhatian terhadap
kehidupan sosial di lingkungan sekitarnya. Sehingga yang ia fokuskan
adalah hanya pada pekerjaannya. Pada suatu ketika, pria tersebut
mendapatkan kecelakaan pada saat ia sedang mengendarai mobilnya ke
tempat kerjanya. Kecelakaan tersebut melukai kedua belah matanya dan
membuat pria tersebut buta seumur hidupnya.
Setelah menjadi buta, ia tidak dapat bekerja dengan keras lagi
seperti sebelumnya. Ia lalu banyak menggantungkan hidupnya pada
pertolongan orang lain, terutama pertolongan istri dan anak-anaknya.
Istrinya merasa kasihan kepadanya dan merawatnya dengan penuh kasih
sayang. Begitu pula dengan anak-anaknya juga memberikan perhatian
yang mendalam kepada ayahnya.
Sang pria baru merasakan betapa besar kasih istri dan anak-anak
kepadanya setelah ia buta dan tidak dapat mengerjakan apa-apa. Ia
baru menyadari akan kurangnya perhatian dan kasih sayang yang ia
berikan kepada istri dan anak-anaknya selama ini. Dengan keadaannya
tersebut, ia baru dapat merasakan hidupnya lebih berarti dan
menemukan kebagiaan dalam hidupnya.
Hikmah yang dapat diambil dari cerita singkat tersebut adalah bahwa
kita seringkali tidak dapat merasakan arti hidup ini, sampai kita
kehilangan sesuatu yang berharga dari dalam diri kita.
Kisah berikut yang tidak kalah menariknya adalah kisah seorang
nelayan yang pekerjaannya mencari ikan. Dalam melakukan
pekerjaannya, ia selalu mengerjakannya dengan santai dan tidak
menggunakan cara-cara canggih untuk menangkap ikan. Ia selalu
menangkap ikan dengan menggunakan pancingan yang ia miliki sambil
menikmati apa yang dikerjakannya.
Pada suatu saat ada seorang dari kota yang dalam hidup
sehari-harinya bekerja keras mencari nafkah pergi berlibur dengan
memancing. Pada saat ia sedang memancing, ia bertemu dengan sang
nelayan. Sang nelayan sedang memancing sambil berbaring santai tanpa
beban, sedangkan si pemancing memancing dengan agresif. Kemudian
orang kota tersebut bertanya kepada sang nelayan mengapa ia bisa
begitu santainya memancing padahal profesinya adalah sebagai
nelayan, sedangkan dirinya yang saat itu sedang berlibur saja
memancing dengan penuh agresivitas.
Kemudian sang nelayan tersebut bertanya balik kepada orang kota itu
mengapa bekerja begitu keras di kota. Si orang kota tersebut
kemudian menjawab: ”Untuk mencari uang sebanyak-banyaknya, sehingga
dapat menikmati hidup”.
Lalu sang nelayan menjawab, ”Jadi Anda bekerja dengan keras dengan
tujuan utama menikmati hidup? Untuk apa bekerja dengan keras kalau
saat ini saja saya sudah dapat menikmati hidup. Saya selalu
menikmati perkerjaan saya dan hidup saya.”
Hikmah yang dapat ditarik dari kisah yang ketiga ini adalah bahwa
banyak orang yang berpikir terlalu jauh untuk dapat menikmati hidup.
Hal yang sangat sederhana untuk dapat menikmati hidup adalah dengan
menikmati setiap pekerjaan yang kita lakukan.
Setelah membaca kisah-kisah orang yang bahagia, sekarang saya akan
coba untuk menceritakan beberapa kisah orang yang hidupnya tidak
bahagia.
Kisah pertama adalah tentang seseorang yang hidupnya selalu diisi
dengan kerja keras, mencari uang dan uang. Itulah tujuan hidupnya,
uang yang telah diperolehnya digunakan untuk berinvestasi lagi, dan
lagi. Jarang Ia mau mengeluarkan uang tersebut untuk keperluan
dirinya, apalagi orang lain. Sehingga orang tersebut hanya bekerja
untuk melipatgandakan uang yang dimilikinya. Ia jarang sekali
menikmati hari-hari yang dilaluinya bersama anak istrinya. Ia juga
tidak bisa menikmati apa yang telah diperolehnya karena ia selalu
merasa tidak pernah puas. Orang yang demikian adalah orang yang
menyedihkan, karena walaupun sebenarnya ia kaya raya, namun
sebenarnya jiwanya miskin sekali.
Berikut adalah kisah seorang anak yang selalu cemas akan masa depan
dan menunda diri untuk dapat menikmati hidup. Pada saat ia lulus
Sekolah Dasar, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia baru akan
dapat menikmati hidup kalau ia telah lulus SMP. Dan pada saat ia
lulus SMP, ia berkata bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup kalau
sudah lulus SMU. Dan begitu ia lulus SMU, ia berkata pada dirinya
lagi bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup jika telah menjadi
sarjana.
Setelah ia sarjana, ia masih belum dapat menikmati hidup dan merasa
bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup jika ia sudah sukses dalam
pekerjaan dan menikah. Tidak lama kemudian ia menemukan cinta
sejatinya dan menikah. Setelah menikah dan punya anak, ia berkata
lagi pada dirinya, bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup apabila
telah berhasil membesarkan anak-anaknya. Sebelum ia berhasil
membesarkan anak-anaknya, ia telah meninggal dunia karena mengalami
kecelakaan pesawat terbang. Akhirnya anak tersebut telah meninggal
tanpa dapat menikmati hidup yang telah lama ia jalani.
Kebahagiaan yang Sejati
Banyak orang yang sukar untuk mendapatkan kebahagiaan karena mereka
berusaha untuk mencari kebahagiaan external, yaitu kebahagiaan yang
dirasakan apabila mereka berhasil mendapatkan atau meraih sesuatu
yang di luar dirinya. Sesuatu tersebut bisa berupa harta benda
duniawi, ketenaran, nama baik, harga diri, kekuasaan, dsb. Apabila
seseorang mendefinisikan kebahagiaan seperti ini, maka kebahagiaan
yang didapat adalah kebahagiaan semu dan bersifat sementara.
Biasanya kebahagiaan tersebut berlangsung dalam tempo yang singkat.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kebahagiaan dapat digali
dari dalam diri tiap-tiap pribadi atau disebut juga dengan
kebahagiaan internal. Apabila seseorang telah berhasil menemukan
kebahagiaan internalnya, maka orang tersebut akan selalu merasakan
bahagia dalam hidupnya, apa pun yang terjadi dalam hidupnya.
Kebahagiaan internal ini tercapai apabila kita dapat selalu
merasakan ketenangan, kedamaian, dan suka cita dalam segala situasi.
Orang yang telah menemukan kebahagiaan internal biasanya dapat
selalu menerima kenyataan yang terjadi dalam hidupnya dengan besar
hati.
Cara Menemukan Kebahagiaan Sejati
Langkah pertama yang dapat kita lakukan dalam usaha menemukan
kebahagiaan internal adalah dengan menyadari setiap pekerjaan yang
kita lakukan. Pada saat kita sedang mengerjakan tugas-tugas penting,
sadarilah apa yang sedang kita kerjakan saat itu, fokuskan pikiran
pada apa yang kita kerjakan.
Pada saat kita makan sadarilah bahwa saat itu kita sedang makan,
pada saat kita sedang bernapas sadarilah udara yang keluar dan masuk
dari hidung kita. Bawalah diri kita termasuk pikiran kita untuk
menyadari apa yang terjadi saat ini (present time), jangan
membiarkan diri kita selalu hanyut ke dalam kesenangan maupun
kesedihan masa lalu, karena semuanya itu telah berlalu dari hidup
kita. Satu detik yang baru saja berlalu telah menjadi kenangan dan
menjadi masa lalu (past time). Jangan pula kita selalu membiarkan
diri kita terhanyut ke dalam angan-angan yang jauh di luar realitas
kita (future time).
Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bermimpi atau berangan-angan
untuk masa depan kita. Jika kita mempunyai suatu rencana untuk masa
depan, bayangkan dalam beberapa saat, kemudian tulislah tujuan kita
tersebut dan tulis juga langkah-langkah yang harus kita tempuh
sebagai usaha kita meraih tujuan yang selalu kita angan-angankan.
Kemudian lakukan tindakan/action sesuai dengan apa yang telah kita
tulis tersebut, sehingga kita tidak selalu terhanyut ke dalam
angan-angan kita dan tidak dapat menemukan angan-angan tersebut di
dalam realitas hidup kita sekarang. Setelah kita menjalankan langkah
demi langkah yang telah ditulis, dan sebagian dari langkah yang
telah kita tuliskan tersebut sudah tercapai, barulah kita bayangkan
kembali cita-cita kita ke arah yang lebih tinggi.
Dengan membayangkan cita-cita yang kita tuju sambil membuat blue
print dan kemudian kita jalankan, maka cita-cita yang kita tuju akan
lebih mudah untuk dicapai dan kita tidak akan merasa kecewa setelah
kita selesai berangan-angan dan kembali ke realitas hidup, karena
sebagian dari angan-angan kita sudah mulai tercapai. Namun apabila
kita tidak membuat perencanaan dalam mencapai tujuan hidup kita
seperti yang selalu kita angan-angankan, maka kita akan selalu
terbawa hanyut ke dalam angan-angan kita, karena apa yang kita
rasakan dalam realitas hidup tidak seindah apa yang kita bayangkan
dalam kacamata imajinasi kita.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan agar kita
dapat menggali kebahagiaan yang tersimpan dalam diri kita adalah
dengan selalu mengucap syukur atas segala kejadian yang menimpa diri
kita. Jangan selalu membanding-bandingkan kehidupan kita dengan
kehidupan orang lain yang menurut kita lebih baik dari kehidupan
yang kita jalani saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah orang
yang kita anggap lebih “baik” itu benar-benar merasakan kebahagiaan
dalam hidupnya. Bisa saja ia sedang berada dalam kecemasan karena
memiliki utang yang sangat besar dan sedang bersiap-siap untuk
melarikan diri, atau bisa saja orang tersebut tidak dapat merasakan
kebahagiaan meskipun orang tersebut kaya raya, karena hubungan
antaranggota keluarganya sudah tidak harmonis lagi.
Jika kita baru saja mengalami hal yang paling buruk dalam hidup
kita, dan merasa kita adalah orang yang paling tidak beruntung dalam
hidup ini, dan kita tidak tahu apa yang harus kita syukuri,
syukurilah udara yang masih dapat kita hirup dan embuskan,
syukurilah bahwa kita masih memiliki hidup ini, yang artinya kita
masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidup kita.
Orang yang paling gagal dalam hidupnya adalah orang yang sudah tidak
memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki keadaan dirinya, alias
orang tersebut sudah meninggal. Jadi selama kita masih hidup selalu
syukuri apa yang terjadi di dalam diri kita. Hal yang sangat
sederhana, bukan? Namun seringkali orang lupa akan hal ini.
Bahagia adalah suatu perasaan, sesuatu yang sifatnya emosional.
Perasaan bahagia ini timbul dari dalam diri kita karena kita secara
fisik dengan menggunakan kelima indra kita telah mengalami suatu
kejadian yang menurut diri kita sendiri menyenangkan hati dan
pikiran kita. Kelima indra kita tersebut berpusat pada otak kita,
otak kitalah yang mengirimkan rasa sakit yang diterima dari tangan
kita yang terluka, otak kita jugalah yang mengirimkan bau
wangi-wangian kepada kita. Sehingga perasaan bahagia tersebut dapat
kita timbulkan apabila kita mampu mengendalikan pikiran kita. Dengan
mengendalikan pikiran, maka seluruh indra yang kita miliki juga
dapat kita kendalikan.
Apabila seluruh pikiran dan indra kita bisa kita kendalikan, maka
hasrat dan keinginan kita juga dapat kita kendalikan, sehingga rasa
bahagia dapat kita kendalikan.
Di samping itu kita juga harus menyadari bahwa hidup ini adalah
suatu sirkulasi. Ada saat kita merasa sedih karena kehilangan
seseorang yang paling kita cintai, namun dengan berlalunya waktu,
perasaan sedih tersebut akan hilang, dan ada pula saatnya kita
merasa senang karena menemukan seseorang yang mencintai diri kita.
Dengan demikian perlu kita sadari bahwa semua hal sedih akan
berlalu, dan begitu pula semua hal yang menyenangkan juga akan
berlalu. Sehingga jika pada saat ini kita merasa senang, sadarilah
bahwa kesenangan itu baru saja berlalu, dan jika pada saat ini kita
merasa sedih karena suatu kejadian menimpa kita, sadari juga bahwa
kejadian tersebut telah berlalu.
Selama ini kita selalu menginginkan masalah-masalah yang membuat
kita stress dan sedih untuk berlalu dari hadapan kita, namun kita
jarang menyadari bahwa segala hal dan kejadian yang membuat kita
senang juga sudah dan akan berlalu.
Jadi senang dan sedih pasti akan berlalu. Kalau kita pernah
mendengar ada sebuah judul lagu yang berbunyi Badai pasti berlalu,
seharusnya ditambahkan menjadi “Badai pasti berlalu, Angin sejuk pun
pasti berlalu”.
Sikap yang Harus Dibentuk
Sabar adalah sikap pertama yang perlu kita bina, apabila kita ingin
mencoba menggali kebahagiaan yang tersimpan dalam diri kita. Kita
harus sabar apabila ada tujuan dalam hidup kita yang belum tercapai,
kita juga harus sabar apabila masalah menerjang kita, kita harus
sabar dalam usaha kita untuk mengendalikan pikiran kita, dsb. Semua
yang kita kerjakan dan usahakan membutuhkan waktu untuk diproses,
dan untuk itu dibutuhkan kesabaran.
Besar hati merupakan sikap kedua yang harus turut dibentuk dalam
diri kita. Kita harus bisa dengan besar hati menerima semua kejadian
buruk yang menimpa kita, kita juga harus berbesar hati dalam
menerima kenyataan pahit yang menjadikan keadaan kita jauh berbeda
dari yang kita impikan. Dengan memiliki sikap yang satu ini dalam
pribadi kita masing-masing, maka kita telah memiliki 50% power
(kekuatan) untuk menggali kebahagiaan.
Sikap berikut yang tidak kalah pentingnya adalah tabah. Kita harus
selalu tabah dalam melewati masa-masa sulit yang kita alami.
Sebenarnya masa sulit itu datangnya tiba-tiba dan tanpa kita rasakan
telah terjadi. Perhatikan kata telah yang saya miringkan! Kata
tersebut menunjukkan bahwa kejadian tersebut sebenarnya telah
berlalu, dan membuat kita merasa sedih dan susah sebenarnya adalah
diri kita sendiri yang tidak mau menerima kenyataan dengan besar
hati dan tabah. Jadi perasaan kita inilah yang menciptakan rasa
sedih.
Sikap yang menurut saya juga berperan dalam membentuk potensi kita
untuk menemukan kebahagiaan adalah tidak mudah putus asa. Apabila
kita mengalami suatu kegagalan yang membuat kita sedih, maka kita
harus yakini bahwa kegagalan itu telah berlalu, dan perasaan gagal
tersebut jangan kita pendam terus. Kita harus berusaha lebih baik
lagi untuk mencapai tujuan kita dan menghapuskan perasaan sedih yang
meliputi hati kita.
Ringkasan dari artikel ini adalah: carilah, galilah dan temukanlah
kebahagiaan dalam diri Anda sendiri. Jangan selalu mencari
kebahagiaan eksternal, karena kebahagiaan eksternal tersebut
sifatnya sementara.
Semoga dengan membaca artikel singkat ini, Anda dapat menemukan
kebahagiaan sejati dalam diri Anda ! Terima Kasih.(*)
|
|