|
Motivasi
Ada banyak cara untuk memotivasi orang lain mencapai sasaran atau
menyelesaikan suatu tugas maupun mengatasi persoalan atau tantangan
yang dihadapinya. Salah satu karakteristik utama yang harus dimiliki
oleh seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk memotivasi orang
lain dalam mencapai tujuan atau misi dari organisasinya. Seorang
pemimpin yang tidak mampu memotivasi orang-orangnya, tidak lebih
dari seorang penunjuk jalan, yang tahu ke mana harus pergi tetapi
sepenuhnya tidak dapat mengendalikan mereka yang dipandunya.
Pengelola rubrik:
Aribowo Prijosaksono
dan Roy Sembel
Jenderal Norman Schwarzkopff, pemimpin Sekutu semasa Perang Teluk
menunjukkan bahwa seorang pemimpin dalam militer yang memiliki
wewenang untuk memaksakan kepatuhan, biasanya adalah seorang
motivator yang buruk. Pada prinsipnya, jika kita selalu menggunakan
pendekatan kekuasaan untuk memaksa orang lain melakukan sesuatu,
maka organisasi kita tidak akan bertahan lama. Jika ada sedikit
kesempatan, maka orang-orang dalam organisasi kita akan keluar atau
paling tidak kinerja (performance) mereka jauh dari yang kita
harapkan. Banyak sekali organisasi atau perusahaan mengalami
turnover yang besar karena pegawainya tidak memiliki motivasi yang
benar.
Hubungan Motivasi dengan Emosi
Kemampuan seorang pemimpin untuk memotivasi anggota timnya sangat
dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya (EQ-nya). Paling tidak
(sebagaimana pernah kita bahas dalam edisi Mandiri 13 tentang
Manajemen Emosi) ada enam keterampilan yang perlu dimiliki oleh
seorang pemimpin, sebelum dia dapat memimpin orang lain, yaitu:
Mengenali emosi diri
Keterampilan ini meliputi kemampuan kita untuk mengidentifikasi apa
yang sesungguhnya kita rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu
muncul dalam pikiran, kita harus dapat menangkap pesan apa yang
ingin disampaikan. Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan membuat
kita berada dalam kekuasaan emosi kita, artinya kita kehilangan
kendali atas perasaan kita yang pada gilirannya membuat kita
kehilangan kendali atas diri dan hidup kita.
Mengelola emosi diri sendiri
Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu:
pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada
kita. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan
meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya.
Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk
menanganinya. Kemampuan kita mengelola emosi adalah bentuk
pengendalian diri (self controlled) yang paling penting dalam
manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi
atau perasaan kita, bukan sebaliknya.
Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang
sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk
memotivasi diri sendiri (achievement motivation). Kendali diri
emosional – menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan
dorongan hati – adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang.
Keterampilan memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang
tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan
ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun
yang mereka kerjakan.
Mengenali emosi orang lain
Mengenali emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa
yang dirasakan orang lain. Penguasaan keterampilan ini membuat kita
lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang
disebut Covey sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih
dahulu sebelum dimengerti. Keterampilan ini merupakan dasar dalam
berhubungan dengan manusia secara efektif.
Mengelola emosi orang lain
Jika keterampilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam
berhubungan antarpribadi, maka keterampilan mengelola emosi orang
lain merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain.
Manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar
dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antarmanusia.
Keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan kemampuan yang
dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu
membangun hubungan antarpribadi yang kokoh dan berkelanjutan. Dalam
dunia industri hubungan antarkorporasi atau organisasi sebenarnya
dibangun atas hubungan antarindividu. Semakin tinggi kemampuan
individu dalam organisasi untuk mengelola emosi orang lain (baca:
membina hubungan yang efektif dengan pihak lain) semakin tinggi
kinerja organisasi itu secara keseluruhan.
Memotivasi orang lain
Keterampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari
keterampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Keterampilan
ini adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan
menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai
tujuan bersama. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun
kerja sama tim yang tangguh dan handal.
3 Jenis Motivasi
Jadi memotivasi orang lain, bukan sekadar mendorong atau bahkan
memerintahkan seseorang melakukan sesuatu, melainkan sebuah seni
yang melibatkan berbagai kemampuan dalam mengenali dan mengelola
emosi diri sendiri dan orang lain. Paling tidak kita harus tahu
bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong oleh motivasinya.
Ada tiga jenis atau tingkatan motivasi seseorang, yaitu: pertama,
motivasi yang didasarkan atas ketakutan (fear motivation). Dia
melakukan sesuatu karena takut jika tidak maka sesuatu yang buruk
akan terjadi, misalnya orang patuh pada bos karena takut dipecat,
orang membeli polis asuransi karena takut jika terjadi apa-apa
dengannya, anak-istrinya akan menderita.
Motivasi kedua adalah karena ingin mencapai sesuatu (achievement
motivation). Motivasi ini jauh lebih baik dari motivasi yang
pertama, karena sudah ada tujuan di dalamnya. Seseorang mau
melakukan sesuatu karena dia ingin mencapai suatu sasaran atau
prestasi tertentu. Sedangkan motivasi yang ketiga adalah motivasi
yang didorong oleh kekuatan dari dalam (inner motivation), yaitu
karena didasarkan oleh misi atau tujuan hidupnya. Seseorang yang
telah menemukan misi hidupnya bekerja berdasarkan nilai (values)
yang diyakininya. Nilai-nilai itu bisa berupa rasa kasih (love) pada
sesama atau ingin memiliki makna dalam menjalani hidupnya. Orang
yang memiliki motivasi seperti ini biasanya memiliki visi yang jauh
ke depan. Baginya bekerja bukan sekadar untuk memperoleh sesuatu
(uang, harga diri, kebanggaan, prestasi) tetapi adalah proses
belajar dan proses yang harus dilaluinya untuk mencapai misi
hidupnya.
Dalam buku The One Minute Manager, kedua penulis (Kenneth Blanchard
dan Spencer Johnson) merangkum topik bahasan kita mengenai motivasi
ini dalam sebuah ilustrasi yang amat menarik mengenai Manajer Satu
Menit. Untuk menjadi manajer yang efektif dan dapat memotivasi anak
buah untuk mencapai sasaran perusahaan, maka ada tiga hal yang harus
dilakukan.
Pertama adalah membangkitkan inner motivation dari orang yang
dipimpinnya dengan menetapkan berbagi misi atau sasaran yang akan
dicapai. Kita sebagai pemimpin perlu berbagi dengan tim kita untuk
secara bersama melihat visi secara jelas dan mengapa kita
melakukannya. Motivasi yang benar akan tumbuh dengan sendirinya
ketika seseorang telah dapat melihat visi yang jauh lebih besar dari
sekadar pencapaian target. Sehingga setiap orang dalam organisasi
kita dapat bekerja dengan lebih efektif karena didorong oleh
motivasi dari dalam dirinya.
Hal kedua dan ketiga yang perlu dilakukan oleh seorang manajer
efektif adalah memberikan pujian yang tulus dan teguran yang tepat.
Kita dapat membuat orang lain melakukan sesuatu secara efektif
dengan cara memberikan pujian, dorongan dan kata-kata atau gesture
yang positif. Bahkan dalam bukunya yang melegenda, Dale Carnegie
(How to Win Friends and Influence People) menempatkan ini sebagai
prisip pertama dan kedua dalam menangani manusia, yaitu: (1) jangan
mengkritik, mencerca atau mengeluh, dan (2) berikan penghargaan yang
jujur dan tulus. Manusia pada prinsipnya tidak senang dikritik,
dicemooh atau dicerca, tetapi sangat haus akan pujian dan apresiasi.
Tetapi kritik atau teguran yang tepat seringkali justru diperlukan
untuk membangun tim kerja yang kokoh dan handal. Yang penting dalam
menegur orang lain adalah bukan pada apa yang kita sampaikan tetapi
cara menyampaikannya. Teguran yang tepat justru dapat menjadi
motivasi dan menimbulkan reaksi yang positif.
Penelitian yang dilakukan dalam lima puluh tahun terakhir
menunjukkan bahwa motivasi kerja tidak semata didasarkan pada nilai
uang yang diperoleh (monetary value). Ketika kebutuhan dasar (to
live) seseorang terpenuhi, maka dia akan membutuhkan hal-hal yang
memuaskan jiwanya (to love) seperti kepuasan kerja, penghargaan,
respek, suasana kerja , dan hal-hal yang memuaskan hasratnya untuk
berkembang (to learn), yaitu kesempatan untuk belajar dan
mengembangkan dirinya. Sehingga akhirnya orang bekerja atau
melakukan sesuatu karena nilai, ingin memiliki hidup yang bermakna
dan dapat mewariskan sesuatu kepada yang dicintainya (to leave a
legacy).
|