|
Diversifikasi
Portofolio untuk
Kurangi Risiko Investasi
Pengantar:
Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN ini mengunjungi pembaca setiap hari
Jumat. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL)
yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan
Parpudi Lubis. Pembaca dapat mengirimkan pertanyaan atau
berkonsultasi seputar masalah-masalah perencanaan keuangan.
Pertanyaan dapat dikirim lewat email: redaksi@sinarharapan.co.id,
Faksimile Redaksi Sinar Harapan (021) 3912370, surat dialamatkan ke
redaksi Sinar Harapan, Jalan Fachruddin No. 6, Jakarta 10250, dan
bisa membuka di http://www.pembelajar.com/ISOL.
MENGAPA diversifikasi merupakan kunci emas dalam berinvestasi?
Diversifikasi bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap
memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup. Apa itu
diversifikasi? Diversifikasi adalah sebuah strategi investasi dengan
menempatkan dana dalam berbagai instrument investasi dengan tingkat
risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, atau strategi ini biasa
disebut dengan alokasi aset (asset allocation).
Alokasi aset ini lebih fokus terhadap penempatan dana di berbagai
instrumen investasi. Bukan menfokuskan terhadap pilihan saham dalam
portofolio. Dari hasil studi, perbedaan performa lebih banyak
dikarenakan oleh alokasi aset (asset allocation) bukannya pilihan
investasi (investment selection).
Sebagai contoh, bila Anda memiliki dana sebesar Rp 250 juta dan
menempatkan seluruh dana dalam instrument deposito yang memberikan
bunga sebesar 7 persen, selama 25 tahun, maka dana tersebut akan
berkembang menjadi sekitar Rp 1,35 miliar. Namun di lain sisi,
katakanlah bahwa Anda membagi dana sebesar Rp 250 juta tersebut
dalam 5 bagian seperti berikut ini:
l Anda menggunakan Rp 50 juta pertama untuk membeli undian. Seperti
orang lain, yang juga membeli undian, Anda kehilangan semua dana
tersebut. Setelah 25 tahun, dana sebesar Rp 50 juta menjadi “nol”.
l Bagian kedua, Anda menempatkan Rp 50 juta dibawah bantal Anda.
Setelah 25 tahun, nilainya tetap Rp 50 juta.
l Bagian ketiga, Anda membuka tabungan dengan bunga sebesar 5 persen
sebesar Rp 50 juta. Setelah 25 tahun dana tersebut berkembang
menjadi sekitar Rp 169 juta.
l Bagian keempat, Anda menempatkan Rp 50 juta di deposito dengan
tingkat suku bunga 7 persen, dimana akan bertumbuh menjadi Rp 271
juta setelah 25 tahun.
l Di bagian terakhir, Anda menempatkan Rp 50 juta sisanya di saham,
dan memberikan tingkat keuntungan sebesar 14 persen selama 25 tahun,
sehingga dana tersebut berkembang menjadi Rp 1,32 miliar.
Jadi total dana yang ditempatkn pada 5 alternative investasi menjadi
sekitar Rp 1,81 miliar. Penempatan kedua memberikan dana lebih
sekitar Rp 460 juta dibandingkan bila Anda menempatkan semua dana di
deposito—walau Anda kehilangan semua investasi dalam bagian pertama
dan tidak berkembang pada bagian kedua, menempatkan di tabungan pada
bagian ketiga dan deposito pada bagian keempat dan mengambil risiko
pada bagian kelima dengan menginvestasikan di saham. Mengapa hal ini
mungkin terjadi?
Hasil ini dimungkinkan karena adanya strategi diversifikasi.
Pengertian dasar dari strategi ini adalah mengidentifikasi bahwa
kerugian maksimum dari investasi terbatas hanya dari dana yang
ditempatkan, namun demikian keuntungan maksimumnya tidak terbatas.
Dari contoh diatas, tentunya instrument investasi yang dipilih tidak
berupa lotere atau undian atau Anda menyimpannya dibawah bantal tapi
bisa dialokasikan ke instrumen pasar uang, obligasi, saham,
properti, emas dan lain-lain.
Strategi lain untuk memperoleh manfaat diversifikasi adalah dengan
menempatkan dana dalam reksadana. Reksadana sesuai dengan
Undang-undang Pasar Modal no. 8 tahun 1995, pasal 1 ayat 27 adalah
suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat
pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh
Manager Investasi yang telah mendapat ijin dari Bapepam. Portofolio
investasi dari Reksadana dapat terdiri dari berbagai macam instrumen
surat berharga seperti saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau
campuran dari instrumen-instrumen diatas. Dengan memilikinya,
investasi Anda sudah tersebar di berbagai instrument investasi yang
tersedia.
Satu Portfolio vs Banyak Portfolio
Setiap keluarga pasti memiliki banyak tujuan berbeda, dari membeli
rumah sampai menyiapkan biaya pendidikan untuk anak-anak, tentunya
Anda akan tergiur untuk mempertimbangkan memiliki portofolio
investasi untuk masing-masing prioritas tujuan. Namun dengan
memiliki banyak portofolio, kita membagi satu bagian menjadi
misalkan 4 tujuan, dengan masing-masing portofolio memiliki 3
instrumen investasi. Sehingga Anda membagi satu bagian menjadi 12
bagian yang lebih kecil.
Dengan memiliki banyak portofolio, yang ditujukan untuk prioritas
tujuan yang berbeda, akan banyak memakan waktu untuk
mengorganisasinya dan apalagi bila Anda harus meninjau dan
merevisinya bila dibutuhkan. Dua hal negative dalam memiliki banyak
portofolio untuk berbagai macam prioritas tujuan yang dimiliki
adalah biaya dan waktu.
l Biaya. Memiliki setiap instrumen investasi pasti mengandung biaya,
baik fee manajemen, biaya pembelian, penjualan dan pengalihan untuk
reksadana dan biaya transaksi untuk jual beli saham. Dengan memiliki
banyak portofolio, maka Anda akan terus dibebankan dengan biaya yang
sama untuk masing-masing instrument. Bila Anda memiliki 5 Reksadana
dengan jenis yang sama maka Anda akan terbebani dengan 5 kali biaya
pembelian, penjualan atau pengalihan bila Anda bertransaksi.
l Waktu. Mengelola uang Anda membutuhkan waktu. Bila Anda secara
aktif mengikuti perkembangan portofolio Anda, maka sangat mungkin
Anda akan menghabiskan 10 jam sebulan (atau malah lebih) untuk
menganalisa apa yang Anda miliki, bagaimana performanya dan
bagaimana Anda dapat lebih mengoptimalkan. Itu hanya untuk satu
portofolio. Bayangkan bila Anda memiliki 5 priortitas tujuan dengan
masing-masing portofolionya, berapa waktu yang harus Anda habiskan?
Coba pikirkan bahwa dana yang Anda investasikan merupakan satu
investasi atau portfolio keluarga. Satu portofolio untuk berbagai
prioritas tujuan, dari menyiapkan biaya pendidikan untuk anak-anak
sampai persiapan masa pensiun. Bagaimana dengan perbedaan jangka
waktu prioritas tujuan? Yang harus dimnegerti disini adalah, Anda
tetap menempatkan dana untuk tujuan jangka pendek dalam instrument
investasi jangka pendek dan alokasi dana untuk prioritas tujuan
jangka panjang bisa dalam isntrumen saham. Kesemua aset yang Anda
miliki masuk dalam portfolio Anda, termasuk didalamnya rumah yang
Anda miliki, dana tunai dan tidak termasuk didalamnya emergency fund
atau dana darurat.
Sebagai contoh portofolio keluarga adalah sebagai berikut, dalam
persiapan menyambut masa pensiun Anda mengalokasikan 100 persen
dalam saham atau sebesar Rp.500 juta. Dengan dana tunai yang
dimiliki sebesar Rp 50 juta, maka portofolio keluarga berubah
menjadi 91 persen di saham dan 9 persen dalam bentuk tunai. Tujuan
prioritas lain yang Anda miliki adalah menyiapkan dana pendidikan
untuk anak Anda.
Saat ini investasi dalam instrument obligasi sebesar Rp 120 juta dan
Rp 60 juta dalam saham. Sehingga bila dilihat portofolio keluarga A
berubah menjadi 7 persen dalam bentuk tunai, 16 persen dalam
obligasi dan 77 persen dalam bentu saham (Rp 500 juta + Rp 60 juta).
Cobalah untuk melihat investasi yang Anda alokasikan seperti contoh
di atas. Tanpa Anda sadari ternyata Anda sudah mulai melakukan
diversifikasi.
Investasi Terbaik
Investasi merupakan sarana terpenting dalam meningkatkan kemampuan
Anda untuk mengumpulkan dan menjaga kekayaan. Sangat penting bagi
Anda untuk memahami bahwa “no single investemnt is right for
everyone”. Berbagai batasan seperti kebutuhan akan uang tunai,
tujuan dan prilaku serta preferensi Anda terhadap risiko, membuat
setiap individu memilih investsi yang berbeda-beda. Menentukan
investasi yang tepat membutuhkan sebuah perencanaan yang sesuai.
Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh majalah Business Week sejak
tahun 1989, investasi paling diminati adalah properti. 25-40 persen
koresponden menyatakan hal tersebut. Reksadana masuk menjadi no.2
tapi setelah tahun 1990-an. Dan saham menjadi no.3 dimana didapat
diakhir tahun 1990-an.
Apa arti dari angka tersebut? Orang menginvestasikan dananya pada
suatu instrumen yang dikenalnya dan satu hal yang mereka pikir bahwa
mereka mengetahui investasi tersebut adalah properti. Investasi
dalam properti merupakan salah satu investasi yang membutuhkan dana
besar dan secara historis selalu dapat mengimbangi tingkat inflasi.
Apakah properti merupakan sarana investasi terbaik? Mungkin ya,
mungkin tidak. Hal ini sangat bergantung dengan banyak aspek seperti
penjelasan di atas, antara lain kebutuhan akan uang tunai, prioritas
tujuan dan preferensi Anda terhadap risiko.
Fortofolio Keluarga
Setelah Anda mengembangkan sebuah portofolio keluarga, apakah
sebaiknya selalu ditinjau ulang dan direvisi bila dibutuhkan? Tentu
saja dalam hal ini langkah tinjau ulang merupakan langkah yang
seharusnya dilakukan. Karena kehidupan keluarga selalu berubah baik
perubahan dari segi tujuan maupun kenaikan atau perubahan instrumen
investai dalam portofolio keluarga. Dalam hal ini kami ajukan
beberapa langkah yang dapat dilakukan.
l Mulailah dengan portofolio keluarga awal tahun atau perencanaan.
Sebagai contoh, awal portofolio keluarga 20 persen pasar uang, 50
persen obligasi dan 30 persen saham.
l Cobalah untuk meninjau ulang portofolio keluarga dari waktu ke
waktu. Satu tahun berlalu, karena perkembangan saham yang cukup
baik, portofolio keluarga asal berubah persentasinya menjadi 15
persen pasar uang, 35 persen obligasi dan 50 persen saham.
l Bila memang dibutuhkan, Anda bisa merevisi portofolio keluarga
yang dimiliki. Sebaiknya Anda menentukan apakah portofolio keluarga
yang baru tetap sesuai dengan prioritas tujuan, keadaan Anda dan
tentunya toleransi risiko Anda. Dengan pertumbuhan saham yang
tinggi, mengakibatkan persentasi portofolio menjadi berubah dimana
yang tadinya saham hanya 30 persen berkembang menjadi 50 persen.
Sebaliknya persentasi obligasi menurun dari 50 persen menjadi 35
persen. Ini mungkin kurang tepat bila Anda mengharapkan pendapatan
regular dari investasi Anda daripada pertumbuhan. Mengubah atau
rebalancing portofolio keluarga dapat dilakukan dengan menjual
sebagian dari saham dan membeli obligasi. Hal ini dilakukan untuk
kembali pada pola portofolio perencanaan awal yang sesuai dengan
kebutuhan dan prioritas tujuan.
Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan alokasi aset dana
yang Anda tempatkan untuk berbagai prioritas tujuan keuangan,
sebaiknya digabung menjadi satu portofolio keluarga. Sesuaikan
instrument investasi dengan prioritas tujuan dan tentunya toleransi
risiko Anda. Bila terjadi perubahan, dan kami sangat yakin akan
berubah, maka ada baiknya bila Anda secara berkala merebalancing
portofolio keluarga agar tetap sesuai dengan kondisi, prioritas
tujuan dan toleransi Anda terhadap risiko. Semoga bermanfaat.n
|
|