Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih  

Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 

Pascabanjir, Bisnis Asuransi Malah Menjanjikan

Pengantar Redaksi:
Bisnis asuransi saat ini kian marak. Masyarakat tampaknya sudah mulai memahami pentingnya asuransi dalam kehidupan mereka. Pentingnya asuransi semakin terlihat ketika seseorang ditimpa musibah, seperti terjadinya kerusuhan sosial atau musibah banjir yang terjadi beberapa waktu. Bagaimana sebenarnya perkembangan bisnis asuransi di Indonesia saat ini? Lantas apa upaya para perusahaan asuransi dalam memenangkan persaingan dalam memperebutkan nasabah? Untuk menjawab semua itu, wartawan SH, Muhammad Nuzulian dan Khomarul Hidayat, menurunkan laporan seputar perkembangan asuransi nasional dalam tiga tulisan di halaman ini.

JAKARTA - Musibah memang tidak dikehendaki setiap orang. Tetapi siapa yang bisa menolak andaikata bencana seperti banjir yang menghajar Jakarta beberapa waktu lalu secara tidak terduga muncul di hadapan mata. Tidak terhitung kerugian yang mesti ditanggung masyarakat akibat bencana tersebut.
Maka bersyukurlah, jika Anda yang kebetulan ikut asuransi, tidak perlu repot-repot mencari uang untuk misalnya memperbaiki rumah yang rusak atau mobil yang ngadat akibat hantaman banjir. Cukup ajukan klaim ke perusahaan asuransi, Anda akan mendapat ganti rugi.
Sepintas, orang berpikir bisnis asuransi akan mengalami kemunduran lantaran harus membayar klaim, barangkali dalam jumlah yang tidak sedikit, dari para nasabahnya. Tetapi yang terjadi sebaliknya, minat orang pada asuransi malah meningkat.
Dalam situasi negara yang penuh resiko dan suhu politik yang memanas plus bencana alam banjir di Jakarta dan sejumlah wilayah tanah air, membuat orang ataupun pelaku usaha mulai melirik asuransi sebagai pilihan alternatif untuk mengurangi kerugian atas resiko yang mungkin dihadapi di kemudian hari.
Tentu ini peluang bagi pelaku bisnis asuransi untuk menjaring nasabah baru. Situasi ekonomi yang belum membaik, tampaknya tidak terlalu mempengaruhi minat orang mengikuti asuransi, yang penting dapat ganti rugi kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di waktu mendatang.
Bak gayung bersambut, perusahaan asuransi pun tak mau hanya menunggu calon nasabah datang. Mereka juga lebih proaktif dan getol menawarkan produk-produknya. Tetapi benarkah minat orang pada suransi makin tinggi?
Direktur Bintang General Insurance, Djunaidi Mahari mengatakan, memang ada peningkatan nasabah baru, meski belum terlalu siginifikan yang masuk ke perusahaannya setelah musibah banjir di Jakarta. Peningkatan ini merupakan pertanda (signal) positif bagi bisnis asuransi, sebab mulai ada kesadaran dari masyarakat mengenai pentingnya asuransi.
“Musibah banjir kemarin, ini mempunyai implikasi yang positif terhadap minat orang untuk masuk asuransi. Ada yang setelah melihat orang lain mendapat ganti kerugian dari perusahaan asuransi, lantas kemudian tertarik ikut asuransi,” ujar Djunaidi.

Nasabah Baru
Hal senada disampaikan Humas PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), Dewi Puji Astuti yang menyatakan, paska banjir pasti pengaruhnya pada peningkatan nasabah baru atau setidaknya nasabah lama memperpanjang lagi polis asuransinya.
Tetapi sebenarnya, menurut Dewi, minat masyarakat ke asuransi sudah mengalami peningkatan sejak tragedi huru-hara 1998 silam. “Peningkatan nasabah baru itu pasti ada, bukan sejak banjir saja tetapi sudah sejak ada huru-hara beberapa tahun lalu,” ujarnya.
Melihat kondisi di atas, banyak perusahaan asuransi optimis bahwa bisnis asuransi ini masih sangat menjanjikan di masa depan. Meski persaingan kian ketat, namun potensi untuk berkembang juga besar.
Hal ini terlihat dari pendapatan premi dari kedua perusahaan asuransi tersebut yang mengalami peningkatan tiap tahun.
PT Jasindo misalnya, meraup premi sebesar Rp 618 miliar pada 2000, setahun kemudian meningkat menjadi Rp 1,4 triliun.
Sementara Bintang General Insurance, seperti dikatakan Djunaidi Mahari, pada periode Januari-Maret 2002 saja, pendapatan premi sudah meningkat sampai 24 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Menghadapi persaingan yang ketat, kata Djunaidi, perusahaan asuransi memang harus memperkuat kualitas produknya agar bisa bersaing dengan produk dari perusahaan lain.
Karena itu, Bintang General Insurance di samping mempunyai produk konvensional, juga memiliki produk unggulan.
Produk unggulan ini yang menjadi ujung tombak untuk menggaet nasabah baru. Produk unggulan Bintang General Insurance adalah Perisay yang merupakan produk khusus untuk retail. Perisay ini terdiri dari Perisay rumah dan isinya, Perisay mobil dan Perisay kesehatan.
Demikian pula PT Jasindo yang selama ini eksis menggarap lahan korporasi, dalam dua tahun belakangan juga mulai merambah pasar retail, tentu dengan produk unggulan tersendiri. “Bahkan pada 2001 produk retail dari PT Jasindo sudah menghasilkan premi Rp 127 miliar,” ungkap Dewi Puji Astuti.

Klaim Banjir
Banjir bagi sejumlah perusahaan asuransi bukan hanya mendatangkan peluang menggaet nasabah baru, tetapi sekaligus juga harus keluar uang untuk membayar klaim nasabah.
Djunaidi mengatakan, meski klaim yang masuk dalam jumlah besar, tetapi tidak sampai mengganggu cash flow perusahaan asuransinya. Pasalnya, pada saat bersamaan diimbangi dengan peningkatan jumlah nasabah dan peningkatan pendapatan premi.
Di Bintang General Insurance, lanjut Djunaidi, total klaim akibat banjir yang masuk sampai Maret 2002 mencapai Rp 28 miliar, sekitar 60 persen klaim datang dari nasabah korporasi, sisanya nasabah menengah ke bawah.
“Dari jumlah itu, yang menjadi tanggungan kita sebesar Rp 3,3 miliar, sisanya tanggungan asuransi,” jelas dia.
Sementara, Dewi Puji Astuti dari PT Jasindo mengatakan, klaim nasabah yang masuk ke PT Jasindo sebagai akibat bencana banjir mencapai sekitar Rp 70 miliar, dan itu sama sekali tidak mengganggu cash flow perusahaan, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya premi yang didapat PT Jasindo terbilang besar.
“Itu baru klaim yang masuk dan belum dilakukan penelitian, karena setiap klaim asuransi harus diteliti terlebih dahulu apakah jumlahnya sesuai atau tidak,” tutur Dewi.

Masih Menjanjikan
Kendati kondisi perekonomian belum kembali pulih, para pelaku bisnis asuransi tetap optimis industri asuransi akan berkembang. Masuknya sejumlah investor asing memang tidak bisa dipandang enteng.
Tetapi seperti yang dikatakan Djunaidi Mahari, investor lokal siap bersaing apalagi yang mengetahui persis market asuransi di Indonesia adalah para investor lokal.
Djunaidi tidak mengelak, bahwa kondisi makro ekonomi yang belum stabil sedikit banyak akan berpengaruh pada bisnis asuransi. Kalau bank-bank tidak memberi pinjaman baru atau menyalurkan kredit ke sektor riil, pertumbuhan usaha asuransi juga akan terpengaruh.
“Sebab jika sektor riil berjalan, kebutuhan untuk asuransi juga meningkat. Tetapi bank-bank sekarang kelihatannya sudah mulai menyalurkan kreditnya. Ini dampaknya bagus bagi bisnis asuransi,” tambahnya. (*)

  
 


Halaman muka | Tajuk Rencana | Nasional | Ekonomi | Jabotabek | Nusantara | Luar Negeri |
Olah Raga
| Iptek | Feature | Hiburan | Opini | Foto | Karikatur | Tentang SH | Komentar Anda

Copyright © Sinar Harapan 2002