Kurs

15-Mar-2010 / 16:02 WIB
Mata Uang Jual Beli
USD 9,250.00 9,100.00
SGD 6,632.10 6,501.10
HKD 1,193.30 1,172.00
CHF 8,734.25 8,569.25
GBP 13,990.50 13,709.50
AUD 8,474.70 8,300.70
JPY 102.50 99.93
EUR 12,714.40 12,480.40
Jumat, 16 Oktober 2009 13:01

Owa Jawa Tak Kebagian Tempat Hidup

OLEH: SULUNG PRASETYO


JAKARTA – Sementara wakil rakyat kita ­saling berbagi tempat dalam kabinet baru-baru ini, satwa khas Pulau Jawa, owa, malah tak kebagian tempat untuk hidup.

Rasa iba mungkin satu-satunya rasa yang terbersit keluar bila kita menengok sebentar keberadaan owa jawa. Iba karena hidup mereka yang makin tak jelas keturun­an­nya. Iba juga lantaran lokasi hidup mereka makin mengerut saja dari tahun ke tahun.
Owa jawa dikenal dengan nama latin Hylobates moloch atau kera berbulu abu-abu. Sepadan dengan namanya, Owa memang benar-benar berbulu abu-abu, berwujud seperti kera, dan memiliki nyanyian khas khusus pada pagi hari.
Bila kita sempat berjalan-jalan di sekitar Taman Nasio­nal Gunung Halimun Salak (TNGHS), mungkin nyanyian owa jawa bisa terdengar tak asing. Menurut beberapa ahli, owa jawa memang memiliki kebiasaan bersuara nyaring saat pagi hari. Dimungkinkan kebiasaan tersebut sebagai penanda atau aklamasi wilayah kekuasaan mereka di daerah tersebut dan tiap pagi kembali diperdengarkan.
Sayangnya, daerah TNGHS terus mengalami degradasi. Berdasarkan laporan, ke­ru­sak­an hutan di kawasan TNGHS mencapai 24.550 hektare, di antaranya seluas 8.550 hektare dalam kondisi rusak parah dan harus dihijaukan.

Kerusakan tersebut juga berpengaruh terhadap kehidupan owa jawa karena rantai makanan mereka juga makin berkurang. Tercatat makanan bagi satwa jenis primata tersebut, seperti dedaunan, buah-buahan, dan terkadang makan serangga sebagai tambahan protein, makin berkurang seiring dengan berkurangnya jumlah hutan. Maka itu, pantas bila jumlah owa jawa di TNGHS terus berkurang hingga tinggal sekitar 1.000 ekor di TNGHS.
Di wilayah lain, keberadaan owa jawa juga terus berkurang. Bahkan di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP), spesies owa jawa tinggal tersisa 400 ekor saja. Di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sekitar 200 ekor. Sisanya tersebar di sekitar tiga puluh cagar alam (CA) di Pulau Jawa.
Jumat (16/10) ini, rencananya dua ekor owa jawa akan dilepas di hutan TNGP. Tepatnya di wilayah Hutan Patiwel, Sukabumi. Dua ekor owa yang bernama Echi (betina) dan Septa (jantan) adalah owa jawa yang diperkirakan lahir pada tahun 1999. Menurut cerita, mereka disita dari pedagang satwa liar secara terpisah, lalu diselamatkan dan akhirnya dipertemukan di Javan Gibbon Center (JGC) pada tahun 2008.

Tanpa Taring
Pada 18 Agustus 2009 lalu, mereka mulai melalui program pre-release di daerah sekitar Bedogol, Lido, Sukabumi. Program itu merupakan pendahuluan sebelum mereka benar-benar dilepasliarkan di alam sebenarnya. Upaya pelepasliaran ini diklaim merupakan yang pertama kali di dunia.
“Dalam proses tersebut, mereka direhabilitasi dan dipulihkan kondisi kesehatan serta perilakunya,” urai Regional Vice President  Conservation Indonesia (CI) Jatna Supriatna.
Proses rehabilitasi itu diperlukan karena banyak owa jawa yang telah diperdagangkan, serta berada pada kondisi tidak normal, seperti kehilangan gigi, taring, dan kuku. Sementara itu, perilakunya menjadi tidak agresif sebagaimana layaknya satwa liar. Dengan perilaku yang tidak sepadan seperti itu, dikhawatirkan malah akan menjadi masalah dalam bertahan hidup ketika mereka dilepasliarkan begitu saja di alam bebas tanpa ada program rehabilitasi sebelumnya.
Tahapan rehabilitasi di JGC diawali dengan proses karantina. Selanjutnya baru melakukan  upaya sosialisasi dengan lingkungan. Selain itu, sosialisasi dengan owa jawa lainnya. Pada tahap ini, biasanya mereka dipasangkan atau dijodohkan. “Pada tahap ini, waktunya berbeda-beda, bisa satu hingga tiga tahun, baru setelah itu dilepas ke alam bebas, namun tetap dalam pemantauan,” ungkap Jatna.
Menurut kabar terakhir dari Balai Besar TNGP, secara umum sepasang owa jawa ini telah memenuhi standar kriteria pelepasliaran menurut badan satwa dunia IUCN. Indikator layak terlihat dengan ukuran behaviour (perilaku) alami. Echi dan Septa telah menunjukkan kesiapannya untuk tinggal di alam. Mereka sudah memakan makanan alam yang terdapat di hutan, seperti jenis Ficus dan buah Afrika (Maesopsis emenii). Setiap pagi, secara rutin mereka membunyikan morning call untuk menandakan teritori mereka, bahkan juga sudah melakukan kopulasi.
Saat ini, berarti sudah 20 hari Echi dan Septa menempati kandang habituasi di Blok Hutan Patiwel. Masa habituasi direncanakan sekitar dua bulan sebelum pasangan ini benar-benar dilepas ke habitat alaminya, dengan pertimbangan owa jawa tersebut sudah dapat beradaptasi dengan habitatnya yang baru.

Bebas Hepatitis
Dalam penjelasannya, Ketua Yayasan Owa Jawa sekaligus Penasihat untuk Javan Gibbon Center, Noviar Andayani, menerangkan, keputusan pelepasliaran sepasang owa jawa ini didasarkan pada kemajuan yang sangat pesat, mulai dari fisik, kesehatan, sampai perilaku sosial dari pasangan itu. Proses rehabilitasi telah sukses mengembalikan perilaku mereka seperti owa liar lainnya. ”Keduanya juga dipastikan bebas dari penyakit menular seperti TBC dan hepatitis yang umum ditemukan pada satwa bekas peliharaan,” jelasnya.
Kemudian untuk menjamin kehidupannya, Kepala Balai Besar TNGP Sumarto menambahkan bahwa pihaknya akan menjamin perlindungan pasangan owa tersebut dengan mengerahkan sejumlah polisi hutan yang akan berpatroli dan memantau secara ketat Hutan Patiwel sebagai lokasi pelepasan untuk melindungi pasangan owa dari kemungkinan penangkapan liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, rencananya TNGP juga akan merestorasi sebagian Hutan Patiwel sehingga dapat menjadi habitat yang lebih sehat bagi kehidupan owa yang dilepasliarkan tersebut. ”Upaya pelepasliaran owa jawa juga harus disertai dengan upaya penegakan hukum dan pendidikan masyarakat untuk tidak memburu atau memelihara satwa itu,” tukas Sumarto.
Pelepasliaran owa jawa ini adalah suatu peristiwa bersejarah bagi upaya konservasi di Indonesia. ”Ini merupakan pelepasan pertama yang dilakukan terhadap owa jawa bekas peliharaan,” kata Jatna Supriatna menutup pembicaraan. n