Kurs

15-Mar-2010 / 16:02 WIB
Mata Uang Jual Beli
USD 9,250.00 9,100.00
SGD 6,632.10 6,501.10
HKD 1,193.30 1,172.00
CHF 8,734.25 8,569.25
GBP 13,990.50 13,709.50
AUD 8,474.70 8,300.70
JPY 102.50 99.93
EUR 12,714.40 12,480.40
Jumat, 20 November 2009 14:37

Irlandia Menuntut “Replay”


Dublin – Asosiasi Sepakbola Irlandia (FAI) menuntut diadakannya pertandingan ulang (replay) antara Irlandia dan Prancis.

Tuntutan itu diajukan kepada Badan Sepakbola Dunia (FIFA) menyusul gol kontroversial pemain Prancis, William Gallas, yang membuat Irlandia tersingkir.
Pada leg kedua playoff Kualifikasi Piala Dunia 2010 di Stade de France, Paris, Rabu (18/11), Gallas mencetak gol yang menjadikan skor imbang 1-1. Hasil itu meloloskan Prancis ke putaran final di Afrika Selatan dengan keunggulan agregat 2-1.
Pemain Irlandia langsung melancarkan protes karena melihat striker Prancis, Thierry Henry, menyentuh bola sebelum memberi umpan kepada Gallas. Namun, wasit Martin Hansson tetap mengesahkan gol Gallas.
Tayangan ulang televisi memperlihatkan Henry memang handball. Pelanggaran itu juga terlihat oleh ofisial lain. Henry pun mengakui dia menyentuh bola. FAI punya alasan kuat untuk menuntut replay.
“Handball itu terlihat oleh komisioner FIFA, pengawas pertandingan, dan ofisial lain di pertandingan itu. Pemain Prancis juga sudah mengakuinya,” kata pernyataan FAI, Kamis (19/11).
Menteri Kehakiman Irlandia Dermot Ahern dan asisten pelatih Irlandia, Liam Brady, mendukung langkah FAI. Ketua FAI John Delaney mengatakan, pihaknya sudah menghubungi Federasi Sepakbola Prancis (FFF) untuk mengulang pertandingan.
“Saya amat yakin bahwa integrigas pertandingan itu diragukan. Badan Sepakbola Dunia harus ikut menyelesaikan masalah ini dan menerima tuntutan kami untuk pertandingan ulang,” kata Delaney.
FIFA pernah memerintahkan Uzbekistan untuk mengulang leg pertama playoff menuju Piala Dunia 2006. Pertandingan di Uzbekistan pada 3 September 2005 itu dinyatakan invalid karena wasit salah menerapkan aturan.
Wasit memberi hadiah penalti kepada Uzbekistan di menit 39. Penalti itu membuat Uzbekistan unggul 2-0. Tapi sebelum penalti dilaksanakan, seorang pemain Uzbekistan masuk kotak penalti. Wasit kemudian memberikan tendangan bebas tidak langsung kepada Bahrain. Padahal seharusnya wasit memerintahkan penalti diulang.
Kesalahan teknis itu menjadikan pertandingan tidak sah. FIFA kemudian memerintahkan leg pertama di Uzbekistan diulang pada 8 Oktober 2005 dan leg kedua dimainkan di Bahrain pada 12 Oktober 2005.
Sementara itu, pelatih Irlandia, Giovanni Trapattoni, meminta FIFA menjelaskan pilihan wasit untuk pertandingan di Paris. “Semua orang melihat apa yang terjadi di lapangan. Saya hanya ingin meminta penjelasan FIFA bagaimana mereka memilih wasit. Untuk pertandingan sepenting ini, perlu wasit yang kuat,” kata Trapattoni.
FIFA telah menerima keluhan FAI. Tapi, Trapattoni pesimistis pertandingan bakal diulang. “Saya pikir mereka tidak mungkin mengulang pertandingan ini,” lanjut pelatih asal Italia itu. (ap/loe)